Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Shift Tiga Memicu Celaka

Sepanjang Agustus 2017 hingga Februari 2018, sekurang-kurangnya ada 15 insiden kecelakaan konstruksi dan kegagalan bangunan di Indonesia. Sebagian besar terjadi di proyek infrastruktur yang melibatkan BUMN Karya.

Belum genap dua bulan sejak diresmikan, proyek kereta api Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, telah memakan korban. Senin dua pekan lalu, sekitar pukul 17.49 WIB, setelah beberapa jam hujan deras mengguyur, dinding beton penyangga tanah sebelum terowongan di Jalan Perimeter Selatan menuju Bandara Soetta ambrol. Reruntuhan dinding dan longsoran tanah mengubur sebuah mobil dengan dua penumpang yang melintas saat itu. Satu di antara penumpang yang bernama Dianti Diah Cahyani Putri, 24 tahun, meninggal dunia dalam proses perawatan di Rumah Sakit Mayapada Tangerang, Selasa paginya.

Dinding terowongan yang runtuh itu adalah bagian dari proyek infrastruktur kereta api bandara. Proyek bernilai Rp 3,7 trilyun itu dibiayai oleh tiga BUMN, masing-masing PT Angkasa Pura II, PT Railink, dan PT Kereta Api Indonesia. Dari sejumlah kontraktor yang terlibat proyek itu, yang dipercaya mengerjakan pembangunan jalur (termasuk infrastruktur terowongan) adalah PT Waskita Karya.

Proyek itu merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 3/2016 dan direvisi ke dalam Peraturan Presiden Nomor 58/ 2017. Proyek pada jalur sepajang 36,4 kilometer yang dimulai dari Stasiun Manggarai itu punya nilai penting karena sejumlah alasan. Antara lain, mengurai kemacetan dan menjadi solusi waktu tempuh lebih cepat dari dan menuju bandara serta mampu menampung 33.000 penumpang setiap harinya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah menjanjikan tindakan tegas kepada pihak kontraktor jika ditemukan pelanggaran. Namun, sebelum tindakan diambil, Budi menyerahkan proses penelitian dan investigasi dari insiden itu kepada Komite Keselamatan Konstruksi -atau biasa disebut Komite K2-- di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Komite K2 baru dibentuk oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pada 29 Januari lalu. Komite itu dibuat atas amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Ruang lingkup kerja Komite K2 secara spesifik menangani kecelakaan saat proyek konstruksi berjalan.

Sementara itu, terhadap kegagalan konstruksi atau kegagalan bangunan yang terjadi setelah proyek rampung dan memasuki masa pemanfaatan, juga sesuai amanat UU No. 2/2017, pemerintah membentuk tim khusus yang beranggotakan para penilai ahli. Status proyek kereta Bandara Soetta ada dalam masa pemanfaatan. Dan robohnya dinding beton di terowongan Perimeter Selatan itu diduga disebabkan oleh kegagalan konstruksi.

Menteri Budi Karya tampaknya dapat segera merealisaskan tindakan tegas itu, sebab Ketua Komite K2, Syarif Burhanudin, mengatakan bahwa hasil evaluasi sementara menyebut ada faktor keamanan dan proses konstruksi yang kurang memadai dalam pembangunan dinding penahan tanah itu.

Dengan curah hujan yang tinggi sebelum insiden terjadi, muatan air dalam tanah akan menambah tekanan pada dinding. Diduga, konstruksi dinding penahan tersebut tidak mempertimbangkan situasi itu. Antara lain dengan tidak membuat lubang keluarnya air pada dinding beton itu.

"Hasil evaluasi dan rekomendasi sudah kami serahkan kepada Kemenhub hari ini," kata Syarif, yang juga menjabat sebagai Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, kepada GATRA, Senin lalu.

***

Ambrolnya dinding beton di Jalan Perimeter Selatan Bandara Soetta menambah panjang daftar insiden pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya dalam enam bulan terakhir. Di luar kasus kegagalan konstruksi di Perimeter Selatan, tercatat ada lima proyek infrastruktur yang dikerjakan Waskita yang mengalami kecelakaan konstruksi sepanjang Agustus-Desember 2017.

Empat dari insiden itu terjadi diproyek infrastuktur jalan tol. Mulai ambruknya jembatan penyeberangan di proyek tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) pada September 2017; jatuhnya girder box (balok beton diantara dua penyangga) pada proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), Jawa Timur (Oktober 2017); jatuhnya crane pengangkut rambu pesan kontrol lalu lintas (variable message sign --VMS) di ruas tol Jakarta-Cikampek pada November 2017; hingga ambruknya girder di proyek tol Pemalang-Batang, Jawa Tengah (Desember 2017).

Satu insiden lainnya yang melibatkan Waskita adalah kecelakaan konstruksi pada proyek LRT (light rail transit) di Palembang, Sumatera Selatan, pada Agustus 2017 lalu. Dua unit crane --dengan bobot masing-masing 70 ton dan 80 ton-- jatuh saat dioperasikan dan menimpa sejumlah rumah warga.

Tiga dari proyek jalan tol tersebut di atas merupakan proyek yang diselenggarakan oleh Kementerian PUPR. Dua diantaranya -tol Bocimi dan Paspro-- masing-masing merenggut satu korban jiwa. Karena itulah, Kementerian PUPR telah memberikan sanksi kepada Waskita berupa surat teguran agar kontraktornya lebih berhati-hati dalam mengelola dan menyempurnakan sistem keselamatan konstruksinya. "Mereka sudah menindaklanjuti [teguran itu]," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto.

Pemberian sanksi itu merujuk pada UU Nomor 2/2017, tepatnya pada Pasal 96 yang menyebut bahwa setiap penyedia jasa dan/atau pengguna jasa yang tidak memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi dapat dikenai sanksi administratif berupa peringatan tertulis, denda administratif, penghentian sementara konstruksi/kegiatan layanan jasa, pencantuman dalam daftar hitam, pembekuan izin, dan/atau pencabutan izin. Tak hanya kepada Waskita, teguran juga dijatuhkan kepada pengawas proyek yang bertanggung pada saat peristiwa kecelakaan itu terjadi.

Direktur Utama PT Waskita Karya, M. Choliq, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima surat teguran dari Kementerian PUPR. "Pelajaran berharga bagi Waskita untuk perbaikan ke depannya," begitu jawaban tertulis Choliq atas pertanyaan GATRA pada Selasa lalu. Berdasarkan hasil diagnosis internal atas insiden kecelakaan konstruksi pada proyek Waskita, Choliq menyebut ada sejumlah faktor penyebab. Di antaranya faktor unsafe act, unsafe condition, serta adanya beberapa permasalahan pada desain konstruksi.

Ketika ditanya tentang apakah pihaknya juga telah mendiagnosis insiden di terowongan Jalan Perimeter Selatan Bandara Soetta sebagai kesalahan desain konstruksi, Choliq menjawab dengan menyebut bahwa kasus itu tengah dibahas lebih detail dengan Kementerian PUPR yang melibatkan para ahli di bidang konstruksi.

PT Waskita Karya, berdiri pada 1961 dan telah melantai di bursa saham dengan kode WSKT. BUMN dengan aset mencapai Rp 61,425 trilyun (2016) ini telah malang melintang di sejumlah proyek strategis nasional. Di antaranya, proyek penyediaan sarana dan prasarana Asian Games 2018, pembangunan tol trans-Jawa dan tol trans-Sumatera. Untuk urusan jalan tol, Waskita saat ini tengah menggarap 1.315 kilometer ruas jalan dalam statusnya sebagai kontraktor maupun investor. Dari jumlah itu, 564 kilometger di antaranya ditargetkan akan beroperasi pada semester I 2018, sedangkan 751 kilometer sisanya diharapkan sudah dapat beroperasi pada semester II 2018 dan tahun 2019.

***

PT Waskita Karya bukan satu-satunya BUMN Karya yang tersandung masalah keselamatan konstruksi pada beberapa bulan terakhir. PT Hutama Karya, selaku kontraktor proyek jalur kereta api dobel ganda (double double track) di Jatinegara, Jakarta Timur, dituding bertanggung jawab atas jatuhnya crane dan bantalan rel yang mengakibatkan tewasnya empat orang pekerja pada Ahad dua pekan lalu. Atas kasus itu, Polres Metro Jakarta Timur telah menetapkan operator crane berinisial AN sebagai tersangka. Ia diduga melakukan kelalaian kerja sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. AN dijerat dengan Pasal 359 KUHP, dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Komite K2 masih dalam proses menginvestigasi kecelakaan pada proyek ini. Rumusan rekomendasi untuk insiden rel kereta doble ganda belum final, karena Komite K2 masih menunggu penggalian informasi dari operator crane yang masih ditahan di Mapolres Metro Jakarta Timur.

Ada juga PT Wijaya Karya (WIKA) yang tersandung insiden jatuhnya balok girder pada proyek LRT Velodrome-Kelapa Gading pada Senin, 22 Januari lalu. Menurut Sekretaris Perusahaan WIKA, Puspita Anggraeni, insiden terjadi pada pukul 00.20 WIB, tepatnya pasca-pekerjaan stressing box girder bentang P28-P29. "Penyebab terjadinya insiden ini masih dalam tahap investigasi," ia menjelaskan kepada Bernadetta Febriana dari GATRA. Proyek LRT Velodrome-Kelapa Gading merupakan bagian dari 33 proyek strategis yang dikerjakan WIKA dalam kurun tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Februari 2018, dari 33 proyek itu, delapan di antaranya sudah selesai dikerjakan. Misalnya, Simpang Susun Semanggi dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Dalam catatan Komite K2, sepanjang Agustus 2017 hingga Februari 2018, ada 15 kejadian kecelakaan konstruksi. Sebagian besar dari kecelakaan itu terjadi di proyek infrastruktur. Menurut Ketua Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia (A2K4I), Lazuardi Nurdin, ada benang merah dari beberapa kecelakaan kerja itu. "Terjadi pada hari libur dan malam hari," ujarnya.

Lazuardi mencontohkan kecelakaan pada proyek LRT Koridor 1 Velodrome- Kelapa Gading, atau kecelakaan konstruksi pada Jumat malam awal November lalu, ketika beton seberat 3 ton dari proyek MRT jatuh menimpa pengendara motor yang sedang melintas di Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta. "Juga insiden pada proyek double double track Jatinegara yang terjadi di hari Minggu," ia menambahkan.

Dari contoh kasus itu, Lazuardi menyusun hipotesis sederhana bahwa kecelakaan yang terjadi di hari libur melibatkan pekerja-pekerja yang mengambil atau giliran lembur. Penerapan model shifting pekerja yang tidak ketat, potensial memicu kelalaian. Jika model dan prosedur shifting-nya sudah ketat dan tepat pun tidak jarang masalah lain timbul. "Biasanya pada shift ketiga, orang engineering-nya dan konsultan pengawasnya sudah tidak ada di lapangan," katanya.

Risiko kerja di malam hari atau shift ketiga, menurut Lazuardi, lebih besar. Fisik pekerja dan tingkat konsentrasi yang sudah menurun membutuhkan pengawasan yang lengkap. Kecenderungan dalam beberapa proyek konstruksi yang diamati A2K4I, kelengkapan petugas analisis dan pengawasan hanya ada di shfit pertama dan kedua. "Shift ketiga biasanya tinggal pekerja lapangan saja," katanya.

Karena jumlahnya, A2K4I menjuluki 2017 sebagai tahun kecelakaan konstruksi Indonesia. Besarnya potensi kecelakaan kerja menurut Lazuardi berbanding lurus dengan tingginya volume realisasi proyek infrastruktur yang menjadi priorotas pembangunan oleh pemerintahan Joko Widodo-JK.

Seperti diketahui, realisasi proyek infrastruktur Indonesia terus merosot pasca-krisis ekonomi1998. Dalam Buku II Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, disebutkan bahwa masalah ketersediaan infrastruktur menjadi satu dari enam hambatan investasi di Indonesia. Pemerintahan Joko Widodo merespons situasi itu dengan terus meningkatkan realisasi belanja infrastruktur.

Dalam catatan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, anggaran infrastruktur pemerintah tumbuh sekitar 177% dari 2014 hingga 2017. Realisasi belanja infrastruktur yang pada 2014 masih sebesar Rp 139 trilyun, pada tahun berikutnya langsung membengkak menjadi Rp 209 trilyun. Tahun-tahun selanjutnya, angkanya terus membesar. Pada 2017 mencapai Rp 387 trilyun dan pada 2018 mencapai Rp 409 trilyun.

Untuk menyokong pesatnya pertumbuhan proyek infrastruktur itu, Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden yang mencanangkan 245 proyek strategis nasional (PSN) dan dua program prioritas. Nilainya diperkirakan mencapai Rp 4.187 trilyun. Hampir seluruh proyek itu terkait infrastruktur konektivitas antar-wilayah, selain juga proyek bendungan, energi, kawasan ekonomi, dan lainnya.

Bambang Sulistiyo, Aditya Kirana, Anthony Djafar, dan Hidayat Adhiningrat P.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com