Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Wall Street Anjlok Akibat Robot AI?

Peran algoritma perdagangan dalam kekacauan bursa saham kian sering diperdebatkan. Berkemampuan luar biasa untuk perdagangan dengan volume tinggi, kecerdasan buatan dinilai berbahaya.

Wall Street kelimpungan. Harga saham-saham di Bursa Efek New York itu berguguran pada pedagangan Senin, 5 Februari lalu. Penurunan itu disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam dinamika pasar saham Amerika Serikat dalam enam tahun terakhir.

Penurunan itu antara lain dialami Indeks Dow Jones Industrial Average yang terjun sekitar 1.175,21 poin ke level 24.345,75, atau sekitar 4,6%. Indeks S&P 500 juga menurun 113,19 poin ke level 2.648,94 atau sekitar 4,1%.

Demikian pula halnya indeks Nasdaq Composite yang turun 273,42 poin ke level 6.967,53, atau sekitar 3,78%. Indeks Nasdaq terhindar dari potensi penurunan lebih dalam karena terbantu oleh penguatan pada saham Apple dan Amazon.

Padahal, awal tahun ini, pasar saham melaju meninggi. Indeks Dow Jones dan S&P 500 menikmati penguatan bulanan tertinggi sejak Maret 2016 hingga Januari 2018. Adapun indeks Nasdaq mencatat penguatan bulanan tertinggi sejak Oktober 2015.

Penurunan harga saham di bursa Amerika Serikat ini pun berimbas pada saham di sejumlah wilayah Asia dan Eropa. Hanya indeks Shanghai Composite yang cukup kuat melawan tren penurunan dengan mencatatkan kenaikan 0,7 persen.

Dalam analisisnya, The Guardian mengetengahkan sejumlah faktor yang memengaruhi anjloknya saham-saham Wall Street pekan lalu. Antara lain soal peningkatan upah. Empat tahun terakhir, AS menambah 10 juta lapangan kerja yang berdampak pada pertumbuhan upah lebih dari 3% pada lebih dari separuh negara bagian. Investor meresponsnya dengan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang baru.

Faktor pencetus yang lain adalah, isyarat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk menaikkan suku bunga tiga atau bahkan empat tingkat pada tahun ini, defisit anggaran tahunan AS, serta aksi ambil untung para pemilik saham.

Kegoncangan kali ini ada faktor pencetus yang tidak kalah seru dan kian rutin menjadi bahan perdebatan para analis pasar saham di AS. Faktor itu adalah peran artificial intellegence (AI). Sebagian besar aktivitas perdagangan di lantai bursa saat ini dilakukan oleh komputer lewat algoritma matematika yang kompleks atau dikenal dengan istilah algorithmic trading.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Tener Mnuchin, mengatakan bahwa perdagangan algoritmik pasti berdampak pada penurunan Dow Jones sebesar 1.175 poin. Dari total penurunan itu, 900 poin terjun bebas hanya dalam kurun waktu sepuluh menit pada Senin pukul 15.00 waktu setempat. Keesokan harinya, indeks Dow Jones ditutup dengan menguat 567 poin. Dinamika luar biasa itu menunjukkan begitu cepat algoritma itu menyerbu pasar secara masif lantas menghilang.

Program algoritma perdagangan di bursa saham AS dapat melakukan ribuan transaksi per detik dan telah menjadi kenyataan yang tidak dapat ditawar-tawar dalam pasar global. Dalam laporan tahun lalu, Kepala Makro-Kuantitatif dan Strategi Derivatif JPMorgan Chase, Marko Kolanovic, menyebutkan bahwa investasi kuantitatif berbasis algoritma telah menghasilkan 60% perdagangan saham. Ia membandingan dengan peran algoritma pada perdagangan ''tradisional'' yang hanya mencapai 10%.

"Tidak mungkin investor dapat bersaing dengan sebuah komputer yang menghasilkan 1.000 perdagangan per detik,'' kata Michael Yoshikami, seperti dikutip The Washington Post. Yoshikami adalah CEO Destination Wealth Management, sebuah perusahaan manajemen investasi yang berkantor pusat di Walnut Creek, California, AS.

Menurut Yoshikami, cara kerja program algortima perdagangan yang ''dingin'', membawa dampak pada psikologi investor; ketakutan dan keserakahan. Ketika saham membuat pergerakan kuat, keserakahan dari semua pelaku pasar secara kumulatif bergabung dengan pergerakan tersebut.

Lantas, harga saham biasanya turun lebih cepat saat naik. Ketika itu terjadi, giliran psikologi ketakutan yang datang. Pada titik itu, sejumlah analis yang menyimpulkan bahwa perhitungan dingin algoritma akhirnya memicu penjualan histeris di antara manusia, mengurangi kepercayaan diri, dan membuka pintu kian lebar kepada lebih banyak algoritma untuk menyelesaikan persoalan.
Komputer bereaksi jauh lebih cepat daripada manusia dan dapat bergerak secara masal. Dengan kemampuan luar biasa untuk berdagang dengan volume tinggi secara global, AI dinilai berbahaya dan dapat mengakibatkan volatilitas serta gangguan pasar yang signifikan.

Beberapa algoritma bekerja menggunakan kecepatan matematika untuk memanfaatkan fluktuasi harga yang kecil: membeli dan menjual kembali dalam sepersekian detik. Ada juga bagian algoritma yang mencoba memprediksi bagaimana pasar bergerak dengan menganalisis arus data, termasuk indikator dalam rilis berita pasar tenaga kerja dan isi pidato politisi. Masalahnya, keputusan untuk ''menjual'' berita yang membawa pengaruh pada pasar, sangat mungkin dilakukan mesin algoritma.

Yoshikami, yang bekerja di dekat Silicon Valley, mengatakan bahwa dia mengenal perancang yang sedang membangun algoritma untuk mengukur nada bicara pejabat The Fed untuk mencari tanda-tanda kebijakan yang memengaruhi perdagangan.

Meskipun begitu, tidak sedikit analis yang menyebut lonjakan tajam pasar bukan semata-mata kesalahan robot AI. Pada dasarnya, algoritma perdagangan merespons bukti atau data-data yang sama dengan yang direspons manusia. Algoritma akan memutuskan menjual jika mengenali pemicu tertentu. Dan jika sebuah algoritma muncul untuk menjual dengan gegabah atau emosional, analis mengatakan, itu karena manusia mengajarkannya untuk melakukannya.

Lagipula tidak gampang mendeteksi 'dosa' AI pada anjloknya perdagangan Senin pekan lalu itu. "Satu-satunya cara untuk mengetahui adalah dengan data jejak audit," kata Eric Scott Hunsader dari perusahaan pengembang perangkat lunak dengan firma data pasar, Nanex.

Dengan pertimbangan adanya faktor-faktor pemicu lain dari kekacauan Senin sore di Wall Street itu, Direktur Investasi Fidelity Personal Investments, Tom Stevenson, menilai bahwa reaksi menyalahkan mesin AI sebagai sesuatu yang berlebihan.

Tom setuju pendapat yang menyebut bahwa algoritma perdagangan memang membuat pasar lebih mudah berubah. Namun, ia percaya bahwa ketimbang menyalahkan AI, ada dua faktor yang lebih tepat disebut sebagai penyebab tren penurunan harga di pasar modal (bear market). Yaitu, kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dan resesi.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com