Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Dua Sisi Defisit Perdagangan AS

Neraca perdagangan Amerika Serikat mengalami defisit terbesar dalam 9 tahun terakhir. Insentif fiskal dan renegosiasi perjanjian dagang tidak bisa menjadi solusi, karena tidak menyentuh makroekonomi, yang justru sedang membaik.

Ada kalanya, kenyataan berjalan tidak sesuai dengan perencanaan. Begitupula dengan slogan 'America First' yang didengung-dengungkan Donald Trump saat berkampanye sebagai calon presiden dua tahun lalu. Kepada rakyat Amerika Serikat, Trump berjanji akan mengurangi impor dan mengutamakan produk dalam negeri.

Kini, satu tahun setelah ia dilantik, impor barang Amerika Serikat malah mencapai titik tertinggi dalam 9 tahun terakhir. Defisit neraca perdagangan sebesar US$ 566 milyar per 2017 itu disampaikan oleh Departemen Perdagangan AS, pekan lalu.

Per 2017, ekspor AS sebesar US$2,3 trilyun, sedangkan impornya mencapai US$ 2,9 trilyun. Besarnya impor didorong oleh beberapa komoditas utama, yakni bahan makanan, barang modal, dan barang kebutuhan konsumen seperti bahan baku obat, telepon seluler, serta kendaraan bermotor. Ironisnya, negara asal impor AS yang berkontribusi besar terhadap defisit itu adalah Cina dan Meksiko yang kerap dituduh Trump sebagai mitra dagang yang curang. Terhadap Cina, defisit perdagangan AS mencapai US$ 375,2 milyar dan terhadap Meksiko, defisitnya sebesar US$ 71 milyar.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Perdagangan AS, Wilbu Ross mengatakan, pemerintah masih fokus mengurangi defisit. Butuh waktu untuk memformulasikan penangkal yang tepat. Mulai dari penegakan hukum yang lebih ketat, renegosiasi perjanjian dagang, dan menyusun kesepakatan dagang baru. ''Kami sedang berupaya keras, dan masih terlalu dini untuk menetapkan deadline [keberhasilan],'' kata Wilbur, seperti dikutip Reuters.

Sarah Huckabee, juru bicara Gedung Putih, juga minta dispensasi. ''Kami sedang memperbaiki ketimpangan perdagangan dengan Cina,'' kata Sarah, seperti dilansir Associated Press. Lebih lanjut, ia berapologi. ''Sebenarnya agregat perdagangan AS-Cina sudah defisit sejak lama,'' katanya. Oleh karena itu, butuh waktu lama untuk memperbaiki. Secara implisit, ia ingin mengatakan bahwa usia setahun pemerintahan Trump memang belum bisa banyak berbuat di sektor perdagangan.

Sejak dilantik sebagai Presiden, Trump sebenarnya tidak berpangku tangan. Ia beberapa kali mengungkapkan keinginannya untuk renegosiasi perjanjian dagang bilateral dan multilateral. Contohnya adalah kesepakatan perdagangan bebas Amerika Utara, yaitu AS dengan Kanada dan Meksiko. Selain itu, ada juga aksi terbaru dan konkret yang dilakukan Trump, yakni memangkas tarif pajak.

pada akhir Januari lalu, Trump juga telah menetapkan bea masuk bagi panel surya dan mesin cuci. Selain itu, Trump juga berencana menetapkan tarif tambahan atau membatasi kuota impor baja dan aluminium. Aksi dan rencana aksi itu diprediksi akan memikat simpati pemilih yang berasal dari kelas pekerja. Terutama di wilayah yang terdapat pabrik baja atau aluminium. Sebab banyak di antara mereka yang gulung tikar lantaran kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.

Akan tetapi, itu saja tidak cukup untuk membendung potensi defisit neraca perdagangan yang bisa makin lebar. Karena tidak sampai menyentuh faktor makro ekonomi. ''Defisit ini lebih disebabkan oleh kondisi makro ekonomi dan tingginya sektor konsumsi,'' kata Mary Lovely, ekonom dari Univesitas Syracuse, se[erti yang dilansir harian Financial Times.

Alih-alih memperkecil defisit, beberapa kebijakan ekonomi Trump malah berpotensi memperbesar impor AS. ''Pemotongan pajak oleh Trump malah memicu belanja dan juga investasi bisnis ke AS. Kita mungkin akan melihat defisit yang lebih besar di 2018,'' kata Mary lagi.

Stimulus fiskal yang dicanangkan Trump justru membuat mesin perekonomian AS bekerja lebih cepat. Dampaknya, konsumsi masyarakat pun meningkat. Peningkatan impor dan jenis komoditasnya kemarin menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri AS tidak bisa dipenuhi sendiri, tapi butuh pasokan dari luar negeri. Pemotongan tarif pajak juga membuat beberapa perusahaan di dalam negeri berinvestasi lebih bayak lagi. Mereka pun 'terpaksa' mengimpor beberapa barang kebutuhan modal untuk meningkatkan produksi.

Oleh karena itu, ada pandangan bahwa defisit dan lonjakan impor itu bukan disebabkan oleh agresivitas mitra dagang AS menggerojokkan barangnya ke Negeri Paman Sam. Tapi lebih disebabkan oleh perusahaan AS yang memproduksi barangnya di luar negeri demi menghemat ongkos produksi, untuk kemudian dijual di Amerika lagi.

Beberapa politisi Partai Demokrat dan tokoh serikat pekerja juga menyuarakan kecaman. Karena, menurut mereka, Trump gagal menepati janji kampanyenya. Ditambah dengan kebijakan ekonomi yang blunder, makin rusaklah neraca perdagangan AS.

Sejauh ini, Trump belum menerapkan sanksi ekonomi apa pun terhadap Cina yang dituding main curang dan membanjiri AS dengan barang murah. Wacana renegosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Kanada dan Meksiko juga belum terlaksana hingga saat ini.

Eswar Prasad, ekonom dari Cornell University berpendapat, defisit neraca perdagangan AS tidak bisa diatasi dengan menerapkan sanksi kepada Cina atau renegosiasi perjanjian perdagangan AS.
''Karena pendorong utamanya adalah kondisi makro ekonomi,'' kata Erswar, seperti dikutip Reuters. Terlepas dari melebarnya defisit, Eswar berpendapat, makro ekonomi AS justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Meningkatnya permintaan adalah indikator peningkatan daya beli. Itu tak lepas dari menurunnya tingkat pengangguran di AS yang tercatat sebesar 4,1% per akhir 2017. Posisi itu merupakan yang paling rendah dalam 18 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi AS pada 2017 lalu berada di angka 2,6%, meningkat dari 2,3% pada 2016, dan 1,5% pada 2016.

Besarnya impor pada 2017 seharusnya tidak mengabaikan kualitas serta kuantitas ekspor AS. Karena sebenarnya, terjadi peningkatan sebesar 2,5% bila dibandingkan dengan tahun lalu. Tren positif itu disumbang oleh beberapa komoditas ekspor berteknologi tinggi dan bernilai tambah besar. Contohnya adalah ekspor pesawat terbang dan mesin untuk kebutuhan industri.

Selain itu, terjadi juga peningkatan ekspor barang modal serta bahan baku industri. Ada faktor eksternal dan internal yang punya andil dalam peningkatan ekspor AS ini. Penguatan ekonomi global membuat naiknya permintaan komoditas khas AS seperti yang disebutkan tadi. Selain itu, pelemahan nilai tukar dolar AS juga membuat barang-barang buatan Negeri Paman Sam itu semakin kompetitif di pasar internasional.

Oleh karena itu, defisit neraca perdagangan AS pada 2017 lalu bisa dilihat dengan dua sudut pandang berbeda. Di satu sisi, kondisi itu menunjukkan bahwa Trump 'gagal' mewujudkan slogan 'America First'-nya pada tahun pertama. Di sisi lain, harus diakui bahwa terjadi perbaikan ekonomi yang--tidak bisa terhindarkan--membuat permintaan barang di dalam negeri AS naik.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com