Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Korea Tergencet Cina

Industri Korea Selatan diambang kebangkrutan karena kalah bersaing dengan Cina. Dalam kondisi terpuruk, sekutunya: Amerika malah menaikkan bea masuk impor dari Korea Selatan.

Untuk memahami transformasi Korea Selatan menjadi ekportir industri teknologi maju, naiklah ke observatorium di Gunung Yeompo yang menghadap ke kota Ulsan. Dari ketinggian Yeompo, kita bisa melihat ke utara, di tepi kiri Sungai Tae-Hwa, pabrik mobil Hyundai. Di barat, di seberang sungai, pabrik industri kimia mengepulkan asap putih dari cerobongnya. Di selatan dan timur, di sekitar muara, tampak berserakan logam sampah galangan kapal Hyundai.

Derek gantry raksasa yang warna merahnya memudar tampak menjulang. Alat berat yang dibeli US$ 1 juta pada 2002 dari galangan kapal Kockums di Swedia ini dikenal sebagai "Air Mata Malmö". Awal Februari ini, orang-orang Ulasan bertanya-tanya, apakah mereka juga akan segera menangis? Sama seperti ratapan industri galangan kapal yang di ambang kebangkrutan, tersaingi industri serupa dari Cina.

Satu dekade yang lalu, Korea Selatan merupakan yang terbesar dari "tiga besar" produsen kapal, bersama dengan Cina dan Jepang, yang menyumbang sekitar 90% produksi kapal global. Saat ini, pesanan ke Korea hanya separuh dari Cina. Penderitaan galangan kapal, eksportir terbesar negara itu setelah industri semikonduktor dan mobil, cukup mengkhawatirkan.

Cina dianggap sebagai pesaing berbahaya. Pemboikotan Cina selama satu tahun terhadap barang-barang Korea Selatan, yang dipicu penggelaran sistem pertahanan rudal Amerika, yang baru berakhir Oktober, cukup memukul. Cina menjadi ancaman yang cukup menakutkan bagi ekonomi Korea Selatan.

Krisis di bidang pembuatan kapal menjadi sinyal memburuknya ekonomi Korea. Negeri Gingseng ini terpukul oleh krisis global, yang pertama krisis keuangan 2007-2008 dan penurunan perdagangan dunia. Pukulan kedua berawal dari kebijakan tidak tepat pada jasa kapal kontainer besar di tahun 2011, yang mengakibatkan jatuhnya tarif pengangkutan. Pukulan ketiga adalah jatuhnya harga minyak, yang mempengaruhi pesanan rig pengeboran minyak lepas pantai.

Kondisi itu meruntuhkan posisi nyaman galangan kapal Korea. Industri pembuat kapal asal Korea Selatan mengira telah mengalahkan pesaingnya, Jepang dan Cina dalam hal biaya dan kualitas. Tiba-tiba, mereka terjepit oleh apa yang disebut Park Chong-hoon dari Standard Chartered Bank di Seoul sebagai "pemecah kacang". Di satu sisi, Cina mengambil alih teknologi pembuatan kapal lebih cepat dari yang diperkirakan Korea. Di sisi lain, Jepang telah memperoleh daya saing karena melemahnya yen.

Di Hyundai Heavy Industries, pembuat kapal terbesar Korea Selatan, pejabat mencatat bahwa pesanan turun dari 60 hingga 80 kapal menjadi sekitar 20 pada 2016. Jadwal produksi yang panjang berarti akan menbuat semakin lesu, setidaknya satu tahun lagi. "Kapal kontainer dulu adalah pekerjaan utama kami. Tahun ini kami hampir tidak memiliki pesanan untuk mereka," kata juru bicara Hyundai.

Hyundai tertegun ketika kalah tender untuk Prancis dalam proyek membangun sembilan kapal kontainer ultra-besar pada Agustus lalu Kekalahan dikarenakan pesaingnya, Cina, menawarkan harga yang miring.
Goncangan di industri pembuatan kapal ini mengakibatkan ribuan pekerja masuk daftar kerja paruh waktu, sejumlah lainnya bahkan diberhentikan. Mereka yang kehilangan pekerjaan di antaranya kini mendirikan restoran. Kebanyakan dari mereka bangkrut dalam hitungan bulan, karena pelanggannya sedikit.
Presiden Moon Jae-in, yang menyatakan bahwa Korea Selatan "tidak dapat menyerah" sebagai pemimpin galangan kapal global, menetapkan sebuah rencana pada Januari lalu untuk mendukung industri ini agar bertahan. Termasuk memesan kapal pemecah es, kapal patroli dan kapal pengangkut ternak.

Kini, untuk kelangsungan hidupnya, kalangan industri galangan kapal Korea mewacanakan pembuatan kapal modern berteknologi digital secara ekstensif. Masalahnya Cina juga berusaha mengadopsi metode manufaktur mutakhir. Sebuah laporan tahun lalu dari Institut Mercator untuk Studi Cina, sebuah lembaga pemikir Jerman, mengidentifikasi Korea Selatan sebagai negara yang paling terkena persaingan dengan Cina.

Secara hitungan makroekonomi, Korea Selatan tampaknya masih makmur. Pertumbuhan tahun lalu melonjak 3%, ekspor barang naik 13% (meski diboikot Cina) dan tingkat pengangguran 3,7%. Tetapi, Park Chong-hoon mencatat adanya kegelisahan di dalam industri perorangan. "Saya lebih khawatir daripada optimistis," katanya.

Industri otomotif Korea, menurutnya, segera merasakan hantaman Cina. Ekspor mobil ke Cina mengalami penurunan bahkan sebelum pemboikotan karena kualitas mobil Cina meningkat dan produk Korea Selatan tak lagi menarik bagi orang-orang Jepang dan Eropa. Selain itu, Korea Selatan berisiko ditinggalkan oleh Cina yang serius menggarap industri mobil listrik, dan terlebih lagi dengan munculnya kendaraan tanpa sopir.

Industri kimia, andalan lain ekonomi Korea Selatan, terbuka pula terkena hantaman. Padahal selama ini, produksi dari industri kimia semacam semikonduktor paling punya daya tahan.

Selama ini, kondisi ekonomi Korea Selatan sangat terpengaruh oleh kualitas relasinya dengan Cina. Namun di sisi keamanannya, Korea Selatan yang tergantung pada aliansi dengan Amerika Serikat.

Di bawah mantan Presiden Park Geun-hye, Korea Selatan berusaha lebih mendekat ke Cina dengan menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada 2015. Presiden Moon, penggantinya, berjanji memperpanjang kesepakatan terhadap layanan dan investasi, namun hal itu tampaknya masih jauh sekali untuk terujud.

Kedua belah pihak masih dilukai bencana pertahanan rudal. Korea Selatan dan Amerika bersikeras bahwa satu-satunya target adalah Korea Utara, yang usaha pengejaran rudal nuklirnya yang agresif membuat mereka tidak punya pilihan. Cina berpendapat bahwa radar itu bisa digunakan untuk melawannya juga.

Orang dalam pemerintah mengatakan bahwa mereka mengetahui batas-batas hubungan dengan Cina, dan tahu bahwa perusahaan Korea Selatan berjuang untuk bersaing dengan industri Cina yang dibiayai dan diarahkan negara. Banyak perusahaan Korea Selatan mengalihkan investasi ke Amerika.

Dengan demikian, ini tampaknya merupakan saat yang tepat bagi Korea Selatan untuk menyelaraskan kepentingan keamanan dan ekonomi ke Amerika. Tapi Donald Trump seringkali mendorongnya kembali ke pelukan Cina. Dia telah menuntut sebuah renegosiasi kesepakatan perdagangan bebas Amerika dengan Korea Selatan.

Trump juga telah menampar mitranya di semananjung Korea itu dengan menaikan tarif hingga 50% untuk impor mesin cuci Korea Selatan (bersama dengan tarif panel surya dari Cina). Korea Selatan telah membawa persoalan ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Korea Selatan juga mengkhawatirkan sikap Trump terhadap Korea Utara, yang mewacanakan serangan militer preventif untuk menghancurkan fasilitas senjata nuklir Korea Utara. Jika ada satu hal yang membuat Cina dan Korea Selatan mendekat, itu karena ketakutan perang yang dimulai Amerika.

Rohmat Haryadi
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com