Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Emil Dardak: Politik Itu Memberikan Tuntunan, Bukan Tontonan

Berangkat dari doktor termuda, Emil Dardak melaju menjadi Bupati Trenggalek. Kini ia mencoba masuk gelanggang lebih besar, sebagai pendamping Khofifah Indar Parawansa di pemilihan Gubernur Jawa Timur. Kemampuan merangkul pemilih milenial diyakini bisa mengantar kemenangannya.

Usia muda bukan menjadi penghalang bagi generasi milenial untuk tidak dihargai di ranah politik. Justru Geliat politik kini didominasi oleh generasi milenial. Inovastif dan kekritisan menganalisis menjadi ciri menonjol mereka. posisi ini pun menjadi roda penggerak parpol tempatnya bernaung. Bahkan perwakilan generasi milenial bisa berada pada puncak pimpinan daerah.

Emil Listyanto Dardak salah satunya. Bupati Trenggalek ini telah berhasil membuktikan bahwa generasi milenial bisa menjabat sebagai kepala daerah. Emil menyebut, kaum muda merupakan aset bangsa. Munculnya pemimpin dari kalangan anak muda dirasa dapat memberikan gairah politik sehat. Pasalnya analisis yang melekat pada kaum muda bisa menjadi tameng terjadinya manuver politik. Berikut kutipan wawancara GATRA bersama Emil Dardak

Seberapa valid anggapan milenial punya peran di politik?
Kita bicara elektoral, jumlah milenial 40 persen dari jumlah total pemilih. Di sisi lain, di Australia, New Zealand, bahkan di Prancis pun usia pemimpinnya masih 40-an. Namun, saya sih berharap kita melihat lebih bermakna lagi bukan hanya sekadar elektoral atau ikut-ikutan negara lain.

Dari segi politik apakah milenial sudah memiliki potensi?
Kita harus bersyukur bahwa perkembangan zaman telah memungkinkan pilihan masyarakat menjadi luas. Nah, yang muda pun juga siap menjadi pemimpin. Masyarakat bisa memilih bukan karena usianya, tapi karena visi, perspektifnya. Dia itu punya rekam jejak apa tidak? Apalagi menduduki jabatan pemimpin.

Apakah dalam politik, terjadi disrupsi juga seperti halnya terjadi di bidang ekonomi?
Mungkin dulu usia menjadi tolak ukur. Jadi, rekam jejak itu kualitas yang dicapai, gebrakan yang didorong dan apa keputusan strategis yang dibuat sehingga ia memiliki kematangan sebagai leader.

Bagaimana dengan anggapan bahwa generasi sekarang apolitis di politik?
Di politik ini kan nuansanya penuh dengan konflik dan adu kepentingan. Itulah yang membuat generasi muda menjadi apatis terhadap politik. Mereka merasa, panggung politik ini manuver dan akrobat. Bagi mereka, ini kurang begitu sesuai dengan apa yang menjadi referensi mereka.

Sekarang, salah satu dari mereka diberikan amanah oleh parpol. Kalau mereka melihat ada meritokrasi, mudah-mudahan akan tergugah. 'Ini perwakilan saya'. Menurut saya, seorang anak muda bukan seseorang yang lama di politik. Tetapi dihargai atas apa yang dilakukannya.

Apakah Anda akan mengidentifikasikan diri dengan pemilih muda?
Kalau itu politik identitas. Diskriminasi tidak boleh terjadi.

Walaupun Anda tidak mau bilang ada politik identitas, apakah Anda akan menampilkan diri dan bahasa yang sama kepada kelompok milenial?
Politik itu dimensinya luas. Kemarin kita ditanya akan gandeng artis mana? Nah, maksud saya dalam politik itu kita harus memberikan tuntunan bukan tontonan. Jadi, yang kami utamakan itu menyusun program konkret untuk Jawa Timur.

Setelah disurvei, masyarakat menginginkan infrastruktur. Selama ini jalan rusak karena drainasenya kurang memadai. Jalannya tambal sulam, cepat rusak. Mungkin harus berani menentukan ruas prioritas dan penanganan yang lebih struktural. Tuntunan itu lebih penting dibanding tontonan. Di sisi lain, saya mengapresiasi seni. Bahkan, program yang diunggulkan kemarin adalah pop culture ataupun traditional culture. Saya dulu berlatar belakang seni.

Bahasa apa yang akan Anda pakai kepada anak muda?
Kita harus bisa beranalogi yang sesuai dengan keseharian mereka. Contohnya gadget atau pop culture. Jadi pada saat saya menganalogikan Jatim itu setengahnya Korsel secara luas kemudian saya kasih gimmick K-pop, ya mereka juga connect ya.

Anda akan mengemas kampanyenya seperti apa?
Intinya, kita ingin menyebarkan yang lebih dalam lagi bobotnya. Tapi tidak kalah penting, teman-temang mengakses apa yang sudah ada. Soalnya ini gubernur, dan di Jatim. Kita perlu melihat hal-hal yang di belakang. Bukan kesan dan pesan yang dikemas hari ini untuk ke depan. Konsistensi ucapan kita yang dulu itu menjadi penting sekali.

Bagaimana jejak digital Anda?
Digital kita perlu digali. Apa yang pernah kita kerjakan dulu, dan wajar saja itu. Dan, memang pemilih juga ingin tahu kegiatan sehari-hari calon pemimpin mereka.

Anda punya akun media sosial apa saja?
Twitter, Instagram, YouTube, Facebook. Rekam jejak digital tidak hanya dari medsos ya, tapi kan kita pernah tampil di media massa, statemen kita di video, TV atau liputan selama tugas.

Tidak khawatir jejak digital Anda akan diubek-ubek?
Tidak bisa dihindari, pasti akan dicari sisi-sisi negatif. Tapi, kan masyarakat melakukan penilaian terhadap hal itu. Kita tidak boleh menutupi.

Apa yang akan Anda tawarkan kepada kaum milenial?
Generasi milenial saat ini first jobber, mid karier, bahkan sudah ada yang menjadi supervisor. Ini adalah generasi yang tidak yakin dengan tatanan ekonomi yang ada. Mereka yakin dengan dinamika. Dan, yang mereka inginkan adalah pemerintahan yang adaptif dengan dinamika itu. Nah, adaptif ini ada dua dimensi. Bisa menyadari perkembangan zaman. Di sisi lain memiliki ideologi untuk menjaga dan memiliki pemahaman.

Seperti apa konsep adaptif, sadar perkembangan zaman dan tetap punya ideologi?
Perkembangan zaman itu bukan ditentang. Kita bukan katak dalam tempurung. Contohnya online [e-commerce], kalau kita latah, ajarkan saja semuanya IT e-comerce. Nah, lantas siapa yang bikin barangnya? Kita akan jadi bangsa makelar nanti.

Apakah hal ini disampaikan kepada pemilih muda?
Menurut saya pemilih muda harus mengerti masalah ini. Jangan kemudian terkungkung pada kampanye bahwa pemilih muda tidak tahu. Pemilih muda wajib tahu, dikemas dengan bahasa santai dan rileks. Anak-anak muda itu konsumen yang dominan yang haus akan hal-hal baru. Jadi mereka drive perusahaan untuk terus melakukan inovasi. Akhirnya, perusahaan merekrut mereka sebagai inovator. Ini satu siklus yang saling terkait. Inovator milenial dan konsumennya milenial, akhirnya generasi tua ngikut. Intinya di politik generasi ini stakeholder. Makanya tidak sekadar mencomot mereka, tapi menjawab harapan mereka.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com