Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Mari Berwisata Belanja ke Pasar Jadul

Beberapa kota di Jawa Tengah mulai mengembangkan pasar wisata untuk mengembangkan potensi desa. Dengan konsep pasar tempo dulu, makanan tradisional, dan antiperalatan plastik.

Cobalah berkunjung ke Pasar Papringan. Anda akan menemukan ''mesin waktu'' yang membawa ke suasana ''desaku yang permai'' di sana. Betapa tidak, pasar yang terletak di Desa Ngadiprono, Ngadimulyo, Temanggung, Jawa Tengah, itu bukan sekadar menawarkan kenyamanan berbelanja, melainkan juga suasana pedesaan tempo dulu. Lokasinya dikelilingi hutan bambu nan asri dengan keriuhan desa di masa lalu. Di antara bilah-bilah bambu yang menjulang, daun-daunnya yang rimbun, hadir suasana hawa sejuk dan teduh. Padahal dulu lokasi ini adalah tempat pembuangan sampah.

Pasar Papringan tak cuma menata tegalan bambu, ada juga berbagai spot untuk berswafoto sebagaimana lazimnya tren lokasi wisata terkini, namun tetap dengan nuansa tradisional. Tema ''jaman dulu'' alias jadul memang sangat kental terasa di sana-sini. Berbagai komoditas barang dan pernak-pernik pasar diatur serba tradisional.

Suasana seperti itulah yang dirasakan GATRA saat berkunjung ke sana sejak memasuki gerbang bambu yang menjadi pintu masuk pasar istimewa ini. Uniknya, jika ingin berbelanja, jangan keluarkan duit kertas atau koin terbitan Bank Indonesia karena akan ditolak penjual. Soalnya, alat penukaran yang sah di Pasar Papringan adalah potongan bambu sepanjang jari yang disebut ''pring''--atau bambu dalam bahasa Jawa. Satu pring setara dengan Rp 2.000. Pring berlaku bukan hanya untuk membeli barang, melainkan juga untuk mengisi kotak retribusi pakiwan alias toilet di rumah-rumah penduduk.
Nah, berbekal pring, pengunjung bisa menikmati beberapa lapak pasar. Di lapak pertama, ada sayur-mayur segar hasil budi daya warga, seperti bayam, kangkung, dan kubis, yang dijajakan. Ibu-ibu boleh sepuasnya berbelanja, sedangkan bapak-bapak dan anak-anak bisa memilih sejumlah lokasi permainann.

Di satu sudut, tersedia mainan anak jungkat-jungkit yang dibuat dari bambu berdiamater besar bersisian dengan shelter bambu yang difungsikan sebagai perpustakaan. Di area playground, pengunjung disilakan bermain egrang, sambil mencoba--lalu diharap membeli--aneka dolanan jadul dari bambu seharga 5-10 pring. Mulai dari yoyo, gasing, tulup, kitiran dan othok-othok tersedia di sana.

Jika lelah, pengunjung bisa berleha-leha sebentar di tengah lokasi pasar, kaerna ada panggung seperangkat gamelan dimainkan secara langsung. Alunan gending jawa pun menambah suasana klangenan di hutan bambu itu. Apalagi, para penjaja di pasar yang semua warga setempat berdandan tradisional. Ibu-ibu berkebaya dengan rambut dikonde, bapak-bapak dan pemuda mengenakan kain lurik dan caping.

Semua perlengkapan pasar juga dari bahan alam seperti kayu, bambu, dan daun, hingga batok kelapa untuk mangkok dan gelas. Tak satu pun ditemukan peralatan dari plastik.

Yang menandai modernitas, tentu saja, adalah para pengunjung yang menenteng dan beberapa kali mengangkat ponsel atau kamera untuk berfoto. Diperkirakan, 1.500-4.000 orang berduyun-duyun mendatangi pasar ini sejak buka pukul 06.00 pagi dan kukut pada tengah hari, yang ditandai dengan pukulan kentongan.

Sejak dibuka pada 14 Mei 2017, Pasar Papringan digelar dua kali dalam selapan atau 35 hari sesuai dengan tradisi hari pasaran Jawa, yakni pada Minggu Wage dan Minggu Pon. Ada 60-80 lapak dengan 100-an penjual meramaikan area bambu seluas 2.500 meter persegi itu.

Seperti halnya pasar di hari libur, sajian utama dan paling banyak di Pasar Papringan tentu saja adalah makanan. Ada jajanan tradisional yang mulai langka seperti gethuk, tiwul, lento, combro, srowol, gemblong, sampai nama makanan yang baru saya dengar seperti bajingan kimpul dan ndas borok.

Ada masakan "berat" seperti gulai, soto, gudeg, pecel, gablog, sega gono, dan gono jagung. Tak ketinggalan minuman seperti dawet, kolak, ronde, dan sup buah, hingga sajian khas wedang pring berisi rendaman rempah-rempah plus bambu muda. Total sekitar 28 kuliner dijajakan di pasar ini.

Semua penganan di Pasar Papringan diolah pula secara alami. Lantaran bebas pengawet dan perasa buatan seperti MSG, sajian kuliner pasar ini sehat dan menyehatkan. ''Rasanya tetap enak. Datangnya harus pagi-pagi karena kalau agak siang makanan sudah tinggal sedikit,'' kata Sri Nurani dari Semarang sembari mencomot jenang.

Pasar ini pun memberdayakan warga. Bakul kupat tahu, Mbok Indiyati, 49 tahun, mengaku semula ragu ikut berjualan. ''Dereng nate dodol, wedi mboten payu (Belum pernah jualan, takut tidak laku),'' katanya. Namun ketimbang hanya menggarap sawah atau momong tiga cucunya, ia toh ikut dan mendapat pendampingan masak sehat.

Kini Mbok Indiyati merasa pede dan semringah, apalagi tiap gelaran pasar masakannya habis. Minggu itu, ia meraup 800-an pring atau sekitar Rp1,6 juta. Menurut dia, 15% pendapat disetor ke kas untuk pengembangan pasar dan desa. ''Lumayan buat nambah-nambah,'' kata dia sambil tertawa.

Sejak awal, warga menyiapkan pasar secara swadaya. Dari perencanaan, kerja bakti merapikan tegalan, menyusun jalan bebatuan dan sarana pendukung, sampai urunan dana Rp 80 juta-100 juta. Untuk tiap gelaran, warga berembuk beberapa hari sebelumnya.

Pengelola pasar, Imam Abdul Rofiq, menjelaskan konsep awal pasar ini untuk mengangkat tiga potensi lokal desa, yakni makanan, hasil tani, dan kerajinan. ''Dari pasar ini warga bergotong royong, guyub, dan mendapat edukasi. Artinya pasar tradisional bisa menjadi gerbang peradaban masyarakat yang lebih baik,'' kata pemuda asli Ngadiprono ini.

Setelah Pasar Papringan, sejumlah konsep tak jauh beda muncul. Pilihan lokasi yang eksotis, peranti pendukung serbakuno seperti mata uang khusus, penampilan penjualnya yang jadul, dan jenis kuliner berupa makanan tradisonal, nyaris sama.

Di Desa Meteseh, Boja, Kabuaten Kendal, Jawa Tengah, ada Pasar Karetan yang dibuka di area hutan karet PTPN setiaphari Minggu pagi sejak 5 November 2017. Namun, karena digelar di kawasan outbond, Pasar Karetan lebih modern dari segi lokasi, penataan ruang, bahan kuliner, dan kemasan acara yang dilengkapi hiburan musik band.

Berbagai ornamen di lokasi, seperti payung warna-warni, menjadikan pasar ini instagramable alias cantik untuk foto-foto. Pasar ini ramah untuk kunjungan keluarga dan anak-anak, seperti tampak dari sarana transportasi menuju hutan berupa kereta odong-odong. Dikelola warga setempat, pengunjung tak perlu bayar atas layanan ini.

Adapun di lokasi wisata hutan pinus di Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga digelar pasar serupa tiap Sabtu dan Minggu sejak 10 Desember 2017 dengan nama Pasar Kaki Langit. Pasar ini menjajakan masakan tradisional khas Yogyakarta seperti gudeg manggar, kicak, jadah tempe, sego abang, hingga aneka olahan ketela.

''Saat ini baru 13 orang penjual, tapi kami mau memperbanyak daya tampung pasar dan menata lebih baik, karena targetnya Pasar Kaki Langit menjadi lokasi wisata minat khusus kuliner,'' kata pengelola desa wisata Kaki Langit, Mangunan, Purwo Harsono.

Pasar Karetan dan Kaki Langit dikelola oleh komunitas anak muda pegiat wisata, Generasi Pesona Indonesia, di dua daerah itu. Meski menawarkan suasana dan citarasa tempo dulu, pasar-pasar jadul yang menjadi tujuan wisata baru ini bisa laris manis dari tangan-tangan kreatif generasi milenial yang piawai memainkan media sosial.

Arief Koes Hernawan

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com