Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Terapi Selimut Pasien Kanker

Depresi ikut berperan dalam memburuknya kondisi penderita penyakit kanker. Tenaga medis masih belum memahami faktor kejiwaan pasien. Peneliti UGM menemukan bahwa terapi selimut dapat mengurangi tingkat depresi dengan signifikan.

Sudah lama para peneliti mengetahui bahwa faktor psikologis menjadi salah satu hal yang menentukan dalam setiap proses pengobatan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Tak terkecuali bagi penderita penyakit kanker. Ketika divonis menderita kanker, penderita biasanya kondisinya langsung stres dan drop serta membutuhkan dukungan moril.

Tapi, sayangnya, beberapa tenaga kesehatan justru tak terlalu memerhatikan kondisi psikologi pasien kanker. "Padahal, beberapa pasien kanker bahkan mengalami depresi," kata Widiyono, master ilmu keperawatan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Fakta ini mendorong Widiyono melakukan penelitian bersama sejumlah rekannya di UGM. Ia ingin mencari metode terbaik dalam mengatasi faktor psikologis pasien kanker. Widi kemudian melakukan penelitian di Rumah Sakit (RS) Sardjito, Yogyakarta, dan RS Margono Soekarjo, Purwokerto. Dua RS ini merupakan salah satu tempat rujukan pasien kanker di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Widiyono meneliti 70 orang pasien penderita kanker. Sebanyak 12 pasien berumur antara 20 dan 40 tahun, 51 pasien berusia 40-60 tahun dan sisanya di atas 60 tahun. Jenis kankernya pun beragam, mulai kanker payudara, kanker serviks hingga penderita kanker paru-paru. Ia mengecualikan mereka yang menderita kanker otak. Ia mengambil sampel pada mereka yang tingkat keganasan kankernya hingga stadium III. "Stadium akhir yang hanya mendapat terapi paliatif tidak disertakan," kata Widiyono.
Ke70 pasien tersebut diperiksa menggunakan alat beck depression inventory (BDI). Hasilnya, semua pasien menderita stres. Namun, tingkat stres mereka berbeda-beda. Menurut Widiyono, 18 pasien menderita depresi ringan, 32 pasien depresi sedang, dan yang lainnya depresi berat. Penderita depresi sedang dan berat banyak dijumpai pada pasien yang menderita penyakit kanker di bawah dua tahun.

Tingkat depresi mereka bisa diketahui dengan memberikan kuesioner kepada mereka berupa gejala-gejala yang dialami. Mayoritas dari mereka, kata Widiyono, lebih banyak menangis. Ada yang merasa dirinya dihukum dan sukar mengambil keputusan dengan cepat. Ada pula yang nafsu makannya berkurang, mengalami sulit tidur, dan terbangun hingga dua-tiga kali semalam.

Mengenai tiga keluhan yang disebut terakhir, Widiyono yang melakukan penelitian bersama rekan-rekannya di UGM menemukan bahwa terjadinya retardasi psikomotor. "Retardasi psikomotor ditandai dengan tingkah laku motorik yang berkurang atau lambat," katanya.

Dari situ, Widiyono mengatakan bahwa sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk memperhatikan dan memberikan intervensi yang tepat terkait dengan kondisi psikologis pasien, selain penanganan kondisi fisiknya. Kemudian untuk psikoterapinya, dokter atau perawat memberikan obat psikofarmaka, seperti obat antidepresan.

"Tapi, psikoterapi lain yang terbukti efektif menurunkan gejala depresi adalah terapi musik yang merupakan bagian terapi komplementer," ujar Widiyono, yang juga pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sahid, Surakarta.

Dari hasil penelitian Widiyono diketahui, terapi musik diperlukan lantaran obat antidepresan dapat menyebabkan ketergantungan. Dengan terapi ini, "Penggunaan obat bisa dikurangi dosisnya dan tidak akan menimbulkan ketergantungan," ucapnya.

Terapi alternatif itu masuk dalam kategori CAM (complementary alternative medicine). Intervensinya, menurut Widiyono, terbilang murah dan dapat dilakukan secara sederhana serta noninvasif (tanpa bedah). "Lebih dari 80% pasien kanker secara global akhir-akhir ini menggunakan terapi CAM, salah satunya terapi musik," Widiyono menambahkan.

Ia sendiri mengembangkan terapi musik baru untuk melakukan intervensi psikologis. Dalam penelitiannya, dari 70 pasien yang diteliti, sebagian diberi terapi Selimut (Self Selected Individual Music Therapy). Dalam terapi ini, pasien dibebaskan memilih jenis musik yang disukai. Sisanya tak menjalani terapi tadi. Terapi diberikan selama 20 menit sebanyak empat kali sehari. Bagi pasien yang sedang mengonsumsi obat antidepresan, terapi musik baru dikerjakan beberapa jam kemudian. "Ini untuk menghindari terjadinya bias," tutur Widiyono.

Hasilnya, kelompok yang mendapatkan terapi Selimut menunjukkan penurunan gejala depresi secara signifikan. Sedangkan depresi yang dialami kelompok lainnya tak berkurang.

Menanggapi hal ini, Dokter Danardi Sosrosumihardjo, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, mengakui ada kecenderungan yang cukup tinggi pasien kanker terkena depresi. Terapinya, Danardi memberikan kombinasi dari terapi obat maupun terapi perilaku. "Di RS Khusus Kanker Dharmais, banyak pasien kanker dirujuk ke psikiater," ujarnya kepada wartawan GATRA Aulia Putri Pandamsari.

Ahli penyakit kanker dari FKUI, Profesor Zubairi Djoerban, mengatakan bahwa kekhawatiran pasien akan meninggal harus bisa diatasi oleh seorang dokter. Ia mencontohkan pasien kanker payudara stadium dini. Dari awal dokter harus mengatakan kepada pasien bahwa angka kesembuhannya sangat tinggi. "Jika pasien mendengarkan penjelasan yang baik dan benar, masalah depresi dan psikososialnya lain akan langsung hilang," Zubairi menjelaskan.

Menurut Zubairi, sudah seharusnya pasien kanker stadium lanjut atau jenis kanker tertentu yang kemungkinan sembuhnya sangat tipis, seperti leukimia akut, sudah seharusnya didampingi oleh konsultan seperti psikolog dan psikiater. Namun ia menegaskan, akan lebih mudah menghilangkan depresi pasien bila pasien didampingi oleh relawan yang sudah sembuh dari kanker.

Aries Kelana dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com