Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Impor Menjelang Panen Raya

Beras impor mulai berdatangan hingga akhir Februari ini. Beras sebanyak 261.000 ton itu akan langsung masuk gudang dan tidak akan dikeluarkan ketika panen raya berlangsung. Akankah harga beras terus bergejolak?

Beras impor mulai membanjiri Indonesia dalam pekan-pekan ini. Selasa siang lalu, misalnya, 30.000 ton beras asal Thailand masuk lewat Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun, menurut Direktur Pengadaan PT Bulog, Ardianto, jadwal bongkar muatnya belum ditentukan.Sebab, 41.000 ton beras asal Vietnam masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok, yang merapat sehari sebelumnya, belum bisa bersandar.

"Karena 2 kapal lumayan besar akan memakai dermaga dan bongkar, itu potensi antre," katanya. Di luar yang berlabuh di Tanjung Priok, sebanyak 6.000 ton beras impor juga masuk melalui Pelabuhan Merak, Banten, dan 10.000 ton lewat Pelabuhan Tenau, Kupang.

Beras impor tersebut akan masuk melalui 9 pelabuhan di Tanah Air, di antaranya Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), dan Panjang (Lampung). Diperkirakan pengiriman seluruh beras impor akan tuntas pada akhir bulan ini. Beras-beras tadi akan langsung dimasukkan ke dalam gudang milik Badan Urusan Logistik (Bulog).

Semua itu merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk memasukkan beras impor sebanyak 261.000 ton. Jumlah beras impor ini lebih rendah dari rencana semula sebesar 500.000 ton, seperti diutarakan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, bulan lalu. "Sisanya akan ditentukan pada rapat kordinasi nanti," katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA, Selasa malam silam.

Impor dimaksudkan untuk mencegah panic buying, yaitu ketika orang memborong beras, sebelum beras langka. Jika itu terjadi, beras akan mahal. Presiden Joko Widodo tetap menginginkan menurunkan harga beras. "Saya sampaikan ke Pak Darmin [Nasution], kita harus adakan rapat untuk turunkan harga," ujar Enggartiasto.

Impor beras terpaksa dilakukan lantaran stok beras, di gudang Bulog dan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) terus merosot. Stok beras di PIBC per 8 Februari lalu tinggal 21.484 ton. Pada 3 Februari lalu 23.452 ton. "Padahal keputusan untuk impor bila stok beras sudah di bawah 35.000 ton," kata Enggartiasto.

Dalam pertemuan dengan GATRA, Selasa pekan lalu, Direktur Utama Bulog, Djarot Kusumayakti, mengemukakan alasannya. "Tidak tercapainya kuota impor karena waktu pembelian yang singkat," ujarnya. Saat ini cadangan beras di gudang Bulog sekitar 670.000 ton. Mengenai kecukupan impor untuk kebutuhan dalam negeri, Djarot ogah menanggapi. Begitu pula ketika dihubungi wartawan GATRA M. Egi Fadliansyah.

Impor bulan ini berlangsung di tengah panen raya di sejumlah daerah. Diperkirakan bulan depan hingga April akan terjadi dalam skala besar. Kedatangan beras impor belum berpengaruh pada harga beras, yang masih tetap tinggi.

Suparno, pedagang beras di Surabaya, mengakui hingga kini harga beras di pasaran masih tergolong mahal. Di Pasar Wonokromo, Surabaya, harga semua jenis beras naik. "Paling tinggi harganya Rp 13.000 per kilogram," katanya. Beras jenis Raja Lele yang biasanya Rp 58.000/5 kg, kini melonjak menjadi Rp 60.000/5 kg. Menurutnya harga beras akan turun pada saat masuk Maret mendatang. "Karena pada bulan Maret, petani mulai panen," tuturnya.

Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, menjamin bahwa beras impor tadi tidak akan mengganggu stabilitas harga beras. Beras itu tak langsung dilempar ke pasar. "Kunci gudang tempat penyimpanan beras impor tersebut nantinya hanya dipegang oleh Kepala Satgas Pangan," katanya.

Ia berharap rencana impor beras tersebut tidak dikaitkan dengan penurunan harga beras petani saat ini ataupun proyeksi panen raya yang segera tiba. Ia menegaskan, fungsi beras impor semata-mata untuk penguatan stok.

Moeldoko menambahkan, saat ini konsumsi beras per kapita di Indonesia rata-rata 114 kg per tahun, yang harus dapat dipenuhi dan dijamin pasokannya oleh negara. "Terlebih lagi stok yang ada juga digunakan untuk operasi pasar guna menahan harga gabah petani agar tidak jatuh," ujarnya.

Harga beras akan turun karena harga gabah di tingkat petani turun, seiring akan berlangsung masa panen raya. Harga gabah turun Rp 1.000-Rp 1.200. Sedangkan, harga beras di Pasar Induk Cipinang mulai turun Rp 400-Rp 600. "Untuk itu, yang ingin kita sampaikan kepada para petani adalah, sekali lagi bukan karena impor, harga itu turun," ujar Moeldoko, yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.

Menanggapi hal itu, pengamat pertanian dari Intitute for Development Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah, menyarankan agar impor cukup dilakukan sampai Februari. Sebab pada Maret akan memasuki masa panen raya. "Bila tetap dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi persaingan antara beras impor dan lokal," ujarnya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA.

Adanya beras impor akan makin menurunkan harga beras lokal. Konsumen akan melihat beras impor lebih murah dan yang dirugikan adalah pengusaha lokal. Pasalnya, akan terjadi persaingan antara beras lokal dan impor. Efeknya, beras lokal menjadi kalah saing.

Berdasarkan data besaran dan ongkos produksi per kilo beras dari International Rice Research Institute (2016), beras lokal jauh lebih mahal daripada beras impor. Total rincian ongkos produksi 1 kg padi sebesar Rp 4.079 di Indonesia. Bandingkan dengan biaya ongkos produksi padi di Thailand Rp 2.291/kg, dan India Rp 2.306/kg. Vietnam menjadi negara di Asia yang memiliki angka biaya produksi rendah, yaitu Rp 1.679/kg. Besarnya biaya produksi padi di Indonesia karena biaya buruh lepas dan sewa tanah lumayan mahal.

Rusli meragukan Pemerintah akan terus menggudangkan beras impor. Ini karena beras impor menjanjikan keuntungan. Bila diambil keuntungan Rp 100 per kilo, dan dikalikan 261.000 ton, laba yang diraup bisa mencapai minimal Rp 26,1 milyar. Begitupun, ia tak berani menyebut adanya mafia beras impor. "Perlu banyak bukti untuk memastikan aktor di balik peristiwa," katanya.

Kekawatiran serupa juga mengemuka bila impor tak dilakukan, yaitu pengusaha beras lokal leluasa memainkan harga beras. Namun, begitu ada sinyal bahwa pemerintah akan mengimpor beras, pengusaha buru-buru melemparnya ke pasar.

Aries Kelana, Hendry Roris P. Sianturi, M. Nur Cholis Zaein (Surabaya)

***

Kronologi Lelang Impor Beras
Dalam proses lelang yang dimulai medio bulan lampau, 20 calon eksportir yang mendaftar. Setelah seleksi administrasi dan kinerja perusahaan, Bulog menunjuk 12 perusahaan yang lolos. Tetapi, hanya 11 perusahaan yang memberikan penawaran. Sisanya dianggap tak lolos lantaran penawarannya tidak sesuai dengan pagu pemerintah. 'Dari 11 yang masuk bidding, yang sampai penandatanganan berita acara kemenangan, yang menang hanya 8," kata Direktur Utama Bulog, Djarot Kusumayakti.

Dari 8 perusahaan pemenang, tidak semua menandatangani kontrak pembelian. Menurut Djarot, hanya 6 perusahaan yang mau menandatangani kontrak. "Setelah berhitung, dua lagi merasa enggak mampu," ujarnya. Keenam pemenang lelang itu berasal dari India, Vietnam, dan Thailand.

Salah satu dari 6 perusahaan tersebut belum menyerahkan perkiraan waktu tiba kepada Bulog untuk mendatangkan 20.000 ton. Padahal sebelumnya perusahaan itu menyatakan kesanggupan. "Sampai akhir Februari enggak confirm. Dia [dianggap] batal," ujar Djarot.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.16 / Tahun XXIV / 15 - 21 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com