Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Mengembalikan Sang "Venesia dari Timur"

Kawasan Sungai Musi direvitalisasi untuk menghidupkan wisata sungai. Demi Asian Games 2018.

Kota Palembang memiliki destinasi wisata baru: Sungai Musi. Sungai sepanjang 750 kilometer, yang membelah Palembang menjadi dua bagian, dengan jembatan Ampera sepanjang satu kilometer sebagai penghubung, ini direvitalisasi sehingga menjadi lebih bersih dan indah.

Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Kota Palembang mengalokasikan Rp 7,5 milyar pada 2018 untuk proyek revitalisasi ini. Proyen tersebut mencakup pembebasan lahan selebar 7 meter di sepanjang sisi sungai, memperdalam sungai, membersihkan dan mempercantik tepian sungai, lalu memoles tepian sungai dengan cat warna-warni. Untuk urusan pengecatan, salah satu perusahaan cat bersedia menjadi sponsor.
Pada awal Februari lalu, tahap pertama proyek revitalisasi ini selesai dengan meremajakan Sungai Sekanak, salah satu anak Sungai Musi. Sekanak adalah salah satu dari beberapa anak sungai yang membelah kota Palembang. Tiga anak sungai yang lain adalah Sungai Bendung, Sungai Buah dan Sungai Lambidaro.
Penyelesaian proyek revitalisasi Sungai Sekanak, yang memakan waktu sebulan, ditandai secara simbolis dengan penggutingan pita oleh Wali Kota Palembang, Harnojoyo. "Revitalisasi Sungai Sekanak ini tahap awal dalam merevitalisasi sungai menjadi objek wisata," katanya. Setelah Sekanak, sasaran berikutnya adalah Sungai Bendung, lalu kedua anak sungai lainnya.

Rani Arpani, 34 tahun, warga yang tinggal di sekitar Sungai Sekanak, menyambut gembira proyek ini. Dia menceritakan, dulu Sekanak terkenal sebagai pusat perdagangan. Tapi lambat-laun, karena tidak dirawat, sungai mengalami pendangkalan sehingga tidak bisa lagi berfungsi sebagai jalur transportasi, apalagi perdagangan.

Baru sejak tiga tahun lalu, katanya, Pemerintah Kota Palembang mulai memperbaiki Sungai Sekanak, yang lalu dilanjutkan dengan revitalisasi intensif selama sebulan terakhir. Kini Sekanak, yang berjarak 30 meter dari kantor Wali Kota Palembang, lebih bersih dan 'berwarna' karena hiasan mural dan cat warna-warni di dinding tepian sungai. "Sekarang masyarakat makin ramai kembali ke sungai," kata Rani.

Tidak sekadar merevitalisasi sungai, Pemerintah Kota juga menambah infrastuktur dengan pengadaan beberapa kapal wisata untuk melayani turis. Kapal-kapal kecil ini bisa digunakan untuk menikmati wisata Sungai Musi dengan menyusuri Sungai Musi beserta anak-anak sungainya, sekaligus berhenti di beberapa lokasi wisata populer di sepanjang sungai.

Salah satu lokasi terkenal misalnya Pulau Kemaro, yang sebenarnya merupakan sebuah delta (endapan di muara sungai) di muara Sungai Musi. Nama Kemaro berasal dari kata "kemarau". Menurut legenda, pulau itu tidak pernah terendam air, bahkan ketika Sungai Musi meluap sekalipun.

Daya tarik utama Kemaro adalah Kelenteng Hok Tjing Rio dan pagoda berlantai sembilan. Alkisah, menurut legeda, Kemaro terbentuk dari kisah cinta seorang saudagar Cina, Tan Bun An dan Siti Fatimah, putri Kerajaan Sriwijaya, setelah keduanya terjun ke sungai Musi. Di pulau ini juga terdapat pohon beringin yang disebut "pohon cinta" yang disebut-sebut muncul akibat kisah cinta tersebut.

Ada mitos, bila suatu pasangan mengukirkan nama mereka di pohon, cinta mereka akan abadi seperti legenda Tan Bun An-Siti Fatimah. Adanya mitos ini membuat pohon beringin ini jadi rusak karena dipenuhi ukiran nama para muda-mudi. Akhirnya, pengelola kelenteng memagari pohon dan memasang papan peringatan bahwa justru banyak orang kesurupan karena mengukirkan nama di pohon.

Lokasi lain yang juga bisa dikunjungi di sepanjang Sungai Musi adalah kampung Arab Al Munawar. Ini merupakan kampung kuno yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu ulin. Ada delapan rumah yang berusia lebih dari 250 tahun. Nama kampung Almunawar berasal dari Habib Abdurrahman al-Munawar, ulama asal Hadramaut, Yaman Selatan, yang datang ke Palembang pada awal abad ke-18 dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Di kampung AlMunawar, pengunjung bisa berinteraksi dengan sekitar 300-an warga asli kampung Almunawar. Wajah-wajah Arab mudah dijumpai. Ini karena kampung Almunawar merupakan kampung homogen. Ada aturan tidak tertulis bahwa wanita di kampung Almunawar tidak boleh menikah dengan pria non-Arab, karena akan membuat garis keturunan Arab di keluarga itu terputus. Tapi untuk laki-laki, mereka boleh menikahi wanita non-Arab.

Tidak jauh dari kampung Almunawar, ada satu lagi lokasi wisata yang juga sering dikunjungi wisatawan, yaitu Kelenteng Kwan Im atau Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi (Soei Goeat Kiang), yang dibangun pada abad ke-17. Kelenteng yang populer dengan sebutan Kelenteng Dewi Kwan Im 10 Ulu (karena berlokasi di daerah 10 Ulu), ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada sore hari. Ada yang datang untuk beribadah. Namun yang justru lebih banyak adalah wisatawan yang ingin menikmati pemandangan matahari terbenam. Lokasi kelenteng ini memang sangat strategis, di hulu sungai.

Upaya keras Pemerintah Kota Palembang merevitalisasi Sungai Musi dan anak-anak sungainya memang bukan tanpa momentum. Pelaksanaan Asian Games 2018 pada Agustus-September nanti merupakan momentum straregis untuk menggenjot pariwisata Palembang. Terlebih, menurut data Dinas Pariwisata Palembang, sekitar 80% turis datang untuk menikmati wisata sungai Musi.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani, menjelaskan, selain meyambut momentum Asian Games 2018, proyek revitalisasi Sungai Musi ini diharapkan juga bisa mengembalikan keindahan kota Palembang sebagai "Venesia dari Timur" atau "Venice of the East". Julukan itu semula dari penjajah Belanda yang melihat kota Palembang sangat mirip dengan kota Venesia di Italia, karena wilayahnya dikelilingi anak-anak sungai dari aliran induk Sungai Musi.

Upaya revitalisasi sungai itu, yang sudah dimulai sejak tiga tahun lalu, kini mulai menunjukkan hasil. Menurut Isnaini, pada 2016 lalu jumlah wisatawan yang ke Palembang hanya 1,8 juta orang. Tapi pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 2,1 juta wisatawan. "Harapannya, Sungai Musi bisa jadi destinasi wisata tingkat internasional, seperti Venesia," katanya.

Basfin Siregar dan Tasmalinda

Cover Majalah GATRA edisi No.17 / Tahun XXIV / 22 - 28 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com