Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Diet Vegetarian, Ya atau Tidak

Peneliti Amerika Serikat membuktikan, diet vegan dapat menurunkan obesitas dan diabetes. Tetapi sebaliknya, juga bisa mengakibatkan kekurangan gizi. Perlu modifikasi diet, kecuali untuk pasien diabetes parah.

Coba tanyakan kepada sembarang wanita Indonesia: kapan berat tubuh mereka mendadak naik? Walaupun belum ada survei resmi tentang ini, umumnya berat badan naik saat masa kehamilan dan Lebaran tiba. Setelah melewati masa-masa itu, para ibu pun menyatakan kebulatan tekad mereka untuk berdiet.

Itu juga yang menjadi tekad Sica M., 36 tahun. Warga Depok, Jawa Barat, itu pun memilih diet khusus, yakni diet vegetarian (vegan) untuk mengatasi kelebihan bobot tubuhnya. Awalnya, Sica pernah berusaha mengatur pola makan ketika sebelum hamil dan melahirkan. Ia mencoba menghindari konsumsi daging dan turunannya. Cukup buah dan sayuran.

Ketika itu upayanya cukup berhasil, namun memasuki musim Lebaran pertahanannya jebol. Opor ayam dan daging rendang menjadi menu utama. Berat badannya beranjak naik jadi 60 kilogram.
Suaminya berulangkali menyarankan agar ia menjaga pola makan. “Menikah dengan lelaki yang tak suka makan daging apa pun, ayam dan ikan, tidak juga membuat saya berhenti sebagai omnivora,” katanya bergurau kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA, Kamis pekan lalu.

Dengan bobot itu, ia mengaku susah bergerak aktif. Barulah Sica menyadari, saran sang suami ada benarnya. Ia taat menjalankan diet vegan sejak 2012. Selain itu, semenjak mendengar cerita perlakuan kejam manusia terhadap hewan, Sica semakin semangat menjalani diet vegan.

Menurutnya, hewan tidak seharusnya disiksa untuk dijadikan santapan manusia. Ketika melihat makanan hewani, ia menjadi ingat dengan hewan tersebut. Apalagi yang dijadikan sebagai olahan makanan merupakan hewan yang populasinya semakin sedikit seperti penyu. “Pada saat itulah, saya paham. Ada yang lebih esensial tentang keputusan menjadi vegan. Tentang belas kasih, tentang iba kepada hewan,” ujar karyawati di salah satu perusahaan swasta itu. Sica mengaku, setelah rutin menjalani diet vegan, ada efek positif yang terjadi. Berat badannya kini berkurang drastis. Sica merahasiakan berat tubuhnya, tapi tubuh terasa ringan dan fit. Ia mengaku bisa begini tanpa arahan dari pelatih atau dokter gizi.

Diet vegan kini digemari oleh beberapa artis. Nikita Willy, Sophia Latjuba, Wulandarai Herman, atau Dewi Sandra juga sudah menjalani diet vegan. Berkat diet tersebut, tubuh mereka terlihat langsing dan fit.

Diet ini diklaim dapat mengatasi berbagai penyakit seperti hipertensi. Yang terbaru, diet vegan bisa mencegah diabetes bagi orang yang menderita obesitas. Pada beberapa kasus, obesitas dikaitkan dengan risiko penyakit diabetes, selain penyakit jantung dan stroke.

Namun penelitian yang digarap Hana Kahleova dari Physicians Committee for Responsible Medicine di Washington, Amerika Serikat, membuktikan bahwa seorang penyandang obesitas bisa terlepas dari risiko diabetes, asalkan rajn menjalani diet vegan.

Dalam laporan yang ditulis situs sciencedaily.com Selasa pekan lalu, ia bersama koleganya meneliti 74 relawan obesitas. Kemudian relawan itu dibagi menjadi kelompok. Kelompok pertama diminta melaksanakan diet vegan. Mereka diminta mengonsumsi produk berbahan nabati seperti buah, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran, dan yogurt rendah lemak.

Sedangkan kelompok lainnya hanya mengikuti diet antidiabetes. Asupan makanan kedua kelompok tadi tidak dibatasi jumlah kalorinya. Mereka pun diminta tidak berolahraga atau mengonsumsi obat.

Setelah enam bulan, hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang menjalani diet vegan mengalami banyak perbaikan. Terjadi pengurangan berat badan rata-rata sebanyak 6,2 kilgoram – hampir dua kali lipat lebih efektif daripada kelompok yang cuma menjalani diet anti diabetes. Kelompok ini hanya berhasil mengurangi 3,2 kilogram.

Selain itu, selama riset, Kahleova bersama rekannya juga mempelajari jaringan tempat menyimpan lemak (jaringan adipose) yang berada di paha, untuk melihat bagaimana efek dari dua tipe diet tersebut dalam memengaruhi lemak subkutan, subfascial, dan intramuscular. Di lokasi-lokasi inilah lemak banyak tersimpan. Hasilnya, baik lemak subfascial maupun intramuscular berkurang sebagai respons terhadap diet vegetarian.

Temuan ini menjadi penting, karena peningkatan lemak subfascial pada pasien diabetes tipe 2 berkaitan dengan resistensi insulin. Pengurangan tersebut memberikan efek menguntungkan pada metabolisme glukosa.

Sementara itu, pengurangan terhadap lemak intramuskular dapat meningkatkan kekuatan otot dan mobilitas, terutama pada orang tua penderita diabetes. Nah, dampak diet vegan, pankreas dapat bekerja optimal menghasilkan insulin, sehingga kadar gula darahnya bisa dikelola dengan baik.

Temuan tersebut tentu saja dapat membantu orang yang kepayahan mengendalikan berat badannya. Berbagai upaya, seperti berolahraga dan menjalani pola makan yang menyehatkan serta minum obat obesitas, sudah dilakukan. Toh, tak bisa menurunkan berat badan.

Apalagi, jumlah penderita obesitas cenderung meningkat. Pada 2016, penduduk dewasa berusia diatas 18 tahun yang mengalami kegemukan atau obesitas sebesar 20,7% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa. Angka itu meningkat pesat, lantaran pada tiga tahun sebelumnya, penduduk yang kegemukan sebesar 15,4%. Sementara itu, kajian Global Burden of Diseases yang dipublikasikan jurnal Lancet pada 2014 mengungkapkan, Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia.

Jumlah penderita diabetes tipe 2 di Tanah Air sebanyak 10 juta orang pada 2016, dan ditaksir akan naik pesat menjadi 21,3 juta pada 2018. Indonesia kini menempati urutan ke-7 negara yang memiliki jumlah penderita terbanyak di dunia. Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang disebabkan ketidakmampuan pancreas memproduksi insulin yang cukup untuk mengubah gula darah menjadi energi.

Menanggapi hal tersebut, ahi gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Saptawati Bardosono mengaku, peran diet vegan cukup berpengaruh untuk mencegah diabetes tipe 2 pada penyandang obesitas. Menurutnya, pada penyandang obesitas sudah terjadi proses peradangan dalam tubuh karena berlebihnya jumlah lemak. Kondisi yang demikian akan memicu terjadinya resistensi insulin -- tubuh tidak dapat memanfaatkan hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas.

Kurangnya hormon insulin akan menyebabkan kadar gula dalam tubuh naik, sehingga berisiko menyebabkan timbulnya penyakit diabetes melitus. “Karena itu, orang obesitas harus memilih makanan yang dapat menurunkan inflamasi, selain juga untuk mengatasi obesitasnya,” katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA, melalui surat elektronik. Bahan makanan yang direkomendasikan olehnya adalah bahan makanan yang rendah kalori, rendah lemak, dan tinggi serat serta pemasakan bahan makanan tanpa digoreng.

“Bahan makanan yang bersumber dari tanaman adalah yang paling tepat, apalagi bila disertai dengan olahraga,” kata Saptawati. Namun, Saptawati mengatakan bahwa biasanya dokter masih menyarankan pasien obesitas mengonsumsi makanan diet dengan gizi seimbang bukan diet vegan. Sebab, diet vegan dikhawatirkan dapat menyebabkan pasien kekurangan zat gizi mikro vitamin mineral dan asam lemak omega 5 yang banyak terkandung dalam daging, ikan, telur, atau susu.

"Makanya, muncul diet vegan modifikasi seperti vegan lakto ovo, yang membolehkan pasien mengonsumsi susu dan telur," ujarnya. Tetapi bagi penderita obesitas dengan tingkat yang parah, yang biasanya disertai dengan gangguan metabolik dan proses peradangan yang berat, maka metode diet vegan sangat dianjurkan.

Aries Kelana

Cover Majalah GATRA edisi No.17 / Tahun XXIV / 22 - 28 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com