Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Skandal Seks Bencana Gempa

Sejumlah petinggi dan staf Oxfam terlibat skandal seks saat melakukan operasi kemanusiaan di Haiti. Pemerintah Haiti menuntut penyerahan para pelaku. Pemakaian keuangan Oxfam mulai ditelisik.

Badai skandal seks mengguncang lembaga donor Oxfam International asal Inggris. Akibatnya, sejumlah perusahaan pendonor menyoroti terkuaknya skandal yang melibatkan petinggi dan pekerja lembaga itu. Petinggi Oxfam dan sejumlah staf dituding menyewa pekerja seks komersial anak-anak saat mereka bertugas di Haiti dan Chad pada 2010. Saat itu, gempa mengguncang Haiti yang mengakibatkan ribuan korban jiwa.

Sehubungan dengan skandal itu, Deputy Chief Executive Oxfam International, Penny Lawrence, mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin pekan lalu. "Ada masalah yang yang terkait perilaku staf di Chad dan Haiti, dan kami gagal menyikapinya secara memadai," kata Lawrence kepada CNN.

Kelabakan atas terungkapnya skandal itu, pejabat eksekutif Oxfam menemui Penny Mordaunt, Menteri Pembangunan Internasional Inggris, Senin malam, pekan lalu. Mereka berupaya meyakinkan sang menteri bahwa badan amal tersebut dapat dipercaya mengelola dana hingga 32 juta poundsterling.

Caroline Thomson, Ketua Pengawas Oxfam, mengatakan, "Kami menyadari bahwa kami memiliki cara untuk meyakinkannya bahwa kami memiliki kepemimpinan moral yang tepat untuk sepenuhnya dipercayai dengan uang publik."

Namun, masalah itu hanya mereda kurang dari satu jam, saat 'peniup' peluit Helen Evans, mantan kepala pengawal global Oxfam, menyampaikan tiga tuduhan baru terhadap staf Oxfam di luar negeri. Dia mengatakan kepada Channel 4 News, "Ada seorang wanita dipaksa untuk melakukan hubungan seks oleh seorang pekerja bantuan lain.'' Dia lantas menguraikan satu kasus relawan dewasa yang menyerang relawan anak dan dia sangat khawatir, anak-anak itu ditinggalkan, sementara relawan tidak diperiksa catatan kriminalnya.

Badan Pengawas Amal pun bersiap menyelidiki Oxfam. Wakil kepala eksekutif komisi tersebut, David Holdsworth, mengatakan, "Isu-isu yang terungkap dalam beberapa hari terakhir mengejutkan dan tidak dapat diterima."

Ada 12 tuduhan pelecehan selama dua tahun. Tuduhan itu muncul hanya 24 jam setelah badan amal tersebut bersikeras tidak merinci tuduhan penggunaan pelacur, yang beberapa di antaranya di bawah umur. Menurut Evans temuan terbaru tentang penggunaan pelacur di Haiti, "tidak mengejutkan", karena dia telah menginformasikan keprihatinannya kepada Komisi Amal sejak 2015.

Mark Goldring, Kepala Eksekutif Oxfam Inggris, meminta maaf kepada Evans dan menyatakan akan mengundurkan diri jika Dewan Pengawas meminta. "Saya minta maaf karena tidak bertindak cukup cepat,'' katanya.

Seorang juru bicara Komisi Amal mengatakan, pada 2015, "Kami menanggapi kekhawatiran yang diajukan Evans dengan serius dan bersama Oxfam secara formal untuk mengatasinya.

Profesor Andrew MacLeod, seorang pengacara dan mantan pekerja bantuan mengatakan, memakai jasa pekerja seks anak merupakan pelanggaran hukum yang serius. ''Di bawah undang-undang pariwisata seks anak Inggris, jika salah satu pelacur ini masih di bawah umur, orang tersebut telah melanggar hukum di sini. Dan mungkin eksekutif Oxfam telah melanggar hukum dengan membantu, bersekongkol dan memberikan perlindungan.''

Dia mengatakan, jika badan amal itu melakukan dengan serius, mereka akan mengajukan sebuah dokumen mengenai tuduhan Haiti ke polisi. ''Sampai mereka mulai memasukkan orang-orang ke penjara tidak ada yang akan berubah,'' katanya.

Penny Mourdant, Menteri Pembangunan Internasional, mengumumkan permintaannya agar kejahatan tersebut diinvestigasi dengan memerriksa para pekerja yang berasal dari negara-negara penerima bantuan. Meskipun dia telah menulis surat kepada semua badan amal yang meminta jaminan prosedur pengamanan.

Penny Lawrence adalah pejabat eksekutif pertama yang mengundurkan diri. Dia mengakui, badan amal tersebut mengetahui tuduhan penggunaan pelacur oleh Roland van Hauwermeiren dan timnya di Chad pada 2006. Lima tahun kemudian dia dikirim ke Haiti dan terlibat dalam sebuah skandal pesta dengan menyewa pelacur oleh para pekerja senior. Beberapa di antara pelacur itu diduga adalah anak di bawah umur.

Empat staf dipecat sebagai hasil investigasi Oxfam 2011 dan tiga lainnya, termasuk van Hauwermeiren, diizinkan mundur sebelum investigasi disimpulkan. Skandal kesalahan seksual di Oxfam makin serius. Pada Senin malam pekan lalu, Evans mengungkapkan bahwa relawan remaja di toko-toko Inggris disiksa. Selain itu, staf luar negeri telah memperdagangkan bantuan untuk seks.

Dalam beberapa tuduhan yang paling eksplosif terhadap badan amal tersebut, Helen Evans menuduh bosnya mengabaikan bukti dan permintaannya tentang banyaknya sumber daya dan memaksanya berhenti dalam keputus-asaan. Evans mengatakan, pelecehan seksual oleh manajer toko di Inggris terhadap relawan muda ditutup-tutupi. Sepuluh persen staf di beberapa negara diserang secara seksual oleh rekan kerja atau menyaksikan pelecehan.

Pemerintah Inggris mengumumkan akan menurunkan sebuah unit untuk menyelidiki pelecehan seks di sektor bantuan. Evans menegaskan, "Di balik Oxfam ada ribuan staf yang berkomitmen untuk mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari. Dalam hal tim kepemimpinan senior, saya pikir mereka perlu melihat ke belakang dan berkata, apakah mereka melakukan semua yang mereka butuhkan untuk menjaga agar penerima manfaat tetap aman?"

Tuduhan terakhir muncul karena ada tuntutan agar eksekutif dan staf Oxfam di Inggris dituntut pidana jika mereka menutup mata terhadap pelecehan di luar negeri. Disampaikan juga kekhawatiran atas penggunaan uang masyarakat oleh Oxfam.

Situasi semakin keruh ketika Pemerintah Haiti menuntut penyerahan pelaku pelanggaran untuk diproses hukum. Duta Besar Haiti untuk Inggris, Bocchit Edmond, meminta nama-nama yang terlibat. Pemerintah Haiti merasa malu dan terkejut atas terjadinya kasus tersebut. "Pejabat yang mengetahui terjadinya peristiwa ini dan membiarkan orang-orang itu pergi begitu saja, tanpa memberitahu pihak berwenang adalah salah," kata Edmond.

Direktur Eksekutif Oxfam International, Winnie Byanyima, mengaku sedih atas terjadinya skandal seks yang melibatkan pimpinan dan staf Oxfam. "Saya merasa sangat sedih. Apa yang terjadi di Haiti, sejumlah lelaki dengan kewenangan yang dimiliki menyakiti orang-orang yang seharusnya mereka lindungi," kata wanita kulit hitam yang menempati posisi sebagai direktur sejak 2013.

Rohmat Haryadi
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.17 / Tahun XXIV / 22 - 28 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com