Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Jerat Suap Netanyahu

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dituduh menerima gratifikasi senilai Rp 3,8 milyar. Polisi menduga adanya praktik penyuapan, korupsi, dan pelanggaran kepercayaan. Nasibnya ada di tangan Jaksa Agung Avichai Mandelblit.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersikukuh tetap bertahan menghabiskan masa jabatannya pada akhir tahun mendatang. Pernyataan lugas itu ia kemukakan di tengah tuduhan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan yang melilitnya. Polisi telah mengajukan hasil penyelidikan selama 14 bulan kepada Kejaksaan Agung. Kini, nasib Netanyahu berada di tangan Jaksa Agung Avichai Mandelblit, apakah kasusnya akan bergulir menjadi dakwaan atau terhenti.

Netanyahu mengibaratkan tuduhan itu sebagai keju swiss yang bolong-bolong. Ia yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 31 Maret 2009 itu menanggapi tudingan itu sebagai hal menyesatkan. ''Laporan polisi itu bertentangan dengan kebenaran dan logika,'' ujarnya kepada The Guardian.

Kasus hukum itu memengaruhi opini publik Israel terhadap integritas Netanyahu. Hasil jajak pendapat 495 responden di saluran televisi komersial Israel, Reshet menyebutkan, 49% responden percaya akan versi polisi. Meski demikan, sebanyak 43% mendukung Netanyahu memimpin pemerintahan dan menangguhkan permasalahan itu.

Para responden yang mewakili 44% pemilih Hebrew Israel itu juga menganggap penyelidikan kepolisian Isreal tersebut bukan sebagai upaya untuk menggulingkan Netanyahu. Namun memang ada 28% suara beranggapan demikian.

Setidaknya ada dua kasus hukum yang membelit Netanyahu. Pertama, kasus yang disebut polisi sebagai Kasus 1.000. Dalam kasus ini Netanyahu dituduh menerima hadiah mewah senilai Rp 3,8 milyar dari milyuner Hollywood asal Israel, Arnon Milchan, dan pengusaha Australia, James Packer.

Kedua, konspirasi untuk memuluskan rencana pembangunan pabrik mobil murah India di zona perdagangan bebas di wilayah perbatasan Israel, Yordania dan Palestina. Polisi berkeyakinan Netanyahu setuju untuk mempromosikan produksi mobil murah merek Tata Group.

Konspirasi ini diyakini polisi sebagai bantuan kepada produser Hollywood asal Israel, Arnon Milchan, dengan imbalan hadiah mobil mewah. Milchan dan rekan bisnis India-nya, Ratan Tata, mendirikan perusahaan patungan untuk membangun pabrik Tata di Timur Tengah. Dalam rencana itu, Milchan mengatakan bahwa Tata siap menginvestasikan ratusan juta dolar. Netanyahu pun menyukai ide tersebut.

Sejumlah sumber mengatakan, pada akhir 2009 lalu, Milchan bertemu dengan Netanyahu dan membicarakan panjang lebar rencana pembangunan zona perdagangan dan investasi pabrik mobil Tata. Pabrik yang akan dibangun itu bakal mempekerjakan orang-orang Palestina, Israel dan Yordania. Mobil murah yang dihasilkan akan dijual, terutama ke negara-negara Arab.

Polisi menuduh Netanyahu membentuk sebuah tim untuk mendorong proyek tersebut. Tim dipimpin oleh Direktur Kantor Perdana Menteri Israel, Eyal Gabbay. Sebagai kompensasi atas persetujuannya, masih versi polisi, Netanyahu menerima hadiah, terutama cerutu untuk dirinya dan sampanye untuk istrinya, Sara Netanyahu. Penasihat di kantor pria kelahiran Tel Aviv, 21 Oktober 1949 tersebut juga mengatakan bahwa hal tersebut butuh proses penawaran. Sebagaimana dilansir Haaretz, Gabbay menahan antusiasme Netanyahu akan rencana itu. ''Tidak ada alasan khusus untuk mengizinkan Milchan dan Tata di zona perdagangan bebas,'' ucapnya.

Keprihatinan lain Gabbay adalah, zona tersebut digambarkan akan menjadi area di bawah kondisi perburuhan budak yang mempekerjakan orang-orang Palestina. Namun, Netanyahu bersikeras agar Gabbay melihat kelayakan rencana tersebut tidak ada yang terjadi dan inisiatif itu tidak pernah didorong.

Laporan polisi juga mengatakan, Netanyahu mendorong kesepakatan itu meskipun pejabat di Kementerian Pertahanan dan Kantor Perdana Menteri menentang proyek tersebut. Hanya saja, pejabat senior melihat upaya Ketua Partai Likud itu masih sebatas konsep. Sebab, catatan akan konsekuensi keamanan pun tak pernah dilihat. Juga upaya pembahasan dengan mitra, seperti Kementerian Luar Negeri Yordania pun tidak dilakukan.

Salah satu bukti yang dimiliki kepolisian mengenai rencana itu adalah risalah sebuah rapat pada pertemuan antara perwakilan Tata Israel dan Gabbay pada awal 2010. Ketika itu, pihak Tata mengeluhkan kegagalan tim yang mempelajari kelayakan proyek itu. Kemudian disepakati untuk membentuk tim kelayakan. Namun hal itu tak pernah ada.

Milchan mengatakan, ide tersebut sebagai bagian dari visi ''perdamaian ekonomi''. "Selama bertahun-tahun saya menyarankan prakarsa yang dirancang untuk mempromosikan perdamaian di wilayah ini. Rencananya tidak ditukar dengan pemberian apa pun," katanya kepada polisi.

Tata membela diri dengan menyatakan tidak memiliki hubungan bisnis dengan Milchan. Namun ketika mereka datang ke konferensi November lalu, penyidik mengintrogasi mereka. Pihak Tata mengakui adanya diskusi tentang rencana pembangunan pabrik mobil yang merupakan bagian inisiatif perdamaian tersebut.

Tata mengatakan bahwa Netanyahu tidak seharusnya mendapatkan keuntungan pribadi dari proyek itu. Dalam pengakuan Tata, hubungannya dengan Milchan lebih pada konsultasi keamanan sehubungan dengan serangan teror Mumbai terhadap Taj Hotel. Bulan lalu, hotel milik Tata itu menjadi tempat tinggal Netnyahu saat mengunjungi India.

Milchan memiliki Blue Sky Internasional, perusahaan layanan keamanan yang jasanya digunakan Taj Hotel. Korporasi ini didirikan pada 2008 lalu dan beberapa tahun kemudian mendapat investasi US$15 juta dari Packer. Kebanyakan karyawannya adalah mantan perwira Israel. Di antaranya ada Dan Dagan, anak Aluf Meir Dagan, mantan perwira Pasukan Pertahanan Israel dan mantan Direktur Mossad, Dinas Rahasia Israel.

Belitan hukum berikutnya adalah ''Kasus 2000''. Dalam kasus tersebut, Netanyahu dan Arnon Mozes, penerbit surat kabar Yedioth Ahronoth, membuat perjanjian agar Netanyahu membatasi sirkulasi surat kabar Sheldon Adelson milik Israel Hayom yang menjadi saingan Yedioth Ahronoth. Sebagai ucapan terima kasih, Yedioth Ahronoth akan membuat pemberitaan baik.

Kasus yang membelit Netanyahu menjadi suara sumbang menjelang pemilihan umum Israel pada akhir 2019. Kasus ini dinilai sebagai upaya untuk melemahkan Netanyahu dan kabinet serta partainya dalam ajang tersebut

Menanggapai rekomendasi tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa dirinya tak bersalah. "Saya, setidaknya, sudah menjadi subjek 15 penyelidikan selama bertahun-tahun. Rekomendasi itu berujung tidak membuahkan hasil. Begitu pula kali ini," katanya kepada AFP seperti dilansir CNN.

Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.17 / Tahun XXIV / 22 - 28 Feb 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com