Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Menanti Teknologi 5G di Genggaman

Keberhasilan sejumlah uji coba jaringan 5G mendorong beberapa negara untuk menerapkannya. Teknologi ini menjanjikan karakteristik baru: bandwidth yang besar, kecepatan ultra-tinggi dan latensi sangat kecil. Kapan masuk ke Indonesia?

Teknologi jaringan 5G sudah semakin nyata kehadirannya. Pertengahan Februari lalu, Nokia dan Qualcomm berhasil melakukan uji coba interoperabilitas sesuai dengan standar 3rd Generation Partnership Project (3GPP) 5G New Radio (NR) yang diintrodusir bersama. Seperti diberitakan Fierce Wireless, dalam pertemuan di Lisbon, Portugal, pada akhir Desember lalu, sebuah organisasi kerja sama yang mengatur standar seluler bersepakat meneken spesifikasi baku 3GPP untuk 5G.

Uji coba di spektrum 3.5Ghz dan 28Ghz itu memakai base station Nokia AirScale di Oulu, Finlandia, dan juga prototipe perangkat dari Qualcomm yang secara komersial telah tersedia. Dalam keterangan tertulis yang dirilis Selasa, 20 Februari lalu, Presiden of Mobile Network Nokia, Marc Rouanne, mengatakan bahwa sejumlah uji coba Nokia dan Qualcomm itu penting demi kemajuan 5G.

''Uji coba itu menunjukan kecepatan penerapan spesifikasi 3GPP Release 15 dengan memakai base station AirScale yang dipakai oleh lebih dari 100 pelanggan bersama dengan perangkat prototipe Qualcomm Technologies UE,'' katanya.

President of Qualcomm Incorporated, Cristiano Amon, menambahkan, keberhasilan itu merupakan langkah penting dalam usaha mengenalkan jaringan dan perangkat komersial 5G NR. Ia juga menyatakan bahwa kerja sama dengan Nokia dan para operator global akan makin mempercepat komersialisasi teknologi 5G NR.

Beberapa operator yang ikut antara lain BT/EE, Deutsche Telekom, Elisa, KT, LGU+, DOCOMO NTT, Optus, SKT, Telia dan Vodafone Group. Mereka berkomitmen untuk berkolaborasi dalam verifikasi dan pengujian teknologi 5G NR. Sejumlah negara yang akan menjajal teknologi tersebut secara komersial, antara lain Cina, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

Setelah standar untuk 5G disepakati, pengembangan jaringan, uji coba dan komersialisasinya kemudian bergantung pada operator dan perusahaan perangkat keras (hardware). Spesifikasi 5G mencakup spektrum frekuensi rendah mulai dari 600 dan 700 Mhz sampai spektrum tinggi 50 Ghz. Beberapa operator seluler yang langsung merespons kesepakatan standar 5G NR adalah T-Mobile dan Verizon.

Sebelum uji coba Nokia dan Qualcomm meraih sukses, tandem antara China Mobile Communications Corp dan Huawei Technologies Co. Ltd. telah unjuk kemampuan dengan menampilkan perangkat 5G. Mereka juga memamerkan keberhasilan uji coba perangkat 5G dalam sebuah ajang di Guangzhou Provinsi Guangdong pada 24 November 2017.

Kementerian Industri dan Informasi Cina, seperti dilaporkan China Daily, mengatakan bahwa uji coba teknis tersebut bertujuan untuk memperoleh produk-produk 5G sebelum masuk ke pasaran. Selain bekerja sama dengan Huawei, Cina Mobile juga mengandeng ZTE dan Ericsson. Cina bertekad akan melakukan komersialisasi 5G dengan target memasang 10.000 unit menara pemancar (BTS) 5G pada 2020.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Verizon menasbihkan diri sebagai penyedia jaringan pertama yang melakukan panggilan over the air pada sistem 5G NR yang sesuai dengan standar 3GPP. Tes ini dilakukan di fasilitas Nokia di Murray Hill, New Jersey.

''Dengan koneksi berbasis standar 3GPP NR yang pertama ini, Verizon terus memimpin pengembangan teknologi 5G,'' kata Ed Chan, wakil presiden senior dan arsitek teknologi di Corporate Network & Technology Verizon, seperti dilaporkan Globe Newswire, 12 Februari lalu.

Menurut Ed, dengan kemitraan bersama Nokia dan Qualcomm, pihaknya akan menjadi pihak pertama yang mengantarkan era komunikasi nirkabel generasi berikutnya kepada pelanggan. Verizon telah mengumumkan akan meluncurkan layanan broadband nirkabel 5G NR di tiga sampai lima pasar di Amerika Serikat pada 2018.

''Ini adalah pengumuman penting bagi pelanggan dan investor yang telah menanti masa depan 5G menjadi kenyataan,'' kata Hans Vestberg, Presiden Verizon Global Networks and Chief Technology Officer.

Rencananya, peluncuran komersial pertama layanan nirkabel Verizon dilakukan di Sacramento, California, pada paruh kedua 2018. Sebelumnya pada 2017 lalu, Verizon berhasil menerapkan aplikasi residensial di 11 pasar di Amerika Serikat. Suatu ketika nanti, Verizon berpeluang untuk layanan broadband residensial 5G menjadi sekitar 30 juta rumah tangga di seluruh negeri.

Respons atas kehadiran jaringan 5G yang sudah di depan mata diperlihatkan oleh Samsung dan Qualcomm melalui kerja sama untuk membangun chipset 5G Snapdragon dengan arsitektur 7 nanometer (nm). Dibandingkan dengan chipset berarsitektur 10nm, chipset 7 nm diklaim dapat memberikan efisiensi 40%, performa yang lebih tinggi 10%, dan lebih hemat daya sebesar 35%.

Sedangkan Nokia, pada awal Februari lalu, meluncurkan chipset ReefShark baru berbasis teknologi silikon. Chipset ini secara dramatis dapat mengurangi ukuran, biaya dan konsumsi daya dari jaringan operator dan memenuhi persyaratan dari komputasi serta jaringan 5G. Dengan ReefShark, menurut Henri Tervonen, CTO Nokia Mobile Networks dan kepala R&D Foundation, Nokia telah menciptakan keunggulan kompetitif yang jelas.

''Kombinasi kekuatan, kecerdasan dan efisiensi menjadikannya ideal untuk berada di jantung jaringan 5G dengan cepat,'' katanya dalam rilis tertulisnya. Selain meningkatkan kinerja, chipset ReefShark akan bisa mengurangi konsumsi daya perangkat hingga 64%.

Teknologi 5G NR pada spektrum gelombang milimeter tersebut dipastikan akan memberikan karakteristik baru berupa bandwidth yang besar, kecepatan ultra-tinggi, dan latensi sangat kecil. Dengan seabrek kelebihan ini, pengguna 5G NR bakal mendapatkan keuntungan dari beragam layanan, termasuk broadband, mobile, dan internet of things (IoT).

Dengan bandwidth baru yang luas pada 5G, penerapan kuota yang selama ini diberlakukan pada tingkat 4G akan berganti menjadi tek terbatas (unlimited) karena kapasitas yang besar dan tidak berdesakan. Sementara dengan kecepatan ultra-tinggi proses mengunduh data yang sebelumnya selesai dalam hitungan menit atau jam, akan kelar dalam hitungan detik.

Dengan kemampuan latensi yang sangat kecil atau kurang dari satu milidetik akan memberikan kecepatan eksekusi yang sangat cepat tanpa jeda panjang ketika perintah diberikan. Respons sangat cepat dapat dilihat pada permainan game online saat pengguna gawai (gadget) memberikan perintah, seketika itu juga perintah dijalankan.

Nah, kapan teknologi jaringan 5G ini masuk ke Indonesia? Padahal, saat ini saja akses jaringan 4G baru mencapai 60%. Menurut pemerhati teknologi yang juga mantan Direktur Utama Telkom, Setyanto P. Santoso, posisi Indonesia sejauh ini sekedar pengguna atau penerima teknologi. ''Kita belum masuk kategori pencipta teknologi tinggi dalam konteks jaringan 5G,'' katanya

Oleh sebab itu, menurut Setyanto, ada baiknya Indonesia melihat, memahami, dan mempelajari dulu implementasi dari teknologi baru tersebut dari negara-negara lain. ''Akan sangat taktis jika Indonesia mengambil pelajaran dulu dari negara-negara yang telah menggunakan 5G, dan tidak tergesa-gesa mengadopsi,'' katanya.

Seiring dengan berjalannya waktu, menurut Setyanto, biasanya akan ada jeda dua hingga tiga tahun, untuk kemudian teknologi dari luar diimplementasikan secara bertahap. ''Hal seperti itu lazim dan beberapa kali terjadi di Indonesia, apalagi yang berkaitan dengan penggunaan secara masif teknologi tinggi yang sumbernya dari luar,'' katanya lagi.

G.A. Guritno

Cover Majalah GATRA edisi No.18 / Tahun XXIV / 1 - 7 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com