Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Sensor Pengawal Gerakan Tanah

LIPI berhasil mengembangkan teknologi berbasis sensor untuk memantau dan mencegah longsor. Sudah dipasang di beberapa titik rwan longsor, termasuk di jembatan Cisomang, tol Purbaleunyi, yang sempat bergeser akibat pijakan tanahnya labil.

Sejumlah rambu rawan longsor bertebaran di sisi jalan Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah. Rambu-rambu itu menjadi pengingat agar para pengemudi yang sedang melintas berhati-hati terhadap ancaman lonsor. Maklum. Desa Clapar termasuk daerah rawan longsor. Selain kontur tanahnya yang berbukit-bukit, tanahnya mudah amblas ketika musim hujan. ''Sekitar 70% daerah sini (Desa Clapar) rawan longsor,'' kata Sekretaris Desa Clapar, Andi Waluyo.

Sebutan sebagai desa rawan longsor membuat warga Desa Clapar selalu waspada jika musim hujan tiba. Mereka khawatir sewaktu-waktu, bisa saja terjadi bencana longsor. Dua tahun lalu, Andi bercerita, di desanya ini sempat terjadi bencana longsor yang menimbun belasan rumah warga. Jembatan desa sepanjang 150 meter ambruk. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses utama warga menuju keluar-masuk desa. ''Apalagi waktu itu anak-anak sedang ujian, untuk menuju ke sekolah. Mereka harus memutar sejauh tiga kilometer lewat hutan,'' tutur Andi kepada GATRA, Kamis pekan lalu.

Longsor merupakan salah satu bencana yang cukup banyak menelan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Selama tahun 2018, telah terjadi 275 bencana yang menyebabkan 30 jiwa meninggal dan hilang. Dari jumlah itu, 19 korban meninggal disebabkan oleh tanah longsor. Tingginya angka korban jiwa akibat longsor ini menantang ilmuwan untuk mengembangkan teknologi yang dapat mendeteksi lonsor sekaligus "menaklukkan"-nya, sehingga bisa menekan angka korban.

Beruntung, kini Desa Clapar telah dipasangi teknologi mitigasi longsor yang mampu melakukan pemantauan dan deteksi dini bencana longsor. Nama teknologi ini adalah Wiseland, singkatan dari Wireless Sensor Network for Landslide Hazard and Structural Health Monitoring atau jaringan sensor nirkabel untuk pemantauan bahaya longsor dan kesehatan struktur. Teknologi mitigasi longsor ini merupakan temuan dari para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Wiseland memiliki sejumlah perangkat utama, yakni perangkat sensor, perangkat pengumpul data atau gateway, server, dan komputer. Di Desa Clapar, perangkat teknologi Wiseland dipasang di sebuah lereng yang selama ini sering mengalami longsor. Lereng ini memiliki kemiringan tanah mencapai 10 hingga 20 derajat.

Di sejumlah titik di lereng dipasang beberapa sensor. Masing-masing empat unit sensor ekstensometer yang berfungsi untuk ukur pergerakan tanah. Lalu enam unit sensor tiltmeter. Sensor ini berfungsi untuk membaca kemiringan lereng. Dipasang pula empat sensor modul. Sensor ini berfungsi untuk mengukur perubahan jumlah kadar air dan tinggi permukaan air dalam tanah.

Selanjutnya, data-data pergerakan tanah yang diperoleh dari sensor dikirim secara nirkabel ke gateway. Hebatnya, untuk lahan tanpa halangan cakupan pengiriman data dari perangkat sensor ke perangkat gateway bisa sampai jarak radius dua kilometer. Keunggulan itu karena penggunaan frekuensi 2,4 gigahertz. ''Setiap sensor bisa berkomunikasi dan mengirim data ke gateway, meski jauh dari kolektor data atau gateway,'' kata Adrin Tohari, Kepala Tim Kegiatan Unggulan LIPI Bidang Mitigasi Bencana yang juga peneliti Pusat Geoteknologi LIPI, kepada GATRA.

Perangkat gateway-nya dilengkapi dengan alarm atau sirene. Fungsinya, jika dari data sensor menunjukkan ada pergerakan tanah yang berpotensi terjandinya longsor, maka secara otomatis sirene akan berbunyi. Agar memudahkan dalam pemantauan, perangkat gateway ditempatkan di bawah lereng. Lokasinya tak jauh dari pemukiman warga, masjid, dan sekolah. Sumber energi untuk perangkat sensor dan gateway menggunakan panel surya. ''Sehingga, tak perlu jaringan kabel listrik,'' Tohari menerangkan.

Dengan menggunakan jaringan internet, data yang ada di perangkat gateway dikirim ke server. Dari server ini, data-data di lapangan dapat dipantau secara langsung melalui wiseland.lipi.go.id. Untuk mengaksesnya, diperlukan username dan password. Selain perangkat wiseland tadi, LIPI juga mnciptakan perangkat Wiseland berjenis portable atau mobile dengan base station di atas koper beroda dan perangkat ukur lebih efisien. ''Ini untuk pemantauan pascabencana,'' kata Tohari.

Selain Wiseland, LIPI juga menciptakan teknologi mitigasi lonsor yang diberi nama The Greatest. Nama ini merupakan singkatan dari Teknologi Gravitasi Ekstrasi Air Tanah untuk Kesetabilan Lereng. Berbeda dengan Wiseland yang berfungsi untuk memantau pergerakan tanah dan peringatan dini, The Greatest berfungsi untuk mencegah terjadinya pergerakan tanah yang diakibatkan tingginya permukaan air. Sebab, salah satu penyebab longsor adalah permukan air tanah yang tinggi.

Cara kerja teknologi ini adalah dengan menurunkan tinggi permukaan air tanah di lereng yang berlebih. ''Prinsipnya sedot air manual,tanpa pompa listrik dengan teknologi syphon flushing unit, memanfaatkan perbedaan ketinggian dan tekanan air tanah,'' ujar Tohari.

The Greatest cocok digunakan pada lereng yang sering mengalami longsor nendatan, yakni tipe longsor yang pergerakan tanahnya berlangsung lambat. Biasanya ditandai dengan munculnya retakan tanah, keluarnya air dari tanah dan posisi tiang miring. Longsor nendatan dipicu naiknya permukaan air tanah akibat intensitas hujan yang tinggi.

Teknologi The Greatest menggunakan metode sifon, mirip dengan memindahkan bensin dari tangki motor ke jeriken, yakni dengan manfaatkan gaya gravitasi bumi. Pertama-tama membuat sumur sifon. Lokasi sumur berada di lereng yang permukaan tanahnya paling tinggi. Untuk memindahkan atau meyedot air yang terkumpul di sumur sifon digunakan selang sifon. Selang ini ditarik dari sumur hingga ke unit pembilas air atau flushing. Lokasi pembilas air berada di lereng yang permukaan tanahnya paling rendah.

Pembilas air The Greatest sangat efisien, karena untuk memindahkan air, tidak perlu mesin pompa listrik. Perangkat yang digunakan adalah pipa tabung yang pada bagian atasnya berbentuk huruf U. Fungsinya, untuk jalan masuk dan keluar air yang dihisap dari sumur sifon. ''Dari sumur sifon yang memiliki kedalaman 10 meter, mampu dihasilkan 120 liter air per jamnya,'' kata Tosari. Air tanah ini dapat digunakan untuk kebutuhan warga di sekitar lereng.

Dua teknologi mitigasi lonsor hasil riset para peneliti LIPI ini sudah diterapkan di sejumlah lokasi. Misalnya, teknologi Wiseland dipasang di jembatan Cisomang di tol Cipularang, Jawa Barat. Sedangkan teknologi The Greatest sudah diuji coba di Lereng Cibitung, Desa Margamukti, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Menurut Tosari, teknologi Wiseland dan The Greatest sebagian masih menggunakan material impor, terutama komponen elektronik. ''Konten lokalnya fifty-fifty dengan komponen elektronik masih harus pesan ke Amerika Serikat,'' ia menambahkan.

Sujud Dwi Pratisto, dan Arif Koes Hernawan (Banjarnegara)

Cover Majalah GATRA edisi No.18 / Tahun XXIV / 1 - 7 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com