Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PENDIDIKAN

Rumah Baca ''Sang Arsitek'' Tertinggi di Dunia

Perpustakaan modern termegah di dunia menjulang di selatan alun-alun Monas. Dibangun mengacu pada rancangan Bung Karno dan Bung Hatta. Berisi konten-konten ilmu pengetahuan yang dikemas dalam aplikasi teknologi informasi.

''Pada mulanya adalah kata." Demikian kredo Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Namun, 'kata' akan menghilang ketika tidak dilukiskan. Maka lahirlah aksara. Nusantara beraksara, tema itulah yang disampaikan kepada pengunjung yang memasuki Museum Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Di selasar bekas Museum SPS (Sejarah, Politik, dan Sosial) itulah dipamerkan dalam kotak-kotak kaca berbagai manuskrip (manu = tangan; script = tulisan) karya masterpiece pujangga-pujangga terdahulu. Ada yang ditulis di atas daun lontar, seperti Negarakertagama karya Dang Acarya Nadendra yang menggunakan nama pena Mpu Prapanca, juga Pararaton, Bhomakawya, dan lain-lain. Ada pula karya tulis bermedia daluang atau kertas, berupa kitab Al Qur'an, Babad Blambangan, dan lain-lain.

Nusantara beraksara juga memamerkan surat-surat para raja, termasuk layang Si Singamangaraja ke XII. Juga dipamerkan kendaraan berupa sepeda ontel sebagai wahana perpustakaan keliling tempo dulu. Meskipun tidak berujud fisik, juga dipampangkan poster Babad Diponegoro yang ditulis dengan huruf Arab pegon. Demikian sekilas tentang Museum Perpusnas yang berfungsi sebagai penyambut selamat datang.

Di belakang museum inilah Perpusnas yang sesungguhnya 'angkuh' berdiri. Gedung menjulang setinggi 27 lantai ini ditahbiskan sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Begitu memasuki gedung baru Perpusnas, pengunjung disambut sebuah rak bertingkat, yang berisi buku, dengan tinggi setara 4 lantai gedung. Lemari raksasa ini menjadi ornamen yang sangat disukai pengunjung. Beberapa dari mereka berfoto-foto di depannya.

Di sisi sebelah kanan, para pengunjung menitipkan tasnya lalu keluar membawa kantong plastik bening berisi barang-barang berharga. Mereka menuju ke lantai sesuai dengan apa yang ingin mereka cari. ''Saya mau mencari jurnal, ke lantai 17,'' kata Rina, salah seorang pengunjung perpustakan kepada GATRA, Jumat pekan lalu.

Mahasiswi yang berdomisili di Jakarta Selatan ini menjadi anggota Perpustakaan Nasional sejak 3 bulan lalu. Dengan menjadi anggota, sebenarnya dia bisa mengakses banyak buku secara online di web Perpustakaan Nasional. Namun, dia lebih suka membaca buku secara fisik sehingga menyempatkan datang ke perpustakaan ini seminggu sekali. ''Gedungnya bagus, koleksinya banyak, kalau kata saya ini jadi seperti perpaduan antara perpustakaan dengan museum,'' katanya.

Untuk menjadi anggota Perpusnas tidaklah sulit. Pengunjung tinggal naik ke lantai 2. Di sana ada puluhan komputer, lengkap dengan mesin pencetak nomor antrean. Ada empat konter pembuatan kartu anggota yang akan membantu mengambil foto dan mencetak kartu secara instan. Prosesnya cepat, dan ruang tunggunya pun luas dan nyaman. Mereka yang sudah mendapatkan kartu anggota bisa langsung mengelilingi kedua puluh empat lantai.

Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 14 September 2017 lalu, bangunan dengan 24 lantai dan tiga ruang bawah tanah ini disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Masing-masing lantai terdapat koleksi dan fungsi masing-masing. GATRA mendatangi satu per satu lantai tersebut. Contohnya di lantai 8 tersedia layanan koleksi audio visual. Di lantai ini terdapat beragam koleksi film, musik, teater mini, studio musik, hingga ruang baca mikro film.

Di lantai itu terlihat seorang pengunjung yang duduk di depan meja yang berfungsi seperti OHP. Mikro film yang dipasang di atas disinari cahaya yang merefleksikan catatan-catatan dalam film tersebut ke meja untuk dibaca. Di bagian lain, para pengunjung melihat konten-konten audio visual melalui layar-layar desktop.

Di lantai 7, ada layanan koleksi anak, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Area membaca anak dirancang penuh warna dan dilengkapi dengan mainan, yang disesuaikan agar anak betah berkegiatan di sini. Sementara layanan disabilitas dilengkapi dengan deretan koleksi buku Braille, dan besi yang memudahkan para tunadaksa memilih buku sendiri.

Hampir semua lantai dilengkapi dengan ruang-ruang baca yang nyaman dengan furnitur yang minimalis, serta ruang baca dengan bilik kaca sehingga pengunjung bisa lebih fokus. Melengkapi barisan rak buku, terdapat berbagai furnitur warna-warni di sana, serta bantal-bantal duduk di tangga. Ruang-ruang luas dengan berbagai fasilitas dan layanan untuk berbagai kalangan serta penataan dan pencahayaan yang baik menjadikan Perpustakaan Nasional sebagai tempat menikmati khazanah bacaan yang jauh dari kesan membosankan.

Lantai 21 merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi pada hari itu. Lantai ini berisi buku-buku fisik. Secara resmi bagian ini bernama ''Layanan Koleksi Monograf Terbuka''. Pengunjung memenuhi seluruh meja-meja baca.

Lantai 24 cukup sepi. Hanya ada dua pengunjung saat GATRA tiba di sana. Di lantai yang berisi ''Layanan Koleksi Budaya Nusantara'' itu sedang dilakukan identifikasi koleksi-koleksinya. Namun, jangan salah, lantai ini sangat menarik terutama karena di tempat ini kita bisa melihat gedung-gedung kota Jakarta dan merasakan sensasi duduk membaca buku di lantai tertinggi perpustakaan. ''Kalau Sabtu, tempat ini penuh sekali. Kita sampai merasa gedung ini tidak cukup,'' kata Kepala Perpustakaan Nasional, M. Syarif Bando, kepada GATRA di ruang kerjanya.

Bando menceritakan, gedung Perpusnas di Jalan Medan Merdeka Selatan dibangun berdasarkan sebuah buku berjudul Sang Arsitek. Dalam buku tersebut diceritakan tentang Bung Karno dan Bung Hatta yang merancang silang monas sebagai pusat Indonesia. Dalam rancangan mereka di tahun 1957 itu ditetapkan bahwa Jalan Medan Merdeka Utara adalah Istana Negara, Jalan. Medan Merdeka Barat untuk Museum Nasional sebagai menyimpan seluruh artefak kebudayaan Indonesia, dan Jalan Medan Merdeka Timur ditetapkan untuk Galeri Nasional yang menyimpan seluruh artefak kesenian, kebudayaan, dan lain-lain.

"Merdeka Selatan ini lama dipikirkan, dan akhirnya diputuskan bahwa apabila kita mau tahu kemajuan peradaban suatu bangsa, datanglah ke perpustakaan, sehingga di Merdeka Selatan ditetapkan Perpustakaan Nasional," kata Bando.

Kemudian, lanjutnya, selama sekitar 60 tahun setelah rancangan itu, Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pihak Perpusnas menghadap Jokowi untuk meminta persetujuan penggunaan tanah ini untuk gedung perpustakaan. Gubernur Jokowi setuju. Saat proses masih terus berjalan dan Jokowi sudah menjadi presiden, ditandatangani moratorium pembangunan gedung negara.

Oleh karena itu, mereka harus kembali melakukan presentasi dan memastikan bahwa gedung tersebut untuk fasilitas umum. Karena untuk membangun gedung di atas 8 lantai harus ada persetujuan Presiden, mereka berusaha mendapatkan cleareance dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk review tentang organisasi, dan memastikan bahwa memang betul perpustakaan itu untuk public service. "Kemudian akhirnya dapat. Lalu ada juga clearance mengenai aset dari BPKP," katanya. Akhirnya disepakati pembangunan gedung ini selama dua tahun, yang diulai pada 2014 dan selesai pada 2016.

Bando menjelaskan perbedaan gedung perpustakaan di Jalan Medan Merdeka Selatan itu dengan perpustakaan di Jalan Salemba Raya yang sudah ada sebelumnya. Ia mengatakan, Perpusnas mengemban dua undang-undang. Pertama adalah UU 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang mengamanatkan untuk menyediakan layanan berbasis teknologi informasi. "Inilah, semua lantai dari 1 sampai 24, adalah konten-konten ilmu pengetahuan yang sudah kita rancang dalam aplikasi teknologi informasi," ucapnya.

Ada dua program andalan dari Perpustakaan Nasional. Pertama e-pusnas, dengan meng-install aplikasi ini melalui gawai, kita bisa membaca buku full text, full content sebanyak ratusan ribu kopian. Kemudian yang kedua, layanan pendaftaran anggota perpustakaan nasional secara online.

"Nomor anggota yang diperoleh dari mendaftar secara online itu bisa dipakai untuk membuka semua portal di aplikasi kita. Salah satunya adalah portal e-Resources, itu ada e-book dan e-journal dan ada jutaan konten yang terkoneksi dengan 828 lembaga perpustakaan Indonesia. Dan akan terus bertambah, '' katanya.

Layanan digital ini menjadi hal yang paling menguntungkan bagi paradigma Bando, yang pertama bahwa perpustakaan bukan lagi deretan buku-buku berdebu. ''Tapi perpustakaan berbicara tentang peradaban, berbicara tentang nilai-nilai,'' katanya. Kemudian kedua, lanjutnya lagi, paradigma yang paling penting adalah tidak lagi memandang pengunjung sebagai parameter keberhasilan tetapi menjadi berapa akses yang bisa diberikan oleh perpustakaan secara teknologi informasi.

''Paradigma kami perpustakaan menjangkau masyarakat, jadi mahasiswa indekos nun jauh di Papua, Nusa Tenggara, Aceh, Kalimantan, asal menjadi anggota perpustakaan dan terkoneksi dengan internet insya Allah bisa membaca. Sampai saat ini anggota kita kurang lebih empat juta orang,'' kata Bando.

UU kedua yang diemban oleh Perpusnas adalah UU Nomor 4 Tahun 1990. Dalam UU tersebut dikatakan bahwa seluruh penerbit wajib menyerahkan terbitannya untuk memastikan bahwa perpustakaan nasional akan menggaransi tentang pusat reprository nasional. ''Itulah yang ditaruh di Salemba Raya. Kita bisa mendapatkan rata-rata 200.000 kopi per tahun. Kami perkirakan selama 20 tahun di Salemba Raya itu sudah akan penuh. Koleksi kita disimpan di Salemba, di sini untuk digital content,'' katanya.

Perpusnas sekarang juga dibuka pada hari Minggu, sesuai saran Menteri Keuangan. Tetapi belum sampai buka pada pukul 22.00 seperti yang diminta masyarakat. ''Kami sedang negoisasi dengan pihak keamanan di Polres Jakarta Pusat supaya nanti bisa buka sampai jam 10 malam. Memang di luaran sana sudah banyak perpustakaan yang buka 24 jam. Kami, dengan mengandalkan digital, itu sejatinya kami sudah buka selama 24 jam,'' kata Bando mengakhiri wawancara dengan GATRA.

Rohmat Haryadi dan Hidayat Adhiningrat P

Cover Majalah GATRA edisi No.18 / Tahun XXIV / 1 - 7 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com