Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Mengadang Tsunami Narkoba

Keberhasilan mengungkap kasus penyelundupan berton-ton sabu-sabu melalui jalur laut menjadi catatan manis bagi aparat gabungan. Sinergitas penegak hukum dengan lembaga lain menjadi modal penting dalam memberantas narkoba. Penyelundupan melalui laut harus terus diwaspadai. Lengah sedikit saja, serangan narkoba akan mengguncang Indonesia.

Andro, anjing jenis labrador retriever milik Bea Cukai, terus mengendus-endus sembari mengkibas-kibaskan ekornya di atas kapal motor (KM) 61870 MV Min Liang Yuyun, Selasa, 20 Februari silam. Sedari pagi, anjing K9 berusia 4 tahun ini melacak bagian belakang, tengah, hingga bagian depan kapal yang berada di perairan Anambas, Kepulauan Riau ini. Langkah kaki anjing berwarna coklat emas ini terhenti di palka bagian depan. Ia menunjukkan sikap khasnya kala mencium bau yang menarik.

Padahal, palka tersebut penuh dengan tali kapal. Andro terus mengendus pada satu titik, dan ekornya terus mengkibas-kibas. Melihat gerak-gerik Andro itulah, akhirnya para aparat memindahkan tali-tali tersebut. Sesaat kemudian, Andro langsung menunjukkan respons seperti memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam palka. Betul saja, petugas menemukan 81 karung goni berwarna hijau, yang beratnya masing-masing 20-21 kilogram. Karung-karung itu berisi sabu-sabu.

Deni Surjantoro, Kepala Humas Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan, mengatakan, saat masuk kapal tim gabungan Bea Cukai dan kepolisian tidak menemukan apa-apa. ''Tapi aneh, ngaku-nya ini kapal ikan tapi tidak bau ikan,'' katanya kepada GATRA. Sampai akhirnya, Andro berkeliling di atas kapal yang berawak empat orang berkewarganegaraan Cina ini, dan barulah ditemukan sabu-sabu seberat 1,62 ton.

Para awak kapal: Tan Mai, Tan Yi, Tan Hui, dan Liu Yin Hua, ditahan Satgas Polri yang terdiri dari 180 personel gabungan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Bea Cukai. Tentu saja, berkat Andro ini, operasi bernama Ombak Laut yang dipimpin Direktur Tindak Pidana Narkoba Polri, Brigjen Eko Daniyanto, berjalan sukses.

Sebelumnya, Andro dan teman-temannya juga sukses membantu pencarian narkoba di kapal Sunrise Glory di perairan Selat Phillips pada 7 Februari silam. Para anjing K9 itu berhasil menemukan sabu-sabu seberat 1 ton 39 kg. Atas rangkaian keberhasilan tersebut, bersama para petugas yang tergabung di satgas, K9 mendapat penghargaan dari Menkeu Sri Mulyani dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, karena telah membantu pengungkapan sabu-sabu dalam jumlah besar.

***

Jika tidak ada K9, bisa saja KM 61870 MV Min Liang Yuyun yang bertolak dari Pelabuhan Lianjiang, Provinsi Fuzou, Cina, sejak 31 Januari ini, lolos. Operasi pengadangan bisa saja gagal. Walaupun operasi dilakukan sejak awal Januari lalu, kepolisian sudah mendapat informasi intelijen dari kerja sama dengan badan narkotika internasional, termasuk DEA (The Drug Enforcement Administration), bahwa akan ada penyelundupan narkoba dalam jumlah besar.

Brigjen Eko Daniyanto bercerita, ketika mendapat informasi awal seputar penyelundupan narkoba, ia langsung mendapat mandat misi khusus dari Kapolri untuk menggagalkan penyelundupan tersebut. Eko lalu membuat surat perintah tugas serta mengadakan rapat terbatas yang dihadiri Satgas Gabungan pada 13 Februari 2018.

Satgas Gabungan digerakkan dalam operasi darat dan laut. Mereka ditempatkan dalam tiga wilayah, yaitu di sepanjang perairan Selat Natuna dan Selat Phillips, Hotel Soul Marina dan Hotel Jayakarta Anyer (diduga sebagai lokasi transit), serta Hotel Orchard Bandara Soekarno-Hatta (diduga sebagai lokasi loading).

Dalam upaya penindakan terhadap awak kapal yang memuat barang haram tersebut, aparat melakukan pengadangan di wilayah perairan laut zona ekonomi eklusif (ZEE), kemudian kapal didorong dan dikawal ke wilayah perairan terdekat di Sekupang, Batam.

Eko mengatakan, keempat tersangka penyelundupan 1,62 ton sabu tersebut saling mengenal dekat. "Kami sudah periksa empat tersangka, nakhoda dan ABK serta teknisinya. Ini masih satu keluarga dan bertetangga," ujar Eko kepada GATRA di kantor Dittipid Narkoba Bareskrim Polri, Cawang, Jakarta Timur, Selasa lalu.

Dari keterangan tersangka, Polri akan mengembangkan temuan sabu-sabu dan jaringan di baliknya. Nama bandar penyelundup narkoba ini sudah dikantongi. Tinggal pendalaman. Menurut Eko, para pelaku bukan berasal dari sindikat yang pernah diungkap sebelumnya. "Jaringan ini baru pertama kali kami tangkap, yang dari Lian Jiang," kata Eko.

Eko menjelaskan, pihaknya sudah menjalin koordinasi dengan Cina dan mereka sudah menghubungi kembali. Menurut informasi dan analisis intelijen, transaksi barang haram itu akan terjadi diwilayah Tanjung Lesung, Banten atau begitu lepas dari Selat Anambas akan dijemput ship to ship. Setelah itu, dia akan mendorong ke Hotel Marina. ''Ini jaringan Cina. Saya baru sekali ini nangkap jaringannya,'' ucapnya.

Tapi yang jelas, pengungkapan 1,622 ton ini telah menyelamatkan 8 juta jiwa anak bangsa. Karena konsumenya ada di Jakarta. Eko mengimbau, ke depan, kalau ada kapal yang lewat harus dilakukan pemeriksaan ketat, jangan sampai lolos. Semua kapal yang masuk Indonesia, dari kapal Cina, Taiwan, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja, yang diduga membawa narkoba, wajib diperiksa.

Eko memaparkan, dalam rangka mengantisipasi tsunami narkoba, diperlukan sinergi antarlembaga, seperti Polri dengan Bea Cukai, Bakamla, BNN, TNI dan masyarakat. ''Sekecil apa pun informasinya sangat kita butuhkan,'' ucapnya. Apalagi, penyeludupanya lebih banyak melalui jalur laut. Modusnya beragam, melalui kapal, kontainer, kargo, dalam bentuk packaging elektronik, genset atau piston, dan lain-lain.

Menurut Deni Surjantoro, jalur masuk narkoba ke Indonesia bukan hanya melalui Anambas. Sebab, tantangan Indonesia sebagai archipelagic state atau negara kepulauan adalah banyaknya pintu masuk barang illegal, termasuk narkoba melalui jalur laut. ''Beda dengan negara-negara yang kontinen,'' katanya. Dengan banyaknya pintu masuk itu, Bea Cukai harus giat menjalin kerja sama.

Dari data yang ada, papar Deni, jenis narkotika yang paling banyak diselundupkan ke Indonesia adalah sabu-sabu, kemudian ketamine. Transportasi udara masih lebih sering ditindak Bea Cukai. ''Jangan lupa, ada kiriman pos yang sering dijadikan modus,'' katanya.

Selama 3 bulan lalu, tim Bea Cukai dan Polri telah mengawasi Selat Phillips, perairan Anambas dan perairan Banten. Khusus Banten, Bea Cukai menjaga dengan mengerahkan kapal patroli custom dari Tanjung Priok. Untuk Selat Phillips, Bea Cukai mengerahkan kapal patroli dari Batam dan Tanjung Balai Karimun. ''Jadi semuanya serentak,'' kata Deni.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso, mengatakan bahwa penyelundupan narkoba ke Indonesia memang sangat masif. Dalam catatanya, untuk periode Januari sampai Desember 2017, telah diungkap 46.537 kasus narkoba dan 27 kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang bersumber dari kejahatan narkoba.

Dari kasus-kasus tersebut, telah ditahan 58.365 orang tersangka kasus narkoba, 34 tersangka TPPU, dan 79 orang tersangka lain yang mendapatkan hadiah timah panas dan tewas akibat melakukan perlawanan. ''Hal ini merupakan bukti keseriusan aparat penegak hukum dalam melawan kejahatan Narkoba, bahwa tembak di tempat bagi para pelaku kejahatan narkoba bukanlah gertak sambal, melainkan komitmen hukum di Indonesia yang tegas dan keras terhadap jaringan sindikat narkoba,'' kata Buwas.

Menghadapi tugas yang berat dalam penanganan narkoba, BNN bersifat terbuka. Buwas membuka diri menjalin kerja sama dan bersinergi dengan seluruh komponen bangsa guna memperkuat barisan menghadapi ancaman bahaya narkoba. Ia memberi contoh, tahun ini BNN telah menjalin satu kerja sama luar negeri dengan Laos.

Selain itu, juga ada 33 kerja sama nasional yang terdiri dari pemerintah, swasta, lingkungan pendidikan, dan komunitas masyarakat yang telah mengukuhkan komitmennya dan melakukan aksi nyata dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN).

Ia membeberkan, kerja sama juga telah dibangun dengan perusahaan penerbangan Citilink. Mengingat maraknya temuan pilot maskapai penerbangan yang terindikasi menyalahgunakan narkoba dan membahayakan keselamatan penerbangan. Juga ada kerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo). Pengiriman barang dari luar dan dalam negeri sering dijadikan modus operandi jaringan sindikat narkoba untuk menyelundupkan barang mematikan tersebut.

Ada juga kerja sama dengan Pelindo III sebagai penyelenggara jasa pelabuhan yang juga merupakan pintu masuk narkoba ke Tanah Air. ''Kerja sama ini diharapkan dapat menginisiasi instansi dan lembaga lainnya untuk bersama-sama beraksi dan mendukung upaya penanganan permasalahan narkoba,'' tutur Buwas.

Jenderal bintang tiga ini juga menjelaskan, BNN menambah kekuatan internal. Tahun ini merupakan sejarah bagi BNN dan TNI, karena empat perwira menengah TNI menduduki jabatan dalam struktur BNN. ''Keterlibatan unsur TNI dalam penanganan narkoba merupakan bagian dari sinergitas dinamika organisasi. Hal ini merupakan bentuk keseriusan bangsa Indonesia menghadapi ancaman narkoba,'' katanya.

Penambahan kekuatan internal juga dilakukan dengan penambahan 28 BNN kabupaten/kota guna memperluas jangkauan wilayah rawan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba. Saat ini, BNN memiliki 34 BNN provinsi dan 173 BNN kabupaten/kota. ''Marilah berjuang bersama, bekerja sekuat tenaga, menjadikan negara kita bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba,'' kata Buwas.

Gandhi Achmad, Andhika Dinata, Hidayat Adhiningrat P., dan Anthony Djafar

===

-B-Penanganan Kasus Narkoba di Indonesia 2015-2017
No. Tahun Narkotika Psikotropika Baya (Bahan Berbahaya) Psikoaktif Baru Obat-obatan Jumlah Kasus Tren % 1. 2015 27.950 885 9.837 2 1.579 40.253
2. 2016 35.403 1.539 9.824 1 1.000 47.767 Naik 19% 3. 2017 35.440 3.652 10.241 26 1.115 50.474 Naik 5,67%

===

-B-Jumlah Tersangka Kejahatan Narkoba 2015-2017
No. Tahun Narkotika Psikotropika Baya (Bahan Berbahaya) Psikoaktif Baru Obat-obatan Jumlah Tren % 1. 2015 37.012 1.000 10.360 2 1.804 50.178
2. 2016 46.032 1.770 11.276 1 1.308 60.387 Naik 20% 3. 2017 46.683 4.177 10.841 28 1.379 63.108 Naik 4,51%

===

-B-Tersangka Berdasarkan Kewarganegaraan dan Jenis Kelamin
No. Tahun WNI WNA Pria Wanita Jumlah Tersangka 1. 2015 50.037 141 46.105 4.073 50.178 2. 2016 60.255 132 55.426 4.961 60.387 3. 2017 62.972 136 57.812 5.296 63.108

Sumber : Diolah dari Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.18 / Tahun XXIV / 1 - 7 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com