Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Bursa Calon Komandan BNN

Tiga nama calon Kepala BNN sudah ada di meja Presiden. Kabareskrim Ari Dono menjadi calon terkuat pengganti Buwas. Perlu penguatan kewenangan BNN.

Awal Maret ini, Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso memasuki masa pensiun. Jenderal bintang tiga yang akrab disapa Buwas itu harus menanggalkan jabatannya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Buwas memimpin BNN sejak September 2015. Sebelum itu, Buwas menjabat sebagai Kepala Badan Reserses Kriminal (Bareskrim) Polri.

Meski tugasnya hanya tersisa beberapa hari, Buwas masih tetap menjalani aktivitas rutin sebagai orang nomor satu di lembaga pemburu pejahat narkoba itu. Kamis pekan lalu, misalnya, Buwas meresmikan Pusat Laboratorium Narkotika dan Unit deteksi K 9 di Lido, Bogor, Jawa Barat. Acara ini dimanfaatan para wartawan menanyakan 'bocoran' nama penggantinya di BNN. Maklum, pengganti Buwas masih menjadi misteri.

Sayang, Buwas menolak membeberkan nama penggantinya. Ia hanya menyebut kriteria Kepala BNN, yakni punya mental yang baik, profesional, dan harus tahu masalah narkoba. Ia juga mensyaratkan Kepala BNN harus mengetahui peta jaringan narkoba di dalam dan luar negeri. Juga dapat bekerja sama dengan sejumlah stakeholder, seperti TNI, Polri, Bea Cukai dan Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK). Yang penting lagi, lanjut Buwas, Kepala BNN harus memiliki nyali di atas rata-rata. ''Kalau normal-normal saja tidak bisa. Percaya sama saya,'' kata alumnus Akademi Kepolisian tahun 1984 itu di Bogor, Jawa Barat, Kamis pekan lalu.

Sumber GATRA mengungkapkan, beberapa bulan menjelang pensiun, Buwas sudah memiliki kader yang diharapkan bakal menggantikan posisinya. Sosok itu dari internal BNN, Inspektur Jenderal Arman Depari. Saat ini, Depari menjabat sebagai Deputi Bidang Pemberantasan BNN. ''Dia (Arman Depari) yang selama ini menjadi tangan kanan Pak Buwas di BNN,'' kata sumber GATRA. Sebelum di BNN, Depari memiliki banyak pengalaman di unit narkoba. Bahkan, ia pernah menjabat Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Meski Buwas punya calon, belum tentu calon itu yang akan mengisi. Sebab, nama calon komandan BNN, tergantung pada usulan Polri kepada Presiden Joko Widodo. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengungkapkan, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tertinggi (Wanjakti) Polri sudah menetapkan tiga nama calon Kepala BNN. Ketiga nama itu telah dikirim ke Presiden. ''Tim penentu akhir ada di Presiden,'' kata Setyo kepada GATRA.

Setyo menolak menyebutkan ketiga nama itu. Ia hanya mengatakan bahwa ketiganya berpangkat komisaris jenderal dan inspektur jenderal. Mereka memiliki rekam jejak dalam penanganan kasus narkotika. ''Tidak harus dari BNN, tidak harus dari Direktorat Narkoba,'' Setyo menerangkan.

Sumber GATRA di Polri menerangkan, dari sekian nama perwira tinggi Polri, ada tiga nama yang paling berpeluang. Mereka adalah Komjen Ari Dono, saat ini Kepala Bareskrim Polri. Lalu, Komjen Moechgiyarto, Kepala Badan Pemeliharan Keamanan (Kabaharkam) Polri. Terakhir, Irjen Heru Winarko, Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Mabes Polri dikabarkan lebih condong menyodorkan Ari Dono sebagai pengganti Buwas. Ari menjadi prioritas utama karena memiliki latar belakang reserse yang mumpuni. Sosok Ari dinilai tepat untuk menggantikan Buwas. ''Sama-sama cool, tidak neka-neka,'' ucap sumber GATRA.

Menurut sumber GATRA di Istana Negara, tiga calon Kepala BNN sudah ada di meja Presiden, yaitu Komjen Ari Dono, Komjen Moechgiyarto, dan Irjen Heru Winarko. ''Kabareskrim (Ari Dono), Moech (Moechgiyarto) sama Heru (Winarko). Tiga nama itu,'' ujar sumber GATRA. Meski nama-nama calon Kepala BNN sudah ada di meja Presiden, hingga Rabu pekan ini Presiden belum mememutuskan.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane berpendapat, dilihat dari sisi kesenioritasan, Ari Dono merupakan calon terkuat Kepala BNN. Dari rekam jejaknya, Ari Dono berpengalaman di bidang reserse yang lebih dibanding dua calon lainnya, sehingga dapat mengikuti jejak Buwas. ''Ari Dono menjadi calon kuat pengganti Buwas,'' ucap Neta kepada GATRA.

Moechgiyarto dan Heru Winarko, meski juga memiliki pengalaman di bidang reserse, peluangnya dinilai kecil. ''Heru sudah terlalu lama di KPK, sedangkan Moeghiyarto baru menjabat Kabaharkam,'' ucapnya. Menurut Neta, jika Ari Dono yang dipilih sebagai Kepala BNN, posisi Kabareskrim akan kosong.

Informasi yang diperoleh Neta, ada empat nama yang disiapkan menjadi pengganti Ari Dono, yakni Irjen Boy Rafli (Kapolda Papua), Irjen Idham Azis (Kapolda Metro Jaya), Irjen Arief Sulistio dan Irjen Agung Budi. Kemungkinan besar yang mengisi posisi Kabareskrim adalah Irjen Idham Azis. ''Kalau Idham Azis naik menjadi Kabareskrim, ia menjadi orangnya Tito (Kapolri) yang mendapat bintang tiga,'' ucap Neta

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Andrea Pulungan mengatakan, pengganti Buwas harus memiliki integritas yang kuat dalam penindakan tindak pidana narkoba. Karena untuk menghadapi jaringan pengedar narkoba perlu cara represif dengan tindakan tegas.''Pak Buwas tegas dan konsisten, meski dampaknya seperti menjadi 'gaduh','' kata komisioner Komponas periode 2016-2020 itu kepada GATRA.

Tingginya angka peredaran narkoba di Indonesia, kata Pulungan, menunjukan bahwa Indonesia sudah memasuki fase darurat narkoba. Karena sudah dalam kondisi darurat, Presiden Joko Widodo perlu menerbitkan peraturan perundang-undangan baru yang memperkuat kewenangan BNN. Selama ini, kewenangan BNN dalam UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika, masih terbatas melakukan penindakan. Bentuknya bisa berupa instruksi presiden (inpres) atau peraturan presiden (perpres). ''Tapi lebih baik lagi dalam bentuk Perpres Karena sifatnya lebih mengikat ke luar,'' kata Pulungan.

Semestinya, kata Pulungan, BNN diberi kewenangan sebagai koordinator dari lembaga-lembaga lain dalam pemberantasan kejahatan narkoba. Kedudukan kelembagaan BNN dinaikan menjadi setingkat menteri. Diberi kewenangan serupa dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) terkait upaya BNN dalan penindakan aksi penyelundupan narkoba melalui jalur laut. ''Makanya jika ada perpres, kewenangan BNN akan lebih kuat lagi,'' kata Pulungan.

Sujud Dwi Pratisto, Gandhi Achmad, Andhika Dinata, dan Hendry Roris P. Sianturi

===

Rekam Jejak Kepala Badan Narkotika Nasional

Budi Waseso
Periode Jabatan: 8 September 2015 - Sekarang
Tempat, tanggal Lahir : Pati, 19 Februari 1960
Lulus Akademi Kepolisian :1984

Riwayat Jabatan Polri
2012: Kepala Kepolisian Daerah Gorontalo
2013: Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat Polri
2014: Kasespim Lemdiklat Polri
2015: Kepala Badan Reserse Kriminal Polri
2015: Kepala Badan Narkotika Nasional

Capaian Penting
Beberapa kali mengagalkan penyelundupan narkoba dari luar negeri. Teranyar, Sabtu pekan lalu, BNN, TNI AL dan Bea Cukai menangkap kapal MV Sunrise Glory yang membawa 1,375 ton sabu-sabu. Kapal berbendera Singapura itu ditangkap di perairan Selat Phillip, perbatasan Singapura dan Batam.

+++

Anang Iskandar
Periode Jabatan: 11 Desember 2012 - 7 September 2015
Tempat, tanggal lahir : Mojokerto, 18 Mei 1958
Lulus Akademi Kepolisian :1982

Riwayat Jabatan Polri
2011: Kapolda Jambi
2012: Kadiv Humas Polri
2012: Gubernur Akademi Kepolisian
2012: Kepala Badan Narkotika Nasional

Capaian Penting
Beberapa pelaku narkotika diringkus. Jaringan bandar narkoba diungkap. Salah satunya, membongkar jaringan narkoba lintas negara yang dikendalikan Wong Chi Ping, warga Hong Kong. Dari penangkapan di Kalideres, Jakarta Barat, Januari 2015, BNN menyita 862 kilogram sabu.
Wong Chi Ping merupakan buronan interpol 7 negara karena aksinya yang licin menghindari sergapan pasukan elite kepolisian. Narkoba jaringan Wong Chi Ping berasal dari Hong Kong. Tangkapan ini menjadi sejarah terbesar BNN dalam menangkap gembong narkoba.

+++

Gregorius "Gories" Mere
Periode Jabatan: 3 Juni 2008 - 1 Desember 2012
Tempat, tanggal lahir : Flores Timur, 17 November 1954
Lulus Akademi Kepolisian : 1976

Riwayat Jabatan Polri
2001 : Kepala Desatemen Khusus Anti -Teror Polri ( Densus 88)
2005: Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri
2008: Pjs. Kepala Pelaksana Harian BNN
2009: Kepala Badan Narkotika Nasional

Capaian Penting
Beberapa kali mengungkap jaringan narkotika internasional. Salah satu yang terbesar, pengungkapan jaringan penyelundupan 1,4 juta butir ekstasi dari Cina yang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Mei 2012.
Narkoba impor itu didatangkan khusus dari Cina milik bandar narkoba internasional, Wang Chang Shu. Pemesannya di Indonesia adalah Freddy Budiman, yang saat itu berstatus narapidana kasus narkoba di Lapas Cipinang, Jakarta. Penyelundupan ini menjadi perhatian publik karena melibatkan oknum TNI.

Sumber : www.bnn.go.id dan diolah dari berbagai sumber
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.18 / Tahun XXIV / 1 - 7 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com