Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

TEROPONG

Inflasi Didominasi Produk Jadi

Inflasi bulan lalu tetap terkendali, yaitu 0,17%. Persentase itu lebih kecil dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Januari silam mencapai 0,62%. Inflasi sebesar itu didasarkan pada hasil pemantauan terhadap 82 kota besar di Indonesia.

Menurut laman BPS, inflasi ini dipengaruhi oleh naiknya beberapa kelompok. Kenaikan pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau memberikan andil inflasi paling tinggi, yaitu sebesar 0,43%. Disusul dengan kelompok sandang (0,35%), dan kesehatan (0,26%). Sedangkan kelompok perumahan, air listrik, gas, dan bahan bakar menyumbangkan 0,22%.

Sementara itu, kenaikan harga bahan makanan --antara lain beras, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, dan ikan-- masih kalah dibandingkan dengan pada kelompok di atas. "Kenaikan harga seluruh indeks kelompok bahan makanan 0,13%," ujar Suhariyanto kepada wartawan dalam jumpa pers digelar kantornya, Kamis pekan silam.

Padahal, beberapa jenis beras, terutama yang berkualitas premium, mengalami kenaikan 0,31% menjadi Rp 10.382 per kilogram. Lantas, beras kualitas medium naik 0,37% jadi Rp 10.215, dan beras berkualitas rendah naik sebesar 1,99% menjadi Rp 9.987 per kilogram.

Besarnya kenaikan kelompok tersebut berdampak pada sumbangan inflasi. Menurut Suhariyanto, Kepala BPS, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menyumbang 0,07%. Posisi kedua ditempati kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,05%), disusul kelompok sandang (0,02%). Di lain pihak, kelompok bahan makakan cuma sebesar 0,01% bersama kelompok kesehatan.

Sumbangan inflasi dari bahan makanan terbilang baik. Sebab, pada Februari lalu, cuaca di sejumlah daerah kurang bersahabat. Cuaca yang demikian menimbulkan sejumlah daerah gagal panen, yang secara teoretis bisa menaikkan harga bahan makanan.

Aries Kelana

***

Penghasilan Harta Warisan Kena Pajak
Bersiap-siaplah jika Anda punya sumber penghasilan yang berasal dari harta warisan, karena harta warisan tersebut bisa dianggap sebagai objek pajak. Itu diutarakan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Hestu Yoga Saksama, dalam siaran persnya, Jumat pekan silam.

Hal itu dapat terjadi jika warisan tadi belum dibagi. Misalnya, warisan berupa simpanan di bank dalam bentuk deposito, giro, atau tabungan. Simpanan tersebut menghasilkan saldo rekening yang menghasilkan bunga setiap bulan. Nah, bunga tersebut kena pajak penghasilan (PPh) final. Atau anda memiliki harta warisan berupa rumah yang kemudian disewakan kepada orang lain. Hasil dari sewa tersebut dikenakan PPh final Pasal 4 (20 yang dipotong oleh penyewa.

Menurut Hestu, kewajiban perpajakan atas penghasilan dari warisan yang belum dibagi harus dilaksanakan. ''Hal ini dapat diwakili salah satu ahli waris, pelaksana wasiat, atau pengurus warisan,'' ujarnya. Setelah warisan tadi dibagi, maka kewajiban akan beralih kepada ahli waris yang sah.

Ia mengatakan, dalam ketentuan perpajakan di Indonesia, warisan yang belum dibagi juga merupakan subjek pajak yang harus didaftarkan sebagai wajib pajak tersendiri, menggantikan pewaris yang sudah meninggal dunia.

Jadi bila tidak dijadikan salah satu sumber pendapatan, pemegang warisan tak perlu khawatir. Menurut Hestu, pemerintah cuma ingin agar wajib pajak melaporkan sumber pajak tadi dalam surat pemberitahuan pajak (SPT) tahunan.

Aries Kelana

***

Perhatian Khusus Jokowi untuk Habibie
Kabar Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sedang menjalani perawatan setelah didiagnosis mengalami kebocoran pada klep jantungnya di Munich, Jerman, Kamis pekan lalu, mendapat perhatian khusus Presiden Joko Widodo. Jokowi terus memantau perkembangan kondisi kesehatan Habibie. Bahkan, Ahad lalu, sekitar pukul 15.30 WIB, Presiden langsung menghubungi dan berbincang-bincang dengan Habibie.

Melalui percakapan tersebut, Presiden menyanggupi permintaan Habibie yang menginginkan adanya tim Dokter Kepresidenan dan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) untuk hadir di Jerman saat dilakukan tindakan medis. "Saya sudah berangkatkan (dalam proses) dari Indonesia untuk mendampingi," kata Presiden Jokowi dalam sambungan telepon tersebut, sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi Istana Negara.

Gandhi Achmad

***

Demi Kesehatan, Ba'asyir Akan Pindah Lapas
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Ma'ruf Amin, secara khusus meminta agar Ustaz Abu Bakar Ba'asyir mendapat perawatan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hal tersebut langsung direspons baik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Ma'ruf, Presiden langsung menyetujui permintaan tersebut. "Ya setuju, dan beliau sangat apresiasi. Ya, untuk bagaimana beliau dirawat di rumah sakit," katanya.

Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah juga akan memindahkan terpidana kasus terorisme tersebut ke Lembaga Permasyarakatan Kelas II-B Kabupatan Klaten. Hal itu sebagai upaya untuk mendekatkan Baasyir dengan keluarganya. ''Saya belum tahu. Tapi saya kira itu suatu upaya yang baik untuk mendekatkan dengan keluarga, agar bisa dikunjungi setiap saat,'' kata Wapres Jusuf Kalla di Kantor MUI Jakarta, Selasa lalu.

Selama ini, Ba'asyir menjalani hukumanya di Lembaga Permasyarakatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut Menkopolhukam Wiranto, rencana pemindahan tersebut sebagai wujud rasa kemanusiaan pemerintah kepada warga negaranya, walaupun seorang terpidana kasus terorisme. ''Yang bersangkutan sudah cukup tua, menjalankan hukuman cukup lama, kesehatan sudah menurun. Tentunya harus dijaga supaya tetap sehat,'' kata Wiranto.

Meski dipindahkan, Wiranto mengatakan, pemerintah akan tetap menjaga Ba'asyir. ''Dalam arti, terpidana betul-betul dijaga agar tidak menyebarkan ideologinya. Artinya, tidak kemudian sebebas-bebasnya di dalam tahanan dan bisa berinteraksi dengan siapa saja. Jadi, tetap ada aturanya,'' ucap Wiranto.

Gandhi Achmad

***

AHY Tempel Terus Jokowi
Menjelang pemilihan presiden (pilpres) , gerak-gerik Presiden Joko Widodo menjadi sorotan. Termasuk ketika menerima kunjungan politikus Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa kemarin. Anak presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, ini mengaku bertemu Jokowi selain untuk memberikan undangan Rapimnas Partai Demokrat yang akan diselenggarakan pada 10-11 Maret di Sentul nanti juga membahas soal demokasi di Indonesia.

AHY mengaku tidak membahas secara khusus soal kemungkinan partainya mendukung pencapresan Jokowi di Pilpres 2019. "Tidak ada spesifik ke arah sana, tentunya semua itu sangat berpulang pada Presiden Jokowi. Kita tahu presiden jadi kandidat terkuat di Pilpres 2019," kata AHY. Namun dalam konteks dinamika politik, pertemuan tersebut mengundang sejumlah spekulasi politik. Termasuk peluang Jokowi duet dengan AHY. "Tunggu tanggal mainnya," kata AHY lagi.

Pertemuan tersebut merupakan pertemuan kedua antara Jokowi dan AHY, setelah yang pertama berlangsung pada 10 Agustus 2017. Pada pertemuan pertama, Jokowi yang didampingi putranya, Gibran Rakabuming, menerima undangan AHY untuk hadir pada persemian Yudhoyono Institute.

Menariknya, sejumlah lembaga survei sudah mencoba memasangkan Jokowi dengan AHY. Seperti Populi Center yang sudah melakukan survei pada 7-16 Februari 2018. Hasilnya, elektabilitas pasangan Jokowi -AHY mencapai 50,8%, mengungguli duet Prabowo-Anies yang 27,8%.

Gandhi Achmad

Cover Majalah GATRA edisi No.19 / Tahun XXIV / 8 - 14 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com