Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Motor Putar Pengering Gabah

Seorang petani desa mampu menciptakan alat pengering gabah. Lebih efektif dan efisien untuk mengurangi kadar air dalam gabah. Masih perlu penyempurnaan.

Pada musim hujan seperti ini, Rohmat, pusing tujuh keliling. Gabah hasil panen padi di sawahnya yang seluas 3500 meter persegi mesti dijemur lebih lama. Maklum, proses pengeringan gabah sangat tergantung pada sinar matahari. Rohmat menjemur gabahnya di pelataran atau halaman rumahnya.

Gabah dijemur untuk menurunkan kadar air dari 21% hingga 14% sebelum digiling menjadi beras. Biasanya, jika bukan musim hujan, gabah akan kering hanya dalam sehari atau 6-8 jam. "Tapi, [musim hujan] ini bisa sampai enam hari," kata Rohmat saat ditemui GATRA di rumahnya, di Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis pekan lalu.

Akibat proses pengeringan yang terlalu lama, Rohman pun tak bisa segera menggiling gabahnya, lalu menjualnya ke pengepul. "Otomatis pendapatan saya menurun," katanya. Rohman mengaku pernah mengeringkan gabah dengan menggunakan alat pengering gabah. "Tapi alat pengering gabah masih jarang," ujarnya.

Sepengetahuan Rohmat, ada alat pengering gabah yang canggih. Tapi alat tersebut mahal, harga satu unitnya Rp 3 milyar. "Ini kenapa teknologi pengering gabah dikuasai pemain besar dan harganya mahal," ujar Rohmat.

Beruntung, saat ini, Rohmat bersama 200-an petani di desanya, diperkenalkan dengan alat pengering gabah berbasis teknologi sederhana. Alat ini mampu menggantikan peran sinar matahari untuk mengeringkan gabah. Peranti tersebut menggunakan teknologi kinetik, gravitasi, dan biomassa limbah sekam.

Alat itu berupa rangkaian ruang besi persegi yang menjulang bak menara dengan ketinggian 12 meter. Menara itu ada dua bagian: bagian konveyor dan bagian pemanas. Bagian konveyor atau elevator terdiri rangkaian melingkar dengan boks berbentuk persegi empat. Di dalamnya berisi wadah-wadah yang oleh warga disebut cintung atau gayung berkapasitas 1 kilogram. Seperti cara kerja roda, cintung ini berputar dan naik hingga 12 meter, lalu turun lagi. Begitu seterusnya. Di salah satu boks terdapat bagian yang terbuka untuk memasuk padi dan biji-bijian lain yang hendak dikeringkan.

Motor pemutar yang menggunakan tenaga listrik genset ini berputar 2,5-2,7 putaran dalam semenit. Dengan kecepatan putar itu, dalam satu jam, bagian ini bisa menampung dan memutar enam sampai sembilan ton padi atau biji lain. Setelah diputar menara pertama, dari ketinggian 12 meter, butiran gabah dilempar ke boks kedua. Dengan luas 70 centimeter persegi, boks ini memiliki 48 sekat miring. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, biji dan padi pun diturunkan secara zig-zag.

Dua menara pemutar dan boks zig-zag terhubung melalui dua pipa ke mesin pemanas. Uniknya, pemanas ini memanfaatkan limbah padi, yakni sekam. Dengan cara dimasukkan dari mulut mesin di bagian atas, sekam kemudian dibakar dan ditiup menggunakan blower untuk menyalakan api, meratakan sekam, dan mengatur serta menyebarkan panas. Daya tamping mulut pemanas sekitar 20 kilogram sekam, dan akan habis dalam 30 menit. Suhu pemanas bisa mencapai 200 derajat celcius.

GATRA berkesempatan bertemu dengan inisiator alat pengering gabah, yakni Ragil Edy Dalyono. Ragil menjelaskan, ide untuk membuat alat pengering gabah muncul setelah mengalami dan melihat permasalahan yang dihadapi petani dalam mengeringkan gabah pada musim hujan."Ini teknologi nenek moyang. Saya dulu melihat kakek dan nenek sering menuangkan kopi berulang-ulang dari cangkir ke wadah lain supaya cepet adem dan tidak panas," ujarnya.

Menurut Ragil, alat pengering gabahnya ini mampu memecahkan persoalan di tahap pengolahan pertanian. Tingginya harga beras, salah satunya karena tidak ada alat pengering pada musim hujan. Petani butuh waktu lama dan tenaga ekstra. "Padahal, kalau pada tahap pengolahan ini tidak serius, perjuangan petani selama budi daya empat bulan akan sia-sia," ujarnya.

Ragil mengatakan, metode pengeringan dengan alatnya ini lebih efektif. Alat pengering gabah yang belum diberi nama tersebut mampu mengeringkan kadar air sampai 75%. Di konveyor, gabah diputar dan dibola-balik. Sementara di pengeringan berikutnya gabah dijatuhkan sambil disemprot panas.

Penjemuran di bawah sinar matahari yang suhunya sekitar 50 derajat celcius selama enam jam, panas lebih banyak terserap di lantai dan tidak bisa merata menerpa padi. Sementara jika proses pengeringan gabahnya menggunakan alat silow, mirip molen dengan tingkat pengeringan hanya 35%.

Biaya pengolahan gabah kering panen dengan alat rakitan Ragil ini relatif murah. Ongkos pengeringan dengan cara dijemur Rp 200 per kilogram pada hari biasa dan Rp 400 jika pada saat hujan. Adapun biaya operasional peralatannya, belum dihitung secara akurat. Selama ini petani hanya memasukkan biaya solar genset Rp 6.500 per liter, listrik pemanas Rp 20.000, dan upah tenaga kerja sebanyak dua orang Rp 160.000.

Ragil merakit alat pengering gabah selama satu bulan pada akhir 2017. Dengan peralatan dan bahan sederhana, ia menghabiskan biaya Rp 100 juta. Kalau dioptimalkan dengan bahan dan peralatan lebih baik paling mahal harga alatnya sekitar Rp 200 juta. "Ya, bisa dapat satu mobil Avanza," kata dia seraya tergelak.

Alat pengering gabah ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut. Penggunaan terakhir pada dua pekan silam. Tapi, karena hujan, lalu ruangan dan perangkat terbuat dari besi tipis, kinerjanya terganggu oleh air hujan. Hasilnya belum optimal. Dengan gabah tiga kuintal, dalam dua kali putaran, kadar air hanya turun 1%. Artinya belum memenuhi syarat 14%. Kendalanya juga masih ada sumbatan di konveyor. "Juga belum diketahui berapa kali putaran yang pas, serta kualitas padi kering yang dihasilkan," katanya,

Meski masih perlu penyempurnaan, Ragil yakin, alat pengering gabahnya dapat dikembangkan. Mulai dari peningkatan kualitas bahan peralatan hingga mengganti listrik pemanas dengan panel surya. Konveyor juga tidak akan setinggi saat ini. "Waktu memasangnya dulu, saya sampai sewa crane PLN," ujarnya.

Nanti, alat pengering gabah ini hanya setinggi enam meter dengan rangkaian putaran yang diperbanyak sampai empat ruang, dan memperpendek mesin pemanas yang kini sepanjang 3-4 meter. Dengan begitu, alat ini lebih ringkas dan tidak makan tempat. Pengoperasiannya cukup oleh dua orang. "Alat ini feasible, sustainable, dan memungkinkan direplikasi di gapoktan-gapoktan (gabungan kelompok tani)," ujar Ragil.

Arif Koes Hernawan (Boyolali)

Cover Majalah GATRA edisi No.19 / Tahun XXIV / 8 - 14 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com