Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Cap Go Meh ala Indonesia

Tahun baru Imlek dirayakan dengan meriah di berbagai wilayah Indonesia. Tiap-tiap daerah memiliki atraksi dan keunikan masing-masing. Ritual yang sudah menyatu dengan festival wisata.

Pulau Kemaro, sekitar 40 kilometer dari kota Palembang, adalah pulau spesial bagi warga Tionghoa di Sumatera Selatan. Maklum, menurut legenda, pulau seluas 180 hektare di muara Sungai Musi itu terbentuk dari kisah cinta pangeran negeri Cina, Tan Bun An, dengan putri Kerajaan Sriwijaya, Siti Fatimah.

Alkisah, cerita cinta mereka berakhir tragis. Keduanya tenggelam di sungai dan Pulau Kemaro pun terbentuk. Legenda ini kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi warga Tionghoa di Sumatera Selatan.

Di pulau ini terdapat sebuah kelenteng bernama Hok Tjing Rio yang dibangun pada 1962. Di depan kelenteng ini terdapat dua buah makam yang dipercayai sebagai makam Tan Bun An dan Siti Fatimah. Juga ada sebuah pagoda berlantai sembilan yang dibangun pada 2006. Maka, dengan tradisi Pulau Kemaro yang kental itu, tak mengherankan bila perayaan Ca Go Meh atau perayaan hari ke-15 tiap Tahun Baru Imlek, dipusatkan di sana.

Diperkirakan sampai 40.000 orang mengunjungi Pulau Kemaro saat puncak perayaan Cap Go Meh, Rabu pekan lalu. Para pengunjung tidak hanya berasal dari kota Palembang, tapi juga ribuan turis Tionghoa dari Singapura dan Malaysia.

Untuk menyambut ribuan tamu ini, Pulau Kemaro pun bersolek. Dari gerbang masuk pulau sampai menuju lokasi kelenteng dibangun stan-stan penjual makanan sebagai bagian dari wisata kuliner. Sebanyak 2.000 lampion dipasang di sekitar kelenteng. Lalu, menjelang tengah malam, ritual peribadatan dimulai dengan menyembelih tiga ekor kambing hitam. Ini sebagai bentuk rasa syukur kepada dewa. Acara selanjutya adalah pelepasan lampion sekaligus pesta kembang api.

Pengunjung Pulau Kemaro juga dapat menikmati acara lain, yaitu wayang orang opera Cina yang dipentaskan secara bersamaan di tiga lokasi berbeda di pulau itu. Para pemain wayang orang opera Cina itu laki-laki, dengan menggunakan bahasa Mandarin. Meski tidak semua orang mengerti jalan cerita yang disampaikan, pengunjung tetap membeludak.

Wayang orang opera Cina ini juga merupakan salah satu keunikan festival Cap Go Meh di Pulau Kemaro. "Kami bisa memastikan, hanya di Palembang wayang orang Cina ini masih dilestarikan, di tempat lain sudah tidak ada," kata Acit, salah satu pengelola tim wayang orang Cina, kepada wartawan GATRA, Tasmalinda. Acit lalu menjelaskan pentas malam itu menampilkan lakon berjudul Sai Chu Ong, yang berkisah tentang anak singa yang menjelma menjadi manusia, lalu berbuat banyak kejahatan, sehingga Guru Langit pun turun dan menghukumnya.

Lain halnya dengan tradisi peringatan Cap Go Meh di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Di kota ini, peringatan Cap Go Meh dilakukan oleh pawai para tatung. Tatung adalah istilah Tionghoa untuk orang yang dirasuki roh leluhur. Orang yang menjadi tatung biasanya mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin bisa dilakukan orang awam. Misalnya menusuk pipi dengan menggunakan besi tapi tidak keluar darah. Tradisi ini mirip dengan tradisi debus di Banten.

Di negara asalnya, yaitu Republik Rakyat Cina, tradisi tatung bahkan sudah terbilang punah. Tapi uniknya, di Indonesia tradisi ini masih bertahan di kalangan warga keturunan Tionghoa. Biasanya, profesi tatung diwariskan secara turun-temurun. Lihat saja perayaan Cap Go Meh di kota Singkawang, Jumat pekan lalu. Setidaknya ada 1.200 tatung, tua-muda, dengan kehebatan masing-masing, tampil mengikuti pawai. Menusuk pipi dengan besi termasuk salah satu atraksi yang paling banyak dilakukan.

Yang juga unik, peringatan Cap Go Meh itu dihentikan sejenak pada siang hari untuk memberikan kesempatan kepada warga muslim melaksanakan salat Jumat. "Perayaan Cap Go Meh Singkawang ini adalah salah bukti keberagaman sekaligus toleransi berbangsa," kata Lieus Sungkharisma, tokoh Tionghoa asal Jakarta yang memilih merayakan Cap Go Meh di Singkawang.

Sekadar catatan, kota Singkawang memang dikenal sebagai salah satu kota pecinan di Indonesia. Kota ini memiliki populasi sekitar 250.000 jiwa dan sampai 42% di antaranya adalah warga Tionghoa (data Badan Pusat Statistik, 2011). Bahkan nama ''Singkawang'' konon berasal dari bahasa Tionghoa, yaitu San Kew Joing. Nama ini disematkan oleh para saudagar asal Cina yang datang ke kota ini pada abad ke-17 dan akhirnya menetap di sana.

Bagaimana dengan Jakarta? Di Jakarta, perayaan Cap Go Meh dipusatkan di Kelurahan Glodok, Jakarta Barat. Kawasan Glodok, selain dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik di Jakarta, juga terkenal sebagai pecinan. Di kelurahan ini terdapat kelenteng tertua di Jakarta, yaitu Kelenteng Jin De Yuan yang didirikan pada tahun 1650.

Selain pasar kuliner, perayaan Cap Go Meh di Glodok diramaikan oleh Festival Pecinan yang berlangsung dua hari, pada 3-4 Maret lalu. Festival itu menampilkan barongsai, wayang potehi, dan pameran kaligrafi Tionghoa.

Festival ini digelar oleh Pemerintah Kota Jakarta Barat sebagai salah satu agenda wisata Jakarta. "Diperkirakan jumlah pengunjung 7.000-10.000," kata Linda Enriany, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat.

Integrasi antara perayaan Cap Go Meh dengan festival pariwisata memang tidak hanya dilakukan di Glodok. Hampir di semua kota yang merayakan Cap Go Meh, pemerintah daerah setempat turut terlibat. Di Palembang, misalnya, puncak perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro dihadiri oleh Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin, bersama jajaran Kodam II Sriwijaya dan Polda Sumatra Selatan. Ini menunjukkan, Cap Go Meh kini tidak hanya menjadi perayaan warga Tionghoa, tapi juga dinikmati oleh semua lapisan warga.

Basfin Siregar

Cover Majalah GATRA edisi No.19 / Tahun XXIV / 8 - 14 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com