Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Harjanto dan Utak-atik Otomotif

Sebelum mengutak-atik Vespa, Harjanto juga pernah bongkar-pasang mobil asal Jerman, Volkswagen (VW). Cuma, karena harga mobil jenis ini mulai mahal, sedangkan garasi rumahnya sempit, ia beralih ke jenis otomotif yang lebih hemat ruang.; Renny Djajoesman dan Hidayah dari Cucu.

Sebagai birokrat, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto punya hobi tak biasa.Ia tidak terlalu suka bermain golfataupiknik ke luar negeri.Sebagai hiburan, ia mengisi waktu luangnya dengan meng-oprek motor tua.

Semua berawal dari sebuah Vespa produksi tahun 2001. Harjanto membelinya dengan kondisi kendaraan bekas ini sudah butut. Harganya murah, Rp 5 juta. ''Saya perbaiki, benerin sendiri, bongkar, bawa ke bengkel,'' cerita Harjanto kepada Putri Kartika Utami dari GATRA, akhir Februari lalu di kantornya, kawasan Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.

Memilih motor bekas, tentu bukan karena alasan finansial. Harjanto memang senang jika bisa memodifikasi otomotif yang kondisinya tidak sehat. Meski kegemaran ini memang bisa membuat badan letih, ada kepuasan tersendiri saat kendaraannya kembali terlihat prima. ''Beli barang bagus buat saya tidak ada tantangannya. Bongkar pasang mesin sendiri, kalau kelihatan bagus, seperti baru lagi, saya puas,'' ujarnya. Untuk mendapatkan spare parts, ia biasa berburu suku cadang ke Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Namun, ia mengaku tak pernah mengendarai vespa itu ke kantor. Motor buatan pabrik dari Italia, Piaggio, itu hanya dipakai untuk jarak dekat. ''Paling dibawa keliling-keliling atau buat ke pasar,'' katanya. Sebelum mengutak-atik Vespa, Harjanto juga pernah bongkar-pasang mobil asal Jerman, Volkswagen (VW). Cuma, karena harga mobil jenis ini mulai mahal, sedangkan garasi rumahnya sempit, ia beralih ke jenis otomotif yang lebih hemat ruang. ''Makanya, saya ganti motor yang kecilan,'' kata Harjanto.

***

Renny Djajoesman dan Hidayah dari Cucu
Ada kejadian menarik saat seniman Renny Djajoesman membacakan salah satu puisi dari buku Luka Cinta Jakarta Nomor 69 karya Yudhistira Massardi di panggung Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia, Jakarta medio Februari lalu. Kedua cucu perempuan musisi kelahiran Semarang, 2 Januari 1959, ini tiba-tiba ikut naik ke panggung. ''Ini kehendak Allah saya berada di sini, begitu pula dengan kehadiran cucu saya. Kami ini orang teater, jadi gimana saja sah dalam merespons ruang. Jadi izinkanlah cucu saya ada di sini. Wes tuek, rek,'' ujarnya tersenyum.

Kebetulan, sore itu Renny memang ditemani kedua anaknya, Yuka Mandiri, yang ikut membacakan puisi, dan Indra Kharisma, anak lelakinya yang berada di bangku penonton, serta keempat cucunya. ''Biasanya, memang saya bawa semua,'' tuturnya kepada Aulia Putri Pandamsari, seusai acara.

Bagi Renny, cucu merupakan karunia Allah yang luar biasa. Tak mengherankan jika ia sangat dekat dengan keempat cucunya. Bahkan, perempuan yang sekarang mengenakan kerudung ini mengaku mendapatkan hidayah dari dalah satu cucunya.

Ceritanya, sekitar lima tahun lalu, Renny dirawat inap di sebuah rumah sakit. Di tempat tidur pasien itu, Renny ditemani cucu pertamanya yang kala itu baru berusia 7 tahun. Ia curhat kepada cucu laki-lakinya tentang sakit yang dideritanya. Tiba-tiba cucunya berkata, ''Tini (panggilan untuk Renny), makanya salat dong, Tini sih selama ini mabuk-mabukan sama main judi mulu, makanya Tini sakit.'' ''Ketika itu ada sesuatu yang menggetarkan hati saya,'' Renny mengenang.

Ia pun dituntun oleh cucunya untuk mulai rajin salat lima waktu, cara bertayamumdan bahkan dibawakan mukena. ''Seperti semacam hidayah. Waktu itu saya berpikir, jangan-jangan Allah memang menurunkan seorang malaikat yang menjelma menjadi cucu saya. Dia adalah motivasi saya dalam belajar agama,'' ia menambahkan. Imbas hidayah dari cucu ini rupanya juga menjadi pendorong kreativitas Renny. Sebuah album religi berjudul Sujud dia rilis pada 2016 lalu.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.19 / Tahun XXIV / 8 - 14 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com