Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Kapal Bambu Siap Melaut

Peneliti ITS meneliti bambu sebagai bahan pembuat kapal. Konstruksi kapal dari bambu lebih memiliki daya tahan tinggi dibadingkan kapal berbahan dasar kayu. Pasokan bambu berlimpah sehingga biaya pembuatannya pun lebih murah ketimbang kapal kayu.

Masalah klasik yang kerap dihadapi para pembuat kapal ikan adalah sulitnya mendapatkan kayu sebagai bahan baku. Kalaupun kayu itu ada harganya sangat tinggi. Karena itulah ongkos pembuatan kapal pun melambung. Akibatnya, kapal mahal dan sulit dijual ke nelayan. Guna mengatasi kendala tersebut, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, melakukan penelitian inovasi material alternatif bambu untuk pembuatan kapal ikan.

Belum lama ini, tim tersebut memperkenalkan purwarupa kapal bambu hasil penelitian mereka. Yakni kapal dengan kapasitas 60 gross tonage (GT) yang panjangnya 24 meter. Pada Kamis pekan lalu, di kampus ITS, Surabaya, GATRA berkesempatan melihat kapal bambu yang April nanti akan dilakukan uji coba berlayar atau sea trial.

Ketua Tim Peneliti Kapal Bambu ITS, Heri Supomo, menjelaskan bahwa penelitian bambu sebagai bahan pembuat kapal sudah dilakukan sejak sepuluh tahun silam. Penelitian ini mendapat perhatian dari sejumlah universitas teknologi perkapalan di Inggris dan Jerman. Bahkan, pada April 2016 lalu, penelitian kapal bambu ini mendapat penghargaan dari Royal Institute of Naval Architects (RINA), yakni organisasi internasional yang menaungi bidang arsitektur perkapalan. Organisasi yang berdiri 1860 ini bermarkas di Inggris.

Hasil penelitian ITS itu menunjukkan, kata Heri, bambu memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan kayu. Di antaranya, memiliki daya tahan lebih tinggi dan keamanannya lebih terjamin. Pasokan bambu berlimpah karena masa panennya sangat singkat, yakni 2-3 tahun. Itu berbeda dari kayu yang baru bisa dipanen 25-30 tahun sejak pohon ditanam. ''Ongkos pembuatan kapal bambu bisa 50% lebih murah dibandingkan kapal kayu,'' kata doktor teknik perkapalan yang juga dosen Teknik Perkapalan ITS, itu.

Penelitian ITS dirintis tim yang dipimpin Heri sejak 2008 silam. Dua tahun pertama, tim melakukan pra-penelitian. Pada tahap ini, mereka melakukan kajian-kajian pustaka. Tahun ketiga, tim meneliti kekuatan, mekanikal properti, sifat-sifat fisis, dan konsep-konsep dasar pemilihan material bambu. Hasilnya, Tim menemukan jenis bambu dengan kualitas terbaik. ''Jenis bambu [kualitas terbaik] yang digunakan adalah [bambu] betung,'' kata peraih magiter teknik perkapalan dari Unversity of Strathclyde, Skotlandia, itu.

Bambu betung (Dendrocalamus asper) sering juga disebut bambu raksasa karena ukuran batangnya yang sangat besar. Sebelum digunakan sebagai meterial pembuatan kapal, bambu betung dipres. Tujuannya agar bambu menjadi padat. Langkah selanjutnya dilakukan laminasi atau pelapisan. Yakni, dengan memberikan bahan pelapis kedap air berupa epoxy polymide EWA 135.

Hasil akhir dari proses pengpresan dan laminasi ini mirip dengan papan kayu. Metode pengepresan dan laminasi ini telah dipatenkan oleh ITS. Sertifikat paten dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI), Kementerian Hukum dan HAM, diterima pada Agustus 2013. Masih terkait dengan penelitian bambu untuk pembuatan kapal, ITS juga telah mengantongi sertifikat paten untuk metode pembuatan gading berbahan bambu laminasi dari Ditjen HKI Kemenkumham, Desember 2013.

Menurut Heri, setelah proses pengpresan dan laminasi, bambu betung memiliki nilai kuat tarik dan tekan (Newton/mili meter persegi atau N/mm2) yang lebih baik daripada kayu jati. Yaitu sebesar 130 N/mm2 dan 50,73 N/mm2 serta renggangan mencapai 8,93%. Berdasarkan perhitungan, kekuatan konstruksi dengan bambu laminasi diperoleh dari pengurangan tebal kulit sebesar 27% pada kapal dengan kapasitas 30 GT jika dibandingkan dengan kayu jati. ''Ini menunjukkan bahwa bambu laminasi memiliki ketahanan dan nilai elastisitas yang baik,'' ucap Heri.

Setelah meneliti jenis bambu, proses pengepresan dan laminasi, tim mulai melakukan penelitian terapan. Tim membuat purwarupa kapal bambu dengan kapasitas 60 GT, yang artinya, panjang kapal kurang dari 24 meter. Kemudian kapal tersebut diuji coba kekuatan struktur dan bahan bambu untuk kapal dengan beban di laut. ''Hasilnya memuaskan. Bambu ini kuat, aman, dan layak untuk dijadikan pengganti kayu,'' kata Heri.

Setelah sukses melakukan penelitian terapan, tim ITS menyosialisasikan kapal bambu hasil penelitian mereka kepada para pembuat kapal yang tergabung dalam industri kecil menengah (IKM) galangan kapal rakyat di Tuban, Jawa Timur. Heri mengklaim, respons masyarakat terhadap kapal bambu cukup positif. Bahkan banyak di antara mereka yang meminta tim ITS untuk segera merealisasikan kapal bambu tersebut. ''Kapal berbahan bambu telah didukung oleh hasil pengujian laboratorium dan adanya prototipe alat serta model bloknya,'' kata Heri.

Ke depan, kata Heri, tim peneliti kapal bambu ITS berencana untuk mengomersialkan kapal bambu tersebut dengan cara memproduksinya dalam jumlah besar. Heri berharap, hasil penelitian ini mendapat dukungan dari pemerintah, sehubungan dengan edukasi serta fasilitas dari beberapa hal pokok. Terutama untuk mendukung rantai pasokan material bambu. ''Saya juga berharap bambu semakin dibudidayakan karena tidak hanya berfungsi sebagai bahan konstruksi tetapi juga penahan longsor,'' katanya.

Sujud Dwi Pratisto dan Abdul Hady JM (Surabaya)

= = =

Info Grafis

Perbandingan Material Kayu dengan Bambu untuk Pembuatan Kapal

Material Kayu
Material Bambu

Ketersedian Material

Material sulit didapatkan. Masa panen sangat lama (30 tahun)

Material berlimpah dan mudah dibudidayakan. Masa panen singkat (3 -4 tahun)

Elastisitas Material

Elastisitas material rendah sehingga sulit dilengkungkann

Elastisitas material tinggi sehingga mudah dilengkungkan.

Masa Jenis

0,9 ton/m3 (lebih berat)

0,7 ton/m3 (lebih ringan)

Ukuran dan struktur rangka (gading)

Tergantung ukuran kayu dan bentuk lekungan kayu.

Ukuran dapat disesuaikan dan sangat fleksibel

Konstruksi Kapal

Kelengkungan konstruksi kapal menyesuaikan ukuran kelengkungan kayu

Kelengkungan dapat menyesuaikan ukuran gading kapal yang dibutuhkan

Proses kelengkungan

Membutuhkan proses pemanasan atau penguapan, sehingga butuh waktu lebih lama
Tidak membutuhkan proses pemanasan atau penguapan sehingga lebih cepat dan fleksibel.

Sumber : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Cover Majalah GATRA edisi No.20 / Tahun XXIV / 15 - 21 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com