Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Poros Ketiga di Persimpangan Jalan

Peluang poros ketiga yang digagas Demokrat, PKB, dan PAN pada pilpres 2019 semakin mengecil. Sekadar manuver untuk menaikan daya tawar ke Jokowi. Jualan utamanya menempatkan kader partai di kursi cawapres.

Di atas podium, dengan tutur kata terjaga dan gestur tertata, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan orasi. "Demokrat mohon doa restu Pak Presiden, agar menang," kata Ketua Umum Partai Demokrat ini, disambut riuh tepuk tangan ribuan kader dan pengurus teras DPP Partai Demokrat yang sedang mengikuti Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.

Presdien Joko Widodo, yang dituju dalam pidato SBY, menyambutnya dengan tepuk tangan pula. Hadir dengan busana jas kelir hitam yang dipadu dasi merah, Jokowi yang duduk di kursi barisan terdepan kembali bertepuk tangan ketika SBY dalam lanjutan pidatonya mendoakan Jokowi sukses dalam pemilihan presiden 2019.

SBY juga memastikan, Demokrat akan mengusung calon presiden terbaik. ''Pada saatnya nanti beberapa bulan mendatang, putra-putri terbaik bangsa yang Demokrat nilai cakap dan mampu memimpin Indonesia akan kami umumkan sebagai paslon yang akan diusung Demokrat," SBY memaparkan.

Pernyataan SBY tersebut seakan menegaskan manuver elite Partai Demokrat, yang sebelumnya sudah melakukan pertemuan dengan PKB dan PAN untuk menggagas poros ketiga. Maklum, saat ini bandul politik menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2019, terus bergerak pada kontestasi Jokowi dan Prabowo Subianto.

Pertemuan para elite partai di salah satu kafe di Pacific Place, Jakarta, Kamis petang pekan lalu, menjadi wacana menarik. Pasalnya, poros ketiga bisa menjadi blok alternatif. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, mengamini adanya pertemuan tersebut. "Membahas perkembangan yang ada sambil ngobrol ringan saja, sambil ngopi, termasuk membahas gagasan poros tengah itu, poros ketiga," kata Hinca.

Selain Hinca, dari Partai Demokrat juga hadir juru bicara Imelda Sari. Dari PKB, ada Wakil Sekjen Lukmanul Hakim dan Wakil Bendahara Umum Rasta Wiguna. Sementara itu, dari PAN hadir Sekjen Eddy Soeparno dan Wasekjen Dyah Hestu Lestari.

Hinca mengatakan, dalam pertemuan itu terlihat bahwa ketiga parpol ini sudah satu pandangan. Imelda menimpali, pertemuan tersebut merupakan bagian dari pertemuan rutin elite partai yang tergabung dalam Forum Kesekjenan yang terdiri dari tiga parpol: Demokrat-PAN-PKB. ''Ya ngopi-ngopi aja, kebetulan kemarin kita yang jadi tuan rumah,'' Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat itu menerangkan kepada GATRA.

Demokrat hingga kini masih yakin pada pakem bahwa politik itu cair. Untuk itu, menurut Imelda, wajar bila "partai bintang Mercy" ini terus melakukan lobi politik dengan semua pihak. Baik itu dengan PAN, PKB, Partai Golkar, maupun PDI Perjuangan. Namun, yang menjadi sasaran Demokrat saat ini adalah mencari parpol yang memiliki kecocokan kimiawi alias chemistry. ''Dalam politik itu anything is possible. Kita tentu ingin berkoalisi secara baik-baik. Partai-partai ada suatu frekuensi, tidak bisa satu pihak memaksakan partai lainnya, harus mutual respect,'' katanya.

Menurut sumber GATRA dari kalangan Demokrat, nama Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, masuk radar capres yang akan digandeng dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Memang, selain Cak Imin, masih ada nama Ketum PAN, Zulkifli Hasan, hingga kader Demokrat yang kini menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi atau dikenal sebagai Tuan Guru Bajang, masuk hitungan.

Namun, figur pria yang akrab disapa Cak Imin ini lebih mengemuka. Karena, selain sebagai ketua umum parpol, ia juga cukup berpengalaman menjadi menteri di Kabinet Kerja. Ia juga dianggap sebagai representasi kalangan NU atau Nahdliyyin yang memiliki garis dan basis massa yang jelas. ''Beliau cukup piawai berpolitik,'' kata sumber itu.

Sekjen PAN, Eddy Soeparno mengatakan pihaknya akan terus melakukan komunikasi politik, meski tidak secara intensif. ''Kita lakukan komunikasi dengan teman-teman baik dari Demokrat, PKB maupun dari partai lainnya,'' katanya kepada GATRA. Menurutnya, keinginan membentuk poros ketiga semata-mata untuk memberikan pilihan alternatif lain selain capres yang ada selama ini.

Intinya, PAN ingin demokrasi di Indonesia bisa berkembang dengan baik, sehingga masyarakat diberi pilihan yang seluas-luasnya. Semakin banyak alternatif, maka semakin banyak pilihan masyarakat pada pilpres 2019.

''Kita juga realistis melihat. Jika nantinya dalam komunikasi politik kita ternyata tidak menghasilkan calon yang terbaik atau dari hasil masukan yang kita terima dari akar rumput dan masukan masyarakat hanya menghendaki dua saja calon 2019, ya kita tentu akan mengikuti apa yang menjadi realita di lapangan,'' kata Eddy.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Lukman Edy, mengakui bahwa komunikasi dengan partai-partai lain terus berjalan. Bahkan jika nanti ada kebutuhan untuk bertemu kembali, PKB siap diundang dan mengundang. Sayangnya, Lukman Edy enggan berbicara lebih jauh soal poros ketiga. ''Masih terlalu dini untuk berbicara pilpres,'' katanya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Sementara itu, Presiden PKS, Sohibul Iman, merespons baik wacana terbentuknya poros ketiga. Menurutnya, selama bukan poros tunggal, PKS mendukung semua poros. Menurut Sohibul, yang relevan kita bicarakan sekarang adalah bagaimana membuat poros alternatif di luar poros Istana. ''Bisa satu atau dua poros alternatif,'' ia mengungkapkan kepada GATRA.

Bagi Sohibul, butuh keseriusan untuk bisa melawan sang petahana dalam Pilpres 2019. Karena itu, ia memberikan masukan, sebaiknya Partai Gerindra, PKS, PAN, PKB, dan Partai Demokrat membuat kesepakatan untuk bisa membuat dua poros alternatif--di luar poros Jokowi. Jadi, dari dua poros alternatif ini harus saling dukung pada putaran kedua dalam pilpres 2019. ''Kita harus sepakat nanti di putaran kedua. Kedua poros ini saling dukung, terlepas poros mana yang masuk putaran dua, untuk melawan petahana," Sohibul memaparkan.

***
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan, menyebut belum ada komitmen apa pun antara Demokrat dan PKB maupun dengan partai lain. Syarief menyebut, dinamika politik Demokrat masih cair dan peta politik bisa berubah. Ia menyebut tidak ada kecenderungan dan keharusan Demokrat membuat poros baru.

Opsi lain yang juga ditimang adalah mendukung Jokowi dan ikut ambil bagian dengan pemerintah. ''Kalau ada kemungkinan kita bergabung dengan pemerintah, bisa saja. Program kita bisa diteruskan, program dari Pak Jokowi yang bagus juga diteruskan,'' kata Syarief.

Sinyalemen opsi merapat ke Jokowi memang juga terlihat dalam orasi SBY ketika Rapimnas Partai Demokrat. SBY berulang kali memuji, mengapresiasi kerja Jokowi. Bahkan Presiden RI ke-6 itu secara terbuka menyebut Demokrat siap bekerja sama mendukung pemerintahan Jokowi. ''Sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama Bapak. Tentu Bapak (Presiden) memahami sebagaimana pengalaman saya dalam pilpres 2004 dan 2009 dulu,'' kata SBY, mengarahkan pidatonya ke Jokowi.

SBY mengatakan, Demokrat siap bergabung dengan koalisi pemerintahan bila kerangka kebersamaannya tepat, yakni menghadirkan kerjasama yang kolaboratif, respect and mutual trust. ''Perjuangan bersama, apapun namanya, apakah koalisi ataukah aliansi, akan berhasil menang jika rangka kebersamaannya tepat,'' ucap SBY.

Apalagi, Syarief Hasan juga mengakui, bahwa Demokrat cenderung bersikap realistis. Berdasarkan hasil pemantauan, Jokowi masih dinilai cukup kuat. ''Pak Jokowi sekarang ini sangat kuat,'' Syarief menerangkan. Karena itulah, menurut Syarief, partainya akan memutuskan pencapresan melalui keputusan majelis tinggi partai yang dipimpin langsung oleh SBY. Dalam kondisi saat ini, ia menjelaskan cukup sulit bagi Demokrat untuk menggagas poros ketiga.

Hal ini disebabkan karena partai politik dominan sudah bergabung dan beraliansi dengan pemerintah. Sementara itu, parpol semisal Gerindra dan PKS besar kemungkinan membentuk poros sendiri mengusung Prabowo Subianto. Demokrat masih harus menyandeng parpol lain yang punya kerangka kerja sama. Tak hanya itu, figur yang ditakar juga harus punya elektabilitas yang kuat. Jadi dengan berkoalisi juga harus ada perbaikan elektabilitasnya. ''Kalau kami berkoalisi dengan yang tidak signifikan, ya percuma juga,'' tutur Syarief.
Wasekjen PDI Perjuangan, Eriko Sotarduga, juga mengatakan semua kemungkinan bisa saja terjadi. Termasuk munculnya poros ketiga. ''Bisa jadi, mereka (PPP dan PKB) atau salah satu dari mereka bergabung dengan poros Demokrat dan PAN, tapi bisa juga akan tetap di poros pertama (Jokowi),'' katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy, menilai wacana pembentukan poros ketiga tidak akan terbentuk. Politisi yang akrab disapa Romi itu meyakini, munculnya wacana poros ketiga merupakan bagian dari strategi yang ingin menaikkan daya tawar politik saja. ''Poros ketiga itu tak akan ada. Hampir dipastikan tidak ada, percaya sama saya," ucap Romi kepada GATRA.

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan menilai, memang Demokrat inilah yang akan menjadi kunci untuk terbentuknya poros ketiga. ''Tapi dengan syarat, harus ada minimal dua partai yang mendukung, saat ini muncul PKB dan PAN,'' katanya.

Namun Djayadi pun menilai, isu poros ketiga ini hanyalah sebatas untuk meningkatkan daya tawar partai kepada Jokowi. Misalnya, sambung Djayadi, Cak Imin yang ngebet ingin menjadi Cawapres Jokowi. Begitu juga Demokrat, yang ingin menyandingkan AHY dengan Presiden ke-7 ini. Sama halnya dengan PAN, yang juga ingin ketumnya, Zulkifli Hasan, bisa dipilih Jokowi.

Gandhi Achmad, Anthony Djafar, Andhika Dinata, Aditya Kirana, dan Bernadetta Febriana
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.20 / Tahun XXIV / 15 - 21 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com