Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Transformasi Cawapres Impian

Para figur calon wapres beradu kreasi pesona tampilan. Sosok berlatar Islam mencoba lebih populer dan kekinian. Sebaliknya, calon kalangan nasionalis berupaya merangkul santri.

Sejak lebih dari seribu billboard jumbonya tersebar di berbagai kota, dengan label "Calon Wakil Presiden 2019", agenda Muhaimin Iskandar makin padat. "Undangan dari bawah tidak pernah berhenti," kata Cak Imin --sapaan Ketua Umum DPP PKB ini. "Hampir tiap hari ada undangan."

Apalagi setelah tampil "berduet" Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada peresmian Kereta Bandara, awal Januari 2018. Pasukan cyber pendukung Muhaimin memviralkan peristiwa itu, sebagai potret pasangan capres-cawapres, sampai menembus papan atas trending topics Twitter saat itu.

Aksi Jokowi memanggungkan Cak Imin di kereta bandara itu, kata sumber GATRA, memang untuk melejitkan elektabilitas mantan Wakil Ketua DPR itu. "Efektif mana, pasang baliho sama tampil dengan saya," sumber GATRA mengutip ucapan Jokowi kepada Muhaimin.

Efek daratnya terasa. "Ada semangat kader, kiai, dan warga NU untuk bergerak, sosialisasi, pertemuan, diskusi," Muhaimin menjelaskan respons animo publik atas branding dirinya. Elektabilitas PKB pun turut menanjak di beberap asurvei. ''Saya sekarang berkonsentrasi di Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Aceh,'' Muhaimin menjelaskan prioritas safarinya kepada GATRA.

Belakangan, tak gampang meminta waktu khusus kepada Muhaimin. GATRA dijadwalkan bertemu pada Selasa, 13 Maret lalu. Tapi ditunda, karena Muhaimin harus ke Bandung untuk: menerima dukungan tiga forum kiai se-Bandung sebagai cawapres dan ziarah ke makam Bapak Marhaen, inspirasi Marhaenisme Bung Karno.

GATRA baru bisa diterima khusus, Rabu pagi-pagi, esoknya, di ruang kerja Ketua Umum PKB di Raden Saleh, Jakarta Pusat. Itu pun diburu-buru, karena belasan politisi perempuan lintas parpol sudah berkumpul di Aula Abdurrahman Wahid lantai 1, menunggu Cak Imin.

Meski di Bandung sampai Selasa tengah malam dan langsung kembali ke Jakarta, Rabu pagi itu, Cak Imin tetap tampak segar. Lengkap dengan candasan segar dan gaya ketawa lepasnya. "Kuncinya tidur cukup. Di mobil pun tidur," mantan Ketua Umum PB PMII ini membeberkan kiat bugarnya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Pagi itu, Cak Imin berbusana merah-putih: jaket merah, di baliknya, baju putih berkerah model koko, ujung baju dimasukkan ke celana, rapi, berkopiah hitam. Kacamata khasnya tak lepas.

Kostum itu dipakai seharian sampai malam. "Ada pesan di balik warna merah itu," kata Dita Indah Sari, aktivis buruh yang banyak mendampingi Cak Imin, sembari tersenyum. Merah adalah simbol nasionalis, putih kerah koko simbol santri. Kopiah hitam simbol nasionalis sekaligus santri.

Sorenya, dengan kostum itu pula, Muhaimin mendeklarasikan sebagai bakal cawapres pada Forum Pemred, yang juga dihadiri Pemred GATRA, di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat. Malamnya tampil di program "Mata Najwa" stasiun televisi Trans 7, masih dengan kostum yang sama.

Kamis, 15 Maret, Cak Imin ke Cilacap, mendampingi Ketua Umum PBNU, K.H. Said Aqil Siroj, meresmikan Koperasi NU. Usai acara, muncul pernyataan penting Kiai Said, ketika ditanya pers tentang cawapres. "Pasti Cak Imin," katanya. "Gus Imin ini cucu pendiri NU [KH Bisri Syansuri], aktivis PMII, Ketum PKB, pernah jadi Wakil Ketua DPR dan menteri," Kiai Said menjelaskan bobot Cak Imin.

Pernyataan itu penting buat Cak Imin, karena Selasa, 6 Maret lalu, Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, M. Imdadun Rahmat, membuat kejutan dengan merilis usulan lima cawapres. Kiai Said nomor pertama, Cak Imin hanya nomor dua. Masih disusul nama Hari Tanoe (Perindo), Moeldoko, dan Sri Mulyani. Rilis itu membentuk opini: PBNU dan PKB tidak kompak.
Banyak lingkaran Cak Imin menelepon Imdad, untuk klarifikasi. Kata sumber GATRA, dorongan pada Kiai Said masuk bursa cawapres berasal dari lingkaran ibunda Presiden Jokowi, Sujiatmi Notomoharjo. Saat Jokowi menikahkan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution, November 2017, kata sumber ini, Sujiatmi minta Said Aqil memberi kotbah nikah. Pernyataan dukungan Kiai Said pada Cak Imin itu pun diviaralkan ke banyak akun media sosial, termasuk berbentuk meme.

Di Pesanten Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Minggu, 18 Maret lalu, "gestur" politik deklarasi Cak Imin menarik dicermati. "Di Rumah Kelahiran K.H. Abdurrahman Wahid ini, kami menyatakan dukungan dan memberikan mandat kepada cicit K.H. Bisri Syansuri, yaitu Bapak Muhaimin Iskandar, untuk maju menjadi calon Wakil Presiden Republik Indonesia," kata K.H. Abdul Karim, Rais Syuriyah NU Blitar, saat deklarasi.

Penegasan "rumah kelahiran" Gus Dur dan "cicit K.H. Bisri" memiliki bobot tersendiri. Selama ini, komunikasi Cak Imin dan keluarga Gus Dur buruk, karena Muhaimin dipandang menyingkirkan sang paman itu dari PKB. Tapi awal pekan ini, Cak Imin diberi mandat politik di rumah kelahiran Gus Dur. Diunggah pula foto di Instagram, Cak Imin berdiri memegang daun pintu warna hijau, tertulis, "Di sini, di kamar ini Gus Dur dilahirkan."

Ibunda Gus Dur dan Ibunda Cak Imin adalah kakak beradik putri Kiai Bisri, Rais Am PBNU ke-3, dan pendiri Pesantren Denanyar. Di akun Instagram cakiminnow, diunggah foto Muhaimin ziarah kubur ayahnya, K.H.M. Iskandar, di belakangnya terlihat makam lain tertulis "K.H. Bisri Syansuri".

Sebutan cicit Kiai Bisri menunjukkan, Muhaimin bukan hanya "Cak" (sapaan khas Jawa Timur untuk kakak), melainkan juga "Gus" (sapaan untuk keturunan kiai). Seolah mengimbangi M. Romahurmuzy, Ketua Umum DPP PPP, yang beberapa bulan ini gencar menebar billboard tertulis "Gus Rommy", karena ia cicit K.H. Wahab Chasbullah, Rais Am PBNU ke-2.
Usai dari Jombang, Cak Imin ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Memasuki kompleks Pesantren Condong, Kota Tasikmalaya, Cak Imin mengendari Vespa warna merah. Di akun instagramnya, adegan itu diunggah dengan caption: ''Merah!!! Kurang merah apa lagi.''

Berbaju koko putih, Cak Imin berkalung selendang batik Tasik. Pilihan merah itu memiliki "benang merah" dengan saat Cak Imin ziarah ke makam Marhaen di Bandung dan saat hari deklarasi depan Forum Pemred.

Kepada GATRA, mantan Menteri Tenaga Kerja ini mengklaim mampu untuk memenuhi ruang kosong Jokowi. Jika Jokowi fokus pada infrastruktur fisik, Muhaimin melengkapi dengan infrastruktur batin. Jika dipasangkan Jokowi, kata Cak Imin, elektabilitasnya 65%. Ia mengaku punya modal dukungan kuat basis nahdliyyin. ''Kiai, ulama, dan pesantren ini saya sebut dukungan organik,'' ujarnya. Selain itu, angkatan muda lintas agama dan kalangan intelektual muda. ''PKB bisa diterima siapa pun,'' katanya.

***

Tebaran wajah santri-muda ketum parpol bukan hanya Cak Imin. Tiga bulanan terakhir, bermunculan wajah "Gus Rommy", 43 tahun, sebutan untuk M. Rommahurmuzy, Ketum DPP PPP, yang juga membentuk citra santri-muda. Sarjana Teknik Fisika ITB ini, meski tidak dikenal sebagai pimpinan aktivis kemahasiswaan Islam model Cak Imin, adalah keturunan aktivis Islam.

Ayahnya, Prof. K.H. Tolchah Mansur, pendiri dan Ketum Ikatan Pelajar NU, pernah menjadi Ketua HMI Yogyakarta, dan mantan Rais Syuriyah PBNU. Ibunya, Umroh Mahfudzah, pendiri dan Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri NU, cucu K.H. Wahab Chasbullah, penggerak pendirian NU. Rommy tidak kalah langkah dalam berbenah. Sapaan "Gus Rommy", dengan kostum santri, kopiah putih, baju koko, dan serban hijau di kanan kini ditemukan di berbagai sudut jalan utama sejumlah kota.

Sosoknya makin melambung dalam bursa calon pendamping Jokowi setelah beberapa kali terlihat akrab mendampingi Presiden di berbagai kesempatan. Mulai saat peresmian Lapangan Tennis Senayan, semobil dengan Presiden ke bandara, mendampingi Jokowi ke Pesantren Sukorejo Situbondo, tempat NU memutuskan untuk kembali ke khitah 1926. Terbaru, Rommy sepesawat dengan Jokowi sepulang dari acara di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

Foto bersama Jokowi di Pesantren Sukorejo dia taruh sebagai gambar profil di akun Whatsapp-nya. Tampak keduanya bersarung dan berkopiah. Jokowi sedang memeriksa naskah, memegang bolpoin, sedangkan Rammy di sebelahnya, ikut mencermati. Menurut sumber GATRA, sejak Desember 2017, Jokowi sering berdiskusi intensif dengan Rommy, khususnya tentang calon wapres di pemilu 2019.

Jokowi pula, kata sumber itu, yang terus mendorong Rommy tampil branding diri ke publik. Semula Rommy enggan, mengingat PPP baru saja lepas dari belitan konflik internal. Setelah menimbang kiri-kanan, Rommy memenuhi saran Jokowi. Tampilan Rommy berkopiah dan serban pun disarankan Jokowi untuk diubah, karena terkesan tua.

Ditemui GATRA pada Selasa sore, 13 Maret lalu, di lantai 15 Gedung Nusantara 1, DPR, Senayan, Rommy mengenakan jas dan kaus putih tanpa kerah. Katanya, itu kostum baru untuk pemotretan iklan dengan nuansa muda. Gaya dan tampilannya diubah total. Saat hendak difoto GATRA, ia memilih pose dengan memegang buku Bung Hatta, sosok wapres yang melengkapi Presiden Soekarno.

Rommy menyebut duet Soekarno-Hatta sebenarnya juga pasangan nasionalis-santri. Meski berpendidikan ekonomi dari Belanda, Hatta adalah putra Mursyid Tarekat Syadziliyah dari Agam, Sumatera Barat. Bila Jokowi melanjutkan sosok Soekarno, Rommy --dengan memegang buku Hatta-- terkesan hendak melanjutkan sosok Hatta.

***

Bukan hanya ketum parpol berlatar santri-NU yang tengah mengolah gestur politik. Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, parpol berbasis utama warga Muhammadiyah, juga mengolah diri. Sumber GATRA dari partai Islam di luar PAN mengabarkan, Jokowi juga mendorong Zulhasan --sapaan Zulkifli-- untuk banyak muncul ke publik, sebagaimana dorongan Jokowi kepada Muhaimin dan Rommy.

Saat meresmikan lapangan tenis, Jokowi tidak hanya menggandeng Rommy, tapi juga Zulhassan. Bedanya, Rommy persis berdiri di sebelah kanan Jokowi, saat tanda tangan, Zulhassan agak jauh, di sebelah kiri, diselingi Mensesneg Pratikno dan Menko Polhukam Wiranto.

Dalam sehari, Ketua MPR itu bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Ada urusan organisasi kemahasiswaan, keagamaan, sampai acara kawinan. Tak cuma di Jakarta, Zulkifli juga ke beberapa kota dalam waktu berdekatan.

''Tidak kurang dari empat sampai lima kabupaten, bahkan dua provinsi disinggahi tiap hari jika ke luar kota,'' kata mantan Menteri Kehitanan ini ketika ditemui GATRA di ruang kerjanya di Senayan, awal pekan lalu.

Zulhasan, kata sumber GATRA, merekrut konsultan politik untuk meningkatkan elektabilitas. Ketum DPP PAN ini diminta sering muncul atau mengomentari isu-isu tertentu. Kepada GATRA, Zulhasan mengakui tidak memiliki pengarah gaya khusus. Sifatnya protokoler biasa, sebagaimana pejabat lainnya, mengingat posisinya sebagai Ketua MPR.

''Tidak ada persiapan-persiapan. Berjalan seperti biasanya saja, agenda-agenda dan undangan-undangan diatur protokoler,'' katanya. Soal cara berpakaian, Zulhasan mengaku seperti kebanyakan orang. Kadang pakai kaus oblong atau bersepatu kets jika suasana santai. Tergantung acara. ''Yang penting sopan dan tidak mengundang perhatian,'' katanya.
***
Persiapan tidak hanya dilakukan pimpinan partai berbasis Islam, membentuk citra duet nasionalis-santri, tapi juga bakal cawapres dari latar nasionalis. Contohnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat. Nama AHY bertengar di peringkat pertama sejumlah survei cawapres, baik untuk Jokowi maupun Prabowo. Bukan brand santri yang diusung AHY, 39 tahun, melainkan wakil kaum muda milenial dan terpelajar.

Meski tidak berlatar santri, AHY memperlihatkan citra juga dekat dan peduli santri. Bisa diterima segmen sosial berbeda. Itu pesan yang kerap ditunjukkan sejumlah bakal cawapres. Seperti Cak Imin yang berlatar santri tradisional, menunjukkan bisa diterima kalangan berbeda: nasionalis, santri modernis, atau kalangan lintas agama.

Agenda AHY, Minggu, 18 Maret lalu, sebagai bagian ''AHY Ngariung di Jabar'', adalah berkunjung ke Pesantren Yamisa, Soreang, Bandung. AHY disambut sorak sorai santri putra dan putri. Beberapa santri memanggil-manggil nama AHY. Mengenakan kemeja putih dibalut kain serban biru di pundak, AHY melayani permintaan para santri untuk berswafoto. Iring-iringan lagu "Yalal Wathon'' --populer di kalangan NU-- yang dinyanyikan para santri saat melepas kunjungan the rising star Partai Demokrat itu.

Sesaat setelah kunjungan, AHY langsung mengunggah foto dan video kegiatan ngariung-nya ke Ponpes Yamisa di Instagram pribadinya. AHY menulis: ''Kepada para santri dan santriwati saya berpesan agar menimba ilmu mulia. Insya Allah mereka bisa menjadi generasi bangsa yang unggul dan membanggakan kita semua. Amiin." Caption tersebut melengkapi foto dan video ringkasnya, yang disukai lebih dari 15.000 likers.

Gerakan merangkul suara Islam juga dilakukan dua mantan Panglima TNI yang juga masuk bursa survei cawapres: Gatot Nurmantyo dan Moeldoko. Sepekan terakhir, Gatot yang pensiun dari TNI pada 1 April 2018 ini, bersafari ke para ulama di Kediri dan Pamekasan.

''Salawat adalah kunci kita semuanya untuk menyelesaikan semua solusi bangsa ini. Saya mengajak, marilah kita sebanyak mungkin bersalawat, sehingga kalau semua umat, semua rakyat dipimpin para ulama selalu bersalawat. Solusi apa pun bisa kita selesaikan. Kediri, 15 Maret 2018,'' tulis Gatot di akun Twitter-nya.

Belakangan, Gatot semakin aktif di media sosial, terutama Twitter. Di akun Twitter @Nurmantyo_Gatot, tercatat ia baru gabung sejak Januari 2018, setelah tidak lagi menjabat sebagai Panglima TNI. Hingga 21 Maret ini, ia sudah mencuit 200 kali.

Di Kediri, Gatot hadir dalam "Lirboyo Bersalawat", dalam rangka Haul K.H. Ahmad Idris Marzuqi. Menutup sambutannya, Sang Jenderal --demikian para santri menyapanya-- mengucapkan, "TNI tidak bisa pisah dengan ulama, dengan Islam, para santri, dan lain-lainnya. TNI harus bersama dengan rakyat. TNI harus bersama dengan umat kalau bangsa ini ingin selamat.''

Sebelum mengunjungi Kediri, Gatot ke Pamekasan, Madura, untuk bersilaturahmi dengan ratusan ulama di Pesantren LPI Al-Hamidy Banyuanyar. Hadirin dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Sejumlah kiai dari luar Madura juga hadir. ''Turut hadir meramaikan Dialog Kebangsaan tersebut para ulama dan pimpinan organisasi Islam, seperti MUI, MIUMI, PMII, HMI; organisasi tersebut adalah anggota Forum Ulama se Madura,'' tulis Gatot di akun Twitter-nya.

Moeldoko, yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, juga makin aktif di media sosial. Pekan lalu, lewat akun Twitter-nya, Moeldoko memublikasikan kunjungannya ke pondok pesantren dan bertemu para ulama di Padang, Sumatera Barat. Anjangsana kepada para ulama juga ia lakukan sebelumnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Bila para pimpinan partai Islam ingin terlihat bisa merangkul kelompok nasionalis, Agus, Gatot, maupun Moeldoko, yang berlatar militer, cenderung menonjolkan kemampuannya merangkul kelompok muslim. Menurut Direktur Eksekutif Indobarometer, Muhammad Qodari, ada kebutuhan dari Presiden Jokowi untuk menghadirkan pendamping dari kalangan santri.

Menimbang elektabilitasnya saat ini yang belum aman, Qodari berpendapat, Jokowi harus mengunci tiga variabel saat menjaring calon pendampingnya: figur, kinerja, dan SARA. ''Isu ini (SARA) bisa membalikkan atau bahkan meniadakan variabel figur dan kinerja,'' kata Qodari kepada GATRA. Siapa tahu, dengan gelagat atau gestur para figur tadi yang mencoba merangkul kelompok di luar latar belakang asalnya, mereka jadi dilirik Jokowi.

Cavin R. Manuputty, Anthony Djafar, dan Aditya Kirana
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.21 / Tahun XXIV / 22 - 28 Maret  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Ragam
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com