Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Lebih Oke dengan Aspal Karet

KemenPUPR kembangkan teknologi aspal karet. Lebih unggul dibandingkan dengan aspal konvensional. Sudah diujicobakan di ruas jalan nasional.

Indonesia merupakan penghasil karet alam terbesar nomor dua di dunia, setelah Thailand. Selama ini, lebih dari 90% hasil karet diekspor ke mancanegara. Sisanya untuk kebutuhan domestik. Sayangnya, masa keemasan karet telah berakhir. Beberapa tahun terakhir, harga karet di pasar dunia merosot drastis. Akibatnya, ekspor karet mandek. Sementara itu, permintaan karet di dalam negeri juga rendah. Petani karet pun merana.

Berawal dari kondisi tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terdorong melakukan penelitian karet untuk bahan campuran aspal. Penelitian dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) melalui koordinasi Pusjatan (Pusat Jalan dan Jembatan) dan PKPT (Pusat Kebijakan Penerapan dan Teknologi). ''Kita pernah lebih dari 10 tahun yang lalu meneliti tentang karet untuk campuran aspal,'' kata Danis H. Sumadilaga, Kepala Balitbang KemenPUPR saat ditemui GATRA di kantor KemenPUPR, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu.

Danis mengungkapkan, KemenPUPR telah melakukan uji coba penerapan inovasi teknologi aspal karet di sejumlah ruas jalan nasional. Di antaranya, November lalu, di ruas jalan Bogor-Parung dengan panjang jalan 500 meter, lebar jalan 7 meter, dan tebal jalan 4 sentimeter. Sebelumnya, pada November 2016 di ruas jalan Ciawi-Sukabumi dengan panjang jalan 2,5 kilometer, lebar jalan 10,5 meter, dan tebal jalan 4 sentimeter. Berikutnya akan dilakukan uji coba di ruas jalan pantai utara (pantura) Jawa dan Sumatera Selatan. ''Yang Sumsel agak panjang, ini mau kita coba sekitar 8,3 kilometer,'' ujar Danis.

Dari hasil ujicoba, diketahui bahwa jenis karet yang cocok untuk campuran aspal adalah lateks cair dan karet padat. ''Yang dominan itu adalah karet padat, sedangkan lateks sedikit sekali persentasenya, tidak sampai 5%. Yang 95% lebih itu dalam bentuk [karet] padat,'' kata Danis.

Dibandingkan dengan aspal konvensional, aspal karet memiliki beberapa keunggulan. Yakni lebih elastis, fleksibel, dan lebih kedap air. Keunggulan lain, mampu menahan beban lebih berat serta daya tahannya lebih awet hingga 50% lebih dibandingkan dengan aspal konvensional. ''Dibandingkan dengan kalau tidak dicampur [karet]. Dia [aspal karet] tahan terhadap panaslah,'' Danis menerangkan.

Untuk proses pencampuran, Danis melanjutkan, dilakukan beberapa tahap, mulai proses pemurnian, proses vulkanisasi, hingga tambahan antiultraviolet. Aspal padat lebih dulu dicampur karet sehingga menjadi bentuk bulk dengan persentase karetnya 7%. Lalu aspal yang telah dicampur karet itu dibawa ke pabrik aspal atau asphalt mixing plant (AMP). Di pabrik aspal dilakukan pencampuran antara batu, pasir, dan aspal. ''Istilahnya, di-blend di luar. Komposisi tujuh persen karet alam dimasukkan dalam aspal. Selanjutnya campur pasir, campur batu,'' ujar Danis.

Dari sisi biaya produksi, menurut Danis, aspal karet memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan aspal konvensional. Misalnya, aspal konvensional, biaya produksinya Rp 7.500 kilogram. Sedangkan aspal karet biaya produksinya Rp10.500 kilogram. Penambahan cost Rp 3.000 dengan asumsi harga karet mentahnya Rp 31.000 per kilogram. ''Itu kalau kita hitung ada penambahan menjadi Rp 10.000, dia nambah 30%-an lebih biaya aspalnya,'' Danis menerangkan.

Danis menjelaskan, teknologi aspal karet juga sudah diterapkan di sejumlah negara. Di beberapa negara Eropa, karet yang digunakan untuk pencampuran aspal berasal dari karet bekas, bukan dari karet alam. ''Mereka recycle, kita lebih ke industri karet alam,'' kata Danis. Teknologi ini, kata Danis, masih terus dikembangkan oleh KemenPUPR. ''Kalau untuk paten, kita belum. Kita masih uji-uji dulu. Soal itu nanti kita siapkan,'' ujar Denis.

Selain teknologi aspal karet, Danis mengungkapkan, KemenPUPR juga sedang mengembagkan penelitian teknologi aspal plastik. Untuk alur proses pembuatanya, aspal plastik lebih sederhana dibandingkan dengan aspal karet. Hasil uji cobanya hampir sama. Hanya saja, pembuatan aspal plastik terkendala sulitnya mendapatkan pasokan plastik bekas untuk campuran aspal. ''Plastik kendalanya ada di bahan baku, karena tidak ada yang mengumpulkan [plastik bekas]. Makanya kita sediakan pencacah bekerja sama dengan pemda, kita latih orang,'' kata Danis.

Andhika Dinata

***

Teknologi Pemanfaatan Karet Alam Cair
Penyadapan Karet Alam Proses Pemurnian KKK 60% (kadar karet 60%)
- Dilakukan Proses Vulkanisasi dan Tambahan Anti UV
- Karet alam cair yang sudah diproses dicampur dengan aspal di AMP dengan kadar 7% secara perlahan-lahan 4 jam pada temperatur 1500 C.

Teknologi Pemanfaatan Karet Alam Padat
Penyadapan Karet Alam
- SIR 20
- Mixing Tahap I (Knider)
- Masterbatch (20% aspal : 80 % karet)
- Mixing Tahap II (Coloid Mill I dan II)
- Aspal Karet dengan kandungan 7% karet alam
- Dicampur dengan agregat AMP menghasilkan campuran beraspal panas.

Hasil Uji Mekanis Aspal Karet
- Memiliki titik lembek yang lebih tinggi sehingga lebih tahan terhadap temperatur tinggi (iklim tropis). Yakni 55,4 0 C (Aspal Karet Masterbatch), 53,80 C (Aspal Karet Lateks) dan 48,70 C (Aspal Penetrasi 60).
- Nilai Stabilitas Marshal relatif tinggi sehingga lebih mampu menahan beban. Yakni dengan ukuran beban 1.097 kg (Aspal Karet Masterbatch), 1.049 kg (Aspal Karet Lateks), dan 986 kg (Aspal Penetrasi 60).
- Memiliki ketahanan terhadap alur/deformasi (jejak roda) yang lebih tinggi dari aspal biasa. Yakni 2.136 lintasan/mm (Aspal Karet Masterbatch), 1.884 lintasan/mm (Aspal Karet Lateks), dan 492 lintasan/mm (Aspal Penetrasi 60).
- Meningkatkan ketahanan terhadap retak lelah akibat lalu-lintas berulang. Yakni 2.269.324 (Aspal Karet Masterbatch), 3.848.000 (Aspal Karet Lateks), dan 1.170.000 (Aspal Penetrasi 60).

Target Strategi Pembangunan Jalan Aspal Karet
Pembangunan Jalan Tol 1.000 km (2018-2019 target 586 km)
Rehabilitasi Jalan Nasional 46.770 km
Pembangunan Jalan Regional 500 km
Pembangunan Jalan Nasional Baru 2.350 km
Pembangunan Jembatan Baru 28.059 km
Sumber: Balitbang KemenPUPR

Cover Majalah GATRA edisi No.23 / Tahun XXIV / 5 - 11 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com