Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Bantuan Pangan Tingkatkan Protein

Bantuan pangan non-tunai dikurangi jenisnya. Dibatasi pada beras dan telur saja. Fokus kepada peningkatan gizi dengan kandungan kalori dan protein tinggi. Efektif?

Warga miskin biasanya menerima bantuan pangan non-tunai (BNPT) beras, minyak, gula dan telur. Namun dalam waktu dekat mereka cuma dapat beras dan telur, sedangkan bantuan minyak dan gula ditiadakan. Melalui rapat tingkat menteri yang digelar pada 20 Maret lalu, pemerintah berencana memberikan bantuan berupa beras dan telur saja. Keputusan dari Kementrian Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) diambil setelah berkordinasi dengan Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, serta pejabat kementerian dan lembaga pemerintahan yang lain.

Menteri Koordinator Bidang PMK Puan Maharani punya alasan tersendiri soal pengurangan jenis bantuan pangan ini. Dua jenis makanan itu tetap dipertahankan karenaterkait dengan kebutuhan gizi masyarakat. Beras diperlukan untuk meningkatkan asupan kalori, sedangkan telur untuk menambah protein di dalam tubuhnya.

Menurut Puan, umumnya masalah gizi yang terjadi di masyarakat bersumber dari kurangnya protein dan kalori. Padahal, ''Selain karbohidrat, rakyat memerlukan protein. Asupan protein bagi anak-anak usia dini membantu pengembangan kecerdasan,'' ujar Puan kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA lewat surat elektronik pada Selasa pekan silam.

Pemerintah juga akan memperluas program BPNT dengan jumlah target 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM) hingga akhir tahun ini. Secara reguler hingga Maret lalu, pelayanan BPNT telah menjangkau 1,2 juta KPM di 44 kabupaten kota. ''Secara bertahap, BPNT akan mengantikan bentuk rastra (beras untuk keluarga sejahtera),'' kata Puan kepada Aulia Putri Pandamsari melalui surat elektronik, Rabu pekan lalu.

Para penerima BPNT akan menerima dalam bentuk tunai yang ditransfer ke bank-bank pemerintah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara. Di situ nanti tersedia fasilitas e-warung. ''Satu e-warung secara rata-rata akan melayani 250 penerima manfaat BPNT,'' kata Puan.

Penerima manfaat akan mendapatkan kartu ATM (anjungan tunai mandiri) untuk mendapatkan bantuan tadi. Pembagian bantuan dengan ATM seperti BPNT itu tentu lebih praktis dan fleksibel. Jadi rakyat miskin tak perlu buru-buru mengambil bantuan karena takut barangnya keburu habis. Mereka bisa mengambil kapan saja bila membutuhkan. ''Apalagi, karena transfer itu diberikan by name dan by address, jumlahnya tidak akan berkurang'' ujar Puan. Adapun besarnya BPNT adalah Rp 110.000 per bulan.

Puan mengatakan, BPNT telah menunjukkan indikator ke arah yang lebih baik dan menjanjikan. Angka kematian balita turun, angka stunting, yakni gejala anak-anak balita yang pendek jauh di bawah rata-rata karena gizi buruk, juga turun. Angka partisipasi anak sekolah terus meningkat, indeks pembangunnan manusia juga naik.

Dalam data Riset Kesehatan Dasar yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2013. tercatat angka kekurangan energi kronik sebesar 38,5%. Angka tersebut naik dibandingkan dengan 2010 yang sebesar 31,3%.

Apalagi, menurut survei diet total (SDT) pada 2014, sebanyak 45,7% memiliki angka kecukupan energi (AKE) di bawah 70% atau sangat kurang, dan yang kurang AKE-nya 35,9%. Sedangkan AKE berlebih sebanyak 5,9%. Sisanya, sebesar 14,5%, memiliki AKE normal.

Kemudian, untuk angka kecukupan protein (AKP), data SDT juga menunjukkan balita yang angka AKP normal hanya 11,5%. Sedangkan sisanya kekurangan dan kelebihan persentase AKP. Persentase kekurangan energi protein (KEP) malah di atas 30%. Ibu hamil yang AKP dan AKEnya kurang juga berisiko melahirkan anaknya terkena gizi buruk.

Berdasarkan pedoman gizi berimbang, angka kecukupan energi dan protein untuk penduduk Indonesia adalah 2.150 kilo kalori dan 57 gram protein tiap hari. Lebih dari 57% asupan makanan penduduk Indonesia berasal dari karbohidrat disusul lemak dan protein.

Risiko kekurangan AKP dan AKE jauh lebih berat, jika dibiarkan berlarut-larut. Akan timbul beberapa penyakit gizi buruk seperti kwashiorkor, marasmus, dan marasmic kwashiorkor. Kwashiorkor adalah kekurangan energi protein, marasmus kekurangan energi, sedangkan marasmic kwashiorkor merupakan kekurangan energi dan protein. Ketiga penyakit masih digolongkan sebagai bagian gizi buruk.

Direktur Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes, Doddy Izwardy, mengakui bahwa masalah gizi buruk yang kekurangan energi dan protein masih tinggi. Pihaknya kini memfokuskan kepada ibu hamil dan balita. Sebab, kedua kelompok tersebut banyak mengalami kekurangan protein. Umumnya terjadi penambahan berat badan sebesar 12 kilo gram saat masa kehamilan. Bila kurang dari berat rata-rata, maka harus ditingkatkan asupan makanannya. Klasifikasi tergantung pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Namun, Doddy sejauh ini bersyukur. Soalnya, menurut pemantauan status gizi yang berakhir 2017, status gizi buruk dengan berat badan rendah dibandingkan tinggi badan, mengalami tren menurun dari 3,1% (2016) menjadi 2,6% (2017).

Menurut Doddy, masalah gizi tidak akan langsung tertangani bila dalam BPNT hanya mencakup beras dan telur. Jadi masih kurang. ''Harus mengacu pada pedoman gizi seimbang,'' kata Doddy kepada wartawan GATRA Annisa Setya Hutami.

Doddy mengaku belum mengetahui banyak soal BPNT. Yang selama ini dijalankan oleh Kemenkes lebih kepada pengembangan Padat Karya Tunai (PKT). Dalam program ini, makanan dimasak oleh kader. Perbaikan gizinya melalui makanan lokal. ''Manfaatnya, selain membuat kader sejahtera, gizi masyarakat juga terpenuhi,'' ujarnya.

Rupanya belum semua provinsi mengetahui program tersebut. Salah satunya Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan NTT, Maria Silalahi, mengaku baru mengetahui program tersebut dari pemberitaan sejumlah media. Namun, belum menjadi program di wilayahnya. ''Mungkin Dinas Sosial atau Dinas pemberdayaan masyarakat desa. Tetapi itu bukan untuk penderita gizi buruk,'' katanya kepada GATRA, Selasa pekan lalu.

Selama ini, program yang sudah dijalankan dan diberikan kepada masyarakat berupa bantuan stimulan pemberian makanan bayi dan anak, baik melalui posyandu maupun puskesmas. Sejauh ini, pihaknya terus memberdayakan petugasnya untuk membantu menangani penderita gizi buruk pada 10.025 posyandu yang menyebar pada 390 puskesmas di Nusa Tenggara Timur.

Meski masih ada kasus gizi buruk, menurut Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, jumlahnya sudah berkurang. Pada 2015, sebanyak 8,02%, atau 3.340 balita, menderita gizi buruk. Tapi pada 2016 jumlahnya turun menjadi 3.072 penderita. ''Ini berkat kerja keras teman-teman kader posyandu dan petugas gizi pada setuap puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu),'' katanya.

Pengamat gizi dari Institut Pertanian Bogor, Hardinsyah, menyambut baik langkah pemerintah. Ia melihat beras dan telur sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. ''Yang penting ini hanya sebagai makanan tambahan,'' ujarnya kepada GATRA. ''Penerima manfaat harus melengkapinya dengan mengonsumsi beberapa tanaman sayuran dan buah-buahan yang ditanam di sekitar rumahnya misalnya,'' katanya.

Jumlah bantuan Rp 110.000 itu, Hardinsyah melanjutkan, juga cukup menambah asupan protein 4 gram protein per hari per kapita, dengan ketentuan 1 keluarga berisi 4 anggota. ''Bisa meningkatkan asupan kalori dan protein sebesar 10%-20%,'' katanya.

Ia juga mengingatkan penyaluran BPNT tepat sasaran dan tidak disalahgunakan. Sebab, banyak kejadian beras yang sudah diterima, dijual untuk mendapat tunainya.

Aries Kelana dan Antonius Un Taolin (Kupang)

Cover Majalah GATRA edisi No.23 / Tahun XXIV / 5 - 11 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com