Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Sudi Silalahi dan Ngemong Cucu

Ia tak tertarik untuk terjun ke hiruk-pikuk dunia politik seperti para mantan pejabat yang lain. ''Sekarang, saya mengurus cucu saja,'' ujar Sudi tersenyum.

Setelah berhenti dari jabatannya sebagai Menteri Sekretaris Negara di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Letjen (Purn) Sudi Silalahi menikmati masa-masa pensiunnya. Ia tak tertarik untuk terjun ke hiruk-pikuk dunia politik seperti para mantan pejabat yang lain. ''Sekarang, saya mengurus cucu saja,'' ujar Sudi tersenyum.

Ditemui sesuai menghadiri pembukaan Rapimnas Partai Demokrat, pekan lalu, suami Sri Rahayu Mulyani ini mengaku punya 5 cucu dari ketiga anaknya. Tampaknya dampak mengurus cucu ini lumayan bermanfaat: pikiran sehat, badan pun jadi bugar.

Sudi tampak tak banyak berubah. Menurutnya, ia rutin berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Dalam seminggu sekali, pria kelahiran Pematang Siantar, 13 juli 1949, ini menyempatkan diri bermain golf. Ia kerap menemani SBY bermain di lapangan golf Halim Perdana Kusuma.

Sesekali, Sudi juga reuni dengan para menteri di kabinet SBY. ''Sebulan sekalilah kita ngumpul. 'Koordinator kelas'-nya Pak Djoko (mantan Menkopolhukam Djoko Suyanto),'' katanya. Menurut Sudi, saat kumpul-kumpul mereka lebih banyak membicarakan aktivitas keseharian masing-masing.

Bukannya bergosip masalah politik? ''Ya, sedikit-sedikit ada-lah,'' ujar Sudi. Yang mendapat porsi banyak, tentu saja ngemong cucu.

***

Bambang Brodjonegoro & Jeruk yang Praktis
Sekali waktu, ketika bertandang ke Inggris, Menteri Bambang Brodjonegoro terpikat pada jeruk yang tersaji di kamar hotelnya. Jeruk tersebut memang manis dan enak. Namun, bukan karena itu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas tersebut jatuh hati, melainkan ''kepraktisan'' jeruk tersebut.

Praktis? ''Saya itu orang yang kalau makan tidak suka ribet. Saya tidak suka makan buah yang ada bijinya. Jeruk yang saya makan itu, tidak ada satu pun bijinya,'' katanya di kantor Kementerian PPN/ Bappenas, Rabu, 21 Maret lalu.

Tak lama berselang, setiba di Jakarta, Bambang mengikuti rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. di antara kudapan yang disajikan terdapat jeruk. "Karena mood-nya masih baru makan jeruk di Inggris, saya langsung kupas jeruknya. Waduh, memakannya perlu sedikit perjuangan. Bijinya banyak,'' ujarnya berkisah.

Seperti dilaporkan Flora Libra Yanti dari GATRA, pengalaman itu menjadi salah satu alasan bagi Bambang untuk menyoroti sektor pertanian dalam prioritas nasional ketika menyusun rencana kerja pemerintah (RKP). Peningkatan ekspor dan nilai tambah produk pertanian disebut Bambang disela-sela pelaksanaan Forum Konsultasi Publik dalam Rangka Penyusunan RKP Tahun 2019.

''Kita belum sampai di tahapan menciptakan produk yang diminati konsumen. Kita menganggap, saya bertani jeruk, berbuahnya ini, ya dijual seperti itu. Jadi, lebih memikirkan apa yang dimaui supplier daripada apa yang diinginkan pembeli,'' kata Bambang.

Bambang mengingatkan, pertumbuhan ekonomi hari ini yang hanya di kisaran 5% itu terutama akibat kurangnya nilai tambah. ''Banyak yang malas untuk menciptakan nilai tambah. Malas untuk memberikan sentuhan teknologi,'' kata Bambang.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.23 / Tahun XXIV / 5 - 11 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com