Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Candra Darusman dan Penghormatan HAKI

Ia kini memiliki kesibukan rutin sebagai Deputy Director World Intelectual Property Organization (WIPO) wilayah Asia Pasifik. Ini yang membuatnya lebih banyak tinggal di Singapura dan Jenewa.

Meski usianya berkepala enam, Candra Darusman masih bersemangat memasyarakatkan kesadaran tentang hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Ia kini memiliki kesibukan rutin sebagai Deputy Director World Intelectual Property Organization (WIPO) wilayah Asia Pasifik. Ini yang membuatnya lebih banyak tinggal di Singapura dan Jenewa.

Lembaga PBB ini bertugas membantu negara-negara lain, terutama negara berkembang, termasuk Indonesia, agar memiliki sistem HAKI yang baik. Lembaga ini sering melatih para jaksa, para polisi untuk menindak karya-karya ilegal. "Jadi, ujung-ujungnya supaya setiap bangsa itu inovatif dan kreatif," katanya. Dengan sistem HAKI, seniman lebih berinovasi, berkreasi, dan preventif.

Di sela-sela kesibukannya saat meluncurkan album barunya, Senin lalu, di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Candra berbincang dengan wartawan GATRA, Andhika Dinata, tentang penanganan kekayaan intelektual ini. Sebelum banyak mengngobrol, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu memperlihatkan foto sampul Majalah GATRA (edisi tahun 1995) yang disimpannya baik-baik dalam galeri ponsel. "Ini, saya pernah jadi cover Majalah GATRA," katanya, sembari tertawa.

Bagaimana Anda memandang perkembangan musik Indonesia dewasa ini?
Luar biasa bakat-bakat musisinya, penyanyinya, karena banyak pengaruh keterbukaan, apakah itu di televisi, majalah, dibandingkan dengan di negara lain. Musik Indonesia itu sebetulnya sangat pantas untuk go international. Cuma, kendalanya, musisi kita harus tinggal di luar negeri, karena infrastrukturnya di luar negeri itu lebih mendukung.

Lalu, bagaimana Anda mencermati dinamika pelanggaran hak cipta dan pembajakan di sini?
Ini suatu diskusi yang sangat penting, karena kita kembali membahas soal respek terhadap milik orang lain. Tantangannya luar biasa, apalagi kalau digital. Dan sepertinya undang-undang ketinggalan dengan yang namanya perkembangan teknologi. Apa pun yang muncul di TV dan digital itu seharusnya minta izin, kalau menurut undang-undang. Sedangkan law enforcement enggak bisa, tanpa dibarengi oleh kampanye kesadaran berkarya.

Kesadaran jauh lebih penting dari penegakan hukum?
Law enforcement juga [perlu], misalnya kalau ada lagu yang diunggah oleh orang lain di YouTube terus pemiliknya keberatan, bisa minta YouTube untuk menarik lagu itu. Tapi ada jutaan yang begitu. Jadi daftar antreannya panjang. Makanya dibarengi dengan kampanye itu tadi.

Cara terbaik untuk kampanye bagaimana?
Caranya kita mengingatkan anak muda bahwa mereka itu calon pembuat lagu. Kalau tidak menghargai diri sendiri, mereka tidak akan dihargai orang lain.
Dalam pengamatan Anda, negara mana yang paling sukses melindungi hak cipta warga negaranya? Negara-negara Skandinavia. Mereka kan sudah beralih ke digital dan sukses. Dan masyarakatnya sudah minimum sekali dunia pembajakan di sana.

Apakah Indonesia tertinggal jauh?
Tidak hanya di Indonesia bahkan di Kanada sendiri, negara maju juga disorot. Kalau soal [pelanggaran] digital terjadi di mana-mana. Yang penting, sekarang adalah bagaimana kita membangun database lagu-lagu dan karya musik Indonesia.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.23 / Tahun XXIV / 5 - 11 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com