Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Riza Deliansyah & Pendidikan Kreatif

Melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Astra memang mencari sekolah-sekolah di daerah prasejahtera untuk dibina.

Treng, treng, treng.... Jemari Riza Deliansyah lincah memetik dawai-dawai sasando, alat musik tradisional Nusa Tenggara Timur. Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk itu berduet dengan Kepala Lembaga Pengembangan Mutu Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur, M. Irfan. Nada-nada yang dihasilkan terdengar harmonis, padahal ini adalah kali pertama Riza manggung bermain sasando. Apa rahasianya?

''Ada yang main di belakang saya sebetulnya, ha, ha, ha...,'' canda Riza. Ia mengaku pernah melihat proses pembuatan sasando. Dari situ ia tahu, wadah sasando yang terbuat dari anyaman daun lontar bisa ditutup. Karena ia tak terlalu canggung saat memetik sasando.

Riza memang diminta dadakan memainkan sasando usai sekaligus membuka ''Festival Kampung Berseri Astra Kupang NTT'' di SDN 5 Sonraen, Kabupaten Kupang, pada Sabtu, 12 Mei lalu. Ia punya cerita tentang pendidikan yang masih tertinggal di beberapa wilayah di Kupang.

Melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Astra memang mencari sekolah-sekolah di daerah prasejahtera untuk dibina. Pada 2015, Astra menetapkan Desa Sonraen sebagai daerah binaan di NTT, yang dimulai dengan pembinaan 10 sekolah dasar di Kecamatan Amarasi Selatan dan Takari.

Nilai mata pelajaran para siswa tergolong rendah, bahkan di bawah batas minimum. Menurutnya, bukan karena anak-anak itu bodoh tetapi metode pengajarannya kurang tepat.
''Prof. Yohanes Surya (Presiden Surya Institute) suka bilang, bukan anak-anaknya yang tidak pintar tapi karena dia tidak mau menerima. Karena apa? Cara mengajar yang mungkin membosankan atau tidak menarik,'' ia menjelaskan kepada Putri Kartika Utami dari GATRA.

Inilah alasan Astra menjadikan Kupang sebagai tuan rumah penyelenggaran lomba Astra Cerdas 2018. Sebuah kompetisi inovasi guru untuk membuat metode mengajar yang kreatif. Tahun ini ada 15 finalis dari sekitar 300 peserta. Para finalis diboyong serta agar dapat berbagi metode mengajar kreatif kepada para pendidik yang berkumpul di Kupang.

''Dari lomba ini kami berharap guru itu mencari inovasi cara mengajar. Nantinya, matematika itu menarik dan IPA itu mengasyikan. Guru-guru membuat video 2-4 menit lalu diunggah di YouTube. Mereka bisa datang ke Kupang sekaligus bercerita ke guru-guru lain,'' kata Riza.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com