Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS II

Mendongkrak Kopi dengan Literasi

Menjual kopi berarti meningkatkan produk, mutu, serta menciptakan kultur kopi unik bercita rasa tinggi. Terobosan Prukades Kemendes PDTT memecah kebuntuan produk kopi.

Di balik tantangan pasti ada peluang. Kondisi tersebut kini sedang dihadapi industri kopi dari hulu ke hilir di Indonesia. Dari segi produktivitas, Indonesia masih kalah dari Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Ini dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya karena kontur tanah berpegunungan, rendahnya antusiasme petani, lambatnya peremajaan tanaman kopi, hingga masih rendahnya keuntungan yang didapat petani.

Beberapa persoalan itu, menurut Daroe Handojo, Wakil Ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (ASKI) masih ditambah dengan proses pengolahan kopi yang tidak konsisten, pengetahuan yang tidak merata pada setiap tahap mengolah kopi, rantai pasokan dan kualitas yang belum sempurna, pemasaran yang kurang memihak petani, dan rendahnya konsumsi serta kurangnya apresiasi terhadap kopi di Tanah Air. "Tantangan begitu kompleks, namun peluang besar ada di sana kalau persoalan dibenahi satu demi satu secara integral dan serempak," katanya.

Namun tanah pegunungan dengan ketinggian lebih 1.000 meter di atas permukaan tanah (mdpl) menciptakan ragam kopi arabika dengan keanekaragaman cita rasa yang sangat diminati konsumen kopi dunia. "Sudah ada 22 Indikasi Geografis masyarakat produsen kopi, dan masih terus akan bertambah lagi. Ini adalah yang terbanyak di dunia yang tidak dimiliki negara lain," katanya.

Dengan 637 anggota, Daroe menambahkan, ASKI yang berdiri pada 2007 telah melakukan berbagai program dan inisiatif bersama pemangku kepentingan yang lain untuk memajukan kopi Indonesia. Kegiatan secara nasional dari kompetisi barista, roaster, pameran, festival, dan berbagai pelatihan secara rutin dilakukan lewat bekerja sama dengan Kementerian Perindustian, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Lembaga Pengembangan Ekspor Indonesia (LPEI), Kementerian Pertanian (Kementan), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri dan Bekraf, menurut Daroe, juga melibatkan ASKI dalam usaha-usaha memperbesar penetrasi kopi dan kampanye Kopi Indonesia di tingkat internasional. "Yang terbaru digandeng Bekraf untuk mem-branding kopi Indonesia yang memiliki kekuatan cita rasa, kualitas, dan keanekaragaman cara tradisi menghadirkan kopi yang unik," katanya.

Kelebihan itulah yang menurut Daroe coba dikenalkan kepada konsumen kopi dunia. Langkah itu akan mendulang keberhasilan, asalkan pembenahan rantai pasok dari hulu sampai hilir yang memperkuat positioning kopi Indonesia juga ditingkatkan. Ini persoalan kuantitas dan kualitas produksi kopi, serta kultur kopi yang harus ditumbuhkan. "Menghadapi itu semua tampaknya masih perlunya strategi yang integral dan menyatukan beragam kekuatan agar fokus menyelesaikan berbagai kekurangan," katanya.

***

Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang Wahyu, mengaku bahwa komoditas kelapa sawit dalam pengelolaan dan pengembangannya memang lebih maju dibandingkan komoditas perkebunan unggulan lainnya. Contohnya pola pendanaan di sawit mestinya dapat juga digagas pada karet, kopi dan kakao. "Bersama sawit, tiga komoditas itu semua terakomodasi di dalam UU Nomor 39 tentang Perkebunan," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Saat ini, Menteri Pertanian telah meminta Dirjen Perkebunan untuk merancang mekanisme pengelolaan penghimpunan dana yang bisa dilakukan di perkebunan seperti kopi. "Karena jangan terlalu membebani APBN. Harus ada kemandirian. Jadi ada tambahan investasi pemerintah yang dihimpun dari dana industri kopi itu," katanya.

Inisiasi penghimpunan dana tersebut sesuai saran Menteri Pertanian, kata Wahyu, fokus pada kopi, kakao, lada, dan pala. Untuk kopi, sentra perkebunan kopi yang terus akan dikembangkan ada di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. "Kebijakan menata kopi harus sesuai dengan tempat tumbuhnya," katanya.

Menurut Bambang ada langkah lebih maju di mana Menko Perekonomian tengah mengolaborasikan dan menyinergikan di antara kementerian dan lembaga terkait yang mengurusi kopi. "Urusan-urusan budi daya, pertanian, roadmap-nya sudah ada. Urusan industri, perdagangan, semua itu masih lepas-lepas. Maka dirangkailah menjadi satu roadmap," ujarnya.

***

Dalam kalkulasi Musdhalifah Machmud Deputi Bidang Pangan dan Holtikultura Kemenko Perekonomian memang ada anomali di perkebunan kopi. Meskipun lahan kopi menduduki peringkat kedua dunia dalam hal luas, yakni 1,2 juta hektare, produktivitasnya masih kalah jika dibandingkan negara lainnya. Itu pun ada sekitar 200.000 hektare yang harus diremajakan karena sudah tidak produktif lagi. "Total produktivitas kopi nasional cuma 552 kilogram per hektare per tahun," katanya kepada GATRA, Selasa malam lalu.

Kini, untuk menggenjot produksi kopi dilakukan intensifikasi serta ekstensifikasi melalui program revitalisasi perkopian nasional. Untuk jenis kopi arabika dan robusta dengan merehabilitasi tanaman tua dan rusak. Selain peremajaan tanaman kurang produktif, juga dilakukan pengendalian hama terpadu dan penanaman kopi di lahan hutan produksi.

Perluasan areal konversi kopi arabika dan robusta, contohnya, dilakukan sesuai dengan ketinggian lahan. Hal itu disertai dengan upaya pendaftarandan penerbitan sertifikasi Indikasi Geografis. Langkah-langkah tersebut integral dengan pemberdayaan petani kopi melalui peningkatan kapasitas dalam hal teknik budi daya yang baik atau good agricultural practices (GAP), sehingga produktivitas dan kualitas yang tinggi mampu memenuhi kebutuhan global.

Menurut Musdhalifah, strategi di atas melibatkan semua pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, industri, petani, perbankan, dan peneliti. Lalu program pembentukan kawasan ekonomi khusus (KEK) dengan mengundang investor akan diluncurkan. "Pendekatan terhadap kopi berpijak pada prospek budaya tinggi, GAP, ekonomi kreatif, pariwisata, dan infrastruktur yang memadai," dia menjelaskan.

Dengan begitu, dia menambahkan, terbentuklah klaster industri kopi untuk meningkatkan perekonomian sektor kopi. Di dalam klaster tersebut ada petani, industri/pabrik, offtaker, dan avalis yang terintegrasi. Cara ini diharapkan dapat memotong jalur distribusi/ rantai pasok yang panjang, dan pada akhirnya menghasilkan produk yang berkualitas dan harga yang berdaya saing.

Pengembangan kopi dengan konsep KEK akan mulai dilakukan di Aceh, Bali, dan Sulawesi Selatan. Di dalam KEK ini akan diberikan kemudahan dalam ekspor dan impor produk kopi, seperti insentif pajak berupa pembebasan PPN dan PPNBm dan perbaikan infrastruktur seperti akses jalan, pelabuhan, dan penyediaan energi.

Sementara ini, kopi menempati urutan kelima penyumbang devisa dari sektor perkebunan setelah sawit, karet, kelapa, dan kakao. Jika konsep peningkatan perkebunan kopi rakyat berhasil dikerjakan, Musdhalifah melanjutkan, diharapkan kopi Indonesia memiliki keunggulan produk ekspor, meningkatkan nilai tambah kopi lokal, menyerap tenaga kerja di sektor perkebunan kopi, dan meningkatkan penerimaan ekonomi daerah.

***

Salah satu inovasi konkret dalam meningkatkan produktivitas dan mutu kopi adalah pendekatan yang ditempuh oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa PDTT, pada awalnya menggagas pendekatan Satu Desa Satu Komoditas (SDSK) sebagai bagian untuk menjadikan desa sebagai basis bisnis baru.

Namun, program tersebut tidak bisa total dijalankan karena dana desa yang besar jika didistribusikan ke semua desa tidak akan mampu menciptakan keunggulan satu komoditas tersebut. Ada 74.957 desa di Indonesia dengan anggaran dana desa total Rp47 trilyun pada 2016 serta Rp60 trilyun pada 2017 dan 2018. Selain keterbatasan anggaran, skala ekonomi di pedesaan juga rendah.

"Pedekatan SDSK itu secepat kilat dimodifikasi oleh Eko Putro dengan pendekatan klasterisasi untuk menciptakan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades)," ungkap Ketua Tim Prukades Kemendes PDTT, Ivanovich Agusta, kepada GATRA, Selasa pagi lalu.

Prukades ini dalam UU Desa disebut sebagai kerja sama antardesa di mana suatu kawasan yang memiliki potensi komoditas unggulan tertentu akan digarap secara vertikal dari hulu sampai hilir. Eko Putro kepada GATRA mengatakan, pendekatan klasterisasi ini menarik investor swasta, karena dilakukan dengan prinsip-prinsip berbisnis yang baik dan fair.

"Kita integrasikan secara vertikal hulu ke hilir, fokus dan total. Komoditas pertanian itu dari penyediaan bibit, teknis penanaman, cara panen, proses produk, penjualan, pemasaran, hingga penciptaan nilai tambah serta peningkataan ekonomi petani diukur dan dievaluasi semua. Jika muncul persoalan, kita keroyok bersama sampai tuntas," Eko Putro membeberkan.

Langkah tersebut, menurut Eko Putro, diambil oleh Kemendes dengan belajar dari program-program di masa lalu yang mangkrak dan tidak berkelanjutan. Karena itulah, pemerintah akan melibatkan berbagai kementerian dan kelembagaan terkait serta semua stakeholders, termasuk swasta yang berkompeten untuk memecahkan persoalan secara konkret.

Khusus untuk komoditas kopi, setelah keberhasilan beberapa pilot project di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera pada 2017, tambah Eko Putro, pada 2018 ini ada puluhan desa yang tertarik menciptakan Prukades kopi. Dalam kesempatan terpisah, Ivanovich mengatakan total tahun ini ada 41 Prukades kopi di 33 kabupaten dan 13 provinsi, serta 11 perusahaan offtaker kopi dengan investasi potensial senilai Rp4,2 trilyun setahun.

Langkah Kemendes PDTT menginisiasi Prukades kopi, menurut Ivanovich, konkretnya berupa kerja sama segitiga antara petani melalui BUMDes dan koperasi kopi, offtaker swasta, dan pemda. "Jadi melibatkan petani, swasta, dan Bupati. Dan MoU-nya ditandatangani oleh Menteri Desa juga. Karena kalau ada kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti infrastruktur, paska panen, bibit, itu Menteri Desa langsung menghubungi menteri terkait seperti Menteri PU dan Pertanian," Ivanovich memaparkan.

Prukades, ia menambahkan, bukan skema program tapi ini skema bisnis. Jadi yang mendanai pebisnis, perbankan. Pemerintah bantu teknologi, kemudian yang mendidik petani itu langsung swasta dan lembaga yang kompeten. Ini salah satu cara agar petani nantinya memiliki pengetahuan tentang bagaimana menghasilkan kopi yang berkualitas ekspor.

Associate Advisor Kemendes PDTT untuk program Prukades, Moh.Nur Uddin, mengungkapkan Prukades kopi berpijak pada potensi keunggulan yang dimiliki masing-masing wilayah perdesaan. Ada beberapa yang mengarah pada arabika specialty dengan mengacu pada single origin sebagai hasil dari penelusuran varietas dan lokasi penanamannya. "Rilis dari Pusat Penelitian Kakao dan Kopi di Jember serta Indikasi Geografis menjadi salah satu acuannya," ungkap Nur.

Tantangannya menurut Nur dari 1,2 juta hektare lahan kopi di Indonesia, sebanyak 900.000 hektare adalah perkebunan kopi rakyat di mana produk kopi robusta mencapai 80%. Kini peningkatan kualitas dan produktivitas lahan kopi robusta Indonesia terus digenjot. "Seiring dengan itu, arabika ditonjolkan keunikan cita rasanya, dan liberika juga mulai dikenalkan secara lebih luas," katanya.

Untuk liberika Kuala Tungkal Jambi, Jember. dan Malang Selatan, menurut Nur, sudah banyak barista yang mengenalkannya sebagai salah satu kopi specialty. Bahkan, liberika Kuala Tungkal sudah memiliki Indikasi Geografis. Arief Setyadi, Associate Advisor di Kemendes PDTT lainnya, menandaskan bahwa literasi kopi oleh para penggiat di asosiasi dan kalangan swasta sangat besar perannya.

Literasi kopi, Arief menambahkan, diharapkan memunculkan tradisi dan kultur kopi khas Indonesia yang saling berhubungan dari soal penanaman, penanaman, pemrosesan, penyeduhan, sampai penyajiannya. Nah, salah satu provinsi yang getol mempromosikan kopi adalah Jambi.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Ariansyah, mengungkapkan bahwa tiga varian utama jenis kopi seperti arabika, robusta, dan liberika tumbuh di wilayah Jambi. "Ketiganya memiliki karakter dan citarasa yang berbeda dalam setiap pengolahannya. Ini kekuatan kami sehingga perjalanan biji kopi dari petani sampai ke penikmatnya kami kemas untuk mewujudkan kopi Jambi untuk dunia," Ari mengungkapkan.

Pada Hari Kopi Nasional, 11 Maret 2018, Jambi secara resmi mengusung tag 0741Coffee. Isinya, kata Ari, adalah kebersamaan saling belajar dari 0 untuk menjalankan 7 misi dengan harapan perbedaan karakter dan profesi inisiator serta anggota yang diibaratkan datang dari 4 penjuru mata angin dapat mewujudkan 1 visi, yakni "Kopi Jambi untuk Dunia".
"Pendekatan Prukades tentunya akan mengakselerasi niatan Jambi meningkatkan kopi dan menyejahterakan petani dengan prinsip keseimbangan fungsi dan nilai sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan wisata," ujarnya.

G.A. Guritno
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com