Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS II

Co-Branding demi Sinkronisasi Pemasaran Kopi Indonesia

Bekraf berupaya mengusung merek tunggal untuk menjajakan kopi di pasar internasional. Kualitas kopi yang beragam dari seluruh Indonesia dilebur agar bernaung di bawah persepsi yang sama. Tak lupa pula memaksimalkan sektor hilir lewat sejumlah sister cafe.

Sejumlah pejabat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berkunjung ke beberapa tempat di Amerika Serikat dan Kanada. Para pengusaha dan pemilik brand kopi ternama Indonesia juga turut serta dalam kunjungan 14-24 April itu. Syukurlah, lawatan itu boleh dibilang tak sia-sia. CEO Kopi Spectrum (Indonesia) Tresna Yaniza Putra telah menandatangani kesepakatan bisnis pembukaan kedai kopi Indonesia di Portland dengan CEO Kopi Coffee House (Amerika), Joshua Lee.

Tak hanya itu, penandatanganan kesepakatan co-branding KOPI itu juga berhasil ditorehkan delegasi Indonesia antara Perwakilan CEO Kopiku (Indonesia), Michael Utama, dan CEO Mr. Green Beans (Amerika), Trevin Miller. Kedua penandatanganAN kesepakatan bisnis ini dilakukan di Paviliun Indonesia dalam event Specialty Coffee Expo 2018 dan disaksikan oleh Deputi Pemasaran Bekraf, Joshua Puji Mulia Simandjuntak, di Washington State Convention Center, Seattle.

Torehan kesepakatan bisnis juga berhasil dilakukan di Vancouver, Kanada, antara CEO Kopiku Michael Utama dan CEO Nusa Coffee Liza Wajong (Kanada) untuk pembukaan kedai kopi Indonesia dan co-branding KOPI di Toronto.

Bekraf memang tengah fokus memasarkan nama dan logo "KOPI" dari Indonesia sebagai branding nasional. ''Bekraf bersama stakeholders mulai menginisiasi penggunaan nama dan logo KOPI untuk menyebut nama kopi dari Indonesia,'' ujar Joshua. Hal ini untuk menjadi pembeda dengan sekadar kata coffee.

Kata KOPI sendiri, Joshia melanjutkan, tidak menghilangkan identitas daerah penghasil kopi. Justru menambah kredibilitas bahwa produk tersebut berasal dari Indonesia dan telah melalui proses pengolahan terbaik. Misalnya kata Kopi Gayo, Kopi Java Preanger, Kopi Ijen, Kopi Blawan, Kopi Flores, Kopi Kintamani, dan Kopi Toraja. Tanpa perlu penjelasan, kata KOPI tadi sudah merujuk pada Indonesia. ''KOPI adalah satu kata yang mudah diingat, tapi dapat menjadi lambang dari kekayaan rasa, ketinggian mutu dan keunikan kopi Indonesia,'' kata Joshua.

Di berbagai lokasi yang dikunjungi, para delegasi juga menyajikan berbagai jenis kopi untuk dicicipi oleh para potential partner yang ditemui. Salah satunya adalah Roberto, Division Head of Roastery dari Cumaica Cafe di San Francisco. Ia mengomentari bahwa dalam persepsinya kopi Indonesia cenderung ''membosankan'' karena kekhasan rasanya tidak berubah sejak dulu, ''Ini adalah suatu rasa yang baru dan tidak terduga,'' ucapnya saat diperkenalkan dengan rasa kopi Papua Monemani yang menurutnya memiliki rasa yang berbeda dan unik.

Sementara itu, di lokasi acara Specialty Coffee Expo, Nick, seorang trainer dari Specialty Coffee Association (SCA) yang berbasis di Seattle, mengutarakan bahwa kopi Sumatera sudah lama dikenal di Amerika Serikat, ''Bahkan, gerai Starbucks yang pertama kali buka di Seattle sudah menjual kopi Sumatera,'' katanya. Nick bilang, salah satu keunggulan kopi Sumatera terletak pada rasanya (flavor). ''Orang-orang bisa menemukan rasa cokelat di balik rasa kopi yang mereka teguk,'' katanya.

Daroe Handojo, perwakilan AKSI (Asosiasi Kopi Specialty Indonesia) yang ikut menjadi bagian dari delegasi, mengungkapkan terdapat beberapa peluang kesepakatan tambahan yang berpotensi deal dan hal ini bisa dijajaki dari Jakarta bersama-sama dengan Bekraf.

Bekraf sendiri, kata Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik, tak lagi membincangkan kopi sebagai komoditas hulu hingga hilir. Tugas Bekraf yang diamanatkan negara kepada Bekraf adalah fokus pada pengembangan nilai tambah kopi. ''Kami berada di segmen hilir plus,'' katanya kepada GATRA, Maret lalu.

Tak cuma fokus menjajakan bisnis kopi ke mancanegara, Bekraf juga melakukan pengembangan pasar dalam negeri untuk meningkatkan konsumsi dan keterkenalan kopi sendiri. ''Kehadiran coffee culture yang harus didorong,'' kata Ricky.

Indikasi Geografis menjadi pintu masuk strategi utama mengembangkan diversity (keragaman) kopi Nusantara. Indonesia lah negara dengan jenis ragam kopi paling banyak. Orang mau cari karakteristik kopi robusta atau arabika dari A sampai Z Indonesia punya dan hampir komplet.

Indikasi Geografis penting untuk melindungi kopi agar produk dari suatu daerah identitas wilayahnya muncul. Ragam rasa kopi indonesia, kata Sukrisno Widyotomo, Kepala Balai Penelitian Kopi, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), lebih kaya daripada Brazsl, Kolombia, juga Vietnam. Cita rasa kopi Indoesia bagus dan beragam, sementara negara-negara tersebut tidak punya ragam kopi. IG itu ada supaya nama Indonesia muncul di kancah global serta untuk melindungi agar kopi yang di luar memunculkan nama daerahnya.

Langkah branding kopi Indonesia oleh Bekraf tentu sejalan dengan usulan Sukrisno sebelumnya agar Indonesia membuat nama kopi sendiri yang menunjukkan identitas negara.

''Menurut saya yang harus kita lakukan adalah mem-brand nama Indonesia. Nama Indonesia, misalnya, Indonesia coffee Sumatera, Indonesia coffee Java, dan seterusnya. Nama Indonesia jangan ditinggal. Indonesia saja yang dimunculkan. Jadi orang kenal Indonesia punya beragam jenis dan rasa kopi. Ini untuk mengurangi terjadinya persaingan di Indonesia sendiri,'' katanya lagi.

Flora Libra Yanti dan Fitri Kumalasari
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com