Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Jendela Dunia bagi Tunanetra

Google merancang aplikasi Lookout yang membantu tunanetra dan penderita gangguan penglihatan mengenali dunia. Aplikasi akan memakai isyarat audio untuk mendiskripsikan objek-objek penting di sekelilingnya. Bersaing dengan Microsoft yang lebih dulu meluncurkan alat bantu tunanetra

Mata adalah jendela dunia. Namun, ada setidaknya 253 juta tunanetra di dunia tak dapat menikmatinya. Dengan maksud untuk membantu mereka, Google sedang mengembangkan program baru bernama Lookout. Google secara resmi mengumumkan aplikasi berbasis Android ini di sela-sela konferensi tahunan inovasinya di "Google I/O 2018", pada pekan pertama Mei.

Jika tidak ada halangan, aplikasi ini akan hadir untuk penguna Android di Amerika Serikat (AS) paling lambat akhir tahun ini. "Aksesibilitas akan menjadi prioritas berkelanjutan bagi kami dan Lookout adalah salah satu langkah membantu tunanetra agar lebih merdeka dengan memahami lingkungan fisik mereka," kata Patrick Clary, manajer produk untuk Tim Aksesibilitas Pusat Google, dalam keterangan persnya.

Patrick mengatakan, setelah pengguna membuka aplikasi dan memilih mode, Lookout memproses hal-hal yang penting di area sekitar pengguna dan membagikan informasi yang relevan. "Perusahaan memiliki tanggung jawab menyumbangkan teknologinya untuk membantu orang-orang ini menjalani kehidupan yang lebih berkualitas dan mandiri," kata Patrick.

Lookout akan memberikan informasi dalam wujud suara lisan yang dibutuhkan penggunanya. Aplikasi memberikan deskripsi tentang di mana objek berada dengan cara yang mudah.

Misalnya, ia akan mengatakan "sofa arah jam tiga" untuk menginformasikan pengguna mengetahui bahwa sofa ada di kanan mereka. Google mengungkapkan Lookout dapat dengan cepat membedakan berbagai objek yang ada. Mulai lokasi kamar mandi, tanda keluar, posisi kursi, orang terdekat, bahkan teks dari buku resep.

Aplikasi Lookout memiliki empat mode berbeda, yakni: Home, Work & Play, Scan, dan Experimental. Nantinya pengguna akan bergantung pada mode yang dipilih. Lalu aplikasi akan memproses hal-hal yang penting dalam lingkungan dan kemudian membagikan informasi yang dianggap relevan.

Jika pengguna memilih mode Home, Lookout akan memberi tahu tentang lokasi sofa, meja, atau mesin pencuci piring. Ini tentu saja sangat membantu tunanetra untuk mengenali rumahnya sendiri, bersih-bersih tempat, atau mengatur perabot agar nyaman digunakan.

Untuk mode Work & Play, Lookout akan menggambarkan berbagai objek sepanjang jalur atau lokasi kerja dan tempat nongkrong yang dilewati. Misalnya di mana lokasi lift, tangga, atau elevator kantor berada. Lookout juga akan mengisyaratkan berbagai alat yang mereka butuhkan untuk pekerjaan mereka. Misalnya, memberi tahu pengguna tempat guntingnya berada.

Ada juga mode Scan, yang dirancang untuk membaca teks buku. Mode pindai ini membuat snapshot teks apa pun yang ditangkal lensa dan Lookout akan membacakannya untuk pengguna. Terakhir, mode Experimental dapat digunakan untuk menguji fitur mendatang yang masih dalam versi beta.

Uniknya, Google juga menyatakan Lookout tak bakal cerewet. Ada opsi notifikasi lisan yang dirancang untuk interaksi minimal. Jadi pengguna tetap dapat fokus pada tujuan atau aktivitas yang sedang dilakukan.

Google dalam preview-nya menyarankan perangkat Lookout dikenakan di saku baju atau tergantung pada tali leher. Yang penting, sensor kamera mengarah ke depan dan tidak terhalang benda lain. Hal ini akan memungkinkan aplikasi bertindak sebagai mata untuk memindai sekelilingnya. Jika ingin mematikan Lookout, pengguna hanya tinggal mengetuk kamera dengan tangan. Menurut Google, Lookout memakai teknologi yang serupa dengan Google Lens sebagai alat pencarian visual.

Sebagai bagian dari pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence --AI) aplikasi ini juga menggunakan konsep learning mechine sehingga komputer dapat belajar mandiri sehingga dapat menjalankan perintah dengan akurat dan tepat. Dengan demikian, semakin sering dipergunakan, maka aplikasi ini akan menyesuaikan karena telah mengenali kebiasaan dan ketertarikan penggunanya.

Kehadiran Lookout ditenggarai untuk mengimbangi aplikasi Soundscape besutan Microsoft yang dilansir Maret lalu. Kinerja Soundscape secara garis besar juga mengandalkan teknologi audio untuk meraba benda-benda di sekitar tunanetra. Aplikasi ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi poin-poin penting yang menarik, seperti jalan dan persimpangan, lalu menyampaikan lewat suara audio mengenai tempat tujuannya.

Soundscape juga menggambarkan lokasi secara real time dan objek terdekat kepada penggunanya. Soundscape sejauh ini eksklusif ada untuk perangkat iOS, sedangkan Google Lookout akan tersedia di ekosistem Android.

Director of Acces Technology LightHouse, Erin Lauridsen, mengemukakan, membantu orang buta untuk bisa "melihat" tidak lain adalah dengan memberikan informasi yang memadai. ''Sebenarnya itu tentang bagaimana cara mengambil informasi visual dan mengubahnya menjadi informasi yang non-visual," kata Erin seperti dikutip lama CNN.

Erin juga menambahkan, Google bukanlah yang pertama menggunakan AI dan ponsel pintar untuk membantu orang buta. Bahkan, siswa remaja berusia 18 tahun pun pernah melakukannya. Saat mengikuti program musim panas di MIT, Erin melanjutkan, sang remaja telah meluncurkan aplikasi VocalEyes yang dapat membantu tunanetra merasakan emosi atau usia seseorang.

Pada Oktober 2017, ada juga yang meluncurkan aplikasi Lend My Eyes di PlayStore. Aplikasi ini dapat menghubungkan orang buta dengan sukarelawan yang terlihat, yang dapat menginformasikan dan membantu orang buta dengan tugas dan informasi yang dicetak.

Sebenarnya, sebelum Soundscape, Microsoft telah mengembangkan aplikasi untuk tunanetra, Seeing AI, pada 2017. Hanya saja Seeing AI lebih banyak ditujukan untuk kemampuan lebih detail seperti membaca tulisan tangan, mendeskripsikan warna dan mengenali denominasi mata uang. Seeing AI juga memiliki fitur pengenalan wajah. Caranya mudah dengan mengarahkan kamera ponsel pintar ke seseorang, lalu Seeing AI akan mendeskripsikan dan menginformasikan jarak orang tersebut.

Dalam hal ini, Lookout tampaknya tidak memiliki kelebihan seperti Seeing AI. Tentu saja Google tak mau kalah dengan menyatakan Lookout akan terus disempurnakan. Tak apalah, perlombaan aplikasi ini tentu agar tunanetra semakin leluasa memiliki jendela dunia sendiri.

G.A. Guritno
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com