Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kemenkeu: Kita Masih Net Buy

Pengalaman Maret lalu, ketika terjadi aksi net sell terhadap obligasi Indonesia setelah pengumuman kenaikan suku bunga The Fed, bisa jadi pelajaran. Tapi sejauh ini pemerintah tetap optimistis pasar obligasi kita tetap stabil.

Perang dagang AS-Cina memang dikhawatirkan akan berkembang menjadi saling serang di sektor finansial. Pasalnya Cina memang memiliki kartu as berupa US$1,8 trilyun obligasi AS. Apakah Cina akan melepas semua itu? Belum jelas memang. Yang pasti, bila perang dagang ini melebar ke sektor finansial, Indonesia akan tertekan. Pasalnya, nilai rupiah masih ditopang dana oblogasi asing. Investor asing memegang hampir 40% obligasi Indonesia.

Pengalaman Maret lalu, ketika terjadi aksi net sell terhadap obligasi Indonesia setelah pengumuman kenaikan suku bunga The Fed, bisa jadi pelajaran. Tapi sejauh ini pemerintah tetap optimistis pasar obligasi kita tetap stabil. "Indonesia insya Allah masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya," kata Luky kepada Hendry Roris P. Sianturi dari GATRA.

Bagaimana dampak perang dagang Cina-AS bagi Indonesia?
Dampaknya bukan hanya ke Indonesia. Ini global. Sebelum trade war ini kan ada kenaikan suku bunga oleh The Fed. Itu menyebabkan capital outflow dari negara-negara emerging market, bukan cuma Indonesia. Tapi meski yield kita naik, itu masih seimbang dengan yield-nya surat utang AS. Turki atau Filipina, misalnya, kenaikannya jauh lebih tinggi daripada kita.

Bagaimana perbandingan yield surat utang kita dengan negara lain?
Yang penting kita melihat bagaimana kenaikan tersebut. Indonesia insy Allah masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Itu satu. Kemudian, pada Februari, Maret kemarin, kan ada net sell (aksi jual) investor asing untuk bond kita. Tapi, fenomena itu pada akhir Maret. Pada awal April, asing sudah mulai masuk lagi. Kembali lagi itu menunjukkan investor asing itu masih sangat tertarik dengan yield kita, dengan bond kita.

Bagaimana dengan risiko bahwa perang dagang AS-Cina bisa membuat ketidakstabilan ekonomi di Indonesia?
Kita enggak mau terburu-buru. Ini kan arahnya belum jelas. Trade war memang sudah terjadi. Tapi, apakah Cina akan menjual surat utang AS tadi kan belum jelas. Tapi, kalau itu terjadi, bukan emerging market di Indonesia saja, melainkan emerging market di seluruh dunia akan tertekan. Makanya di KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) kita punya protokol penanganan manajemen krisis. Kita punya bond stabilization framework (BSF). Kita sudah ada alatnya, instrument in place, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.

Seberapa gencar penjualan obligasi kita ke luar negeri?
Kita di APBN tahun ini sudah jelas. Mau beli dalam US dollar berapa, dalam rupiah berapa, dalam euro. Samurai bond yen. Sudah ada platformnya.

Apakah perang dagang ini akan mempengaruhi laku-tidaknya obligasi kita ke investor luar negeri?
Kita belum tahu. Yang US dollar, yang non-rupiah, kita lakukan semua di semester satu . Itu rencana kita. Jadi semester dua sudah tidak ada lagi kita harapkan.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini untuk merespons perang dagang AS-Cina?
Kita mewaspadai. Tapi sampai pada April ini, terlihat bahwa obligasi pemerintah masih menarik bagi investor asing. Terbukti kenaikan yield obligasi kita mengikuti kenaikan yield US treasury. Dan, kita enggak berlebihan kenaikannya. Dari segi pembelian, kita masih positif. Kita masih net buy.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.46 / Tahun XXIV / 13 - 19 Sep 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com