Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Ada Kesempatan di Balik Perang Dagang

Produk Indonesia punya peluang mengisi kekosongan akibat perang dagang Amerika-Cina. Namun, industri baja hingga produk pertanian dalam negeri terancam limpasan kelebihan produk dari Cina.

Restu dari Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah cukup bagi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito untuk ancang-ancang membuka laga konfrontasi perdagangan. Senin lalu, Enggar menghadap JK untuk mendapatkan mandat: mengerek bendera perang perdagangan dengan Uni Eropa, bila memang minyak sawit (CPO) dari Indonesia akhirnya dilarang masuk ke pasar "Benua Biru" itu.

Sebagai tim juru runding, Enggar sudah bersiap membalas rencana Uni Eropa ini. Beberapa jurus perang akan dilakukan, seperti penghentian impor ikan hingga penghentian pembelian pesawat buatan perusahaan asal Eropa. "Kalau kita diganggu, kita juga bisa melakukan hal yang sama,'' kata Enggar.

Ia mengaku telah berkomunikasi dengan forum perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA) tentang perkembangan terbaru soal negosiasi perdagangan CPO ini. Hal ini dilakukan untuk memastikan benar-benar terjadinya sistem perdagangan antarnegara yang adil. Namun, bila memang kesepakatan yang adil menemui jalan buntu, Enggar menyatakan Indonesia siap mengeluarkan sikap tegas. ''Kalau mereka berkeras, saya minta izin sebagai tim perunding,'' katanya.

Kebijakan yang sedang ditimbang Enggar mengikuti tensi perdagangan dunia saat ini yang mulai memanas. Bulan lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump memutuskan untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari Cina sebanyak masing-masing 25% dan 10% atau setara dengan US$60 milyar atau Rp825,2 trilyun.

Keputusan ini menyusul pengumuman pada Maret lalu yang akan memberikan sanksi kepada Cina berupa pengenaan tarif pada barang impor Cina. Trump juga tengah menyiapkan langkah untuk membatasi investasi Amerika Serikat di Cina.

Berdasarkan memorandum presiden yang ditandatangani Trump, tarif baru bagi impor Cina tersebut baru akan berlaku setelah periode konsultasi usai. Kebijakan ini sebenarnya diharapkan bisa memberikan napas baru buat industri di dalam negeri Amerika Serikat. Namun, menghadapi rencana dagang Amerika tersebut, Cina tak tinggal diam.

Hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman Trump, kementerian perdagangan ''negeri panda'' itu membalas dengan akan memberlakukan tarif pada beberapa produk impor dari daratan Amerika. Misalnya tarif sebesar 15% untuk impor 120 jenis produk, seperti buah, anggur dan pipa baja senilai US$ 977 juta. Selain itu, delapan kategori produk lain juga akan dikenakan bea masuk sebesar 25%, dimana nilainya mencapai US$ 2 milyar. Bea ini berlaku untuk daging babi dan aluminium daur ulang.

Meski kesannya mengerikan, bagi Enggar perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina ini bisa jadi malah akan menguntungkan Indonesia. ''Ada dua hal yang selama ini kami lihat dari perang dagang Amerika Serikat-Cina,'' katanya.

Pertama, potensi peningkatan kapasitas terhadap berbagai produk berorientasi ekspor buatan Indonesia. Dari perang dagang ini, kalangan industri bisa memanfaatkan peluang atas berbagai ekspor komoditas dan memenuhi persyaratannya agar bisa diterima kedua negara. Kedua, perang dagang ini mengakibatkan harga komoditas dari dan ke dua negara akan naik. Kesempatan inilah yang bisa digarap oleh Indonesia. Enggar menyatakan perang dagang antar kedua negara ini merupakan keniscayaan dan pasti akan terjadi.

Menindaklanjuti perang dagang ini, pemerintah juga akan mendorong para investor, terutama kalangan industri kecil-menengah (IKM), untuk menghasilkan barang berorientasi ekspor. ''Kami sudah menyiapkan marketplace dan aturan-aturan yang mempermudah ekspor guna menangkap peluang ini. Jika nantinya industri tidak bisa memenuhinya, kami akan mendesak pemberlakuan dengan kuota tertentu untuk ekspor,'' ujarnya.

***

Beberapa sektor industri Indonesia kini sedang berharap bisa mencuri kesempatan di sela terjadinya perang dagang. Industri kayu olahan misalnya, pada tiga bulan pertama tahun ini sudah terjadi kenaikan pengiriman kayu olahan hingga 28% menjadi US$3,03 milyar ke Amerika Serikat. Jumlah itu diyakini tumbuh lebih besar, setelah pada Desember lalu Amerika mengenakan tarif bea masuk antidumping sebesar 183,6% dan bea antisubsidi hingga 194,9% bagi kayu olahan asal Cina.

Sanksi diberikan setelah pada 2016, enam perusahaan plywood Amerika melaporkan kerugian yang mereka derita dan meminta perlindungan dari pemerintah akibat perdagangan yang tidak adil yang dijalankan perusahaan Cina. Beralihnya para pembeli kayu olahan dari Cina ke Indonesia diharapkan dapat dipertahankan hingga akhir 2018. Para produsen juga diharapkan lebih ekspansif memasarkan produknya ke pasar yang sedang terbuka itu.

Selain kayu, sektor industri manufaktur seperti tekstil juga menjadi salah satu yang diharapkan bisa memperbesar ekspor, setelah produk tekstil Cina berhenti masuk ke pasar Amerika. Sepanjang Januari-Februari 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lima produk ekspor terbesar Indonesia ke Amerika meliputi pakaian dan aksesori bukan rajutan sebesar US$398,83 juta, pakaian dan akesori rajutan US$342,41 juta, karet dan barang olahannya US$342,41 juta, produk perikanan US$245,35 juta, serta produk sepatu dan alas kaki US$224,91 juta.

Secara total, ekspor Indonesia dalam dua bulan pertama tahun ini ke Amerika mencapai US$2,83 milyar. Nilai ekspor ini, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017, tumbuh 1,74%. Hasil industri tekstil dan produk tekstil seperti sepatu, juga punya potensi untuk ditingkatkan kapasitas ekspornya. Apalagi selama lima tahun belakangan, "negeri Paman Sam" itu menjadi tujuan utama ekspor sepatu Indonesia.

Dalam data asosiasi tercatat, nilai ekspor sepatu asal Indonesia hingga September tahun lalu mencapai US$3,5 milyar. Pasar Amerika menyumbangkan 28% atau setara dengan US$995,49 juta dari nilai pasar itu. Menyusul Belgia senilai US$261,99 juta, diikuti Jepang US$237,19 juta (6,7%), Jerman US$218 juta (6,2%), dan Inggris US$171,30 juta (4,8%).
Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhamad Faisal, mengakui bahwa di satu sisi perang dagang ini menjadi peluang ekspor bagi Indonesia untuk mengisi pasar yang tadinya dikuasai oleh produk-produk Cina di pasar Amerika dan, sebaliknya, produk-produk Amerika Serikat di pasar Cina.

Namun, Indonesia ternyata tidak dengan mudah langsung mengambil alih peluang ekspor tersebut. ''Karena daya saing produk ekspor Indonesia yang relatif lemah, sementara pesaing Indonesia di pasar ekspor banyak, sebut saja Vietnam dan Bangladesh,'' kata Faisal.

Sebelum perang dagang, pangsa pasar produk Indonesia di pasar Amerika yang didominasi produk pakaian jadi, tekstil, dan alas kaki semakin berkurang, dicaplok Vietnam. Di pasar Cina, mestinya peluang ini bisa lebih terbuka karena kebijakan Cina yang lebih luwes terhadap impor untuk mendorong konsumsi dalam negeri.

Tapi ironisnya, Indonesia juga belum bisa mengambil untung dengan baik. ''Ketika Januari lalu ada peningkatan kebutuhan impor di Cina sampai lebih dari 30%, ekspor kita ke sana tidak ada kenaikan signifikan,'' kata Faisal.

***

Indonesia juga harus bersiap untuk menghadapi dampak negatif perang dagang. Menurut ekonom dari Institute for Development Economy and Finance (Indef), Abra Talattov, industri aluminium dan baja yang paling parah terkena dampaknya. Indonesia akan terkena "muntahan" baja dan aluminium dari Cina yang tak bisa masuk Amerika. Jadi akan ada dua efek yang akan timbul. Pertama, industri dalam negeri berkurang kapasitasnya, karena akan didominasi impor dari Cina.

Kedua, ini akan memukul mundur baja dan aluminium dalam negeri karena terjadinya perang dagang baja. ''Industri manufaktur baja indonesia terancam produksinya,'' kata Abra kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA. Padahal, produk baja Cina sebelum perang dagang, juga sudah menjajah industri baja nasional. Selama ini, baja dari Cina masuk Indonesia dengan mencari celah kelemahan aturan di sini.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industry Association --IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan bahwa praktik culas ini sering disebut tax rebate. Yaitu, dengan menambah campuran alloy atau membuat produk baja paduan, yang mengakali aturan bea cukai sehingga harga jual baja Cina di Indonesia lebih murah karena bea masuk yang lebih miring, yang mengakibatkan harga baja turun.

Serbuan baja Cina ini tak pelak membuat industri baja nasional menderita. Berpotensi memicu terjadinya PHK secara masif. ''Sudah ada dua pabrik yang akan dijual. Itu ancaman yang nyata,'' kata Hidayat. Selain baja, beberapa produk hasil pertanian juga terancam imbas perang dagang ini.

Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani, Cina berencana membatasi besar-besaran produk pertanian dari Amerika seperti kedelai, buah-buahan, dan tembakau.

Nah, sementara saat ini produksi tembakau dalam negeri terus menurun karena tekanan publik dan kurangnya dukungan pemerintah terhadap tembakau lokal. ''Padahal, industri ini menyerap 6 juta tenaga kerja dan penyumbang pajak nasional terbesar ketiga pada 2015,'' kata Shinta kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA. Karena itulah, pemerintah harus mengawasi benar-benar dampak akibat dari perang dagang ini, dan merumuskan kebijakan yang tepat dalam meresponsnya.

Berkaitan dengan antisipasi perang dagang ini, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kemendag, Oke Nurwan, menyebut bahwa salah satu langkah antisipatif yang diperlukan Indonesia adalah memperkuat ekonomi domestik. Oke memberikan contoh bahwa saat krisis ekonomi global pada 2008 lalu, Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh krisis tersebut sebagaimana hal itu menerpa Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Satu hal yang harus diperkuat adalah dengan membenahi tata niaga ekspor dan impor, terutama urusan tata niaga impor untuk kebutuhan bahan baku dan bahan penolong industri dalam negeri. ''Agar tetap kompetitif,'' katanya kepad Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Mengenai ancaman terhadap industri baja dalam negeri, Oke menyatakan bahwa pihaknya akan mengantisipasi membanjirnya baja Cina ini dengan memperkuat ekonomi domestik, sembari membuat produk yang lebih mampu bersaing. Dengan kemandirian produksi bahan baku yang berkualitas, diharapkan industri Tanah Air juga ikut memanfaatkan. "Selama bahan baku diperlukan untuk mendorong industri dalam negeri, ekonomi akan lebih bergairah dan mendorong ke arah ekspor,'' kata Oke.

Mukhlison S. Widodo, dan Hendry Roris P. Sianturi

***

Kontribusi Industri Manufaktur Terhadap PDB
2013 | 21,03
2014 | 21,07
2015 | 20.99
2016 | 20,51
2017 | 20,16

Neraca Perdagangan Indonesia Cina | Indonesia-Amerika Serikat
Indonesia-Cina 2013 | -7,3
2014 | -13,0
2015 | -14,4
2016 | -14,0
2017 | -12,7
Indonesia - Amerika Serikat 2013 | 6,63
2014 | 8,36
2015 | 8,65
2016 | 8,84
2017 | 9,66
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.46 / Tahun XXIV / 13 - 19 Sep 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com