Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Perusahaan 1 Trilyun Dolar

Amazon menjadi perusahaan AS kedua yang mengecap nilai pasar sebesar US$1 trilyun. Ada dua perusahaan internet lagi yang berpeluang masuk dalam jajaran klub empat koma.

Klub empat koma (four commas) punya anggota baru, yakni Amazon. Sebelumnya, klub eksklusif itu hanya dihuni oleh Apple. Empat koma yang dimaksud di situ merujuk pada keberadaan empat tanda koma yang menunjukkan nilai pasar US$1 trilyun atau lebih.

Rekor itu ditorehkan oleh Amazon pada perdagangan saham Selasa pekan lalu. Ketika itu, saham Amazon diperdagangkan dengan nilai US$2.050,50 per lembar dan membuat kapitalisasi pasar perusahaan itu menjadi US$1 trilyun. Meski posisi itu tidak bertahan sampai penutupan, karena di akhir hari nilai saham Amazon turun ke US$2.039,51.

Kendati tidak berlangsung dalam waktu yang lama, pencapaian Amazon itu patut diapresiasi. Perusahaan besutan Jeff Bezos itu memang didirikan untuk menjadi avant garde. Pada 1994 silam, ia menjadi toko buku online yang menantang keberadaan toko buku konvensional. Kini, 24 tahun setelahnya, Amazon berevolusi menjadi toko online serba ada. Ia juga menjadi penyedia layanan web, logistik, hingga penyedia cloud computing.

Saham Amazon mulai diperdagangkan di bursa NASDAQ, pada 15 Mei 1997 seharga US$ 1,50 per lembar. Pada Oktober 2009, harga saham emiten berkode AMZN itu telah meningkat menjadi US$ 100 per lembar, dan terus menanjak hingga mencapai harga US$ 1.000 pada 30 Mei 2017. Sejak saat itu, Amazon bertahan di atas level tersebut.

Pada Agustus 2018, Amazon mencatatkan capaian baru, yakni harga US$ 2.000 per lembar saham untuk pertama kalinya. Itu hanya berjarak US$50 per saham dari kapitalisasi pasar US$1 trilyun.

Jalur yang ditempuh Amazon memang bukan jalan bebas hambatan. Pada 2014 lalu, perusahaan asal Seattle ini pernah mencoba peruntungannya di bidang telepon pintar dengan Fire Phone. Namun usaha itu tidak berhasil. Meski, di bidang elektronik lainnya,Amazon sudah punya brand image yang kuat melalui Echos dan Alexa, yang menjadi standar teknologi rumah pintar.

Juni 2017 lalu, Amazon juga mengambil langkah tidak konvensional. Jagoan toko daring itu mengakuisisi Whole Foods, jaringan supermarket di AS dengan nilai transaksi sebesar US$13,7 milyar. Amazon sempat dijuluki toko online yang berubah offline.

Lonjakan kecepatan yang terjadi pada Amazon tidak lepas dari agresivitas CEO-nya, Jeff Bezos, yang mengutamakan pertumbuhan ketimbang menciptakan keuntungan.

Sejauh ini dua anggota klub empat koma, Apple dan Amazon, punya ciri khasnya tersendiri. Apple adalah perusahaan teknologi yang lekat dengan citra trendy. Komputer, tablet, dan telepon pintarnya seolah merupakan magnet yang tidak bisa ditolak konsumen. Ada yang rela mengantre dari pagi demi mendapat iPhone terbaru. Mereka juga rela membayar lebih mahal untuk ponsel pintar Apple, kendati ada juga produk serupa dengan harga lebih murah.

Sebaliknya, Amazon bukan tempat trendy atau penyedia produk mahal. Justru konsumen berbelanja di Amazon untuk kebutuhan harian, atau bila mereka ingin mendapat produk diskon.

Dari segi lonjakan pendapatan juga berbeda. Ketika produk iPhone pertama keluar di tahu 2007 lalu, saham Apple melonjak pesat hingga 1.100% dan berlipat tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, Amazon pendapatannya lebih stabil, meski harga sahamnya naik lebih cepat. Karena itulah, kapitalisasi pasar Amazon pernah loncat dari US$600 milyar ke US$700 milyar hanya dalam waktu 16 hari. Apple butuh waktu sekitar 622 hari atau hampir dua tahun untuk meningkatkan valuasi pasarnya hingga sebesar itu.

Dalam menjalankan usaha, Apple, anggota klub empat koma yang lebih senior, terkesan mengutamakan konsep intensifikasi. Ia menciptakan pendapatan dari penjualan ponsel pintar dan komputernya. Menurut data dari Strategy Analytics, Apple hanya menguasai 14% pangsa pasar ponsel pintar. Tapi pendapatan mereka dari penjualan piranti itu lebih besar ketimbang kompetitor penguasa pangsa pasar.

Pada kuartal pertama 2018, Apple membukukan pendapatan sebesar US$61 milyar. Sedangkan Samsung, yang merajai pasaran ponsel pintar, hanya mencatat pendapatan sebesar US$19 milyar, diikuti oleh Huawei di posisi ketiga dengan pendapatan US$8 milyar. Meski kini Apple juga mulai fokus mencari keuntungan dari penjualan aplikasi dan layanan music streaming berlangganan.

Lain halnya dengan Amazon, yang terkesan lebih ekstensifikasi dan diversifikasi. Dari sebuah toko buku online, berjualan kebutuhan sehari-hari, supermarket offline, hingga cloud computing. Menurut data dari Bloomberg, pendapatan Amazon tahun ini diperkirakan tumbuh hingga 30%, dua kali lipat dibandingkan dengan Apple.

Agresivitas Amazon itu tampak dari kecilnya dividen yang mereka bagikan kepada para pemegang saham. Keuntungan yang mereka peroleh, disuntikkan kembali ke perusahaan sebagai tambahan investasi. Laporan keuangan mereka pada tahun lalu menunjukkan bahwa belanja modal atau anggaran yang mereka alokasikan untuk aset fisik, seperti gudang dan peralatan, pada 2017 mencapai US$12 milyar. Belanja modal ini naik dari US$7,8 milyar pada tahun sebelumnya.

Alokasi sebesar itu diperkirakan akan membantu pertumbuhan pendapatan Amazon, khususnya layanan Amazon Web Services, yang lebih menguntungkan ketimbang toko ritel online mereka. Unit bisnis cloud computing, Amazon dan periklanan mereka diperkirakan akan menghasilkan 22% dari total pendapatan mereka di 2018 nanti. Seperti dikutip dari analisis yang dipublikasikan oleh Morgan Stanley, akhir Agustus lalu, cloud computing Amazon dan layanan iklan mereka bisa menghasilkan keuntungan hingga US$45 milyar pada 2020 nanti.

Cavin R. Manuputty

++++

Kandidat Anggota Empat Koma

Selain Apple dan Amazon, ada juga beberapa perusahaan AS lain yang berpeluang untuk bergabung dalam klub empat koma. Kandidat yang paling kuat adalah Alphabet, induk usaha Google, dan juga Microsoft. Menurut data yang dilansir oleh CNBC, kapitalisasi pasar Alphabet sudah mencapai US$834,2 milyar. Sedangkan Microsoft US$831,9 milyar.

Berikut ini adalah daftar 10 kandidat klub empat koma
1. Alphabet (Google)
2. Microsoft
3. Berkshire Hathaway
4. Facebook
5. J.P. Morgan
6. Johnson & Johnson
7. Exxon Mobil
8. Bank of America
9. Visa
10. Wells Fargo

Sumber: CNBC, 24/7 Wall st.

Cover Majalah GATRA edisi No.46 / Tahun XXIV / 13 - 19 Sep 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com