Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Akhir Penantian Setengah Abad

Divestasi saham Freeport Indonesia memasuki fase final. Indonesia menguasai 51% kepemilikan tambang emas dan tembaga tersebut. Urusan administrasi dirampungkan November ini.

“Coba dilihat, bisa enggak [ambil Freeport]. Kan kamu bankir,” kata Rini Soemarno, Menteri BUMN, kepada Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri. Tantangan Rini itu terjadi pada akhir 2014. Kini, negosiasi alot pemerintah guna mendapatkan 51,23% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) tuntas sudah. Posisi minoritas dalam penguasaan saham selama 50 tahun telah berakhir.

Kamis sore pekan lalu, induk perusahaan pertambangan pelat merah, Dirut PT Inalum, yang kini dijabat Budi Gunadi Sadikin, meneken perjanjian sales purchase agreement (SPA) dengan CEO Freeport McMoRan Inc (FCX) Richard Adkerson tentang divestasi saham PTFI di Ruang Sarulla, kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta Pusat.

Sejak Inalum secara resmi mendapatkan tugas dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli saham divestasi PTFI pada 18 Desember 2017, Budi semakin intensif terlibat dalam serangkaian perundingan penyelesaian divestasi saham PTFI.

Melihat jejak sejarah Freeport, membayangkan struktur pengambilalihannya, serta bagaimana holding mesti dibuat untuk mendukung transaksi akuisisi Freeport, Budi pun mulai mencoba untuk masuk. Proses perundingan dan pembahasan yang detail menyangkut beberapa prinsip yang harus ditandatangani merupakan bagian tersulit dalam membangun kepercayaan kedua belah pihak. ''Prinsipnya kita agree dulu, baru detailnya,'' kata Budi.

Ketika kritikan muncul tentang pokok-pokok perjanjian atau head of agreement (HoA) pada 12 Juli 2018, Budi menilainya sebagai hal yang wajar karena langkah penguasaan 51% saham Freeport bukan melulu menyangkut aspek bisnis, namun ada aspek politik dan berbagai hal yang harus dijelaskan. Di antaranya adalah soal nilai akuisisi Freeport, hak partisipasi Rio Tinto, sumber dana untuk mencaplok saham Freeport, serta kemampuan dan skema pelunasan utang Inalum.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, HoA tersebut selaras dengan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Agar perjanjian terealisasikan, Inalum nantinya akan membentuk usaha patungan (joint venture) dengan Pemprov Papua dan Pemkab Mimika. “Nantinya pemerintah daerah akan mendapatkan saham 10% dari kepemilikan saham Freeport Indonesia,” katanya.

Dalam HoA terdapat perjanjian penjualan saham FCX dan Rio Tinto di PTFI kepada Inalum. Nantinya, Inalum akan mengeluarkan uang dari koceknya sebesar US$3,85 milyar atau sekitar Rp56,9 trilyun (dengan kurs Rp14.800 per dolar AS). Rinciannya, sebanyak US$3,5 milyar dialokasikan untuk membayar hak partisipasi Rio Tinto di PTFI. Lalu US$350 juta untuk membeli 100% saham PT Indocopper Investama milik FCX. Indocopper merupakan pemilik 9,36% saham PTFI.

***

Setelah harga dan struktur transaksi disepakati dalam HoA 12 Juli lalu, tahap divestasi saham PTFI akhirnya memasuki fase final dengan ditandatanganinya perjanjian sales purchase agreement (SPA) antara Inalum, FCX, dan Rio Tinto. Menurut Budi, dokumen SPA meliputi tiga hal, yakni perjanjian divestasi PTFI, perjanjian jual-beli saham PT Rio Tinto Indonesia (PTRTI), dan perjanjian pemegang saham PTFI.

Tanda tangan yang tertuang dalam SPA memastikan divestasi PTFI mendekati tuntas. Akan selesai jika penyelesaian transaksi pembayaran kepada Rio Tinto dan FCX pada akhir November 2018 terealisasikan. Begitu pembayaran dilakukan, Inalum resmi memegang 51,23% di PTFI.

Terkait dengan SPA, dalam siaran resmi pemerintah, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan dengan selesainya proses divestasi saham PTFI dan peralihan kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dipastikan PTFI akan berkontribusi pada penerimaan negara yang secara agregat lebih besar dibandingkan dengan saat KK berlangsung.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, nantinya setelah penyelesaian pembayaran, PTFI akan mengajukan surat ke kementeriannya soal perubahan komposisi pemilikan saham. Selanjutnya, status kontrak karya PTFI akan berganti menjadi IUPK. Dengan bekal IUPK, PTFI memiliki masa operasi maksimal 2x10 tahun sampai 2041.

Terkait dengan komitmen pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) berkapasitas 2,6 juta ton per tahun, pemerintah akan memantau pelaksanaannya. "Diharapkan akan selesai dalam waktu kurang dari lima tahun," katanya.

Bagi Budi, penguasaan saham mayoritas PTFI oleh FCX selama 50 tahun pada akhirnya tinggal kenangan. Dasar kekuatan akuisisi saham PTFI menurutnya adalah konstitusi. Penguasaan 51% saham berdasarkan konstitusi harus dijalankan. “Peran saya hanya menjalankan dengan business friendly,” katanya.

Pendekatan bisnis dengan menaruh semua di atas meja perundingan ternyata membuat CEO Freeport McMoRan Inc, Richard Adkerson, nyaman. Hal tersebut akan memberikan Adkerson jaminan karena berunding dengan pemerintah. “Karena dia enggak akan ngalami yang aneh-aneh. Karena ada kita. Hal itu yang diomongkan ke pemegang sahamnya,” katanya.

Adkerson harus memastikan bisnisnya dapat berjalan untuk jangka panjang tidak diganggu orang dan peraturan yang tidak bagus. Pertambangan adalah bisnis jangka panjang hingga 30 tahun, sehingga perlu ada jaminan investasinya kembali. Jalinan kongsi dengan Inalum sebagai partner dengan tim yang profesional membuat para pemegang saham utama di PCX juga merasa aman.

Proses penandatanganan SPA yang dikabarkan sempat tertunda dari jadwal dan baru terlaksana sampai Kamis sore merupakan bagian dari unsur kehati-hatian yang harus dijalankan. Dokumen perjanjian jual-beli harus ditinjau ulang oleh para pengacara PCX, Rio Tinto, dan Inalum dari Singapura. Sementara itu, keikutsertaan Kejaksaan Agung memberikan opini hukum dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam mengawal divestasi dari sisi valuasi serta kajian transaksi juga untuk menutup celah terjadinya persoalan yang mungkin timbul di kemudian hari.

Budi mengatakan, untuk tindakan valuasi, menghitung pajak dan aspek tambang dilakukan secara berlapis. Behre Dolber Australia dan Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) Institut Teknologi Bandung mengkaji cadangan, lingkungan, dan operasional tambang PTFI. “Ya, mereka konsultan tambangnya,” katanya. Lalu untuk menghitung harga dari luar memakai Morgan Stanley dan dari dalam memakai Danareksa. “Tapi itu di-double check sama PwC dan BPKP,” kata Budi.

***

Tambang PTFI di Distrik Grasberg akan menjadi tambang bawah tanah paling besar dan kompleks di dunia. Tambang Grasberg juga akan mengalami masa transisi. Aktivitas penambangan di open pit Grasberg akan berakhir 2019 dan akan bertransisi untuk fokus ke tambang bawah tanah. Total cadangan ore di dalam tambang Grasberg bawah tanah saat ini mencapai 1,9 milyar ton. Masa transisi akan berlangsung sampai 2023.

Masa transisi selama 1-2 tahun risikonya tinggi. Akan ada masa pengurangan produksi untuk beberapa tahun dan akan kembali normal pada tahun 2030. Produksi normal Freeport sebesar 75 juta ton ore per tahun. Dalam masa transisi mulai 2019 diperkirakan akan turun ke 45 juta ton dengan produksi tambang Big Gossn dan Deep Ore Zone (DOZ).

Secara bersamaan, PTFI juga membangun fasilitas penambangan bawah tanah di tambang Grasberg Block Cave dan Deep Mill Level Zone (DMLZ). Jika tahun depan dua pit ini mulai berproduksi, maka pada 2020 total produksi PTFI akan menjadi sekitar 58 juta ton per tahun. Pada 2021 diprediksi produksi akan naik lagi hingga 68 juta ton per tahun dan pada 2022 diharapkan akan pulih produksinya seperti tahun ini, yakni 75 juta ton per tahun.

Sementara itu, selama masa transisi itu, Inalum harus membayar cicilan utang dari pinjaman sindikasi bank untuk pembelian saham divestasi PTFI. Budi mengungkapkan ada 11 bank dengan tawaran pinjaman hingga US$5,2 milyar atau setara dengan Rp72,8 trilyun. Sindikasi 11 bank asing itu dipimpin oleh Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd.

Tahap pendanaan lainnya adalah menggunakan ekuitas Inalum. Namun jika dinilai belum ,cukup maka akan ada opsi untuk menerbitkan obligasi. Menurut Budi, saat ini pihaknya masih berpikir mana yang akan diambil. "Cuma opsi itu ada, punya waktu sampai closing. Setelah bond, equity cash, atau pinjaman," katanya.

Dari bank-bank yang menunjukkan minatnya memberikan pendanaan berupa pinjaman, nantinya Inalum tidak akan menjaminkan kepemilikan saham di PTFI. “Jaminannya hanya potensi bisnisnya,” kata Head of Corporate Communication Inalum, Rendi Achmad Witular, dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 di Kemkominfo, akhir Juli.

Mengenai kemampuan pelunasan utang bertumpu pada cashflow Inalum yang secara konsolidasi cashflow mencapai Rp16,14 trilyun. Total pendapatan Inalum hingga akhir 2017 mencapai Rp47,18 trilyun, EBITDA Rp12,3 trilyun, laba bersih Rp6,8 trilyun, dan total aset mencapai Rp93,2 trilyun.

Soal kemampuan membayar, Budi menyebutkan kekuatan Inalum, juga didapatkan dari Bukit Asam, Timah, dan Antam. Untuk membayar jika dari Inalum dan Bukit Asam sudah cukup. “Jadi cukup dari cash flow Inalum sama Bukit Asam. Cashflow dari Freeport, Timah, Antam itu bonus. Bisa dipakai buat yang lain,” katanya.

Sementara kemampuan Inalum juga didukung oleh kinerja PTFI dengan cadangan terbukti di Grasberg yang secara nilai mencapai US$150 milyar. PTFI sendiri memiliki EBITDA US$4 milyar dengan rata-rata laba bersih setelah 2022 diprediksi mencapai US$2 milyar per tahun.

Terkait dengan SPA yang sudah diteken Inalum dan PTFI, pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengungkapkan masalah perjanjian divestasi 51% saham Freeport, smelterisasi, dan tax and royalty sudah selesai setelah SPA. “Hanya masalah potensi denda yang dikeluarkan dalam audit BPK dan pengendali manajemen masih harus dibicarakan,” kata mantan anggota satuan tugas anti mafia migas ini kepada GATRA, Senin, 2 Oktober lalu.

Soal pengendali operasi perusahaan, menurut Fahmy, mestinya pemegang mayoritas yang pegang kendali. “Masalah dalam joint operation dengan McMoRan tidak masalah, tapi pengendali tetap Inalum,” ujar pengamat ekonomi bidang energi itu.

Tentang pelunasan utang dan pengeluaran sebesar US$3,85 milyar, Fahmy berpendapat sangat berpeluang akan terlunasi dalam waktu tiga tahun. Hal itu berdasarkan pada laporan keuangan 2017, PTFI membukukan pendapatan setelah dikurangi pajak (EAT) sebesar US$4,44 milyar.

Dengan kewajiban melunasi pinjaman dan kondisi transisi menuju penambangan bawah tanah, bagi Budi, keberlangsungan produksi tambang PTFI menjadi perhatian besar. “Jadi kita tidak akan lihat ini tambang lu tambang gue, orang lu, orang gue. Prinsip filosofinya, this is a really partnership owner. Ini sampai 2041,” katanya.

Sementara itu, soal audit lingkungan dan kesimpulan BPK, Budi mengatakan hal itu adalah opini, bukan temuan. Di laporannya, BPK meminta Kementerian LHK memverifikasi apakah sudah sesuai dengan aturan. “Cuma itu dipolitisasi, itu kan potensi hilangnya jasa ekosistem,” katanya.

Adapun ongkos pembangunan smelter sekitar US$2 milyar. Untuk pembangunan selama lima tahun, maka per tahunnya butuh US$400 juta. Dengan EBITDA PTFI sebesar US$4 milyar lebih, maka pembangunan itu akan memakai internal cashflow.

Bagi Budi, dengan pemilikan saham mayoritas di PTFI, maka tambang Grasberg dapat menjadi pusat berbagai macam keunggulan dari riset dan pengembangan, teknologi dan kompetensi tambang bawah tanah, sampai proses hilirisasi yang diperoleh dari ore. Misalnya, nilai tambah ore jika sudah diproses bisa berlipat 5-7 kalinya. “Kontribusi dari tambang mineral logal kontribusi terhadap GDP antara 8%-12%," katanya. Pasca-SPA, multiplikasi dari ekonomi sektor tambang tampaknya menjadi perhatian besar Budi.

G.A. Guritno, Hendry Roris Sianturi, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.49 / Tahun XXIV / 4 - 10 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com