Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Solusi Mudah Trump untuk Apple

Presiden Trump resmi berlakukan putaran tarif baru dalam perang dagang dengan Cina. Produk Apple dikeluarkan dari daftar. Namun jika ada putaran tarif ketiga, semua kena.

Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, resmi memberlakukan tarif terbaru terhadap barang-barang Cina, Senin pekan lalu. Tarif baru sebesar 10% akan dikenakan produk Cina yang nilainya mencapai US$200 milyar. Pada 1 Januari 2019, persentase tarifnya akan naik menjadi 25%. Menurut Trump, perang dagangnya dengan Cina ini akan melindungi dominasi Amerika dari rencana Beijing untuk unggul di bidang teknologi dan ekonomi.

Sepekan sebelumnya, Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (United States Trade Representative –USTR) telah mengeluarkan barang-barang dan produk merek konsumen besar dari daftar tarif. Antara lain, Apple Watch, smartwatch Fitbit, headphone AirPods nirkabel, dan beberapa perangkat konsumen non-teknologi seperti helm sepeda dan kursi mobil bayi.
Total ada 300 produk yang menerima penangguhan tarif. Produk-produk itu dikeluarkan dari daftar tarif yang telah disusun sejak Juli lalu. “Kami menyambut baik dan menghargai waktu dan upaya pemerintah untuk mendengarkan kekhawatiran industri dan konsumen,” kata juru bicara Fitbit kepada Reuters.

Fitbit Inc. adalah produsen alat pemantau kebugaran. Sebelumnya, perusahaan ini telah menyampaikan kepada regulator bahwa tarif impor akan membahayakan investasi AS di Cina. Saham Fitbit ditutup turun 1% pada hari Trump mengumumkan tarif barunya itu. Bagaimana dengan bisnis Apple Inc.? Seperti diketahui, sejak awal produk iPhone memang tidak termasuk dalam produk Apple yang kena tarif baru. Namun, Apple sempat mengkhawatirkan Apple Watch dan headphone AirPods nirkabel itu masuk dalam daftar.

Pada Jumat, 21 September lalu, atau tiga hari sebelum pengumuman tarif baru, seorang pejabat administrasi senior di pemerintahan Trump menawarkan bantuan kepada pihak Apple untuk bernegosiasi. Menurut pejabat yang meminta identitasnya disembunyikan itu, tarif baru banyak dibicarakan sebagai isu Apple Inc. dan perusahaan yang bersangkutan telah bersikap vokal. Ujungnya, “Pengecualian tarif telah diterapkan untuk berbagai perusahaan, termasuk Apple,” ujarnya seperti dikutip dari The New York Times.

Sebelumnya, kepada Good Morning America, CEO Apple, Tim Cook, mengaku optimistis akan ada penyelesaian atas situasi perusahaannya dalam pertarungan dagang AS dengan Cina. Ketika ditanya soal pengecualian produk Apple, Cook menyatakan bahwa meski iPhone dirakit di Cina, banyak komponennya yang dibuat dan dikembangkan di AS.

Pemberlakuan tarif baru akan membebani perusahaan seperti Apple jika harus mengimpor prangkat yang dirakit di Cina. “Saya pikir mereka (pemerintahan Trump) melihat ini dan mengatakan bahwa hasilnya tidak akan bagus bagi AS jika mengenakan tarif pada jenis produk tersebut,” kata Cook.

Agustus lalu, Apple mencatatkan rekor sebagai perusahaan teknologi multinasional pertama AS dengan valuasi menembus US$1 trilyun. Produk-produk Apple, khususnya iPhone, memang dirancang di Cupertino, California, namun perakitan atau produksinya dilakukan di Cina melalui perusahaan mitra bernama Foxconn.

Sebelum genderang perang dagang ditabuh pada April lalu, Trump telah memanggil Cook ke Gedung Putih. Pertemuan itu terkait dengan perdagangan. Lebih spesifik, membahas upaya AS menghindari perang dagang dengan Cina. Apple dan sejumlah perusahaan perangkat keras AS lainnya yang memproduksi barang di Cina akan terpukul jika perang dagang pecah.

Seperti pabrikan dan produsen Amerika lain, sektor teknologi semakin banyak mengalihdayakan produksi ke Cina. Negara itu menjanjikan ongkos manufaktur dan perakitan produk lebih murah daripada di Amerika Serikat. Dalam beberapa dekade terakhir, Intel, Dell, dan Apple mulai menggeser manufaktur ke luar negeri untuk mengambil keuntungan dari biaya tenaga kerja yang lebih rendah dan menyelaraskan operasi lebih dekat ke pelanggan di pasar negara berkembang. Intel, misalnya, mendesain dan memproduksi sebagian besar semikonduktor di Amerika Serikat tetapi bergantung pada fasilitas Cina untuk merakit chip mereka, yang sekarang akan dikenai pajak. Menggerakkan operasi manufaktur dan perakitan di luar Cina dinilai tidak realistis dan terlalu mahal.

Presiden Information Technology & Innovation Foundation, Rob Atkinson, telah mengingatkan perang tarif yang dilancarkan AS akan memengaruhi jantung infrastruktur internet. Menurut Atkinson, jika Presiden Trump ingin memberlakukan tarif pada barang-barang Cina, maka harus dipastikan tarif diberlakukan pada barang-barang yang menyakiti orang Cina, “Bukan (menyakiti) kita,” ujarnya. Information Technology & Innovation Foundation adalah lembaga think tank yang dibiayai oleh perusahaan teknologi, termasuk Microsoft, Google, dan Intel.

Faktanya pada pekan kedua April 2018, Trump resmi menandatangani pernyataan untuk mengenakan tarif yang besar atas impor baja dan aluminium. Lima belas hari setelah penandatangan itu, perang tarif dimulai. AS mengenakan tarif 25% atas impor baja dan 10% atas impor aluminium.

Dan setelah menetapkan tarif baru pada Senin lalu, Trump memperingatkan bahwa jika Cina mengambil tindakan pembalasan terhadap petani atau industri AS, maka ia akan segera meluncurkan putaran tarif impor ketiga terhadap impor dari Cina senilai US$267 milyar.

Menurut analisis sejumlah pelaku bisnis teknologi, jika Trump menambahkan tarif impor pada barang senilai US$267 milyar, hampir setiap impor Cina akan terpengaruh, termasuk iPhone dan semua ponsel pintar lainnya. Saat itu terjadi, harga iPhone dan produk Apple lainnya yang terkait akan semakin mahal.

Sebelum situasi tersebut benar-benar terjadi nanti, Trump melalui akun Twitter-nya menyampaikan, jika Apple tidak ingin terkena tarif impor tersebut maka sebaiknya harus membangun pabrik di AS. Menurut Trump, harga Apple mungkin naik akibat masifnya tarif yang dikenakan AS ke Cina.

Tapi Trump menawarkan solusi yang disebutnya “solusi mudah”. Yaitu pemberlakuan zero tax dan insentif pajak jika Apple mau “kembali” ke AS. “Buat produk di United States ketimbang Cina. Mulai bikin pabrik sekarang," cuitnya.

Januari lalu, beredar informasi Apple berencana menambah investasi sebesar US$30 milyar di AS untuk membangun pusat data baru dan fasilitas lainnya. Investasi itu dikalkulasikan dapat membuka 20.000 pekerjaan baru. Tapi di luar itu, sampai saat ini, Apple memang belum memiliki pabrik di AS.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.49 / Tahun XXIV / 4 - 10 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com