Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Keluarga Gus Dur Pilih Kopiah

Yenny Wahid akhirnya mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf. Kubu Prabowo-Sandiaga masih berpeluang meraup suara warga NU non-pesantren.

Keluarga presiden keempat RI, almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyatakan dukungan politiknya pada pasangan nomor urut 01 Jokowi Widodo-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019. Deklarasi dukungan dibacakan putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau akrab disapa Yenny Wahid, di Rumah Pergerakan Politik Gus Dur, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu. “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, dengan ini kami menyatakan mendukung pasangan nomor satu,” ucap Yenny.

Deklarasi itu dianggap mewakili segenap kader organisasi simpatisan Gus Dur, semisal Barikade Gus Dur, Gatara, FKKNU, GP Al-Mawardi, Komunitas Santri Pojokan, Forum Profesional Peduli Bangsa, dan banyak lagi. Kesepakatan dukungan politik tersebut, menurut Yenny, merupakan hasil penggodokan oleh elemen-elemen tadi dan hasil riyadhah (praktik spiritual melatih jiwa dan nafsu agar dapat melawan kecenderungan-kecenderungan yang buruk) oleh sembilan kiai sepuh.

Pasangan Jokowi-Ma'ruf, menurut Yenny, mewakili keriteria pemimpin yang tepat dalam pandangan kaum Gusdurian. Yaitu, mampu menghadirkan keadilan sosial, layanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat dan menyediakan konektivitas untuk masyarakat di daerah -daerah yang sebelumnya sulit dijangkau. “Yang kita apresiasi dari Pak Jokowi itu adalah beliau datang dari kalangan kecil, suara hati masyarakat,” ia menjelaskan.

Dukungan tersebut menjadi muara dari sowan politik yang dilakukan dua paslon capres-cawapres secara sendiri-sendiri sejak awal September. Diawali dengan kunjungan Jokowi ke Ciganjur (7 September), lalu Sandiaga Uno (10 September), dan Prabowo Subianto (13 September).

Merespons tiga kunjungan itu, Yenny menyebutkan beberapa kriteria yang akan dijadikan sebagai pertimbangan dalam memilih pasangan capres dan cawapres tertentu. Yaitu, sosok yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara; punya kepedulian sosial; dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap toleransi, keberagaman, inklusivitas, serta penegakan hukum.

Secara simbolik, saat itu Yenny juga mengatakan akan menimang apa yang telah diberikan Gus Dur kepada para paslon: Jokowi telah menerima kopiah Gus Dur, sementara Prabowo dapat pujian Gus Dur sebagai orang yang paling ikhlas. Dan hanya selang beberapa jam setelah kunjungan Ma'ruf Amin ke Ciganjur pada Rabu, 26 September, Yenny mengumumkan pilihannya.

Yenny menyebut keluarga Gus Dur sudah cukup lama mengenal Ma'ruf. Pada setiap acara penting, Ma'ruf kerap diundang bertandang ke Ciganjur, begitu juga sebaliknya. Pada Idul Fitri Juni lalu, keluarga besar Gus Dur hanya sowan ke tiga keluarga: keluarga Kiai Ali Yafie; keluarga istri Kiai Husein Ilyas; dan keluarga Kiai Ma'ruf Amin. “Saya secara pribadi deket dengan beliau (Ma'ruf Amin). Tetapi dalam posisi isu kebhinekaan kita juga sering berseberangan. Beliau juga mafhum,” kata Yenny.

Toh, belakangan ada semacam disclaimer yang mengiringi deklarasi dukungan politik keluarga Gus Dur tempo hari. Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur, kakak Yenny, melalui akun Twitter-nya, mengingatkan bahwa dukungan keluarga Gus Dur kepada paslon nomor urut 01 menggunakan jalur "Gerakan Kader Gus Dur", bukan Gusdurian.

Gusdurian, menurut Alissa, adalah gerakan sosial kemasyarakatan yang bersifat netral. Gerakan ini lahir jauh sebelum Kader Gus Dur eksis sedangkan Kader Gus Dur adalah gerakan politik yang baru beberapa tahun terakhir dikonsolidasikan.

Disclaimer lainnya, Sinta Nuriyah, istri mendiang Gus Dur, tidak terlibat dalam kesepakatan dukungan politik tersebut. Menurut Yenny, ibunya ada di posisi netral. Dan posisi netral itu akan membantu sang ibu untuk bekerja lebih baik dalam kontestasi pilpres 2019. “Ibunda saya itu tugasnya jewer kita-kita kalau sudah berlebihan, termasuk saya juga harus siap dijewer,” ujarnya sembari tertawa.

Menurut Direktur Program Saiful Muzani Research Centre (SMRC), Sirajuddin Abbas, dukungan Yenny tidak serta-merta membuat suara warga NU terkonsolidasi ke pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Seperti diketahui, sebelum Yenny, paslon 01 sudah memiliki bekal dukungan NU, antara lain melalui peran PKB dan PPP sebagai partai pengusung; dukungan populasi NU terbesar di Jawa Timur melalui gubernur terpilih, Khofifah Indarparawansa; dan kapasitas Ma'ruf Amin sebagai Rais 'Aam Syuriah PBNU.

“Dukungan dari Yenny itu memperkuat aspek legitimasinya, keabsahan untuk memeroleh dukungan dari warga NU. Tetapi tidak otomatis,” kata Sirajuddin kepada Dara Purnama dari GATRA. Dengan kata lain, dukungan Yenny ke paslon 01, menurut Sirajuddin, tidak serta-merta menutup peluang paslon 02 untuk menggaet suara dari warga NU.

Sejak 1980-an, NU sudah kembali kepada khitahnya sebagai organisasi sosial keagamaan sehingga tidak memiliki otoritas secara formal untuk mendukung kandidat politik mana pun. Akan tetapi, NU memberikan kebebasan warga atau kadernya untuk aktif di hampir semua parpol yang ada dan juga bisa mendukung calon-calon kepala daerah maupun calon presiden dan wakil presiden manapun. Akibatnya, suara NU tersebar. “Saya tetap meyakini bahwa peluang Prabowo dan Sandi untuk mendapatkan porsi suara warga NU belum tertutup,” Sirajuddin memaparkan.

Warga NU secara kultural terbagi ke dalam dua tipe. Pertama adalah warga NU yang terkonsolidasi melalui jaringan pesantren. Mereka tumbuh dan berkembang dari genologi kiai-santri dan seterusnya. Hubungan genologis itu yang menciptakan struktur budaya di dalam NU yang relatif kuat dan terjaga.

Tipe kedua adalah warga biasa yang ikut dalam pengajian NU atau bersekolah di madrasah yang didirikan oleh kiai NU. Termasuk dalam tipe ini juga adalah warga biasa yang mengikuti ritual NU namun tidak punya ikatan dengan NU sebagai organisasi ataupun secara kultural tidak seketat kelopok pesantren. “Kelompok kedua yang di luar genelogis pesantren inilah yang terbuka untuk didekati,” kata Sirajuddin.

Juru bicara Tim Pemenangan Prabowo-Sandi, Faldo Maldini, tidak khawatir dengan potensi suara NU yang terkonsolidasi ke kubu kompetitor. Menurutnya, ketimbang main di wilayah simbolik dukungan (lewat simbol NU, Gusdurian, Muhammadiyah, dan lainnya), paslon 02 lebih mengutamakan program seperti harga sembako terjangkau, lapangan kerja mudah didapat, ekonomi kuat, hingga keberagaman dan pluralisme. “Seperti yang dicita-citakan oleh Gus Dur,” ujarnya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Bambang Sulistiyo dan Andhika Dinata

Cover Majalah GATRA edisi No.49 / Tahun XXIV / 4 - 10 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com