Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Menanti QRIS, Sang Pembayar Non-Tunai

Menghadapi era cashless society, transaksi digital melalui QR payment semakin diminati. Dinilai lebih efisien, praktis, dan murah karena tidak memerlukan alat tambahan.

Malas mengantre? Unduh saja aplikasi ber-QR code ke telepon pintar Anda. Lalu hadapkan layar handphone ke pemindai kode hingga terdengar “bip...” dan urusan pun selesai. Tentu saja, QR code tak hanya sakti untuk urusan pembayaran. Teknologi ini dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Maklum saja, era pembayaran tanpa uang tunai (cashless) yang bersifat mobile mulai diandalkan sebagai penunjang aktivitas.

Dalam laporan bertajuk “Mobile Payments in Indonesia: Race to Big Data Domination”, MDI Ventures bersama dengan Mandiri Sekuritas memaparkan lanskap mobile payment terkini di Indonesia, lengkap dengan studi kasus kesuksesan penerapannya.

Disebutkan, layanan mobile payment di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak 2007, ketika Telkomsel merilis TCASH. Teknologi ini makin populer seiring dengan makin banyaknya keperluan pembayaran, misalnya untuk jasa transportasi online.

Dari munculnya GO-PAY yang dikembangkan GO-JEK, PayPro, OVO, serta produk lainnya. TCASH dan GO-PAY mendominasi jumlah pengguna tertinggi. GO-PAY terbilang cepat populer, karena di bawah GO-JEK yang punya beragam aktivitas mulai dari transportasi hingga pemesanan makanan. TCASH sendiri belakangan berupaya lepas dari bayang-bayang Telkomsel.

Berawal dari dompet digital, platform pembayaran dengan cepat beralih ke quick response code alias QR code tadi, yang kini pengguna dan pemainnya semakin banyak. Sejauh ini, sudah ada 12 perusahaan yang mengantongi izin menyediakan sistem pembayaran tersebut.

Perusahaan yang dimaksud meliputi perbankan dan financial technology. Perusahaan tersebut dilibatkan untuk mengimplementasikan QR code secara terbatas pada beberapa mitra. Implementasi ini berjalan di bawah otoritas Bank Indonesia dan akan berakhir seiring berakhirnya masa uji coba.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, salah satu penyedia sistem QR bernama Your All App atau Yap!, menyebut pengembangan QR code dilakukan karena di masa depan masyarakat butuh media transaksi yang murah. “QR code memiliki semangat untuk efisiensi artinya merchant tidak perlu menggunakan device, cukup pakai QR dan di-scan oleh pembeli, melalui smartphone,” kata General Manager Divisi Elektronik Banking BNI, Anang Fauzie, kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA, Selasa lalu.

Anang mencontohkan, scan kode QR hanya memerlukan slip print sebagai bukti pembayaran. Jadi biaya yang dikeluarkan pun murah, hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000. Bandingkan dengan transaksi non-tunai lewat mesin electronic data capture (EDC) yang mahal. “Satu mesin EDC harganya mencapai Rp 2,5 juta,” kata Anang.

Rencana pengaturan yang diinisiasi BI bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) soal standar kode QR, menurutnya, sudah seharusnya dilakukan. Indonesia nantinya akan memiliki standar penerapan QR yang dinamai QR Indonesian Standard atau disingkat menjadi QRIS. Nantinya, semua pelaku sistem pembayaran yang menggunakan kode QR akan mengacu pada standar yang ditetapkan QRIS tersebut.

Senada dengan Anang, Danu Wicaksana, CEO TCASH, menyebut kesadaran masyarakat akan produk digital sudah tinggi. TCASH yang awalnya mengenalkan stiker tap dengan teknologi NFC (near-field communication), kini memiliki tiga user interface untuk memanfaatkan layanannya. Yaitu, Snap QR Code di aplikasi TCASH Wallet, TCASH Tap menggunakan stiker NFC dan Kode Akses USSD *800#.

Secara prinsip, ia juga mendukung penuh inisiatif dan peraturan dari pemerintah tentang pemberlakuan standardisasi QR code. “Kami yakin ini bermanfaat dalam pengembangan eksosistem sistem pembayaran di negeri ini,” katanya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang mengembangkan platform My QR, meyakini peluang pertumbuhan yang menjanjikan di masa depan. Apalagi, jika peraturan standardisasi QR code segera diberlakukan. “Standardisasi dapat memberikan kemudahan lebih kepada pengguna uang elektronik bank lain untuk dapat bertransaksi di merchant-merchant My QR dan begitu pula sebaliknya,” kata EVP Retail Payment BRI, Arif Wicaksono.

Direktur Eksekutif Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Onny Widjanarko, mengatakan uji coba standardisasi QR payment 12 perusahaan masih berlangsung. Standardisasi payment penting guna menghindari fraud dan perlindungan konsumen. Terlebih, QR payment nantinya lebih banyak digunakan oleh merchant kecil, sehingga transaksinya tidak banyak.

Walaupun demikian, ia menambahkan, dengan QR payment, merchant kecil ataupun konsumen dapat mengefektifkan pembayaran dan transaksi dilakukan dengan semakin cepat. “Sedang berjalan, dan kita evaluasi dua cara, dari mercant dan consumer-nya,” katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA di kompleks Bank Indonesia, Selasa lalu.

Kini, menurut Arif, ke-12 perusahaan uji coba ini telah memiliki QR code sendiri-sendiri. Kalau ingin QR diterima di 12 aplikasi yang ada, harus disimpan pada 12 aplikasi. “Ini tidak efisien. Jadi kita menuju satu QR satu aplikasi, atau standarnya. Jadi aplikasi nanti ngikutin,” katanya.

Awalnya, uji coba ditargetkan selesai September, tapi mundur sampai Desember karena ada perkembangan baru yang berkaitan dengan kepraktisan dan keamanan. Kemungkinan besar baru bisa diterapkan tahun depan. Uji coba dilakukan tak hanya di merchant, tapi juga di lapak pedagang kaki lima. Sejauh ini, menurut Arif, berjalan lancar. Meski begitu, tetap hati-hati, karena secara bertahap akan diujicobakan pada merchant yang lebih besar dan melibatkan transaksi besar.

Dibandingkan dengan di Cina, yang pembuatan QR-nya dilakukan satu penerbit, maka jika ada merchant harus pakai lima stiker tidaklah praktis. Karena itulah, yang disiapkan BI nanti satu stiker agar bisa dipakai di berbagai tempat. Memang perlu ada yang meregister data merchant dan konsumennya, agar bisa ter baca. “Satu QR dipakai semua,” ia mengungkapkan.

Rencananya, akan ada pembatasan jumlah transaksi sesuai dengan best practice di dunia. QR code ini semacam dompet yang bisa di top-up, bisa juga diisi dari sumber seperti kartu kredit dan debit.

Uji coba tingkat risiko dan keamanan juga sudah dijalankan. Dikaji tentang bisa atau tidaknya terhubung dengan tabungan, ponsel pribadi, dan keamanan uang yang ada di dalamnya. Di dalam QR, perlindungan bisa semacam penggunaan PIN, lalu QR-nya distandarkan agar hanya lembaga pembuat standar saja yang bisa melihat isinya. “Nanti yang menerbitkan Bank Indonesia. Menetapkan, lalu diterapkan, diserahkan ke lembaga standar,” katanya.

Meski begitu, penerapan regulasi ini masih harus menunggu hasil ujicoba. Salah satu hal yang masih bermasalah adalah soal notifikasi di ponsel merchant, untuk menjaga kenyamanan transaksi. Praktik di Cina, ia melanjutkan, uang tidak masuk ke pedagang tapi ke penerbit QR akibat banyaknya penerbit.

Ia berharap, rencana ini melibatkan tidak hanya orang yang punya uang tapi juga pedagang kecil. Sistem perundangan BI juga mengamanatkan sistem pembayaran harus lancar, aman, cepat, efisien, dan andal serta tidak boleh mahal. Selain itu, lebih aman dibandingkan dengan membawa uang tunai. “Ada keamanan, ada kemudahannya juga,” katanya.

Sandika Prihatnala

++++

Penyedia QR Payment di Indonesia

TCASH
Dikembangkan Telkomsel. Dirilis pada 2010, layanan ini didukung teknologi Near Field Communication (NFC) pada 2014. Setelah resmi mendapat izin dari Bank Indonesia, TCASH mengaplikasikan SNAP QR Code.
Jumlah pengguna: 25 juta
Mitra: 25.000

GO-PAY
Dikembangkan GO-JEK. Sebelumnya disebut sebagai GO-WALLET, dompet virtual penyimpan GO-JEK Credit untuk membayar transaksi berkaitan di aplikasi GO-JEK.
Jumlah pengguna: 20 juta- 25 juta
Mitra: 4.000

OVO
Dikembangkan Visionet Internasional (Lippo Grroup) untuk transaksi online (OVO Cash). Selain memberikan layanan pembayaran melalui QR code, OVO juga memberi layanan penyaluran kredit.
Jumlah pengguna: 5 juta-6 juta
Mitra: 300.000

Your All Payment (Yap!)
Dikembangkan BNI. Yap! menjadi aplikasi pertama di Indonesia yang menggunakan tiga sumber dana, yaitu kartu debit, kartu kredit, dan Uang Elektronik BNI (UnikQu) sesuai dengan pilihan pengguna saat bertransaksi.
Jumlah pengguna: 300.000 an
Mitra: 15.000

My QR
Dikembangkan BRI. My QR menggunakan uang elektronik server-based BRI, T-Bank sebagai sumber dananya sehingga dapat digunakan untuk nasabah dan non-nasabah BRI cukup dengan satu kali registrasi melalui BRI Mobile
Jumlah pengguna: 500.000
Mitra: -

*Diolah dari berbagai sumber

Cover Majalah GATRA edisi No.49 / Tahun XXIV / 4 - 10 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com