Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Mobil Listrik: Ambisi Masih Maju-Mundur

Program percepatan pengembangan mobil listrik terkendala Perpres yang tak kunjung terbit. Minat yang tinggi akan industri otomotif berbahan bakar fosil memaksa pemerintah lakukan sosialisasi bertahap.

Kemajuan transportasi berbasis energi listrik tak lagi bisa diredam. Kebutuhan akan udara bersih dan tuntutan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil menjadi salah satu alasan terkuat. Itulah yang memotivasi Elon Musk, pendiri perusahaan mobil listrik Tesla. Bahkan, ia menyebut tak akan berhenti sampai semua kendaraan di jalan menggunakan energi listrik.

Minat Musk di industri transportasi berbasis energi listrik membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai US$13,9 milyar pada Maret 2017 lalu. Keinginannya untuk terus mengembangkan mobil listrik rupanya sejalan dengan perkembangan industri transportasi berbasis energi listrik di masa depan.

Analisis yang dikemukakan Frost and Sullivan dengan tajuk “Global Electric Vehicle Market Outlook 2018”, yang dirilis pada awal tahun ini, menyebut penjualan kendaraan listrik (electric vehicle –EV) akan meningkat dari 1,2 juta unit pada 2017 menjadi 1,6 juta unit pada 2008. Bahkan, bisa tembus sekitar 2 juta unit pada tahun depan.

Penjualan kendaraan listrik di semua pasar regional utama mengalami peningkatan. Pada 2017, Cina memimpin pasar dengan 50% pangsa pasar, diikuti oleh Eropa dengan 26%. Dalam hal penjualan, Cina mampu menjual lebih dari 600.000 unit. Lebih banyak dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya mencatat penjualan 200.000 unit. Cina diprediksi mempertahankan posisiya setidaknya hingga lima sampai tujuh tahun ke depan.

Namun, ada sejumlah kendala yang dirasakan dalam pengembangan ke depannya. Di antaranya inovasi dan teknologi baterai, dan infrastruktur yang memadai. Sebagai salah satu pendukung utama dari industri kendaraan listrik, teknologi baterai kini menjadi fokus inovasi. Inisiatif mengembangkan teknologi baterai pengisi daya yang cepat dan mendukung penggunaan jarak jauh sepertinya cukup menjanjikan. Pada 2017, sejumlah produsen mobil listrik bahkan sudah menargetkan kapasitas baterai yang lebih besar daro 60 kWh yang mampu meningkatkan jangkauan mobil hingga 200 mil dalam sekali pengisian baterai.

Pada saat yang sama, masih menurut Frost and Sulivan, baterai lithium-ion semakin murah harganya hingga turun di bawah US$200. Efeknya tentu akan mendorong penjualan mobil listrik yang selama ini dianggap mewah. Penurunan harga juga membantu produsen mobil listrik untuk mencapai kesetaraan harga dengan mobil konvensional yang berbahan bakar fosil.

***

Indonesia juga melakukan pengembangan mobil listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, bahkan menyebut bahwa industri mobil listrik bukan lagi masa depan, melainkan sedang terjadi saat ini. “Electric vehicle is not future, it is now,” katanya seperti dikutip dari laman resmi situs Kementerian ESDM.

Hadirnya kendaraan listrik, ia menambahkan, sejalan dengan kebijakan energi nasional. Jika pemerintah terus mengulur waktu, diperkirakan pada 2025-2030 konsumsi bahan bakar minyak (BBM) meningkat menjadi 2 juta barel per hari. Atau meningkat dari saat ini yang angkanya mencapai 1,3-1,4 juta barel per hari. “Artinya, impor bbm akan menjadi tinggi sekali,” katanya.

Sebaliknya, jika kendaraan listrik diimplementasikan, maka pemerintah tidak perlu lagi mengimpor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar karena listriknya bisa bersumber dari batu bara, gas alam, geotermal, angin, air, dan juga sampah. Namun, optimisme itu harus segera dijawab dengan siapnya teknologi, industri pendukung, dan yang paling penting landasan hukum yang dinanti-nanti, yakni Peraturan Presiden (Perpres) yang tak kunjung terbit.

“Kita semua nunggu percepatan kendaraan listrik dari pemerintah. Kalau belum turun, kita belum bisa apa-apa dan belum tahu mau dibawa ke mana,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengembang Kendaraan Listrik Bermerek Nasional (Apklibernas), Sukotjo Herupramono, kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA, Senin pekan lalu.

Padahal, Sukotjo mengungkapkan, pemerintah memiliki komitmen dalam menjual mobil listrik pada semester I tahun 2019. Hal ini tentunya memperhatikan beberapa aspek, salah satunya mengenai onderdil dan pengisi daya listrik. Misi tersebut selaras dengan kedatangan kendaraan mobil listrik Mercedes-Benz. Perusahaan tersebut resmi memperkenalkan EQ Power Charging di Plaza Indonesia, penghujung September lalu.

Selama masa penantian, Apklibernas menggerakkan sepeda motor listrik terlebih dahulu. Sementara itu, sepeda motor listrik Viar mampu diproduksi sekitar 500 hingga 1.000 unit. Di wilayah Papua pun sudah mulai banyak kendaraan listrik. Apalagi bila muncul mobil listik, hal tersebut akan menjadi lebih baik. Saat ini merupakan momen yang tepat. “Yang menjadi kendala selama ini Kementerian Perindustrian lebih memberikan perhatian pada mobil hybrid,” ujar Sukotjo.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menyebut pemerintah sudah melakukan kajian soal mobil listrik. Koordinasi dijalin antara kementerian/lembaga dan sejumlah akademisi. Diketahui. Pemerintah mengandeng sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Adapun dengan korporasi, pemerintah juga menggandeng perusahaan otomotif, Toyota. Tujuannya, untuk membandingkan mobil konvensional dengan mobil listrik. “Ini satu-satunya di dunia. Dan hasilnya, waktu di GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show). Hasil kajiannya di-share ke publik, dari UI, ITB itu hasilnya cukup bagus,” katanya kepada GATRA di ruang kerjanya, lantai 11, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa dua pekan lalu.

Kajian dilakukan untuk melihat setidaknya empat hal. Tanggapan konsumen, kinerja kendaraan di iklim tropis seperti Indonesia, dampak sosial ekonomi, serta kesiapan industri. Terakhir, sebagai bahan pertimbangan regulasi untuk mendukung keberadaan mobil listrik. “Ini bagaimana memperkuat regulasi berdasar data, kajian sehingga bisa untuk mengambil keputusan,” ia menjelaskan.

Sambil menanti turunnya Perpres, saat ini sudah ada Peratutan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 35 Tahun 2018 tentang tax holiday. Beleid ini memberikan insentif bagi badan atau perusahaan penyedia komponen penunjang mobil listrik, seperti baterai dan motor listrik tidak dipungut pajak dalam waktu tertentu. Kemudahan lain yang sedang disiapkan pemerintah adalah insentif bagi investor yang mau berperan di bidang risdet dan pengembangan. “Yakni semacam super-tax reduction dengan kompensasi pengembalian pajak hingga 300%,” kata Putu.

Sementara itu, dari sisi teknologi, Putu melanjutkan, Indonesia memiliki posisi tersendiri. Menurutnya, tiap-tiap negara punya jalannya sendiri. Keunggulan Indonesia ada di peluang industri serta berlimpahnya energi baru dan terbarukan yang sudah dikembangkan, seperti tenaga surya dan angin. “Kalau energi berkelanjutan ini, volatilitas kencang. Sekarang bagaimana caranya untuk menyimpan,” katanya.

Sementara itu, untuk industri baterai, menurutnya, sudah ada langkah positif karena dalam waktu dekat akan ada pembangunan kawasan industri di Halmahera, Maluku Utara. Ada beberapa investor yang menyatakan berminat. Dengan kesiapan ini, ia menilai Indonesia tidak kalah dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. “Kita karena regulasi belum mantap. Padahal pasarnya besar,” katanya.

Putu menegaskan, roadmap terkait pengembangan mobil listrik ini fondasinya di keamanan energi. “Ini kaitannya ke lingkungan,” ia menerangkan.

Meski Perpres yang dinanti belum terbit, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif kemajuan yang didapat. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai penggunaan kendaraan listrik seperti mobil listrik adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak karena menjadi alternatif dari combustion engine. “Arahnya memang ke sana, tapi butuh persiapan banyak dari harga yang masih relatif mahal, infrastruktur karena membutuhkan tempat charging yang khusus,” ujarnya kepada GATRA melalui sambungan telepon, Senin pekan lalu.

Pemerintah, menurut Kukuh, sebaiknya membiarkan mobil listrik berkembang dan bersaing secara alami di pasar Indonesia. Tentu dengan memperhitungkan masa transisi dari penggunaan mobil hybrid ke total mobil listrik. Ia mencontohkan soal program Low Carbon Emmision Vehicle (LCEV) yang diinisiasi Kementerian Perindustrian. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil tidak serta-merta harus menggunakan mobil listrik. Secara bertahap masih bisa pakai bio solar atau etanol untuk menekan emisi.

Soal baterai, Kukuh menerangkan bahwa pembuatan dan penyiapan baterai sangat penting. Pasalnya, baterai untuk mobil listrik harus didaur ulang setelah dipakai dalam kurun 10 sampai 15 tahun. Selain itu, perlu diperhatikan juga bahan baku dari baterai ini yang belum tersedia di dalam negeri. Untuk itu, ia sepakat perlu adanya insentif serta standar penggunaan mobil listrik.

Tanggapan berbeda justru muncul dari Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB). Ketua Umum KPBB, Ahmad Safrudin, menyebut bahwa terkait dengan program mobil listrik masih ada polemik dan tarik-ulur. Di satu sisi Presiden Joko Widodo menginstruksikan Kementerian ESDM untuk mengembangkan mobil listrik. Di sisi lain, ketidakjelasan aturan memunculkan perbedaan pandangan antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Perindustrian, baik dari sisi teknologi maupun kebijakan.

Menurut Ahmad, secara konsep penggunaan mobil listrik ke depan memang dibutuhkan, namun harus dilakukan bertahap. Kementerian Perindustrian memiliki kepentingan langsung ke mobil listrik tanpa melihat berapa jumlah kendaraan yang diproduksi dan lebih memilih kendaraan memiliki high carbon.

Sebaliknya, dari ESDM dalam konteks nasionalisme sudah menyetujui hadirnya mobil listrik dengan mementingkan industri-industri sudah ada, namun tidak melihat kondisi lapangan saat ini. “Tahun 2020 kita ingin membuat berapa mobil listrik, tahun 2025 berapa, tahun 2030 berapa. Dengan begitu, kendaraan konvensional tadi akan berkurang dengan sendirinya seiring dengan masuknya mobil listrik di pasaran. Jadi tarik-ulurnya di situ,” ujar Ahmad Safrudin kepada Riana Astuti dari GATRA.

KPBB, menurut Ahmad, sudah menawarkan roadmap ke beberapa lembaga terkait seperti kantor Presiden, ESDM, Kementerian Perhubungan dengan merujuk pada Undang-Undang (UU) Energi Tahun 2007, UU Migas Tahun 2001, UU Lingkungan Hidup Tahun 2009, serta UU Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya Tahun 2009. Berbagai UU tersebut telah mengamanatkan mengadopsi kendaraan hemat energi untuk ketahanan energi nasional dan rendah emisi sebagai upaya untuk menekan pencemaran udara.

Bila dilihat dari aspek energi, kendaraan listrik jauh lebih efisien dibandingkan dengan kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil. Efisiensi yang diperoleh dari kendaraan energi listrik mencapai 40%-50% atau setara dengan energi yang dibuang hanya mencapai 10% saja. Sedangkan efisiensi yang dihasilkan dari kendaraan konvensional sekitar 40% dan untuk energi yang hilang mencapai angka 40%.

Presiden Jokowi telah mengadopsi berbagai regulasi ke dalam Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional. Di dalam rencana energi nasional telah disebutkan selambat-lambatnya pada tahun 2020, Indonesia harus memiliki cure economic dan standar efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor. “Perpres tadi harus disusun saat ini dan di tahun 2020 harus sudah diterapkan, dengan cure economic standard tadi sudah menjadi landasan roadmap,” ucap Ahmad.

Jika pada 2020 Indonesia sudah bisa menerapkan roadmap itu, artinya Indonesia telah menerapkan kendaraan dengan level karbondioksida maksimal 118 gram per kilometer. Untuk teknologi yang digunakan KPBB memberikan kebebasan bagi industri untuk menggunakan teknologi apa pun, baik itu teknologi seperti kendaraan motor saat ini, baterai elektrik, hybrid electric cycle (kombinasi antara listrik dan bahan bakar fosil) maupun trolly electric cycle yang sama dengan kereta Commuter Line. “Sepanjang mampu memenuhi standar karbon tadi. Jika kendaraan motor dioperasikan tiap kilometer hanya menghasilkan karbondioksida sekitar 118 gram,” Ahmad mengungkapkan.

Saat ini, menurut Ahmad, pemerintah lebih cenderung menjalankan konsep low cost green car (LCGC) dibandingkan dengan LCEV. Padahal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013, LCGC tidak berdiri sendiri, tetapi ada pasangannya, yakni kendaraan berbasis low carbon emission vehicle (LCEV). LCGC tidak efektif, karena hanya menekan CO2 sekitar 125 gram per kilometer. “Teknologi hybrid dan mobil listrik jauh lebih efektif,” ia menambahkan.

Sandika Prihatnala, Aulia Putri Pandamsari, dan M. Egi Fadiansyah

++++

Rencana Perusahaan Otomotif Dunia

Porsche
Porsche Berencana membuat 50% mobilnya menjadi listrik pada tahun 2023.

Jaguar Land Rover
JLR telah mengumumkan akan beralih seluruhnya ke kendaraan listrik dan hibrida pada tahun 2020.

General Motors, Toyota dan Volvo
Ketiga perusahaan otomotif raksasa ini telah mengumumkan target 1 juta dalam penjualan EV pada tahun 2025.

Aston Martin
Pabrikan otomotif asal Inggris, Aston Martin berharap Evs akan mencapai 25% pernjualan mobil listrik pada 2030

BMW
Pada 2025, BMW telah menyatakan akan menawarkan 25 kendaraan listrik. 12 diantaranya sepenuhnya bertenaga listrik.

Renault Nissan & Mitsubishi
Aliansi ketiga perusahaan otomotif dunia ini bermaksud menawarkan 12 EVS baru pada tahun 2022.

*Diolah dari berbagai sumber

++++

Periset Mobil Nasional

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melanjutkan kembali riset Mobil Listrik Nasional (Molina) yang digarap lima perguruan tinggi negeri. Riset pada 2017 sempat terhenti karena anggaran yang kurang. Total dana riset mencapai Rp89 milyar

Insititut Teknologi Bandung
Sebanyak 20-an dosen Institut Teknologi Bandung melakukan penelitian bersama Massachusetts Institute of Technology (MIT). Fokus pada penelitian baterai, motor listrik, dan inverter. ITB juga berencana melakukan riset kendaraan listrik 3 roda atau e-Trike dan bus bus listrik berukuran medium selama 3 tahun ke depan.

Universitas Indonesia
Tim riset mobil listrik Universitas Indonesia atau Tim Mobil Listrik Nasional UI telah meluncurkan Molina UI-EV Bus. Selain itu, juga membuat Makara Electric Vehicle (MEV) 01, City Car MEV 02 dan City Car MEV 03.

Universitas Gadjah Mada
Beberapa mobil listrik produk Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, antara lain Moligama (mobil listrik Gadjah Mada - ICA) dan dua buah mobil golf (Semar versi 1, dan Semar versi 2). Selain itu, ada juga mobil Arjuna.

Universitas Negeri Sebelas Maret
Tim Mobil Listrik Nasional (Molinas) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta, mengembangkan prototipe kedua mobil listrik Sebelas Maret Technology (Semart-T). Selain itu, bekerja sama dengan Pertamina mengembangkan baterai.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Produk riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, telah membuatkan mobil listrik yang dinamai Ezzy I dan II, electric solar bus, dan mobil berpenampilan sport Lowo Ireng. Mereka juga mengembangkan sistem injeksi dan pengapian yang dinamai IQUTECHE (dibaca “IKI UTEK E”, dalam bahasa Jawa berarti “ini otaknya”).

*Diolah dari berbagai sumber

++++

Proyeksi Penjualan Kendaraan Bermotor Berdasar Sumber Bahan Bakar

Sumber: Kementerian Perindustrian
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.50 / Tahun XXIV / 11 - 17 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com