Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Agar Pala Kembali Berjaya

Pemerintah berupaya mengembalikan kejayaan pala Nusantara di perdagangan internasional. Eropa dan Afrika jadi pasar potensial. Soal mutu dan produktivitas masih jadi kendala.

Sejarah rempah-rempah menyebutkan bahwa pala (Myristica fragrans), pernah menjadi komoditas primadona yang memikat bangsa asing untuk datang berdagang ke Nusantara pada sekitar abad ke-16. Belanda sampai rela menukar wilayah kolonial pentingnya di Amerika, Pulau Manhattan –yang pada masa sekarang menjadi bagian Kota New York—dengan Pulau Run (Pulau Banda), penghasil pala terbesar di dunia yang saat itu dikuasai Inggris.

Sekarang kondisinya berbeda. Pala tidak lagi jadi primadona. Produktivitasnya terkendala oleh sejumlah persoalan, baik di hulu maupun hilir. Di hulu, produktivitas pala masih rendah. Saat ini, 1 hektare kebun hanya menghasilkan 400 kilogram hingga 500 kilogram pala. Padahal, potensi per hektarenya bisa mencapai 1,5 ton hingga 2 ton.

Di hilir, industri pengolahannya tidak berjalan sehingga komoditas ini tidak punya nilai tambah. Padahal, banyak nilai tambah yang bisa dihasilkan dari pala jika hilirisasi jalan. Sebagai contoh, pala bisa diolah sebagai wine setelah melalui proses fermentasi.

Untuk mengembalikan kejayaan pala, Kementerian Pertanian tengah fokus mendorong kapasitas enam provinsi penghasil 70% pala nasional. Keenam provinsi tersebut adalah Maluku, Maluku Utara, Aceh, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Yang disasar adalah peningkatan produktivitas dan mutu yang seragam. Kita perkuat komitmen untuk meningkatkan produktivitas buah pala," ujar Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang, kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Idham Umasangadji, membenarkan tentang adanya kendala dari hulu hingga hilir yang diketengahkan Bambang. Menurut Idham, produktivitas pala di daerahnya tergolong rendah. Hanya di 380 kilogram per hektare. Angka itu bahkan jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 450 kilogram.

Tidak hanya produktivitas rendah, kualitas pala juga jadi isu di Maluku Utara. Mutunya rendah dan mudah berjamur, sehingga berisiko mengandung aflatoksin (sejenis racun mematikan yang dihasilkan dari jamur).

Untuk mengentaskan kendala-kendala itu, pemerintah daerah setempat mencanangkan aflatoxin free area, membenahi tata niaga, dan menjalin sinergi dengan daerah sentra pala lainnya. Untuk dicatat, pala merupakan salah satu komoditas andalan Maluku Utara. Kontribusi pada pendapatan asli daerah mencapai US$32 juta pada 2015. “Kita mendukung program mengembalikan kejayaan rempah Indonesia ini,” kata Idham.

***

Sujak Abud Ta'lab adalah pengusaha pala asal Surbaya yang berbisnis di Ternate. Dengan bendera PT Darin Indo Utama, tiga tahun lalu ia membangun gudang seluas 600 meter persegi dengan modal sekitar Rp3 milyar. Gudang itu mampu menampung lima ton pala dan dilengkapi dengan mesin pemanas dan pendingin.

Sujak mendapatkan pala mentah dari petani dari enam wilayah, yaitu Jaelala, Tobello, Jailolo, Tidore, Bacan, dan Ternate. Ia mengaku selektif membeli pala dari petani untuk memenuhi kualitas ekspor ke Belanda. “Palanya harus yang fresh, kalau tidak kita tidak mau beli,” katanya.

Pasar Eropa sangat potensial. Harga komoditas ini juga menarik, sekitar US$11 per kilogram. Sementara itu, dari petani, Sujak mendapat harga Rp28.000 per kilogram. Dengan model bisnis yang dijalani sekarang, ia mengaku kewalahan melayani permintaan ekspor dari Eropa. Karena itu, dalam waktu dekat Sujak berencana membuka gudang baru di Ambon. “Mengapa Ambon? Karena dekat dengan Pulau Banda Neira yang masyhur sebagai penghasil pala terbaik di Indonesia,” ia menerangkan.

Kunci sukses menembus pasar eropa, kata Sujak, ada di proses pengolahan. Bagian yang diambil dari buah pala adalah fuli dan biji. Fuli adalah kulit yang menyelimuti biji buah pala. Pembeli Eropa menyuling fuli untuk mendapatkan minyaknya. Sedangkan, biji pala dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan bahan baku kosmetik.

Pengolahan secara tradisional memperbesar peluang aflatoxin. Masalahnya, jenis pengoalahan ini yang banyak ditemukan di Indonesia. Proses pengeringan dilakukan dengan cara menjemur di jalanan berisiko pala terkena kotoran, debu, belum lagi kalau kehujanan. “Kalau proses pengolahannya secara tradisional, sulit dijual di Eropa,” ujarnya.

Sujak berharap, pemerintah serius membenahi perkebunan pala hingga tata niaganya. Ia juga berharap, pemerintah membangun pelabuhan ekspor di sentra-sentra penghasil pala. Saat ini, jangankan pelabuhan, kontainer untuk kapasitas ekspor saja tidak tersedia di daerah-daerah penghasil pala. Akibatnya, pemilahan dan finishing harus dilakukan di Surabaya.

Tidak kalah pentingnya, Sujak melanjutkan, adalah perhatian terhadap petani pala. Sujak pernah mengusulkan agar pemerintah membuat proyek jaring di kebun pala. Dengan begitu, pala yang jatuh tetap laku dijual. Ini penting, karena jumlah pala yanb jatuh sangat banyak, bisa mencapai 40% dari total produksi.

Pasar luar Eropa untuk pala juga menarik untuk dibidik. Awal September lalu, PT Eshan Agroindo Mulia meneken kontrak penjualan 28 ton buah pala dengan perusahaan Mesir, Al Tawfick & Al Karam Import & Export. Nilai penjualannya US$163.000 atau sekitar Rp24 milyar. Jual-beli ini merupakan lanjutan dari kesepakatan serupa Maret lalu. Kala itu, kontrak pembelian komoditas 17 ton buah pala mencapai US$105 ribu.

Pihak Al Tawfick mengekspor kembali komoditas ini ke negara tetangga seperti Sudan, Maroko, dan Tunisia.

Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzi, mengungkapkan permintaan komoditas rempah di pasar Mesir cukup tinggi dan terus meningkat. Mesir, kata Helmy, dapat berperan sebagai hub bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Afrika. ”Penandatanganan kontrak pembelian komoditas Indonesia ini semakin meyakinkan bahwa produk kita sangat kompetitif dan mampu menembus pasar Afrika,” ujarnya.

Putri Kartika Utami

Cover Majalah GATRA edisi No.50 / Tahun XXIV / 11 - 17 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Lain-lain
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com