Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Penantian Panjang Divestasi Saham Freeport

Divestasi Freeport mundur lagi dari target awal yang tuntas pada Juni. Meski nantinya Indonesia memegang saham mayoritas, Freeport masih tak setuju jika mayoritas direktur diisi pihak Indonesia. KESDM disebut-sebut memberikan perpanjangan IUPK sementara.

“Kami harapkan Juli ini rampung. Tanyakan ke Menteri ESDM (Ignasius Jonan), Menteri BUMN (Rini Soemarno), Menteri Keuangan (Sri Mulyani), belum lapor ke saya,” kata Presiden Joko Widodo seusai meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin, 2 Juli lalu. Begitulah komentar presiden soal finalisasi divestasi saham PT Freeport Indonesia kepada wartawan.

Maklum saja, perkara ini memang bikin gemas banyak pihak, karena tak kunjung rampung. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pengambilalihan saham PTFI sebesar 51% rampung pada Juni 2018. Menteri Jonan sendiri yang menyatakan harapan tersebut saat acara penandatangan perjanjian antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan PT Inalum (Persero) tentang divestasi Freeport pada 12 Januari silam.

Target Juni tampaknya tak tercapai, Menteri Rini berjanji, pembicaraan divestasi ini hanya butuh sedikit waktu lagi. “Mungkin makan waktu dua minggu lagi,” kata Rini saat acara halalbihalal di rumah dinasnya, Jakarta, Sabtu, 30 Juni lalu.

Menurut Rini, dua hal yang masih alot dibicarakan adalah soal perpajakan dan lingkungan. Proses finalisasi terkait ini masih akan dibahas bersama Menteri Keuangan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Satu hal yang jelas, Rini menyebut nilai hak kelola yang akan dikonversi menjadi saham itu sekitar US$3,5 milyar hingga US$4 milyar. “Kami kan sudah agree, tapi saya tidak mau bilang kalau belum tanda tangan,” katanya.

Sepekan sebelumnya, di sela-sela agenda The 27th World Gas Conference (WGC 2018) yang berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat, Menteri Jonan menyempatkan makan siang dengan CEO Freeport Richard Adkerson di Hotel Four Seasons. Di dalam agenda kunjungan kerja, pertemuan keduanya dijadwalkan pada Senin, 25 Juni lalu, pukul 12.00 waktu setempat.

Adkerson yang didampingi Vice President Freeport Indonesia, Tony Wenas, melakukan pertemuan tertutup dengan Jonan selama satu jam lebih. Pembahasannya, tentu, soal masa depan Freeport di Indonesia. Salah satunya tentang kesepakatan divestasi 51% dan perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

Dalam obrolan hangat itu, Adkerson juga berjanji akan mengunjungi Indonesia pada awal Juli. “Pekan depan dia ke sini. Richard itu mau ngomong sudah deal. Kalau sudah deal, IUPK mohon diperpanjang,” begitulah permintaan Richard kepada Jonan, seperti disampaikan oleh sumber GATRA dari pemerintah.

Saat ini, pemerintah sudah menetapkan nilai transaksi divestasi Freeport, melalui 40% hak partisipasi (participating interest) Rio Tinto sebesar US$3,5 milyar. Angka ini persis seperti hasil kajian dari Deutsche Bank.

Hanya saja, PT Indonesia Asahan Aumunium (Inalum), selaku yang dipercaya untuk kelak mengelola Freeport, meminta diskon 10% untuk melakukan pemulihan lingkungan. Berdasarkan audit internal, Inalum paling tidak memerlukan sekitar US$500 juta untuk pemulihan lingkungan.

“Inalum minta diskon 10%, kalau masalah lingkungan temuan BPK belum selesai. Karena untuk memulihkan itu, pemulihan lingkungan masih menjadi tanggung jawab Freeport,” kata sumber tersebut.

Masalahnya, jika Inalum mengambil hak partisipasi Rio Tinto, status Inalum dan PT Freeport Indonesia lebih condong bersifat joint venture. Sementara itu, divestasi 51% yang diwacanakan pemerintah selama ini adalah pengalihan saham PTFI, bukan pengalihan modal dan hak kelola.

Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antarlembaga Holding Industri Pertambangan Inalum, Rendi Witular, enggan mengomentari nilai valuasi 40% sebesar US$3,3 milyar tadi.

Pihak Inalum juga tidak menanggapi pertanyaan soal adanya permintaan diskon 10% dari pihak mereka yang diajukan ke Freeport.

Rendi hanya mengatakan, proses negosiasi masih berlangsung dan perbedaan pandangan kedua belah pihak antara Inalum dan Freeport McMoRan tentang proses divestasi sudah mendekati kesepakatan. “Proses negosiasi memerlukan waktu yang lama, karena kita ingin memastikan proses ini berjalan berdasarkan asas good governance dan prinsip kehati-hatian,” ujarnya ketika dikonfirmasi GATRA.

Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin, malah menyebut nilai saham Freeport lebih tinggi, yakni sebesar 41,64%. Angka tersebut diyakini merupakan yang terbaik. Namun dia belum bisa menyebutkan hasil perhitungan nilai saham. “Insya Allah sih harusnya urusan valuasi bisa mendapatkan angka yang terbaik. Ya, walaupun besaran angkanya saya belum bisa ngomong,” kata Budi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 22 Juni lalu.

Menurut sumber di Kementerian ESDM, ganjalan teknis yang masih muncul dalam divestasi antara pemerintah dan Freeport adalah perdebatan tentang posisi personalia di struktur Board of Directors PTFI. “Kan 51% mayoritas saham, maka untuk posisi Direktur Strategi, Inalum mengusulkan wakil dari pemerintah Indonesia. Freeport belum mau. Jadi hak pengelolaan tetap dilakukan oleh Freeport. Inalum tidak mau,” ujar sumber tersebut. “Pengecualian adalah direktur HRD dan direktur safety dari Indonesia. Tapi direktur operasi, keuangan, strategi, itu masih Freeport. Padahal sudah setuju [divestasi] 51%. Kan lucu juga,” katanya lagi. Di sisi lain, per 4 Juli, IUPK sementara PT Freeport Indonesia berakhir. Pemerintah disebut memberikan perpanjangan IUPK sementara selama satu bulan saja. Mengingat target finalisasi divestasi sudah harus tuntas sebelum Juli berakhir.

Kementerian ESDM saat dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Bambang Susigit, hanya mengatakan bahwa surat permohonan PTFI sudah diterima Ditjen Minerba Kementerian ESDM. “Nanti kami balas. Surat balasannya ke Freeport sedang dikonsepkan,” katanya kepada GATRA.

Yang jelas, menurut pantauan GATRA, beberapa pihak yang terkait dengan divestasi telah bergerak cepat. Direktur Keuangan Freeport McMoran, Kathleen Quirk, misalnya, dikabarkan telah berada di Jakarta sejak 3 Juli. Walau tidak ada detail terkait siapa saja rombongan yang dibawa, disebut kalau Kathleen bergegas mengadakan pertemuan dengan para direksi Inalum. Vice Chairman, President, dan juga Chief Executive Officer Freeport-McMoRan, Richard C. Adkerson, disebut-sebut mendarat di Jakarta, Senin, 9 Juli.

Kedatangan para petinggi Freeport ini bisa menjadi tanda finalisasi divestasi Freeport akan segera tuntas. Pasalnya, pemerintah memang sudah meminta agar finalisasi harus selesai di Juli ini. Apakah itu berarti penantian panjang divestasi ini akan berakhir? Tunggu tanggal mainnya.

Flora Libra Yanti dan Hendry Roris P. Sianturi
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com