Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Sinergi Tanpa Batas

TNI-Polri bersinergi menjalankan tugas pengamanan. Sukses Asian Games, Asian Para Games, hingga Annual Meetings IMF-WBG menjadi buktinya.

Sekitar 5.000 personel TNI dan Polri memadati Lapangan Lagoon, Nusa Dua, Badung, Bali, Ahad, lalu. Dengan menggunakan seragam dinasnya, para personel TNI dan Polri tersebut berbaur menjadi satu. Mereka terlihat kompak menimati acara hiburan bertajuk pangung sinergitas TNI-Polri itu. Ya, acara tersebut memang sengaja digelar sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan pasukan gabungan TNI dan Polri melakukan pengamanan selama pelaksanaan Annual Meetings International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group (WBG) 2018.

Pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Gubernur IMF dan WBG, pada 8–4 Oktober lalu itu menghadirkan para pejabat ekonomi dari 189 negara. Termasuk sejumlah kepala negara, di antaranya Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. “TNI-Polri harus kompak. Saya bangga pengamanan Annual Meeting IMF-WBG berjalan dengan lancar. Kita tidak henti-hentinya mendapat pujian dari banyak negara,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan sambutannya di atas panggung.

Untuk pengamanan perhelatan internasional ini, jauh-jauh TNI dan Polri sudah bersinergi dengan membentuk komando tugas gabungan pengamanan atau Kogasgabpam. Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Laksamana Madya Didit Hediawan didampuk sebagai Panglima Kogasgabpam. Komando ini terdiri dari 12 satuan tugas (satgas), mulai satgas intel hingga satgas pengamanan tamu VVIP.

Total ada 22.000 personel yang berasal dari unsur TNI dan Polri. “Keberhasilan pengamanan kegiatan internasional ini tak lepas dari sinergitas seluruh pihak, termasuk masyarakat,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Santos G. Matondang, kepada GATRA, Selasa kemarin.

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian menjelaskan bahwa pengamanan acara Annual Meetings IMF-WBG tak mudah. Apalagi, Bali sebagai tuan rumah pernah dua kali menjadi sasaran serangan teror. Yakni, serangan teror yang terjadi pada Oktober 2002 atau dikenal dengan bom Bali I. Lalu serangan teror yang terjadi pada Oktober 2005 atau dikenal dengan serangan bom Bali II.

“Ini kan kita harus membuat betul-betul sistem rencana keamanan yang bagus. Kita menyusun sistim pengamananya, dipimpin oleh Panglima (Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto) dan saya wakilnya,” kata Tito kepada GATRA.

Ada sekitar 36.000 peserta, plus keluargannya, yang hadir di acara tersebut. Mereka berada di Bali selama satu pekan. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada peserta yang memperpanjang masa kunjunganya di Bali. Mereka adalah tokoh-tokoh penting dunia, sehingga perlu mendapatkan pengamanan yang ketat.

Tak hanya pengamanan dari aksi serangan teror, melainkan juga pengamanan terhadap aksi kejahatan konvensional, seperti penodongan, penjabretan, dan begal. “Tuhan baik sama kita, tidak ada aksi terorisme, tidak ada serangan, juga tidak ada kasus kasus kejahatan konvensional,” ujar Tito.

Yang tak boleh dilupakan adalah pengamanan jika terjadi bencana alam, termasuk kemungkinan Gunung Agung meletus. “Tuhan masih baik sama kita, Gunung Agung juga tidak batuk,” kata Tito. Diantispasi juga kemungkinan terjadinya gempa. Bagaimana pihak kemanan memobilisasi, memindahkan, mengevakuasi sekian ribu peserta VVIP jika tiba-tiba terjadi gempa.

Karena itu, ketika sempat terjadi gempa di Situbondo yang getarannya terasa sampai ke Bali, tidak ada kepanikan yang luar biasa dari peserta VVIP. “Ada Menteri Singapura, ada kepala polisi Australia. Semua malam itu juga langsung dievakuasi, untungnya bandara lancar, jadi cepat bisa dievakuasi,” ungkap Tito.

Selain pengamanan acara IMF-WBG, kerja sama TNI-Polri juga terbukti berhasil dalam menjalankan tugas pengamanan acara Asian Games, Agustus lalu. Kompetisi olahraga antarnegara Asia ini digelar di tiga daerah, yakni Jakarta, Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Sebulan berselang, Jakarta juga menjadi tuan rumah Asian Para Games, kompetisi olahraga bagi para penyadang disabilitas dari negara-negara Asia.

Sempat muncul kekhawatiran akan terjadinya aksi serangan teror terhadap pelaksanaan Asian Games. Sebab, empat bulan sebelum pelaksanaan Asian Games, tepatnya Maret lalu, muncul kasus kerusuhan Markas Komando (Mako) Brimob Polri di Depok, Jawa Barat. Para narapidana kasus teroris yang ditahan di Mako Brimob menyerang petugas penjaga tahanan.

Lalu, disusul dua aksi bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur. Belum lagi ancaman potensi kemungkinan terjadinya kebakaran lahan hutan di Sumatera Selatan. Namun dengan adanya sinergitas pengamanan TNI-Polri, kekhawatiran tersebut tidak terjadi. “TNI dan Polri kerja keras untuk bisa mengatasi itu,” kata Tito.

Tito mengungkapkan, setelah terjadi peristiwa bom Surabaya, polisi melakukan penangkapan sejumlah terduga teroris. Total ada 350-an orang. Penangkapan ini bisa terjadi karena sudah disahkannya Undang Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Juni lalu. Atau satu bulan sebelum pelaksanaan Asian Games.

Merujuk beleid tersebut, polisi bisa melakukan penangkapan penangkapan tanpa harus ada barang bukti atau tanpa harus setelah pelaku melakukan aksi terornya. “Saya tidak bisa bayangkan seandainya enggak ada undang undang ini, ada perhelatan besar Asian Games, Asian Para Games, IMF-WBG, susah, sulit. Cukup repot kita mengamankan itu,” kata Tito.

Yang juga dikhawatirkan dalam pelaksanaan Asian Games adalah pengamanan pada cabang olahraga yang venue-nya digelar di luar ruangan. Misalnya, cabang olahraga maraton, jalan cepat, dan balap sepeda jalan raya. “Itu yang saya jaga betul, maraton terbuka dan balap sepeda di jalan raya Subang (Jawa Barat),” kata Tito. “Bagaimana mengamankan rute sedemikian panjang, tiba tiba ada orang bom bunuh diri,” Tito menambahkan.

Untuk pengamanan pelaksanaan Asian Games, tim gabungan TNI-Polri menerjunkan sekitar 200 personel. Besarnya jumlah personel lantaran even olahraga ini digelar di tiga tempat: Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Begitu pula dengan pelaksanaan Asian Para Games, tim gabungan TNI-Polri juga bertugas melakukan pengamanan. “Keberhasilan pengamanan Asian Games dan Asian Para Games merupakan hasil sinergi dan soliditas antara TNI dan Polri,” kata Santos. “Dengan didasari sinergi dan soliditas, pasti pengamanan akan terlaksana dengan baik dan lancar,” Santos melanjutkan.

Kekompakan TNI-Polri juga terlihat saat para personelnya bahu-membahu membantu korban bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat Juli lalu. Sejak hari kedua terjadinya gempa Lombok, TNI sudah menerjunkan personelnya ke lokasi terdampak gempa. Total ada 2.607 personel yang dikirim ke Lombok. Untuk mempercepat pembongkaran puing-puing reruntuhan dan rekonstruksi di lokasi gempa, TNI mengerahkan sejumlah personel terlatih dari Batalyon Zeni Tempur.

Satu hari pasca-gempa, Polri mengirimkan 460 personelnya ke Lombok. Mereka berasal dari kesatuan Brimob dan tim kesehatan Polri. Seluruh personel Polri yang ada NTB, dari tingkat polsek, polres, hingga polda dikerahkan untuk membantu pengamanan pasca-gempa. Sepekan kemudian, Polri mengirimkan sejumlan personel yang berasal dari Polda Jawa Tengah, Polda Sumatera Selatan, Polda Kalimantan Tengah, dan Polda Kalimantan Selatan.

Ketika terjadi gempa, tsunami, dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, akhir September lalu, personel TNI-Polri juga langsung terjun ke lokasi bencana. Kapolri Tito mengungkapkan bahwa untuk bencana Lombok, TNI mengirimkan 4.000 personel, sedangkan Polri menerjunkan 2.500 personel. “Kita membantu melakukan evakuasi korban sekaligus untuk menjaga keamanan agar masyarakat tenang, situasi aman. Kegiatan masyarakat bisa berjalan normal dan ekonomi jalan, pasar hidup,” Tito menerangkan.

Dua hari pasca-bencana, menjaga keamanan di tengah bencana tidak mudah. Diungkapkan Tito, tertutupnya akses jalan menuju Kota Palu mengakibatkan terhambatnya proses pengiriman bantuan logistik, terutama bahan makanan. Akibatnya, para korban khawatir dan panik tidak akan mendapat makanan. “Sehingga akhirnya mereka mencari makan, itu yang kemudian dalam sekian detik terjadi penjarahan,” kata Tito.

Selain melakukan pengamanan terkait bencana, TNI-Polri juga bersinergi untuk menangkal kemungkinan kelompok teroris yang ada di Poso memanfaatkan situasi bencana dengan melakukan teror di lokasi bencana. “Operasi gabungan TNI-Polri terus jalan. Namanya operasi Tinombala. Kita tidak menarik pasukan TNI-Polri yang terus melakukan operasi pengejaran mereka di daerah pegunungan Biru,” ujar Tito.

Sujud Dwi Pratisto
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.51 / Tahun XXIV / 18 - 24 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com