Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Geliat Franchise Pengusaha Milenial

Semakin banyak kaum milenial menggeluti bisnis waralaba. Butuh inovasi bersaing dengan waralaba asing. Pemerintah mendorong ekspansi ke luar negeri demi mengecilkan defisit neraca berjalan.

Jangan harap mencicipi makanan asing di What's Up Cafe. Namanya memang milenial, tetapi menu yang disajikan tetap selera “pasaran”. Ada nasi goreng, nasi telur, roti bakar, bahkan mi instan laiknya warung pinggir jalan. Tentu sajian “pasaran” itu harus dijaga agar jangan sampai “murahan”.

What’s Up telah mendesain kafenya dengan konsep instagrammable, agar pengunjung betah nongkrong. “Dindingnya kita gambar, makanannya kita bikin keren, padahal sederhana. Intinya di What’s Up itu sesuai dompet dan instagrammable,” kata pendiri What’s Up Cafe, Valentino Ivan, kepada wartawan GATRA Dara Purnama, pekan lalu.

Ivan bersama Ayu Zulia Shafira mendirikan What’s Up Cafe pada 2015 dan pertama kali berdagang di Depok. Modal awal mendirikan What's Up Cafe sebesar Rp 400 juta. Meski tergolong usia muda, Ivan dan Ayu telah membuat bisnis What's Up Cafe semakin moncer. Brand-nya pun semakin terkenal.

Pada 2016, Ivan mencoba mengembangkan sayap bisnisnya ke kota-kota lain di Indonesia. Agar tidak menyedot modal besar, Ivan mulai mewaralabakan merek dagangnya. “Pakai kekuatan sendiri itu susah. Makanya pakai sistem franchise, kerja sama, sharing, berbagi. Kita sebagai pemilik brand juga dapat untung,” katanya.

Alhasil, What's Up kini memiliki gerai yang tersebar di 20 kota se-Indonesia. Sama seperti mereka, penerima waralaba What's Up juga berasal dari kalangan milenial. Ivan mengklaim sudah banyak calon franchisee (penerima waralaba) melirik lisensi What's Up Cafe. Cuma, kata Ivan, tidak mudah memperolehnya. Karena bagi Ivan, dibutuhkan komitmen untuk mengembangkan bisnis kuliner berbasis milenial.

Di samping itu, bisnis franchise membutuhkan infrastruktur manajemen pusat yang kuat, untuk menopang pembukaan outlet baru. Karena alasan itu, Ivan sudah menolak sekitar 50 calon investor yang ingin memakai brand What's Up Cafe selama dua tahun terakhir.

Menurut Ivan, What's Up menawarkan tiga tipe waralaba kepada franchisee. Pertama tipe hangout place dengan syarat harus memiliki lapak seluas 300 meter persegi dengan nilai investasinya berkisar Rp 800 juta. Dari uang sebesar itu, Ivan menjanjikan investor bisa meraup omzet Rp200 juta per bulan.

Kedua adalah tipe kasual dengan luas kafe 150 meter persegi. Menurut Ivan, tipe ini biasanya diambil oleh waralaba yang ada di wilayah secondary dan third city. Target omzet yang ditawarkan ke investor berkisar Rp140 juta per bulan. Terakhir adalah What's Up Go. Tipe ini khusus melayani pembelian take away atau bawa pulang. Investasinya Rp200 juta, karena hanya bermodalkan kontainer.

Kalaupun butuh gerai, paling hanya perlu lahan seluas 18 meter persegi. Itu pun dikhususkan kepada pengemudi jasa antar makanan, seperti Grab dan Go Food. Target omzet yang ditawarkan sekitar Rp2 juta per hari. “Di sini kita juga enggak cuci piring, jadi semua packaging-nya sudah di bawa pulang langsung,” katanya.

Agar mutu makanan What's Up setara di semua gerai, Ivan menerapkan aturan cita rasa yang sama. Misalnya, soal takaran bumbu dan keterampilan juru masak. “Bisasanya kan ada yang dalam tanda kutip sok jago di dapur. Ini justru yang bikin kacau kalau di kuliner,” ia menambahkan.

Menurut perkiraan Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit, jumlah merek waralaba di Indonesia mencapai 1.200 produk. Kebanyakan, kata Levita, bermain di sektor food and beverage (F&B). Sekitar 60% atau 720 lisensi merupakan waralaba merek lokal, sisanya adalah waralaba asing. Menurut perhitungan Levita, total omzet waralaba dan cabang yang beroperasi di Indonesia mencapai Rp160 trilyun per tahun.

Levita mencatat dari 720 lisensi waralaba tersebut, sekitar 60% didirikan oleh kaum milenial. Menurut Levita, bisnis waralaba memang semakin diminati kelompok ini. Selain mendirikan waralaba baru, kalangan milenial juga semakin banyak memakai lisensi waralaba yang sudah eksis.

Umumnya pelaku bisnis waralaba milenial berusia rata-rata 22 tahun sampai 23 tahun. “Mahasiswa-mahasiswa juga banyak. Karena di kampus ada mata pelajaran bisnis waralaba, sesuai dengan kemampuan mereka dikembangkan,” ujarnya kepada GATRA.

Levita menilai, semakin tinggi minat kaum muda terjun ke bisnis waralaba disebabkan karena kecenderungan ingin berinovasi dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Lewat bisnis waralaba, milenial dapat menyalurkan ide kreativitasnya. Menurut Levita, mereka cenderung ingin menjadi produsen daripada hanya sekedar menjadi konsumer. “Daripada kerja di perusahaan,” ujarnya.

Di samping itu, tawaran bisnis waralaba dengan modal kecil juga semakin menjamur. Bahkan, dengan modal di bawah Rp 10 juta, pebisnis pemula bisa membuka bisnis waralaba. Misalnya, waralaba minuman dingin dengah harga jual Rp5.000 sampai Rp10.000. “Modalnya gerobak dan bahan baku, tinggal jalan. Tempatnya di mana yang paling enak jualan, cari yang panas-panasan,” ujarnya.

Kalaupun terkendala modal usaha, Levita menyarankan kaum milenial berkolaborasi dengan rekannya yang lain untuk membeli lisensi merek waralaba. “Patungan. Ajak teman untuk menjalankan bisnis itu. Menjalankan berdua malah bisa gantian mengawasinya. Kalaupun ada kerugian juga dibagi dua,” katanya.

Menurut catatan WALI, pertumbuhan bisnis warlaba sekitar 5%-7% per tahun. Bandingkan dengan waralaba asing yang masuk ke Indonesia per tahun mencapai 50 merek dan didominasi sektor makanan minuman. Merek lokal lebih berkembang di daerah-daerah. “Waralaba asing kebanyakan berkembang di Jakarta dan kota besar lainnya. Kalau (waralaba) lokal mereka menggurita di daerah,” ujarnya.

Levita menguraikan, sektor-sektor waralaba yang memiliki prospek pengembangan bisnis di Indonesia, yakni pertama bisnis F&B. Kata Levita, bisnis sektor F&B masih menduduki peringkat pertama di bisnis waralaba. Menurut Levita, pasar makanan dan minuman tidak pernah lesu, meskipun ekonomi sedang melempem.

Kedua di sektor jasa kecantikan. Levita mengatakan bisnis salon, spa, dan klinik kecantikan tengah berkembang pesat di Indonesia. Ketiga, sektor bisnis retail. Bahkan sudah ada retail Indonesia yang membuka gerai di luar negeri. Keempat adalah waralaba pendidikan.
Menurut Levita, saat ini permintaan pendidikan bukan hanya sekolah usia SD, SMP, SMA saja. Waralaba jasa pendidikan untuk usia balita pun semakin menjamur. “Sehingga banyak bisnis sekolah balita dari waralaba lokal maupun asing ramai-ramai masuk Indonesia karena melihat respons masyarakat,” ujarnya.

Bagi Elvita, selain permodalan, pemberi dan penerima waralaba lokal dari kalangan milenial harus bisa bersaing dengan waralaba asing. Selain menawarkan harga kompetitif, kaum milenial dituntut memiliki inovasi dalam pemasaran produk. “Apa pun bisnisnya, kalau dijalankan dengan kreativitas yang bisa diterima masyarakat, akan mengalahkan kompetitor (asing),” katanya.

Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jakarta Raya, Arief Satria Kurniagung, mengatakan bahwa waralaba menjadi pilihan banyak kaum milenial. Pasalnya, pebisnis pemula tidak lagi direpotkan untuk mempromosikan produk bisnisnya. “Orang-orang sudah aware dengan brand tersebut,” katanya.

Selain unggul dari sisi promosi, bisnis waralaba juga menawarkan manajemen operasional dengan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Karena, biasanya manajemen operasional ini selalu menjadi masalah pengusaha ketika membangun perusahaan baru. Pemberi waralaba pun bisa ditentukan berdasarkan kualitas produknya.

Hanya saja, kata Arief, untuk menerima lisensi waralaba di beberapa merek tertentu, membutuhkan modal yang tidak sedikit. Meski demikian, Arief menilai, masalah akses permodalan dapat diatasi dengan memanfaatkan lembaga pembiayaan digital. Misalnya dengan jasa pembiayaan peer to peer lending atau crowdsourcing.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, menyebut waralaba sebagai shortcut atau jalan pintas bagi kaum milenial. Pengusaha pemula tidak repot-repot lagi memopulerkan brand, pasokan bahan baku, dan bahan penunjang karena sudah disiapkan oleh pemilik lisensi waralaba.

Namun Benny menyayangkan masih sedikit merek waralaba Indonesia yang berekspansi ke luar negeri. Di sektor kuliner, misalnya, waralaba kuliner Indonesia masih sulit dijumpai di luar negeri. “Saya prihatin, resto Indonesia itu jarang di luar. Kalaupun ada, jarang sekali,” katanya.
Benny berharap, semakin banyak anak muda yang terjun di waralaba dan lebih berani berekspansi ke pasar luar negeri. Soal promosi, katanya, bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Menurut Benny, kebanyakan anak muda sudah melek teknologi sehingga potensi ini bisa dimaksimalkan. “Dengan digitalisasi anak-anak milenial sudah terbiasa, tinggal masalah keberanian,” ujarnya.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti, mengatakan bisnis waralaba dapat membantu mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia. Caranya, dengan melakukan ke ekspansi pasar luar negeri.

“Ekspor Indonesia tidak hanya komoditas, tapi perusahaan waralaba Indonesia bisa membuka gerai di luar negeri, baik modal sendiri maupun kerja sama dengan investor dari negara itu sendiri,” katanya dalam acara The Indonesia's Biggest Business Expo 2018 yang berlangsung di JCC Senayan, 5 Oktober lalu.

Menurut Tjahya, bisnis waralaba berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia maupun di luar negeri. Tingginya jumlah penduduk Indonesia berpotensi menciptakan banyak permintaan dan tingkat konsumsi yang besar. Tjahya mengatakan, saat ini terdapat 550 badan usaha waralaba di Indonesia. Total nilai produk barang dan jasa mencapai US$17,2 milyar atau setara dengan Rp258 trilyun (kurs Rp15.000).
Untuk mendukung perkembangan waralaba di dalam negeri, Kementerian Perdagangan dalam waktu dekat akan menyederhanakan empat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Selama ini, pertumbuhan waralaba di Indonesia terhambat karena ribetnya mengurus pengajuan surat tanda pendaftaran waralaba (STPW).

Keempat Permendag tersebut adalah Permendag Nomor 53/2012 tentang penyelenggaraan waralaba dan Permendag Nomor 68/ 2012 tentang jenis usaha toko modern, Permendag Nomor 7/ 2013 tentang kemitraan waralaba, dan Permendag Nomor 70/ 2013 tentang pedoman penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern.

Dengan penyederhanaan regulasi tersebut, Kementerian Perdagangan berharap terjadi peningkatan jumlah pengajuan STPW. Menurut data Kemendag, STPW berlaku untuk periode 2013-2018 sebanyak 210 waralaba.

Strategi ekspansi pasar ke luar negeri sendiri, Tjahya menambahkan, dapat dilakukan waralaba Indonesia dengan menawarkan produk yang berbeda dengan produk luar negeri. Misalnya waralaba kuliner Bumbu Desa di Malaysia dan Es Teler 77 di Australia menawarkan rasa makanan minuman khas Indonesia. “Itu semua menjadi salah satu peluang pasar yang dapat digarap,” katanya.

Hendry Roris Sianturi dan Putri Kartika Utami

++++

Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) berlaku periode 2013-2018: 210 waralaba
Dengan rincian:
Pemberi Waralaba Luar Negeri: 79
Pemberi Waralaba Dalam Negeri: 75
Penerima Waralaba Luar Negeri: 44
Pemberi Waralaba lanjutan: 8
STPW perpanjangan: 4
Total nilai produk barang dan jasa: US$17,2 milyar atau setara dengan Rp258 trilyun (kurs Rp 15.000).
*Diolah dari data Kementerian Perdagangan

Mereka Ekspansi ke Luar Negeri:
1. Alfamart (retail) di Filipina
2. J.Co Donuts & Coffee (kuliner) di Malaysia, Singapura, Filipina, dan Hong Kong
3. Baba Rafi (kuliner) di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Sri Lanka, Bangladesh, Cina, Belanda.
4. Magfood Amazy (kuliner) di Malaysia
5. Kaizen (potong rambut) di Filipina dan Kamboja
6. Martha Tilaar (kosmetik) di Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura
7. Es Teler 77 (kuliner) di Australia
8. Bumbu desa (kuliner) di Malaysia
*Diolah dari data Kementerian Perdagangan
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.51 / Tahun XXIV / 18 - 24 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com