Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Kreatif dengan Blended Finance

Pembiayaan campuran (blended finance) jadi salah satu alternatif pembiayaan infrastruktur di Indonesia. Bisa menjaring dana para filantropis dunia.

Orang miskin harus kreatif mencari pinjaman. Begitulah kini taktik yang diterapkan Pemerintah Indonesia. Taktik yang bisa dibilang jitu untuk menambah sumber pembiayaan infrastruktur.

Saat ini, pemerintah memang terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Dana berasal dari APBN, badan usaha milik negara (BUMN), juga swasta. Di luar tiga pihak itu, masih adakah sumber lain yang bisa diberdayakan?

Masih ada. Yaitu para filantropis alias para dermawan dunia. Para filantropis ini antara lain Bill Gates, pendiri Microsoft (total sudah menyumbang US$27 milyar), Michael Bloomberg, pendiri kantor berita Bloomberg (total sumbangan US$3 milyar), Mark Zuckenberg, pendiri Facebook (total sumbangan US$1,6 milyar), dan masih banyak lagi.

Cuma, selama ini dana para filantropis itu jarang masuk ke proyek infrastruktur negara. Sumbangan mereka banyak mengalir ke berbagai lembaga nonpemerintah, universitas, yayasan nirlaba, dan sebagainya.

Dan itu pun dengan preferensi masing-masing. Maklum, tiap filantropis punya kecenderungan sendiri ke mana uangnya harus disumbangan. Bill Gates lewat yayasan Bill & Melinda Foundation, misalnya, lebih tertarik pada sumbangan yang tujuannya demi peningkatan kesehatan di negara dunia ketiga, misalnya vaksin, memberantas malaria, polio, dan sebagainya. Sedangkan Michael Bloomberg lebih suka mendonasikan uangnya untuk kepentingan pendidikan seperti sekolah.

Nah, bisakah dana para filantropis itu “ditarik” untuk membiayai proyek infrastruktur Indonesia? Bisa. Inilah yang kini dilakukan pemerintah.

Modusnya sederhana. Kebetulan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki program Sustainable Development Goals (SDG). Ini program pembangunan yang tujuannya spesifik untuk mencapai kemakmuran bagi umat manusia. Secara spesifik, contoh SGD adalah pemberantasan kemiskinan, peningkatan kesehatan dan pendidikan. SDG yang terdiri dari total 17 poin tujuan ini disepakati dalam sidang umum PBB pada 2015.

Yang dilakukan pemerintah adalah mengemas berbagai proyek infrastruktur ke dalam paket SDG. Pembangunan sarana air bersih –yang memang bertujuan meningkatkan taraf kesehatan—misalnya, dikemas dalam paket SDG lalu ditawarkan kepada para donor.

Awal Oktober lalu, paket ini resmi diluncurkan oleh Kementerian Keuangan. Nama resmi produknya “SDG Indonesia One”. Isinya berupa berbagai program infrastruktur pemerintahan Jokowi yang dinilai sangat mendukung tujuan SDG.

Orang luar mungkin akan menilai bahwa yang dilakukan pemerintah cuma “ganti kemasan”. Sedangkan isinya tetap saja sama, yaitu program infrastruktur.

Tapi sebenarnya tetap ada keuntungan tersendiri bila mengemas program infrastruktur ke dalam paket SDG. Yaitu bunga. Pemerintah bisa mendapat bunga lebih ringan dengan menggunakan skema SDG Indonsia One. Bahkan tidak tertutup kemungkinan mendapat dana gratis berupa hibah dari para filantropis dunia.

Ini karena SDG yang digagas PBB memang pada dasarnya memiliki tujuan humanis. “Kita bisa mendapat bunga yang sifatnya non-commercial,” kata Emma Sri Martini, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Saat ini, skema SDG Indonesia One memang dilakukan pemerintah lewat PT SMI.

Respons para filantropis sejauh ini sangat positif. Bahkan, saat peluncuran SDG Indonesia One pada awal Oktober lalu, seorang filantropis sudah menyalurkan uangnya, yaitu Li Ka-Shing, milyarder Cina yang masuk dalam daftar 20 filantropis teratas dunia versi fima riset keuangan Wealth-X.

Li terkenal memiliki preferensi untuk menyalurkan uangnya, terutama untuk membantu para warga yang memiliki disabilitas (disabled person) atau korban bencana alam. Menurut Wealth-X, Li merupakan salah satu donatur terbesar organisasi penyandang disabilitas di Cina.

Li termasuk salah satu filantropis dunia yang berhasil “dijaring” lewat paket SDG Indonesia One. Lewat skema itu, ia memberikan donasi sebesar US$5 juta atau Rp75 milyar yang ditujukan untuk membantu korban bencana alam di Palu dan Donggala, serta membangun infrastruktur yang rusak di wilayah bencana itu.

Ketika ditemui GATRA pekan lalu, Emma mengatakan bahwa respons para lembaga donor juga sangat positif. Bahkan beberapa lembaga donor akhirnya juga menyalurkan uang mereka lewat skema SDG, di luar skema lazim seperti pinjaman (loan) yang sudah diberikan sebelumnya. “Saat ini, komitmen untuk program SDG Indonesia One sudah mencapai US$2,4 milyar,” kata Emma.

Ke depan, angka itu jelas akan bertambah, karena usia paket SDG Indonesia One baru sebulan. Belum semua filantropis didekati. Saat ini, menurut Emma, mereka masih baru bertemu beberapa filantropis saja dari dalam dan luar negeri, terutama asal Amerika dan Eropa. Tujuannya menawarkan proyek infrastruktur yang sesuai dengan preferensi yayasan si filantropis. “Ini merupakan bentuk kreativitas pembiayaan pemerintah,” kata Emma.

Pemerintahan Jokowi memang sangat gencar menggenjot program infrastruktur, sedangkan ketersediaan dana sangat terbatas. Jadi memang harus kreatif.

Basfin Siregar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com