Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita: Infrastruktur Berkontribusi pada Pemerataan

Stabilitas harga pangan bisa terpenuhi jika distribusi logistik lancar. Peran infrastruktur akan kelancaran distribusi pangan berperan penting karena memicu efisiensi. Selama empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemerintah berupaya menjaga agar inflasi terkendali.

Tujuannya, menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, tidak lain untuk menjaga daya beli masyarakat, utamanya untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Jika skenario ini berjalan, korelasinya akan terkait erat dengan upaya menekan kemiskinan.

Tol laut, misalnya, menjadikan distribusi pangan semakin mudah, sehingga dampaknya kepada harga semakin murah. “Setiap pembangunan infrastruktur, berkontribusi pada pembangunan ekonomi di daerah yang di bangun dan lingkungannya,” ucapnya.

Untuk lebih jauh mengetahui bagaimana dampak infrastruktur terhadap stabilitas harga pangan, wartawan GATRA M. Egi Fadliansyah mewawancarai Menteri Enggartiasto secara khusus beberapa waktu lalu di kantornya. Berikut petikannya:

Bagaimana upaya Anda dalam mengendalikan harga pangan?
Sisi dalam negeri kendalikan inflasi agar daya beli terjaga. Terutama harga bahan pokok. Karena korelasinya erat sekali dengan kemiskinan. Kelihatan sederhana, tapi implementasinya tidak sesederhana itu. Terlebih, menyangkut margin orang. Gula, misalnya, rata-rata Rp15.500. Presiden meminta Rp12.000 per kilogramnya. Padahal, biaya produksinya tidak lebih dari Rp8.000. Maka Presiden tidak ingin rakyat menanggung beban margin yang begitu besar itu.

Mengapa harga pangan ditentukan instrumen seperti HET?
Mengapa saya tentukan harga eceran tertinggi pada beras atau HET? Bukan tanpa diskusi, kita undang para stakeholder pada saat finalisasi tiga hari-tiga malam yang ada di auditorium yang saya tongkrongin sampai jam setengan dua untuk berbagai komoditas tadi.

Bagaimana hasilnya?
Pada saat akhir tahun naik sedikit, pada saat memasuki bulan suci Ramadan melonjak tinggi. Apa alasannya? Hanya memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan untuk menambah keuntungan. Apakah ada gangguan suplai? Tidak ada. Sisi suplainya kita penuhi, dan terdistribusi di semua sentra. Makanya ada satgas (satuan tugas) pangan dan lain-lain. Dua lebaran harga pangan terjaga bukan karena hasil satu kementerian, tapi sinergitas semua, diorkestrasi Presiden.

Seperti apa peran infrastruktur terhadap stabilitas harga?
Kalau saya kirim ke Maluku, tidak mungkin harga di Indonesia bagian timur itu bisa turun kalau tidak infrastruktur, tidak ada tol laut. Setiap pembangunan infrastruktur berkontribusi pada pembangunan ekonomi di daerah yang di bangun dan lingkungannya.

Kalau tidak ada tol laut, berapa biaya kita kirim ke Maluku Utara, ke Maluku Tenggara. Jadi, pembangunan infrastruktur berkontribusi pada pemerataan, tidak usah jauh-jauh ke Indonesia timur. Jawa utara lebih makmur daripada Jawa selatan. Karena infrastruktur di Jawa selatan tidak pernah dibangun. Padahal, betapa indahnya Jawa selatan itu.

Tapi ongkos infrastruktur mahal. Apa sebanding dengan output-nya?
Infrastruktur mahal, karena habis APBN itu untuk membiayai jalan yang rusak di Jawa utara. Tetapi era Jokowi-JK ini dibangun Jawa selatan sehingga terjadi redistribusi pertumbuhan, dan amazing. Saya nanti mau keliling Jawa Selatan bawa mobil sendiri. Kalau sudah pensiun, kalau sekarang tidak ada waktu. Karena saya suka nyetir. Karena itu, ini sangat ada korelasinya dengan inflasi yang terjaga 3,5%. Sekarang kita lihat, siapa kota yang inflasi tertinggi, yakni Tual. Karena ke sananya saja susah.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com