Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Realita Kemandirian Pangan Kita

Terjadi peningkatan produksi, meski impor juga tetap terjadi. Malah semakin bertambah. Akan tetapi, optimisme harus tetap dijaga.

Optimisme swasembada pangan seolah tak henti disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Dari sebelum dilantik menjadi Presiden, yakni pada September 2014, ia menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada dalam tiga tahun ke depan. Setahun kemudian, ia kembali menyatakan, Indonesia akan swasembada pangan pada tiga tahun ke depan. Dan begitu terus, harapan itu ia sampaikan.

Kini, hampir lima tahun Joko Widodo menjabat sebagai Presiden, sektor pangan masih menjadi pekerjaan rumahnya. Alih-alih swasembada, komoditas pangan seperti beras, jagung, dan kedelai masih rutin diimpor pemerintah dari tahun ke tahun. Angkanya malah bertambah besar. Meski pemerintah tidak sepenuhnya gagal. Karena produksi tanaman pangan juga bertambah. Demikian juga dengan luasan areal panennya. Mungkin saja, kecepatan pertumbuhan produksi pangan kita tidak bisa mengejar pertumbuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Prof. Dwi Andreas Santosa, guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan secara umum cita-cita kedaulatan pangan Indonesia semakin lama kian menjauh. “Impor pangan meningkat pesat,” katanya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Menurut catatannya, pada 2014, misalnya, total volume impor pangan Indonesia dari komoditas utama mencapai angka 21,7 juta ton. Sedangkan pada 2017 lalu, impor meningkat menjadi 25, 2 juta ton. “Banyak hal yang membuat Indonesia ini menjauh dari kedaulatan pangan,” Andreas memaparkan.

Ia melihat, ada hal yang berseberangan antara kenyataan di lapangan dengan klaim pemerintah tentang kondisi pangan Indonesia.yang mengalami surplus bahkan ekspor turut meningkat di berbagai sektor. Contohnya adalah ekspor jagung, yang dibanggakan oleh pemerintah. Sebenarnya, ekspor itu tidak ada kaitannya dengan surplus produksi jagung di dalam negeri. Karena kenyataannya, Indonesia masih juga impor jagung.

“Defisit malah meningkat terus, lalu impor volumetric juga meningkat. Ini bukan sebuah peningkatan produksi, justru penurunan,” ungkapnya.

Andreas mengingatkan bahwa produksi pangan kita memang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Karena itu, ia merasa wajar bila pada akhirnya Indonesia mengimpor komoditas pangan.

Salah satu penyebab tidak mencukupinya produksi pangan, menurut Andreas, adalah luas lahan pertanian yang mengalami penurunan. Penyebabnya adalah konversi lahan pertanian. Menurut perkiraannya, tiap tahun terjadi konversi lahan sebesar 50.000 hektare sampai 60.000 hektare. Pun kebijakan mencetak 1 juta hektare sawah yang dicanangkan di awal pemerintah Jokowi tidak terealiasi. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian, terjadi fluktuasi luas lahan sawah. Dari 8.111.593 hektare pada 2014, turun ke 8.092.907 hektare di 2015, lalu kemudian naik lagi menjadi 8.186.470 hektare pada 2016.

“Jadi bisa dibayangkan tingkat kecepatan penurunannya. Untuk program satu juta hektare sawah juga belum jelas,” ucapnya.

Bila dilihat dari kondisi saat ini, Dwi Andreas menuturkan jika target Indonesia menuju swasembada pangan semakin jauh. Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya kebijakan yang sudah diputuskan namun tidak tepat sasaran, sehingga target yang dicanangkan tidak tercapai. Kemudian paradigma yang salah dalam program pembangunan pertanian yang diterapkan.

Menurut Dwi Andreas, saat ini Indonesia menganut paradigma kedaulatan pangan namun yang diterapkan, yakni paradigma ketahanan pangan. Untuk dapat mewujudkan swasembada pangan pada periode selanjutnya, Presiden Jokowi harus mengubah paradigma ketahanan pangan menjadi kedaulatan pangan. Baik itu dari konsep maupun pada penerapannya. “Selama paradigma itu masih dilakukan dan belum diubah, maka Indonesia semakin menjauh dari kedaulatan pangan. Contohnya, ya peningkatan impor pangan tadi,” ujar Andreas.

Untuk mendorong terwujudnya swasembada pangan dan kedaulatan pangan, pemerintah harus memperhatikan empat hal penting, seperti kesejahteraan petani, diversifikasi pangan, peningkatan produktifitas, dan mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan.

Andreas berujar, perhatian pemerintah pada petani semakin menjauh dan konsep pembangunan pangan. Tata kelola pangan lebih menitikberatkan pada cara konsumen mendapatkan pangan murah. Alhasil, dari konsep tersebut petani menjadi korban, pangan ditekan, maka semakin lama impor semakin tinggi. Andreas mengimbau agar segala macam subsidi pemerintah seperti benih, pupuk, dan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) diubah menjadi subsidi output berupa cash transfer ke petani langsung.

Sedangkan untuk diversifikasi pangan, pada saat ini kebutuhan pangan pokok semakin lama semakin mengerucut. Hal ini terjadi pada beras dan gandum. Gandum mengalami peningkatan konsumsi yang relatif tajam. “Nanti gandum semakin mendominasi. Tahun 2017 itu, proporsi gandum sebagai bahan pangan kita sudah mencapai 25%. Sudah lebih dari seperempatnya,” ungkap Andreas.

Kemudian, langkah selanjutnya yakni mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan Indonesia. Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Andreas mengaku sudah mengkritik habis-habisan wacana Pulau Jawa yang akan dijadikan sebagai sentra industri dan jasa dengan mengalihkan pertanian ke luar Pulau jawa.

Menurut data Kementerian Pertanian, Jawa masih menjadi sentra produksi padi di Indonesia selama lima tahun terakhir. Hampir setengah dari proruksi padi nasional berasal dari Jawa.

Bila dipecah, terlihat bahwa Provinsi Jawa Timur adalah penyumbang produksi padi paling tinggi, dengan kontribusi sebesar 17% dan rata-rata produksi selama lima tahun sebesar 12,87 juta ton. Kedua, Jawa Barat berkontribusi sebesar 16% dengan rata-rata produksi 12,03 juta ton. Dan ketiga adalah Jawa Tengah dengan rata-rata produksi selama lima tahun sebesar 10,84 juta ton, yang memberikan kontribusi produksi nasional sebesar 14,3%.

Provinsi di luar Jawa yang memberikan kontribusi produksi cukup signifikan adalah Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat, dengan kontribusi berkisar 2,95%–32% dari produksi nasional.

Terakhir, untuk meningkatkan produktifitas pangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggali potensi petani. Andreas mengaku, ia bersama petani tengah mengembangkan padi jenis EF 8 AB 2T di Provinsi Aceh. Produksi padi tersebut cukup meningkat. Produksi pertama, tepat pada April lalu, telah mencapai 11 ton per hektare, dan produksi kedua ini meningkat mencapai 12 ton per hektare. “Itu karya petani kecil. Jadi konsep inovasi petani harus didukung. Dengan begitu gairah petani akan muncul,” ujarnya

Cavin R. Manuputty

++++

Wajah Pertanian dan Tanaman Pangan Kita

Impor Beras (ton)
2014 : 418.113
2015 : 505.310
2016 : 997.710
2017 : 127
2018 : 287.234 (triwulan I 2018)
Sumber: Statistik Pertanian 2017 - Statistik Indikator Makro Sektor Pertanian, Kementan, Juli 2018 – (diolah)
*
Impor Jagung Segar (ton)
2013: 3.191.045
2014: 3.253.619
2015: 3.267.694
2016: 1.139.694
2017: 517.496
2018: 162.033 (triwulan I 2018)
Sumber: Statistik Pertanian 2017 - Statistik Indikator Makro Sektor Pertanian, Kementan, Juli 2018 – (diolah)
*
Impor Kedelai Segar dan Olahan (ton)
2013: 5.341.160
2014: 5.845.414
2015: 6.416.821
2016: 6.333.785
2017: 7.068.121
2018: 1.347.342 (triwulan I 2018)
Sumber: Statistik Pertanian 2017 - Statistik Indikator Makro Sektor Pertanian, Kementan, Juli 2018 – (diolah)
*
Luas Sawah (Ha)
2012 : 8.132.346
2013 : 8.128.499
2014 : 8.111.593
2015 : 8.092.907
2016 : 8.186.470
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Produksi Padi (ribu ton)
2013: 71.280
2014: 70.846
2015: 75.398
2016: 79.355
2017: 81.382
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Luas Lahan Panen Padi (ribu hektare)
2013: 13.835
2014: 13.797
2015: 14.117
2016: 15.156
2017: 15.788
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Produksi Jagung (ribu ton)
2013: 18.512
2014: 19.008
2015: 19.612
2016: 23.578
2017: 27.952
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Luas Lahan Panen Jagung (ribu hektare)
2013: 3.822
2014: 3.837
2015: 3.787
2016: 4.444
2017: 5.375
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Produksi Kedelai (ribu ton)
2013: 780
2014: 955
2015: 963
2016: 860
2017: 542
Sumber: Statistik Pertanian 2017
*
Luas Lahan Panen Kedelai (ribu hektare)
2013: 551
2014: 616
2015: 614
2016: 577
2017: 357
Sumber: Statistik Pertanian 2017
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com