Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Land Airgun LEMIGAS : Solusi Jitu untuk Masalah Sumber Getar Survei Seismik

Kegiatan survei untuk eksplorasi bahan tambang/migas di Indonesia terus dilakukan, sebagai bagian dari upaya untuk menemukan sumber daya dibawah permukaan. Kegiatan akuisisi seismik darat yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan dinamit yang belakangan ini sering menemui banyak hambatan dalam memperoleh perizinan karena pertimbangan faktor keamanan dan lingkungan. Pada sisi lain, akuisisi seismik yang kadang harus dilakukan di sekitar permukiman penduduk dan area berair seperti pantai atau rawa juga tidak mungkin dilakukan dengan dinamit. Untuk mengatasi persoalan tersebut,

Kegiatan survei untuk eksplorasi bahan tambang/migas di Indonesia terus dilakukan, sebagai bagian dari upaya untuk menemukan sumber daya dibawah permukaan. Kegiatan akuisisi seismik darat yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan dinamit yang belakangan ini sering menemui banyak hambatan dalam memperoleh perizinan karena pertimbangan faktor keamanan dan lingkungan. Pada sisi lain, akuisisi seismik yang kadang harus dilakukan di sekitar permukiman penduduk dan area berair seperti pantai atau rawa juga tidak mungkin dilakukan dengan dinamit. Untuk mengatasi persoalan tersebut,

Badan Layanan Umum (BLU) LEMIGAS telah menciptakan alat serba guna yang dinamai Land Airgun. Ini adalah temuan teknologi yang sangat penting, karena dibandingkan dengan dinamit, penggunaan Land Airgun LEMIGAS ternyata lebih efisien, aman, dan murah.

Kepala Divisi Teknologi Eksplorasi LEMIGAS, Panuju Bohemi, mengatakan bahwa Land Airgun adalah murni invensi peneliti LEMIGAS yang telah mendapatkan hak paten dari Ditjen HAKI Kemenkumham RI (Nomor paten: IDP000040433).

Panuju menjelaskan bahwa secara teknis, Land Mini Airgun adalah peralatan mekanik yang dikendalikan oleh sistem elektronik. Alat ini bekerja melalui mekanisme penembakan udara bertekanan tinggi (sampai 2.000 psi atau +65 kali tekanan ban mobil) yang terdapat di dalam tabung dengan volume 2,5 liter ke bawah permukaan untuk menghasilkan getaran yang merambat melalui lapisan batuan sehingga dapat diperoleh gambaran pola perlapisan dan kandungannya. Penembakan Land Airgun dilakukan pada lubang dengan kedalaman 1 meter yang diisi air, agar energi yang dihasilkan tidak tersebar ke arah atas atau samping. Ini berbeda dengan dinamit yang harus diledakkan di dalam tanah dengan kedalaman 20-30 meter. Berbeda dengan dinamit yang dalam operasional membutuhkan izin handak dan perlu gudang penyimpanan, alat transportasi dan pengamanan khusus, serta meninggalkan residu bahan kimia, pemakaian Land Airgun sebagai sumber getar tidak memerlukan izin karena sangat aman dan ramah lingkungan.

Untuk kepentingan pengenalan dan komersialisasi, Land Airgun telah dipamerkan dalam beberapa exhibition events nasional dan internasional yang diselenggarakan Indonesian Petroleum Association (IPA) dan SKK Migas, dan juga diterbitkan dalam Publikasi ilmiah (HAGI, IAGI dan LSC). ''Secara komersial, Land Airgun LEMIGAS sudah digunakan antara lain pada survei geoteknik pra-pembangunan waduk untuk pembangkit milik PLN di Sumatera Barat, dan pada eksplorasi pertambangan nikel PT Vale di Sulawesi Selatan. Untuk komersialisasi dan pengembangan lebih lanjut, kerjasama dengan PT Futura Energi Lestari (PT FEL) sedang dibangun melalui KSO AGSeismic, dan melalui KSO tersebut, beberapa perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur (PT Indra Karya) dan pertambangan (PT Komodo Energy), dan juga perusahaan pelaksana survei seperti PT GSI dan PT Sucofindo juga sudah menyatakan ketertarikannya untuk memanfaatkan. Melalui kerjasama dengan PT Enka Energi, Land Airgun juga sedang diperjuangkan untuk go international untuk mendapatkan proyek di India dan Malaysia,'' Panuju memaparkan.

Ide Pembuatan dan Pengembangan Land Airgun
Land Airgun Generasi-I pertama kali diciptakan oleh peneliti LEMIGAS, Profesor Suprajitno Munadi, pada 2007, yang kemudian terus disempurnakan oleh Yudi Kuntoro dan Edi Wijanarko sampai Generasi V. ''Dasar pemikiran diciptakan alat ini adalah untuk mengatasi persoalan pada kegiatan survei seismik menggunakan dinamit yang memerlukan perizinan rumit, tidak dapat digunakan pada area dengan genangan air, menyebabkan dampak buruk terhadap lingkungan dan permukiman, risiko tinggi, serta mahal karena harus menggunakan gudang, alat trasportasi dan pengamanan khusus,'' kata Panuju.

Sebelumnya, beberapa perusahaan melakukan akuisisi di area rawa dan pantai dengan menggunakan marine airgun (Bolt dan Sercel), namun demikian, alat itu tidak dapat bekerja secara efisien karena memang bukan untuk peruntukannya (pelepasan Energi ke samping melingkar), sehingga penetrasinya tidak optimal. ''Sedangkan Land Airgun LEMIGAS memiliki arah pelepasan energi ke arah bawah sehingga gelombang getarnya dapat melakukan penetrasi ke bawah permukaan secara lebih dalam,'' ujar Panuju.

Saat ini, aplikasi Land Airgun masih diperuntukkan bagi kegiatak eksplorasi tambang (batubara dan nikel) dan geoteknik (konstruksi bangunan besar seperti waduk atau bendungan). Ke depan, LEMIGAS akan mengembangkan Land Airgun Array yang mampu melakukan penetrasi jauh lebih tinggi sehingga applicable dan acceptable untuk survei seismik bidang migas. Diharapkan, pengembangan Array akan dapat diselesaikan pada 2019.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com