Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Kendalikan Harga dan Tingkatkan Ekspor

Kemendag terus berusaha menstabilkan harga terutama menjalang hari raya dan akhir tahun. Peningkatan ekspor dirancang melalui rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

''Sebagai menteri, saya bekerja berdasarkan arahan Presiden, dan kami berusaha melaksanakan arahan itu dengan baik,'' kata Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Enggartiasto Lukita, ketika diwawancarai di kantornya, 7 Oktober lalu. Sejak dilantik sebagai Menteri Perdagangan, pada 27 Juli 2016 silam, Enggartiasto mengaku harus bekerja keras bersama segenap jajarannya di Kementerian Perdagangan, mengikuti ritme kerja Presiden Joko Widodo yang memang bekerja siang-malam.

Menurut Enggartiasto, tugas pertama yang secara langsung diperintahkan Presiden kepadanya adalah pengendalian harga barangbarang pokok. Pada saat Enggar dilantik menjadi Menteri Perdagangan, dua tahun lalu, harga gula pasir misalnya mencapai Rp 15.000 sampai Rp 15.500 per kilogram, dengan jumlah konsumsi gula nasional mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. ''Presiden meminta agar harga itu diturunkan menjadi Rp 12.000 per kilogram, karena Presiden tahu ongkos produksinya,'' ujar Enggartiasto.

Enggar lalu mengumpulkan para produsen dan stakeholder gula nasional. Setelah melalui berbagai proses negosiasi, Enggar akhirnya berhasil menurunkan harga gula pasir menjadi Rp 12.500 per kilogram. ''Saya sudah melapor kepada Presiden bahwa angka itu merupakan angka terendah yang bisa dicapai setelah menghitung berbagai komponen biaya,'' kata Enggar.

Tentu bukan cuma harga gula pasir yang menjadi perhatian Menteri Perdagangan, melainkan juga semua harga barang-barang kebutuhan pokok yang biasa mendadak melonjak naik menjelang Hari Raya Lebaran atau tahun baru. Dalam catatan Kementerian Perdagangan, inflasi cenderung menunjukkan peningkatan pada bulan Ramadan dan Lebaran serta akhir tahun, akibat gejolak harga barang-barang kebutuhan pokok.

Untuk mencegah lonjakan harga tiap menjelang Lebaran, kata Enggar, ia mengerahkan sekitar 220 staf Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menyebar ke berbagai pasar-pasar penting di berbagai kota di seluruh Indonesia. ''Pejabat eselon satu saya tunjuk sebagai koordinator wilayah yang mengoordinasikan orang-orangnya untuk terus menerus memantau pasar. Jika ada masalah suplai barang dan lonjakan harga, mereka harus segera menyelesaikannya sebelum berdampak luas,'' kata Enggar. Hasilnya, Enggar bersyukur karena dalam dua kali Lebaran di masa ia menjabat Menteri Perdagangan, tak pernah terjadi lonjakan harga atau persoalan-persoalan suplai barang, yang mempengaruhi inflasi.

Menurut Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan RI, Kasan, pada bulan September 2018 lalu bahkan mengalami deflasi sebesar -0,18%. ''Ini tentu berita positif dalam rangka menjaga stabilitas harga khususnya pangan dan pencapaian target inflasi tahun 2018,'' kata Kasan. Ketersediaan pasokan yang cukup dan keberhasilan pengendalian harga pangan tercermin dari inflasi Kelompok Pengeluaran Bahan Makanan yang memberi andil deflasi sebesar -0,35% dengan nilai deflasi sebesar -1,62%.

Mendag Enggartiasto mengatakan bahwa seluruh langkah-langkah Kemendag yang selama ini sudah dilakukan dalam pengendalian inflasi juga akan terus dilanjutkan untuk memastikan pasokan dan pengendalian harga pangan dalam rangka menjaga inflasi sampai ditingkat pedesaan bekerja sama dengan pemda kabupaten/kota, dinas terkait di kabupaten/kota serta Satgas Pangan yang berada di tingkat kecamatan. ''Ke depan upaya pengendalian tentu akan dilakukan tidak hanya mencakup kota-kota yang selama ini menjadi pantauan inflasi, tapi akan diperluas ke perdesaan termasuk yang berada di kota kecamatan di setiap kabupaten/kota,'' katanya. Selain itu, kerja sama dengan para distributor pangan yang mempunyai jaringan dan penyaluran sampai ke tingkat perdesaan juga akan terus dilakukan sebagaimana telah dilakukan selama dua tahun terakhir ini.

Peningkatan Ekspor
Persoalan lain yang sedang fokus ditangani Kemendag adalah peningkatan ekspor. Sat ini Indonesia mengalami ancaman devisit neraca perdagangan dengan negara lain yang terus berlanjut. Menurut Enggar, sejak delapan tahun terakhir ini Indonesia telah tertinggal oleh negara-negara lain karena tidak pernah lagi menandatangani perjanjian perdagangan dengan negara lain. ''Di sejumlah negara kita kecurian karena konsumen kita telah beralih ke negara lain. Ekspor kita makin menurun dan tahu-tahu mereka telah beralih ke negara eksportir lain yang telah terikat perjanjian perdagangan,'' kata Enggar.

Karena itu, Enggar terus menjajaki peluang ekspor ke negara-negara baru yang meliputi negara-negara Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Selatan, dengan membuat perjanjian-perjanjian perdagangan. Hingga semester I tahun 2018 telah menandatangani perjanjian perdagangan dengan Cile, Tunisia, Maroko, Mozambique, dan lain-lain. Menurut Enggar, hasilnya baru akan dinikmati dalam satudua tahun ke depan.

Dalam catatan Kemendag, pada bulan Agustus 2018, ekspor non-migas tercatat sebesar US$14,43 milyar atau meningkat 3,43% dibanding bulan yang sama tahun lalu (YoY). Peningkatan ekspor bulanan ini sebagai imbas menguatnya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah dan tekanan akibat perang dagang antara Amerika dan Cina. Secara kumulatif, ekspor nonmigas Januari-Agustus 2018 mencapai US$108,69 milyar. Nilai ini tumbuh 10,0% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 (YoY) yang sebesar US$98,79 milyar.

Beberapa komoditas utama ekspor nonmigas tercatat berkontribusi besar terhadap peningkatan ekspor, antara lain bijih kerak, abu logam besi, dan baja, berbagai produk kimia, bahan bakar mineral dan kertas, karena menguatnya harga ekspor. Ekspor ke beberapa negara yang diprediksi mencapai target ekspor non-migas 2018. antara lain RRT yang mengalami pertumbuhan ekspor non migas pada periode Januari-Agustus 2018 sebesar 30,63% (YoY), Jepang (20,39%) dan Korea Selatan (15,57%). Naiknya ekspor ke negara-negara ini didukung oleh peningkatan permintaan pasar dalam negeri mereka.

Pada 2018, pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4%. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% ini serta dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global yang masih cenderung melambat, pemerintah juga secara realistis mentargetkan ekspor non-migas pada 2018 tumbuh sebesar 5%-7% sesuai dengan rencana kerja pemerintah (RKP) Tahun 2018.

Mendag Enggartiasto menetapkan target capaian kinerja ekspor non migas yang lebih tinggi, yaitu 11% dan menjadi target kinerja khususnya untuk masing-masing perwakilan perdagangan RI di luar negeri. ''Target ini diharapkan masih realistis untuk terlampaui melalui strategi antara lain penguatan infrastruktur perdagangan dan pengembangan fasilitasi perdagangan serta peningkatan akses pasar melalui pemanfaatan FTA. Selain itu, kondisi perbaikan harga komoditas yang dipicu oleh kenaikan harga minyak juga menjadi faktor optimisme peningkatan ekspor di masa mendatang,'' Enggar memaparkan.

Sampai dengan Agustus 2018, ekspor non-migas ke 20 negara tujuan utama mencapai USD 108,7 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 10,0% YoY. ''Penguatan kinerja ekspor selama Januari-Agustus ini memperkuat optimisme kita untuk mencapai target ekspor tahun 2018 sesuai dengan harapan,'' kata Enggar. Untuk mempertahankan peningkatan kinerja ekspor, lanjutnya, Kemendag akan terus memaksimalkan peran Atdag/ITPC sebagai ujung tombak pemasaran produk Indonesia, yang berfungsi sebagai marketer, fasilitator, sekaligus mediator di negara tujuan ekspor.

''Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, ekspor dan investasi adalah dua kunci utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,'' ujar Enggar. Menurut dia, ekspor dan investasi memberikan kontribusi signifikan dalam ekonomi nasional, masing-masing sebesar 21,12% dan 32,12%. Dengan capaian kinerja ekspor sampai dengan Agustus, Enggar optimistis target ekspor sebagaimana ditetapkan Pemerintah, tumbuh sebesar 5%-7% dapat terlampaui.

Kini Kemendag terus mengerahkan seluruh sumber daya dan potensi nasional dengan menyinergikan unsur pemerintah pusat dan daerah serta merangkul kalangan dunia usaha besar, menengah, maupun kecil (UKM).

Dalam jangka pendek, Kemendag terus menindaklanjuti hasil pendekatan bilateral kepada Amerika Serikat mengenai beberapa isu yaitu, pertama, perpanjangan fasilitas GSP tahun 2018. Kedua, pengecualian pengenaan tarif baja dan aluminium. Dan, ketiga, pengecualian Indonesia dari target 16 negara penyebab defisit neraca perdagangan Amerika. Kemendag juga mendorong ekspor secara langsung (direct call) dari pelabuhan di daerah penghasil komoditas ekspor serta mempermudah dan memperluas cakupan pembiayaan ekspor melalui LPEI kepada pelaku ekspor skala UKM maupun calon eksportir potensial.

Dalam jangka menengah, Kemendag menetapkan beberapa langkah. Pertama, mempercepat ratifikasi sejumlah perjanjian FTA dengan negara mitra. Kedua, mendorong pemanfaatan FTA oleh eksportir di pusat dan daerah. Dan ketiga, mengatasi berbagai hambatan ekspor di negara mitra.

Dalam jangka panjang, Kemendag akan terus melanjutkan diversifikasi ekspor ke pasar non tradisional melalui misi dagang, promosi ekspor maupun pembentukan perjanjian bilateral. Selain itu juga akan mendorong peningkatan daya saing produk ekspor, mendorong produk ekspor menjadi bagian dari Global Value Chain, dan mendorong peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi.

Kemendag juga tetap berkomitmen mewujudkan mekanisme tata perdagangan yang baik, mulai dari perencanaan, regulasi, monitoring dan penegakan hukum. Mekanisme itu, kata Mendag Enggartiasto, juga harus sejalan dengan pemanfaatan perkembangan teknologi informasi terkini. Untuk itu, Kemendag konsisten melanjutkan deregulasi dan debirokrtatisasi dalam mendukung kinerja ekspor.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com