Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Perkuat Kawasan Transmigrasi dengan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur mutlak dilakukan untuk melakukan pengembangan kawasan transmigrasi. Kerjasama dengan perusahaan swasta juga dilakukan sejak awal 2014. Klaster permukiman, komoditi dan energi menjadi satu kesatuan.

Kawasan transmigrasi di Indonesia terus dilakukan peningkatan kapasitasnya. Melalui potensi yang ada seperti pertanian, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus mengupayakan produk pertanian yang berdaya saing di kawasan transmigrasi.

Dikatakan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Kawasan Transmigrasi (Dirjen PK Trans) M. Nurdin, pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia memiliki pendekatan pembangunan kawasan dengan memiliki dua klaster, yakni klaster permukiman dan klaster komoditas.

Untuk menciptakan pertumbuhan kawasan baru melalui dua klaster tersebut membutuhkan pembangunan infrastruktur diantaranya berupa pembangunan jalan, jembatan, waduk atau embung dan saluran irigasi. Jalan dan jembatan ini dibangun selain untuk mempermudah menuju akses produksi (lahan pertanian), juga untuk mempermudah proses pemasaran atau kegiatan pascapanen.

Terkait dengan pembangunan infrastruktur pertanian, dikatakan oleh M. Nurdin, aset lahan transmigrasi diperlukan infrastruktur penunjang untuk meningkatkan produksi seperti ketersediaan air. Dengan ketersedian air ini proses penanamannya bisa dua hingga tiga kali. ''Jadi tidak bergantung pada musim,'' ujarnya.

Setelah adanya infrastruktur permukiman yang ditunjang dengan pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial, juga dilakukan pembangunan infrastruktur energi. Pembangunan infrastruktur energi ini dikerjakan bersama investor dan lintas kementerian terkait.

''Upaya pembangunan ini sangat signifikan mempengaruhi produksi dan produktifitas untuk meningkatkan marjin laba,'' ujarnya.

Klaster permukiman dan klaster komoditi dibangun secara bersamaan untuk meningkatkan skala ekonomi masyarakat. Sebab, syarat pembangunan kawasan transmigrasi adalah adanya orang, lahan dan infrastruktur. ''Dengan begitu investor berani menanamkan modalnya di sana,'' kata M. Nurdin.

Pembangunan infrastruktur juga bertujuannya untuk meningkatkan minimum skala ekonomi. Misalnya satu unit permukiman transmigrasi (UPT) ada 200 kepala keluarga, masing-masing kepala keluarga memiliki lahan usaha 1-2 hektare. Biasanya, satu kawasan terdapat 1000-4000 hektare, dan menghasilkan padi 5 ton per-hektare. Jadi 1.000 hektare saja bisa menghasilkan 5 juta ton produksi, jika dikapitalisasi bisa menjadi sangat besar.

Langkah yang dilakukan dalam pengembangan kawasan transmigrasi ini adalah melalui data lahan yang dimiliki, ketika data produksinya rendah, misalnya hanya mampu satu kali tanam per tahun, maka akan dibangun embung atau waduk. Misalnya yang sudah dilakukan di Kabupaten Luwu Timur, dan di Kabupaten Boalemo yang sekarang ini bisa melakukan dua kali tanam di lahan yang sama.

Sementara itu, dalam pengembangan kawasan transmigrasi, peran swasta juga sangat penting. Sebab, wajah transmigrasi diubah untuk meningkatkan investasi.

Penerapan sinergi ini, kata M. Nurdin, perusahaan swasta sebagai offtaker dan memiliki business model, dan Direktorat Jendral Pengembangan Kawasan Transmigrasi hanya menyiapkan lahan dan tenaga kerjanya yang dilakukan oleh para transmigran. Bentuk investasi kemitraannya,bisa berupa perkebunan plasma di bidang sawit, lada, kopi, atau kakao.

Melihat progresnya dinilai sangat bagus, bulan lalu pada bisnis meeting ada sekitar Rp15 Trilyun investasi yang ada pada model pengembangan kawasan transmigrasi ini. Sinergi dengan para investor ini sudah dilakukan sejak awal 2014 dan ada sekitar 58 investor yang ikut berpartisipasi.

Terakhir, Dirjen PK Trans berharap, pada upaya pembangunan infrastruktur ini, tentunya pada sektor ekonomi masyarakat transmigrasi akan semakin menghasilkan margin yang besar pada usaha di bidang pertanian ini. ''Dengan begitu peningkatan kesejahteraan masyarakat di sana (kawasan transmigrasi) akan semakin meningkat. Itu saja cukup sederhana,'' kata M. Nurdin.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com